Love And Medicine

Love And Medicine
Acara Amal di Bandung


__ADS_3

"Halo," ucap seseorang dari ujung telfon


"Halo, Gal," ucap Naava membalas suara, yang ternyata telfon itu dari Gale.


"Apa kabar?,"


"Baik, kamu gimana disana? Hmm.. Gimana Ajeng? Sudah baikan?,"


"Iya, sudah. Bahkan dia sudah mulai beraktivitas, dan mengadakan pertunjukan amal lagi," kata Gale. Sudah seminggu lebih ini Ia tidak kembali ke Jakarta.


"Baguslah kalau begitu," kata Naava pelan


"Saya akan pulang besok ke Jakarta. Dan ada satu hal yang saya ingin sampaikan pada kamu..,"


"Tentang?,"


"Saya akan menghadiri acara amal di Bandung lusa, dan mereka kekurangan satu dokter lagi. Saya mendaftarkan kamu," kata Gale singkat


"Ha?! Mana bisa begitu, kamu kan belum tanya aku dulu, Gale!!,"


"Saya sudah daftarkan, dan kamu harus ikut. Tidak ada alasan!! Dan jangan membantah! Sudah ya!," kata Gale sambil menutup telfon.


Tutt.. Tut.. Tutt...


"Ihhh!!! Dasar laki-laki aneh! Semau nya aja! Ga bisa apa minta tolong baik-baik? Pake basa basi dulu kek!! Bicaranya aja udah kaya orang ngerampok!!," umpat Naava kesal kearah telfon genggam miliknya.


***


Keesokan harinya,


"Naavaaa!," teriak Gale dari lantai satu yang sudah bersiap-siap akan berangkat dari tadi


"Yaaa!!," balas Naava


"Kamu lama banget sih!! Acaranya mulai pukul sepuluh!! Cepat!!," bentak Gale pada Naava lagi


"Iyaaaaaa!!,"


"Kamu selalu membuat orang menunggu! Hah!," kata Gale kesal. Mereka berdua terburu-buru keluar dari rumah, bergegas pergi untuk acara di Bandung.


"Iya!! Sabar sedikit dong!!," jawab Naava kesal

__ADS_1


***


Acara itu adalah acara amal untuk pemeriksaan kesehatan bagi penderita kanker, dan orang-orang miskin yang tidak memiliki uang yang cukup untuk berobat. Disana diadakan posko-posko bagi mereka yang ingin berobat, maupun mereka yang sekedar ingin memeriksakan kesehatan. Gale dan Naava ikut berpartisipasi sebagai tim dokter yang memeriksa disana, acara berlanjut hingga malam hari. Gale dan Naava sangat keletihan menghadapi banyaknya masyarakat yang datang untuk memeriksakan diri mereka.


" Naa, gimana kalo kita bermalam satu malam disini? Saya terlalu letih untuk menyetir kembali ke Jakarta," kata Gale pada Naava


"Iya, aku juga takut. Bahaya kalau dipaksakan," kata Naava


"Kita cari hotel dekat sini saja..," kata Gale mengajak Naava. Tempat acara mereka itu adalah daerah pedalaman di Bandung. Sehingga mereka sedikit kesulitan untuk mencari tempat penginapan.


.Sampai satu tempat yang sepertinya hanya satu-satunya tempat penginapan yang ada disana. Tempatnya juga sangat kecil, dan tidak terlalu bagus.


"Permisi, kita mau pesan kamar untuk dua orang," kata Gale pada receptionist itu


"Maaf pak, disini tersedia hanya tinggal satu kamar saja," kata gadis itu


"Yang benar saja..," kata Gale tak percaya


"Hey!! Aku ga mau kalau harus sekamar dengan kamu! Mending kita pulang aja!," kata Naava ketus


"Saya juga ngga mau tidur sekamar dengan kamu yang berisik, kok!! ," kata Gale pada Naava. Ia memikirkan untuk kembali saja ke Jakarta, namun hujan deras disertai angin kencang masih turun ditengah malam yang dingin itu. Ia tidak bisa menjamin bisa menyetir aman dengan matanya yang sudah cukup lelah itu.


"Okey, saya akan menginap satu malam saja," kata Gale pada gadis itu


"Yasudah, kalau tak mau, hati-hati yaa! Daaaaahhh!! ," kata Gale melambaikan tangan lalu, segera menenteng tasnya ke kamar hotel


"Gale!! Galeee!! Tunggu!! Ihhh, kamu nyebelin banget sih!!!," kata Naava mengejar Gale yang sudah pergi duluan.


***


Didalam kamar hotel yang berukuran tidak terlalu luas itu hanya terdapat satu tempat tidur berukuran sedang, muat untuk dua orang.


"Sepertinya tempat tidur ini muat untuk kita berdua," kata Gale tenang sambil menatap Naava dengan tajam


"NOOOO!! Kamu tidur di karpet bawah! Saya tidur disini," kata Naava duduk ditempat tidur


"Tidak bisa! Saya yang menyewa kamar ini, saya yang akan tidur di tempat tidur, kalau kamu tidak mau ya sudah tidur di luar, sana! ," kata Gale menarik tangan Naava untuk bangkit berdiri, namun kakinya tersandung pada kaki Naava, sehingga Gale jatuh terbaring diatas tempat tidur, dengan Naava jatuh diatas tubuhnya. Mereka bertatapan selama beberapa saat. Naava menatap tajam wajah Gale yang berada sangat dekat dengannya. Membuat jantungnya berdegup sangat kencang, kenapa Gale menatapnya seperti itu? Wajah Gale yang putih, tampan, dengan brewok di pipinya seperti semakin dekat dengan wajahnya, apa Ia akan menciumku?? Pikir Naava , gelisah didalam hati. Ia menutup matanya, tak sanggup lagi menatap mata Gale.


"Ehhmmm.. Kamu mau terus seperti ini sampe besok?," kata Gale canggung, menatap Naava yang sudah menutup matanya


"Haa?!! Apa?? Ah! Maaf!," kata Naava tersentak sambil mencoba berdiri kembali. Mereka berdua menjadi salah tingkah satu sama lain

__ADS_1


'Apa yang sudah kau pikirkan, Naava bodoh?'


'Malunya aku!'


'Aku pikir dia akan menciumku!'


pikir Naava dalam hati.


Gale yang canggung, segera mengambil handuk untuk mandi. Ia merasa suasana terasa sedikit panas malam ini.


Naava menghidupkan TV agar suasana lebih cair, dan tidak tegang, pikirnya. Ia menonton siaran tv lokal, karena susah mencari sinyal televisi disana. Hanya berselang beberapa waktu kemudian, Gale keluar dari kamar mandi menggunakan handuk.


" HEYYY!!," seru Naava yang canggung, segera menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Tutup matamu sebentar, saya mau berpakaian dulu," kata Gale tenang.


"Kenapa tidak dikamar mandi saja pakaiannya, sih?? Dasarr!! Lelaki cabul!!," bentak Naava sambil menutup matanya


"Kenapa kamu mesti canggung sih, nantinya kan kita juga akan menikah? ," kata Gale bergurau sambil tersenyum melihat tNaava yang salah tingkah.


"Kamu jangan macam-macam ya!! Saya bisa karate, tau????," kata Naava ketakutan. Gale hanya tertawa melihat prilaku Naava.


"Yasudah, tutup saja matamu sampai besok haha," kata Gale tertawa kecil sambil merebahkan badannya ke tempat tidur. Ia ternyata sudah selesai berpakaian sedari tadi, tetapi ingin mengerjai Naava saja.


***


Naava mencoba memejamkam matanya untuk bisa tertidur, namun jantungnya terasa berdegup lebih kencang, karena untuk pertama kalinya ada lelaki yang tidur persis disampingnya. Matanya liar kesana kemari, dan tak sengaja Ia menatap punggung Gale. Matanya hanya tertuju kesana. Punggung yang tegap, begitu terasa aroma tubuh Gale yang wangi membuat Naava merasa sangat nyaman berada didekatnya.


'Sungguh punggung itu adalah tempat yang sangat nyaman untuk dijadikan tempat bersandar' ucap Naava dalam hati.


"Sudah tidur!! Jangan menatap punggungku seperti itu!!," kata Gale menyadari Naava sedang memperhatikannya sedari tadi.


"Hmm.. Aku sudah tidur tau?," kata Naava spontan.


'Aduh! Kenapa coba, aku menjawabnya? Orang yang sudah tidur mana bisa berbicara! BODOH!'


' Tapi, darimana dia bisa tau aku sedang memandanginya?'


'Malunya aku!'


Ucap Naava dalam hati sambil menutup matanya.

__ADS_1


Tidak lama Ia tertidur pulas, mungkin karena keletihan memeriksa pasien seharian ini. Gale yang ternyata belum tidur, memandangi wajah Naava yang putih bersinar itu. Naava terlihat lebih cantik saat tertidur, apalagi jika dilihat dalam jarak sedekat ini, pikir Gale dalam hati.


"Selamat tidur, calon istriku yang cerewet," ucap Gale sambil tersenyum menatap wajah Naava dengan dekat. Ia mengelus wajah Naava, kemudian, memberikan kecupan manis dikeningnya.


__ADS_2