
Minggu ini akan menjadi minggu yang sangat sibuk bagi Naava, mengingat Ujian Tengah Semester yang akan dilangsungkan mulai minggu depan. Sepertinya Ia harus lebih rajin membuka buku, giat belajar, bahkan harus sampai larut malam, seperti yang ia lakukan di semester-semester lalu. Di Semester ini, bahkan banyak makalah-makalah yang belum Ia sentuh sedikitpun.
Naava menargetkan dirinya sendiri untuk dapat lulus di seluruh mata kuliah, walau hanya dengan nilai yang pas-pasan.Dan untuk bisa mewujudkan keinginannya itu, beberapa malam ini, Naava jadi lebih banyak diam. Ia sangat terfokus dengan ujiannya kali ini.
Tidur malamnya yang selalu terlambat, Ia malah sering tidur pukul tiga pagi, dan harus bangun kembali saat matahari terbit untuk ikut kelas-kelas diskusi. Makan nya juga sering tak teratur, bahkan jam makannya lebih sering diisi dengan tertidur sejenak di koridor-koridor perpustakaan.
Beberapa malam belakangan, Ia juga sering menunggu Gale pulang dari kampus. Berharap Gale bisa mengajarinya dalam beberapa bab, sehingga Ia bisa lebih mengerti dalam mengerjakan tumpukan makalah-makalahnya. Namun, entah apa yang membuat Gale sibuk juga beberapa hari ini, membuat mereka berdua jadi jarang bertemu satu sama lain. Sekali-kalinya bertemu, itupun sudah larut malam, dan wajah Gale yang juga sepertinya sangat lelah, membuat Naava mengurungkan dirinya untuk mengusik Gale dan membiarkannya langsung beristirahat.
Mungkin Gale sibuk menjadi panitia di ulang tahun fakultas kedokteran minggu depan, pikir Naava.
***
Malam ini Ia pulang menaiki bus, wajahnya pucat, kelihatan lelah sekali, ditambah rambutnya yang hanya diikat asal-asalan. Di dalam bus Ia hanya menghayal bahwa nanti setibanya dirumah, Ia akan langsung memasuki kamarnya yang nyaman dan segera tidur menghilangkan segala kelelahannya seminggu belakangan ini.
"Kiri, pak," seru Naava pada sopir bus. Bus itu segera menepi kekiri, dan Naava mulai melangkah keluar dari dalam bus. Langkah demi langkah kakinya menuju ke pintu gerbang rumahmya terasa semakin berat, kepalanya seperti berputar-putar, pusing sekali, Ia memegangi pintu gerbang kuat sekali, takut terjatuh, tak sanggup menopang beban dirinya sendiri.
"Kamu kenapa bisa begini?," seru seseorang sayup-sayup disampingnya. Naava bahkan tidak bisa mengenali lagi pria tersebut, matanya tak sanggup lagi untuk dibuka, terasa dunia berputar, membuatnya seperti ingin muntah. Naava kemudian hanya membalas pertanyaan pria itu dengan gelengan kepala, mengisyaratkan dia sendiri pun sedang tak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya.
"Ayo, kamu harus segera ke rumah sakit, wajah kamu pucat sekali," kata pria itu lagi
Hanya sebatas itu ingatan Naava malam itu.
Ia hanya terdiam lemas, ketika seorang pria menggotong tubuhnya dan pergi menaiki mobil.
***
Mata Naava terbuka sedikit demi sedikit, dan Ia merasakan sakit di daerah kepala dan perutnya, ia kelelahan sekali seperti baru saja melakukan perjalanan panjang. Beberapa detik kemudian, ia baru tersadar bahwa sekarang Ia berada di ruangan sebuah rumah sakit. Di ruangan itu hanya terdapat satu bed, tangannya sudah terpasang infus, bucket bunga mawar putih diatas meja, dan tepat disamping tempat tidurnya ada Oma yang sedang tertidur menungguinya siuman.
"Oma," panggil Naava pelan
"Kamu sudah siuman, sayang? ," tanya Oma terbangun dari tidurnya
"Naa dimana Oma? Kenapa bisa disini?," tanya Naava pelan
"Kita sedang dirumah sakit, kamu semalam pingsan. Kata dokter asam lambung kamu kumat, ditambah kamu kecapean belakangan ini," kata Oma sambil membelai tangan Naava
"Ah, iya, semalam badan Naa terasa lemas sekali, Oma,"
"Kamu istirahat dulu ya sayang, jangan terlalu stress menghadapi ujian semestermu,"
__ADS_1
"Oiya, bagaimana Naa bisa kesini Oma?,"
"Danang yang dari semalam sore menunggu kamu dirumah, dia mendapati kamu didepan pagar hampir pingsan, sayang. Nah itu dia, dari mana kamu, nak?," tanya Oma pada Danang yang tiba-tiba muncul dari pintu bersama dengan Gina dan Alia
"Tadi Danang keluar sebentar, beli sarapan buat Oma, kasihan sudah cape menunggui Naava bangun. Dan, kebetulan bertemu Alia dan Gina tadi dibawah," jelae Danang sambil memberikan sepiring bubur ayam hangat ke tangan Oma Widya
"Terima kasih banyak ya sayang, Oma gatau bagaimana dengan Naava kalau tidak ada kamu," kata Oma memegang tangan Danang
"Itu sudah keharusan sebagai laki-laki, Oma ," jawab Danang lembut
***
Alia dan Gina ikut masuk menyusul dengan Danang setelah mereka tidak sengaja bertemu di lobby rumah sakit tadi. Danang lah yang langsung mengabari kondisi Naava yang sedang sakit kepada dua sahabatnya itu. Karena sudah terlalu malam, Alia dan Gina baru bisa datang menjenguk pagi ini dengn membawa sekeranjang buah anggur kegemaran Naava
"Naa, lo udah gimana? Masih sakit perutnya?," tanya Alia pada Naava sambil meletakkan sekeranjang buah diatas meja
"I'm felling good, Lia," kata Naava sambil tersenyum
"Lo sih.., serius banget, sayang. Santai sedikit, ini kan cuma ujian semester. Belakangan, lo lebih sering diperpus sendirian ketimbang gabung ke kantin sama kita," kata Gina sambil menyuapkan sepotong anggur ke mulut Naava
"Mulai sekarang, kita bakal jagain jadwal makan Lo! Gak boleh telat lagi. Titik!," kata Gina lagi sambil mencubit kecil pipi Naava
"Untung ada Danang, yang nolongin lo," kata Alia sambil menoleh ke arah Danang yang sibuk mondar mandir keluar masuk ruangan mengurus botol infus ditangan Naava yang hampir habis.
"Iya, dia sibuk banget dari tadi. Ngurusin makan lo, obat lo, administrasi, kayaknya dia belum tidur semalaman," sambung Gina
"Beruntung ada Danang yang selalu ada untuk Naava," kata Oma pelan
"Jadi gimana kata dokter, Oma?," tanya Gina pada Oma Widya
"Kondisi Naava sudah membaik, hanya dia perlu banyak istirahat, sayang. Besok sepertinya sudah bisa pulang," jelas Oma pada mereka
"Oh syukur kalo begitu. Nih! Tiket kita bulan depan! Konser Super Junior, dikasih Cakka. Dia titip salam, Naa.. Katanya lo harus sehat, tiketnya mahal soalnya hahaha," kata Alia sambil menunjukkan tiket konser ke Naava
"Ahhhh, seneng banget gue! Haha," kata Naava yang disambung dengan lelucon-lelucon Alia dan Gina.
***
Hari sudah menjelang malam, Alia dan Gina pamit untuk pulang, karena ujian masih akan berlangsung besok. Danang juga menyarankan Oma untuk ikut pulang bersama Gina dan Alia, karena kondisi Oma yang juga terlihat sangat kelelelahan mengurusi Naava selama sakit.
__ADS_1
Sekarang di ruangan hanya tinggal Naava dan Danang. Danang yang hanya duduk diam sambil mengelus-elus rambut Naava dengan lembut, membuat Naava nyaman dan aman sambil memejamkan matanya
"Terima kasih, Danang. Kamu selalu ada buat aku,"
"Ga seharusnya kamu berterima kasih, sayang. Ini sudah kewajiban," jawab Danang lembut
Tiba-tiba pintu Kamar Rumah Sakit terbuka, muncul Gale terburu-buru. Tampak raut wajahnya yang panik, ia masuk ke ruangan dan segera menghampiri Naava
"Kamu kenapa tidak segera beritahu kalau kamu sakit?," tanya Gale seperti orang panik sambil memegang tangan Naava
"Tadinya aku mau memberita-..," jawab Naava yang langsung dipotong oleh Danang
"Untuk apa kamu perlu tahu? Siapa kamu sampai harus tahu, hah?," jawab Danang pada Gale tidak terima atas perlakuan Gale yang datang tiba-tiba lalu dan langsung membentak Naava didepannya
"Saya harus tahu kondisi Naava. Dia tidak bisa menghadapi ini sendiri, harusnya saya diberitahu lebih dahulu dan menemani dia!," kata Gale membentak Danang, yang membuat Danang bergerak dari kursinya mendekati Gale
"Stop!," kata Naava pelan
"Saya tidak ingin ribut dengan kamu! Sekarang pulanglah, biar saya yang menemani Naava disini," kata Gale tegas pada Danang.
"Siapa kamu bisa mengusir saya? Saya ini kekasih Naava, dan kamu bukan siapa-siapanya, saya lebih berhak, mengerti?!," jawab Danang lagi
"Bukan! Kamu bukan lagi kekasihnya, kamu hanya masa lalu Naava!! Dan sekarang, saya yang paling berhak atas Naava, karena saya tunangannya! Mengerti kamu?!," ucap Gale geram sambil menatap tajam mata Danang
"Apa maksudmu? Jangan berhayal! Kau hanya buat keributan disini," jawab Danang pada Gale
"Stoppp! Plis stop!," kata Naava menutup telinganya hampir menangis
"Gale, kamu kemana saja selama ini? Aku sudah menunggumu beberapa hari ini, kamu susah sekali untuk kujumpai. Dan sekarang, tahukah kamu kondisiku sedang sakit, apa yang bisa kamu lakukan hanya marah-marah?," jawab Naava kesal. Ia berbicara dengan gemetar sampai tak sadar mengeluarkan air mata
"Saya sedang ada project yang tak bisa ditinggal, kenapa kamu tidak telfon saja?," jawab Gale pada Naava
"Sekarang boleh kamu pulang saja? Kalau kamu terus marah-marah, kondisiku sedang tidak baik saat ini. Plis mengerti," jawab Naava
"Kamu membiarkan laki-laki ini bersamamu ketimbang denganku?," kata Gale marah
"Setidaknya hanya dia yang bersamaku, disegala kondisiku," kata Naava nanar
"Terserahmu!," jawab Gale sambil beranjak keluar dari ruangan itu. Terdengar suara pintu yang dibanting saat Ia keluar dari situ.
__ADS_1