
Gale terburu-buru masuk ke mobil, Ia tidak peduli akan Naava. Gale seperti orang yang kehilangan kendali akan dirinya sendiri. Kebingungan, dan gugup. Sementara Naava yang masih shock, mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berdiam diri, masuk perlahan ke dalam mobil.
Ia mengambil nafas panjang sebelum berkata-kata, sudah tidak sabar Ia memuntahkan seluruh pertanyaan-pertanyaan yang ingin keluar dari kepalanya sedari tadi.
Mereka berdua hening sejenak didalam mobil yang kedap suara tersebut.
"Maaf," kata Gale tertunduk sebelum Naava mengatakan sepatah kata pun dari bibirnya.
"Kenapa?," tanya Naava pelan. Antara takut akan membuat Gale marah atas pertanyaannya, tetapi penasaran dengan segala kejadian yang barusan Ia alami.
"Maaf, saya tidak bisa menjelaskannya. Anggap saja hal tadi tidak pernah terjadi," jawab Gale sembari menghidupkan mobilnya.
"Oke, mungkin kamu butuh waktu. Tapi yang jelas, aku butuh jawaban atas semua yang kamu lakukan padaku tadi. Jelaskan padaku kalau kau sudah siap menjelaskan saja. Terserah kapanpun itu..," jawab Naava gemetar. Ia merasa kecewa, sedih, sudah diperlakukan dengan sesuka hati Gale. Terus terbayang di kepalanya, Gale yang tadi baru saja membentaknya, dalam kedipan mata merangkul tubuhnya yang kecil dan tiba-tiba mencium keningnya dengan manis didepan orang yang bahkan tidak Ia kenal. Manusia seperti apa Gale ini? Apa dia makhluk luar angkasa yang tidak punya perasaan? Memainkan perasaan wanita sesukanya. Tidak pernah dalam sejarah percintaannya, atau setidaknya hubungannya dengan seorang lelaki dilalui dengan cara seperti ini.
Naava yang biasa disanjung, dihormati, dipuji oleh setiap pria yang jalan dengannya, sekarang harus menghadapi seseorang yang memperlakukannya kasar dan sesuka hati.
Harusnya malam ini bisa dilewati dengan ngobrol asik, mengetahui pribadi Gale lebih dalam, dengan makan malam istimewa direstauran favorit Naava. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini.
"Aku tahu kamu tidak menyukaiku, setidaknya jangan perlakukan aku sesukamu," kata Naava pelan sambil melihat ke arah jendela. Ia tak kuasa meluapkan kekecewaannya pada sikap Gale malam ini.
"Maafkan saya. Sebaiknya kita pulang sekarang," kata Gale sedikit merendahkan volume suaranya, tidak seperti biasanya. Ia terlihat agak sedikit kacau malam ini. Naava hanya diam tanpa menjawab apapun perkataan Gale.
Mobil Gale dengan kencang menelusuri jalanan Jakarta, suasana dingin diantara Gale dan Naava, serupa seperti gerimis yang jatuh di jalanan kota malam ini. Diiringi lagu Endah n Reza, yang terus mengisi kehampaan mereka.
***
Oma sudah sampai dirumah, lampu teras sudah menyala. Naava turun dengan menenteng jas dokter miliknya. Dengan wajah yang lesu, ia membuka pintu gerbang, melepas sepatu hitam berpita miliknya.
Sepertinya Oma kelelahan sehabis pulang melayat malam itu, sehingga beliau langsung tidur tanpa sempat bertemu dengan Naava dan Gale.
Naava langsung masuk ke kamar, tanpa ada kata yang terucap dari mulutnya.
Ia merebahkan badannya ke atas kasur, menutup matanya perlahan. Begitu banyak pertanyaan dalam hati Naava :
__ADS_1
'Siapa wanita itu?'
'Ia terlihat benci kepada wanita itu'
'Kenapa Ia melakukannya?'
'Apakah wanita itu mantan kekasihnya?'
'Oh, jadi dia memanfaatkan aku untuk membuat mantannya cemburu?'
'Memang dia pikir aku murahan apa?'
Pikiran itu terus muncul dikepalanya. Perasaannya yang campur aduk membuat energinya terkuras lebih banyak hari ini.
Naava tertidur, tanpa sadar Ia masih mengenakan baju kuliahnya. Jas dokternya tergeletak dilantai, tasnya pun ia taruh sembarangan. Dirasanya badannya yang menggigil karena suhu AC diruangannya yang terlalu dingin. Namun, kehangatan tiba-tiba muncul, membuatnya tidur semakin lelap dan nyaman. Ya, ada yang menyelimuti dirinya yang kedinginan. Dia adalah Gale.
***
"Selamat pagi, Oma.. Maaf, semalam Naa pulang terlalu malam," jawab Naava sambil mengucek matanya yang sembab, baru bangun tidur
"It's okey, honey. Gale sudah cerita, Ia minta maaf pada Oma, katanya sudah mengajak kamu jalan sampai kamu kecapean," jawab Oma lembut. Naava hanya tersenyum kecil, seandainya Oma tau apa yang terjadi semalam.
"Oiya, ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu, yuk siap-siap dulu," kata Oma pada Naava.
"Siapa, Oma?," tanya Naava
"Danang sudah menunggu kamu dari tadi," jawab Oma pelan.
"Oke, Oma. Naa mau siap-siap dulu..," kata Naava.
Entah mengapa, kali ini Naava tidak begitu kesal dengan kehadiran Danang dirumahnya pagi ini. Seperti Danang lah yang akan jadi tempat curahan akan apa yang dialaminya semalam. Saatnya dia menunjukkan, siapa sebenarnya dirinya. Bukan wanita sembarangan, dan murahan seperti anggapan Gale, pikir Naava.
Ia berdandan sangat cantik pagi itu. Dengan parfum wangi yang diberikan Gina, oleh-oleh dari Prancis juga tidak lupa Ia pakai. Ia tambahkan pita kuning dirambutnya yang pirang itu. Menambah sempurna penampilannya yang akan bertemu dengan Danang.
__ADS_1
Segera Ia turun ke meja makan, dan seperti biasa, Oma sudah menyajikan serapan untuk mereka sebelum beraktivitas. Ya, ada Oma, Danang, dan Gale tentunya.
Kali ini Naava memilih duduk tepat disamping Danang, yang berhadapan langsung dengan Gale.
"Hai, sayang..," kata Danang melihat Naava turun dari kamarnya
"Hai," kata Naava singkat
"Kok pada canggung sih? Oiya Danang, ini Gale, anaknya sahabat Alm. ayah dan ibu Naava. Gale mengajar juga di kampus kalian," kata Oma mengenalkan Gale pada Danang
"Iya, Oma.. Kita udah kenal, kan papa udah cerita ada dosen pengganti di kampus," kata Danang yang Ayahnya seorang Dekan di kampus.
"Oh, bagus kalau begitu. Jadi ga perlu canggung ya," kata Oma dan disambung beberapa percakapan dengan Danang.
Naava yang hanya mendengar percakapan Oma dan Danang, serius menikmati roti selai kacang kesukaannya.
Ia buat sehelai roti yang baru karena belum cukup kenyang hanya dengan satu potong roti saja. Ia meraih roti yang berada cukup jauh darinya, dan dengan tiba-tiba Danang dan Gale ikut bersamaan mengambil Roti itu untuk membantu Naava.
"Ini, sayang," kata Danang menyambar roti itu dari tangan Gale dan memberikannya ke Naava
"Terima kasih," kata Naava, Ia lihat sorot mata Gale yang pasrah memberikan roti itu ke tangan Danang, karena Ia tahu, Danang memang kekasih Naava. Ia tidak berhak apapun atas Naava.
"Oiya, hari ini ke kampus dengan siapa, Na?," tanya Oma pada Naava
"Sama saya saja, Oma. ," jawab Danang dan Gale juga bersamaan yang membuat kaku suasana dimeja makan pagi itu. Danang dan Gale melihat kearah Naava yang hanya diam mendengar jawaban dua lelaki di hadapannya ini. Naava bingung harus pergi dengan siapa. Tidak ingin dengan Danang, namun perasannya masih kacau dengan Gale. Namun, tanpa pikir panjang, bibirnya segera berkata
"Aku bareng Danang, Oma. Yuk..," jawab Naava sembari mengambil jas dokternya lalu berpamitan dengan Oma. Ia sampaikan kecupan manis dipipi Oma, lalu sembari melewati Gale, Naava berkata
"Saya duluan, kamu hati-hati dijalan. Jangan terlalu memikirkan yang lain saat menyetir nanti, berbahaya..," kata Naava lalu pergi masuk ke mobil Danang yang sudah menunggunya didalam mobil.
Entah mengapa, disaat kesal sekalipun, Naava tetap ingin menyampaikan hal itu pada Gale. Ia ingin Gale tetap dapat mengendalikan diri, walaupun baru patah hati melihat mantan kekasihnya tadi malam. Rasa khawatirnya kepada perasaan Gale, keselamatan Gale. Entah mengapa, Naava hanya memikirkan itu, tidak peduli dengan perasaannya sendiri. Yang dipikirannya hanya tentang Gale.
***
__ADS_1