
Naava tidak mengambil pusing atas kehadiran Dokter Ica dirumah sakit ini. Karena Dokter Ica juga merupakan dokter spesialis anestesi, yang berprofesi sama dengan Naava, otomatis Naava juga perlu belajar banyak darinya.
Sementara Gale, sudah mulai risih harus duduk berdua dengan seorang Ica di dalam ruangannya. Sebabnya, ia tidak mendapat kesan yang baik saat pertama kali jumpa dengan Ica, akibat insiden mobil tadi pagi.
Mereka menjadi saling diam satu sama lain diruangan itu.
Ica yang juga canggung satu ruangan dengan Gale, mulai mendekatkan diri, Ia mencoba meminta maaf atas sikapnya tadi pagi, yang menyebabkan mobil Gale rusak.
"Ehm.. Gale, saya minta maaf ya soal insiden tadi pagi?," kata Ica sambil duduk di depan Gale, dengan rok spannya yang ketat, membuat pahanya yang mulus terlihat sangat jelas, tepat dihadapan Gale.
"Tolong, kamu duduk yang sopan..,"kata Gale memalingkan pandangannya ke Laptop, tempatnya menulis rekam medis pasien.
"Oh, maaf! Kamu tidak seperti lelaki pada umumnya hehe..," kata Ica sambil memberikan senyuman manis dari bibirnya yang merah.
"Mobil kamu, parah ya kerusakannya? Saya akan menyuruh supir saya, Pak Dadang, untuk segera membawa mobil kamu ke bengkel, ya?," kata Ica lagi sambil menyeruput coffee late hangat favoritnya.
"Pintu mobil saya patah karena insiden tadi, harus segera diperbaiki..," kata Gale tanpa menatap sedikitpun ke arah Ica. Ia tetap konsentrasi mengerjakan laporan rekam medis pasien.
"Its okey, Gale.. Saya akan suruh Pak Dadang sekarang juga..," kata Ica sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
Tak lama, Ia berbicara pada Pak Dadang untuk segera membawa mobil Gale ke bengkel.
"Pak, Saya minta bapak ke ruangan saya sekarang ya. Saya minta tolong antar mobil Dokter Gale sekarang ke bengkel ya pak..," kata Ica memerintah sopirnya. Lalu, langsung mematikan ponsel ditangannya.
"Hmm.. Gale, kamu sudah berapa lama bekerja di sini?," tanya Ica menyambung pembicaraan. Ia ingin mengetahui sosok Gale lebih dalam. Ia juga sepertinya sangat penasaran dengan sosok Gale yang tampan namun bersikap dingin itu.
"Saya masih baru disini," ucap Gale singkat, nampak Ia tidak tertarik pada Obrolan Ica.
"Hmm.. masih baru ya? By the way, setelah melihat kamu secara langsung, aku baru tahu, kenapa ayahku suka membicarakan tentang kamu, dirumah..," kata Ica kembali pada Gale sambil tak putus menatapnya.
"Maksud kamu?,"
"Iya, Ayah ku suka sekali memuji kamu, setiap hal yang diceritakan tentang kamu, pasti semua hal positif, aku sampai penasaran bagaimana sosok kamu sebenarnya," kata Ica sambil tersenyum.
'Apa maksudnya berkata seperti ini? Dokter Lesmana, beliau memang orang yang sangat baik, aku sangat menghormati beliau. Tapi untuk apa beliau menceritakan tentang pribadiku pada Ica?' ucap Gale dalam hati.
"Oh ya? Saya juga sangat menghormati beliau, beliau salah satu inspirasi saya. Sudah lama saya tidak jumpa, sejak beliau sakit..," jawab Gale yang sudah mulai nyaman dengan obrolan bersama Ica.
"Iya, dia sangat mengagumi sosok kamu, Gale. Katanya kamu pintar dan berkharisma..," kata Ica sambil tersenyum
"Hmm.. Saya masih jauh dari pujian itu.. Beliau jauh lebih baik dari saya..," ucap Gale pada Ica.
"Sekarang saya jadi mengerti maksud dari pujiannya itu. Hal itu memang benar adanya..," kata Ica sambil memandang sosok Gale tanpa putus.
__ADS_1
Gale merasa salah tingkah, dipuji oleh sosok wanita cantik seperti Ica. Ia coba mengalihkan pembicaraan itu.
"Bagaimana kondisi Dokter Lesmana sekarang? Apa kondisi beliau sudah baikan?," tanya Gale pada Ica.
"Ayahku masih menjalani terapi pada kakinya, agar bisa berjalan kembali, karena stroke yang dideritanya. Ia selalu bercerita tentang kamu, Gale. Oh iya, pasti beliau akan senang, jika kamu punya waktu untuk datang menjenguknya..," ucap Ica sambil tersenyum memandangi ujung cangkir kopi ditangannya.
"Saya minta maaf, belakangan saya benar-benar sibuk, jadi tidak dapat menjenguk beliau..," kata Gale mulai mau bertatap muka dengan Ica.
TOK TOK TOK
Tiba-tiba pintu ruangan diketok oleh sesorang, yang ternyata adalah Pak Dadang.
"Permisi, non, saya izin minta kunci mobil Mas Gale. Biar mobilnya saya anter ke bengkel..," kata Pak Dadang sambil menunduk
"Oh, baik, pak. Ini..," kata Gale sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Pak Dadang.
"Tetapi, Non, sepertinya kerusakannya agak parah, dan akan memakan waktu lama. Non gimana pulangnya? Non kan tidak bisa menyetir mobil," kata Pak Dadang pada Ica.
"Hhmmm.. Saya akan coba naik taksi aja pak," kata Ica ragu.
"Tapi, saya tidak bisa membiarkan Non sendiri. Non kan tidak pernah naik kendaraan umum, saya takut terjadi apa-apa pada Non," kata Pak Dadang khawatir
"Tidak apa, pak. Biar saya yang menyetir mobil Ica untuk pulang kerumah. Mobil saya biar pak Dadang urus dulu ya," kata Gale memotong pembicaraan mereka berdua.
"Tidak masalah, Ca.. Lagian saya juga sudah rindu untuk bertemu dengan Dokter Lesmana. Saya ingin bersilahturahmi sekalian..," ucap Gale lagi.
"Terima kasih banyak ya mas, Gale. Saya jadi sedikit lebih tenang. Saya permisi ya Mas, Non..," Ucap Pak Dadang
"Sama-sama, pak. Terima kasih juga bapak sudah mengurus mobil saya. Hati-hati ya pak," ucap Gale pada Pak Dadang.
"Terima kasih ya, Gale," ucap Ica pada Gale sambil tersenyum.
Wajah Ica terus senyum sumringah sepanjang hari itu, mengingat nanti sore Gale dengan ringan langkah mau mengantarnya pulang kerumah.
***
Menjelang sore hari, saat waktu pulang tiba, Naava sibuk berkeliling rumah sakit, mencari Gale untuk pulang bersamanya.
Namun Ia tidak mendapati mobil Gale di parkiran, Ia heran, apa Gale lupa untuk mengajaknya pulang sama sore itu.
Naava pergi mencari ke ruangan Gale, tetapi tidak ada Gale disana. Ia hanya mendapati Harry yang duduk menunggu Gina untuk pulang bersama.
"Ry, lo ada lihat dokter Gale ngga?," tanya Naava pada Harry
__ADS_1
"Emm.. Kayanya sih barusan pulang deh, Naa..," jawab Harry
'Loh, dia kok ngga nungguin aku sih? Pasti dia kelupaan, nih, ngga ngajak-ngajak aku pulang!' ucap Naava kesal dalam hati
"Oh, udah pulang ya?,"
"Iya, tadi pulangnya bareng Dokter Ica. Soalnya mereka berdua juga pergi naik mobil Dokter Ica," sambung Harry lagi
Deg!
Jantung Naava berdegup dengan kencang.
'Dokter Ica? Kenapa dia mau pulang bersama Dokter Ica? Gale kan bukan orang yang cepat untuk bersosialisasi.. Tapi, sekarang dia sudah berani pulang berdua bersama orang yang baru ia kenal hari ini??' ucap Naava lagi dalam hati
"Oh oke, thank you ya, Ry," jawab Naava sambil pergi meninggalkan Harry.
Ia terus bertanya dalam hatinya, kenapa Gale tidak memberinya kabar sedikitpun. Apa Gale mau menyembunyikan sesuatu darinya? Ini Aneh!
Ia tidak sabar untuk menunggu jawaban dari Gale, Ia langsung mengeluarkan ponsel dari handphonenya. Ia cari kontak Gale.
TUT.. TUUT...
"Halo..," jawab seorang wanita dari sudut telfon diaana.
'Loh, mengapa handphone Gale diangkat oleh seorang wanita? Apa aku salah menekan nomer handphone?' ucap Naava dalam hati.
Ia memastikan kembali ke layar handphonenya, ternyata memang benar, itu adalah nomer Gale. Tapi mengapa bukan Gale yang menjawab??
"Ha.. Haloo.. Ada Gale?," ucap Naava sambil terbata-bata.
"Oh, ada. Maaf, tolong telfon sebentar lagi, ya. Gale sedang ke supermarket, handphonenya tertinggal di mobil..," kata wanita itu pada Naava.
"Oh, oke, nanti tolong sampaikan Naava yang menelfon..," kata Naava lagi lalu Ia matikan ponsel itu.
Rasa kecewa, kesal dan marah bercampur di hati Naava. Kenapa Gale tega meninggalkannya di rumah sakit, tanpa memberi kabar apapun padanya.
Dan yang paling membuat kesal, ia pulang bersama seorang wanita yang baru juga Ia kenal!
Naava mencoba menumbuhkan pikiran postif dikepalanya, agar Ia bisa lebih relax.
'Mungkin Dokter Ica dan Gale ada keperluan mendadak, sehingga harus pergi berdua. Yasudah, aku kan bisa pulang sendiri, seperti biasa. Tidak boleh manja!!' ucap Naava tawar dalam hati
Bersambung..
__ADS_1
Hai Readers, jangan lupa untuk tetap vote, like dan comment yaa! Terima kasih dan Selamat Membaca! 😊