
"Gale, kamu disini...," ucap Ajeng pelan, melihat Gale yang sedang tidur dikursi dengan kepala tertunduk disebelah tangannya. Gale tersentak dari tidurnya dan segera menggenggam tangan Ajeng dengan sangat kuat.
"Ajeng, kamu sudah sadar? Saya disini Jeng, kamu jangan khawatir ya, ada saya disini. Saya bersama kamu..," kata Gale pelan, dekat ke kepala Ajeng agar Ia bisa mendengar suara Ajeng dengan cukup jelas.
"Maaf, Gale. Maafkan saya, saya begitu bodoh sampai harus...," kata Ajeng tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi. Ia menutup matanya, sehingga keluar butiran air mata dari kedua bola matanya yang indah itu.
"Ajeng, jangan ingat itu lagi! Tolong, buang segala ingatan tentang apa yang kamu lakukan kemarin. Ini bukan salah kamu, sama sekali bukan, Ajeng. Kamu tidak perlu merasa bersalah atas semua ini. Kamu aman sekarang, tidak akan ada lagi orang yang menyakitimu. Saya akan jadi orang yang pertama yang akan melindungi kamu. Saya berjanji..," kata Gale meyakinkan Ajeng sambil membelai rambutnya yang panjang.
"Saya benci diri saya, Gal. Saya tidak pantas mendapat kebaikan apapun lagi dari kamu. Saya sudah lebih dari jahat..," jawab Ajeng pelan, sementara air mata masih terus mengalir membasahi wajahnya yang masih pucat itu
"Bahkan saat ada hal yang paling jahat sekalipun yang sudah kamu lakukan padaku, itu semua tidak akan berarti apa-apa untuk saya, Jeng. Saya mengenal kamu, bahkan lebih dari dirimu sendiri. Kamu mencintai dan menyayangi aku, tulus dan apa adanya. Sampai kapanpun saya tahu itu, tidak akan pernah sekalipun terlintas dibenakmu untuk menyakiti saya, Ajeng..," jawab Gale lembut, Ia berusaha meyakinkan Ajeng untuk berhenti merasa bersalah akan apa yang sudah terjadi belakangan ini. Ini bukan maunya, ini semua karena paksaan orangtuanya, yang menganggap Ajeng sebagai boneka yang bisa mereka mainkan sesuka hati, seperti peran yang inginkan sendiri tanpa mau mengerti hati dan perasaan putri semata wayang mereka itu.
"Saya tidak akan bisa melewati hidup, jika tidak ada kamu, Gal. Hanya kamu yang mengerti perasaanku. Saya tidak tahu harus bicara pada siapa lagi, mereka semua tidak ada yang peduli,"
"Saya peduli, Jeng. Saya peduli. Yang harus kamu pikirkan saat ini hanya kesehatanmu saja, Jeng. Saya akan membantu kamu melewati semua ini,"
"Saya tidak ingin jumpa Ayah dan Ibu, tolong, Gale. Mereka akan tetap memaksa saya untuk bersama Robi. Bawa saja saya pergi dari sini sekarang, Gal. Sudah cukup perasaan yang saya pendam selama ini, saya ingin bebas, tidak terkungkung seperti dalam penjara..," kata Ajeng, Ia menggenggam kuat tangan Gale, seperti tak ingin ditinggalkan.
"Ayah dan Ibu kamu sudah sadar. Mereka berdua sangat sedih melihat kamu seperti ini, Jeng. Mereka tidak akan mau kehilanganmu untuk kedua kali, saya yakin itu. Mata mereka baru terbuka setelah semua ini terjadi. Kamu tidak perlu khawatir lagi..,"
__ADS_1
"Saya tidak peduli jika mereka melarang saya lagi, Gale. Saya tetap akan bersama kamu," jawab Ajeng lagi, yang dibalas diam oleh Gale. Ajeng tersadar dengan apa yang barusan saja Ia katakan. Ia terdiam melihat reaksi Gale yang tidak menjawab sepatah katapun dari bibirnya.
"Apa ini karena Naava?," jawab Ajeng sendu, bibirnya bergetar saat menyebut nama Naava
"Apakah kamu tetap akan menjalani pertunangan bersamanya, Gal? Saya cukup bodoh untuk meminta orang yang akan bertunangan dengan orang lain untuk tetap tinggal bersama saya, ya? Saya sungguh tidak mau menghancurkan hati gadis cantik itu, saya minta maaf, Gal.."
"Tidak, bukan seperti itu, Ajeng. Disaat seperti ini, dia pasti akan menerima dan mengerti. Jangan memaksakan diri kamu untuk berpikir terlalu jauh, Jeng. Ini tidak baik untuk kondisi kamu," kata Gale sambil menggenggam tangan Ajeng
"Kamu seharusnya tidak disini, Gal.. Dia lebih membutuhkan kamu dari pada saya. Kamu calon suaminya, dan saya hanya sepenggal cerita dari masa lalu kamu," kata Ajeng pelan sambil tersenyum. Ia ingin meyakinkan Gale, bahwa dirinya akan baik-baik saja, dengan atau tanpa kehadiran Gale disini. Ia tidak mau menghancurkan kisah antara Gale dan Naava, Ia tidak mau kisah mereka juga akan berakhir seperti dirinya dan Gale. Ia tahu, Naava pasti punya hati yang baik, karena sampai dengan detik ini, hanya Naava yang bisa mencuri perhatian Gale yang selama ini hanya terfokus pada Ajeng seorang. Ia tahu, pasti Naava sudah memiliki ruang tersendiri dihati Gale, tempat dimana Ia berada dulu. Gale sangat layak bersanding dengan Naava, Naava gadis lugu dan baik, Ia pasti tidak akan menyakiti Gale seperti apa yang Ajeng lakukan padanya. Gale layak mendapatkan pasangan hidup lebih baik dari dirinya, pikir Ajeng.
"Cukup, Ajeng. Saya disini untuk kamu, tidak sedikitpun hal lain ada dikepala saya sekarang selain kamu dan kondisi kesehatan kamu. Saya satu-satunya orang yang tidak akan bisa menerima, jika ada sesuatu hal buruk menimpa kamu. Saya cukup khawatir dalam tiga hari ini, Ajeng. Jadi tolong hargai perjuangan saya, dan berhenti membahasa Naava..," jawab Gale lagi kepada Ajeng
"I love you, Gale. Sampai kapanpun saya akan tetap mencintai kamu," kata Ajeng setelah mendengar kata-kata Gale. Sungguh Ia tahu perjuangan yang sudah ditempuh Gale untuk tetap bersama dengannya. Bukan hanya sekedar tiga hari ini, bahkan sedari tahun-tahun yang lampau, saat Ia berjuang untuk mempertahankan Ajeng untuk tidak bertunangan dengan Robi.
"Matursuwun, njih, Gale," kata Ajeng sembari memejamkan matanya. Selang beberapa waktu kemudian, Ia pun langsung tertidur,ditemani Gale yang tetap setia berada disampingnya.
'Dari dahulu saya sudah berjanji untuk menjaga kamu, walau kali ini saya akui saya lalai, Jeng. Tapi janji itu akan tetap untuk selamanya. Saya tidak akan membiarkan ada orang yang melukai kamu lagi, Jeng' kata Gale dalam hatinya.
Sementara disisi lain pikirannya Ia memikirkan Naava, tentang apa yang sedang dilakukannya saat ini. Jauh didalam lubuk hatinya Ia meminta maaf pada Naava, tapi Ia tahu, jika Naava mengetahui kondisi Ajeng saat ini, Ia juga pasti akan paham dan mengerti.
__ADS_1
Gale memandang wajah ayu Ajeng yang tertidur pulas.
'Kepada nya lah aku jatuh hati untuk yang pertama kali, sosok wanita yang cantik nan baik hatinya. Ia sudah cukup letih memendam beban berat, akibat dari perilaku ayah dan ibunya. Segeralah sembuh, Ajeng. Saya tidak mau kamu menderita terlalu lama' ucap Gale dalam hati sembari mencium kening Ajeng.
PRAAAANG!
Bunyi vas bunga yang terjatuh dari atas lemari. Naava yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, tak sengaja memecahkan vas bunga dengan siku tangannya.
"Naava? Kamu disini?," Gale kaget dengan hadirnya Naava di rumah sakit Yogyakarta malam itu.
"Maaf," kata Naava yang segera mundur dan pergi dari ruangan kamar itu sambil terisak. Ia yang sedari tadi mendengar percakapan mereka berdua, dan akhirnya melihat bagaimana cinta Gale pada Ajeng saat menciumnya, membuat Naava tak kuasa menahan diri. Ia yang datang dari Jakarta, hendak menjenguk Ajeng memutuskan untuk pergi dan meninggalkan mereka.
"Tunggu, Naava! Kamu harus dengar penjelasan dari saya!," kata Gale berlari kencang mengejar Naava.
Naava tidak dapat berkata-kata lagi. Dadanya terasa sesak, serasa sulit sekali baginya untuk bernapas.
'Aku sudah salah, hadir diantara mereka berdua' kata Naava dalam hati, tidak sadar air mata telah jatuh di pipiny
*HELLO READERS*!!
__ADS_1
Terimakasih untuk dukungannya, teman-teman pembaca. Energi positive yang kalian sampaikan di kolom komentar sangat berpengaruh dengan semangat saya menulis bab-bab selanjutnya. ❤️
Untuk itu, jangan lupa sertakan like, comment, dan vote ya, agar saya lebih semangat lagi dalam berkarya. Happy Reading Semua ☺️