Love And Medicine

Love And Medicine
Resah


__ADS_3

"Halo?," ucap seorang wanita yang berbicara dari sudut telfon


"Ya, " jawab Gale datar


"Hai, apa kabar?," tanya wanita itu lagi


"Baik, kamu?"


"Tidak terlalu baik, Gal. Kamu sedang dimana sekarang?," tanya wanita itu pelan pada Gale


"Aku? Aku sedang di kampus. Aku mengajar di Jakarta selama sebulan, untuk menggantikan dokter Abimanyu,"


"Oh.. Bagus kalau begitu, Gal.. Aku ikut senang kau bisa memulai hari lebih baik lagi,"


"Ya, pelan-pelan aku mulai menata hati dan hidupku lagi yang sudah mati rasa. Kamu bagaimana? Semakin bahagia dengan tunanganmu, ya?," tanya Gale sedikit tertawa, intonasinya sedikit aneh, seperti dibuat-buat.


"Aku membatalkan pertunangan,Gal.." jawab Wanita itu.


Gale hening, Ia tidak menjawab sepatah katapun. Ia menghentikan penanya yang sedang menulis, dan melepas kacamata dari wajahnya. Gale terkejut dengan apa yang disampaikan wanita itu.


"Halo? Gale? Kamu masih dengar?," tanya wanita itu lagi


"Apa yang terjadi? Kenapa begitu tiba-tiba?," jawab Gale datar


"Dia menghamili wanita lain, aku sudah selesai dengannya," jawab Wanita itu sedikit terisak


"Are you okay?," tanya Gale pelan, nampak ia perhatian dengan kondisi lawan bicaranya itu. Sangat hati-hati ia bertanya, takut membuatnya menangis

__ADS_1


"Aku.. Aku tidak tahu, dia bermain dibelakangku. Aku sudah bilang orangtuaku dan orangtuanya, aku mundur..,"


"Aku turut prihatin dengan keadaanmu, tapi tolong, jangan terlalu stress, Ajeng, jaga kesehatanmu..," jawab Gale dengan nada memohon


Ya, Ajeng. Dialah mantan kekasih yang sangat Gale cintai begitupun sebaliknya dengan perasaan Ajeng pada Gale. Mereka melewati masa-masa kecil bersama, tumbuh dan besar di sekolah yang sama, hingga semakin dewasa, rasa nyaman akan satu sama lain menumbuhkan benih cinta diantara mereka berdua. Ajeng yang sudah dianggap seperti adik sendiri oleh Gale. Ia menjaga, melindungi, menyayangi Ajeng dengan sepenuh hatinya, tak akan Ia biarkan sekecil hal apapun melukai hati dan perasaan Ajeng.


Ajeng lahir dari keluarga ningrat Yogyakarta, ayahnya masih memiliki garis keturunan dari Sultan Hamengkubuwono, sehingga darah kerajaan masih melekat kuat dalam dirinya. Ibunya seorang berdarah Belanda, jaman dahulu, saat Belanda menjajah Indonesia, banyak pedagang Bangsa Belanda yang menikah dengan pria Indonesia dan tinggal menetap disini. Begitu halnya yang terjadi dengan Ibu Ajeng, merupakan anak dari pedagang Belanda, yang menikah dengan ayahnya seorang putra asli Yogyakarta yang sangat dihormati saat itu, karena berdarah biru.


Semakin bertumbuh dewasa, Ajeng tumbuh menjadi seorang yang berparas Ayu khas Jawa, manis, rambut hitam panjang yang melekat padanya, serta kulitnya yang sawo matang, bola mata besar, hidung mancung turunan Ibunya, dan lesung pipih di pipi sebelah kirinya membuatnya banyak digilai pria dari keturunan keluarga-keluarga ningrat lainnya di Yogyakarta.


Tapi bukan itu yang membuat Gale jatuh hati pada seorang Ajeng. Bukan. Tabiatnya yang santun khas didikan turunan Yogya, sopan berbicara kepada orang lain, bahkan kelembutan hatinya kepada orang-orang miskin dan kaum lemah itu yang membuat Gale tergila-gila padanya. Gale yang dididik dengan tabiat keras ayahnya, terpana dengan kelembutan laku seorang Ajeng.


Saat Ia dewasa, Ajeng tumbuh menjadi pendiri salah satu Yayasan Warisan Kebudayaan Jawa terbesar di Yogyakarta. Ia mengabdikan dirinya sebagai guru tari untuk anak-anak yang mau belajar tentang kebudayaan Jawa, dan Ia juga menyediakan tempat dan kursus belajar untuk putra putri Yogya yang ingin belajar bermain alat musik Gamelan. Dengan dukungan dana dari Ayahnya, Ia juga sering mengadakan Pertunjukan Amal, berupa festival-festival tarian dan musik khas Jawa, untuk memperkenalkan budaya Jawa di mata mancanegara, hasil Amal tersebut biasa Ia sumbangkan untuk membantu kebutuhan di panti-panti Asuhan dan panti jompo.


Ajeng merupakan gadis yang penurut, tak pernah sedikitpun membantah perkataan kedua orangtuanya. Ini jugalah yang menjadi boomerang bagi dirinya. Ayahnya yang merupakan keturunan ningrat, juga memiliki usaha properti di beberapa wilayah di Yogyakarta, telah bersepakat untuk menjodohkan Ajeng dengan anak dari rekanannya yang juga memiliki kedudukan tinggi di Yogyakarta. Ajeng yang saat itu masih berpacaran dengan Gale, tak kuasa melawan permintaan ayahnya, demi memperluas usaha keluarga mereka. Lagian, Ayah Ajeng juga seorang yang keras, Ia mewajibkan Ajeng untuk menikah dengan seseorang yang juga memiliki garis keturunan kerajaan, tidak boleh dengan sembarang orang.


Hubungan Gale dan Ajeng terpaksa berakhir, dengan permintaan Ajeng kepada Gale untuk tidak lagi menemuinya. Ajeng sudah bersumpah untuk selalu turut kepada Ayah dan Ibunya, membuat Gale tak berdaya. Ia benci terhadap keluarga Ajeng, kenapa masih berpikiran kolot, tidak mengikuti perkembangan jaman.


Ia juga marah dan kecewa terhadap Ajeng, sebagai perempuan jaman sekarang, harusnya Ia bisa menentukan pilihannya sendiri, tidak perlu ikut dengan pilihan Ayah dan Ibunya. Kan yang tau kita bahagia atau tidak, bukan mereka? Tapi kita yang menjalani hubungan. Atau apakah Ajeng juga memang sudah tertarik melihat gagahnya pria keturunan kerajaan itu? Dan kilau gemilau hartanya? Tentu saja Ajeng akan memilih pria itu, karena dialah yang akan mengangkat derajat keluarganya lebih tinggi.


Lalu, Gale bisa apa? Hati dan hidup Gale hancur, kuliahnya spesialisnya tertunda selama 2 tahun setelah Ajeng memutuskan hubungan dengannya. Hidupnya kacau, bahkan kedua orangtua Gale sempat stress melihat kehidupan Gale yang tak tentu. Ia pergi ke bar setiap malam, sering kedapatan kumpulan puntung rokok dikamarnya, nilai kuliahnya anjlok sehingga dia harus mengulang selama 1 tahun, hidupnya kacau balau saat itu.


Sampai suatu hari, Orang tua Gale mendapat telfon dari Oma Widya, dan Oma menawarkan agar Gale pindah ke Jakarta. Orangtua Gale memberitahu ide untuk menjodohkan Gale dengan Naava, pada Oma. Mereka yakin, Gale bisa mendapat kasih sayang yang lebih, dari yang Ia dapatkan bersama Ajeng.


Gale yang saat itu sedang hancur, mencoba membangun kembali percaya dirinya, dan kehidupannya. Ia setuju tentang rencana perjodohan Ayah dan Ibunya. Tidak ada salahnya mencoba dengan seseorang yang baru. Tidak perduli, dia, gadis yang disana juga setuju atau tidak atas ide perjodohan ini .


Tapi hari ini, usaha yang dibangun Gale untuk melupakan Ajeng runtuh sudah. Ajeng kembali menyapanya lewat telfon ini. Kabar tentang batalnya pertunangan Ajeng dengan Sang Pria Ningrat.

__ADS_1


Gale tak tahu apakah ini kabar yang menggembirakan atau justru menyulitkan baginya.


Ia yang mulai menata hatinya untuk Naava, Ia yang mulai merasa nyaman dengan hadirnya seorang Naava yang ceria, dan selalu sabar kepadanya, Naava yang sebetulnya tidak terima dengan perjodohan ini, namun tetap mencoba menyesuaikan diri dengan Gale, Naava yang selalu membuat Gale tertawa dalam hati karena lelucon-lelucon garingnya, walaupun sudah berjuta-juta kali Ia membentaknya, Naava yang tahan uji, menurut Gale.


Tidak tega rasanya Gale, tetap menerima telfon ini. Ia merasa sudah berkhianat pada Naava yang sudah berupaya keras menyukai dan mencintainya. Tapi, apa daya Gale. Ia tidak bisa melihat Ajeng, orang yang dulu pernah Ia cintai terluka. Ajeng sangat membutuhkannya, Ia sedang hancur ditinggalkan tunangannya. Tidak apa-apa rasanya mengobati luka yang dirasakan Ajeng sebentar, kan? Toh Naava tidak tahu hal ini. Naava kan sedang sibuk dengan Ujian Tengah Semesternya. Naava juga pasti senang, aku tidak bersama dia, karena aku pasti hanya akan mengganggu konsentrasinya saja.


Saatnya aku menghibur Ajeng beberapa hari ini, aku harus segera menemuinya. Dia sangat butuh diriku. Naava tidak perlu dikhawatirkan, Ia bisa dibantu oleh teman-temannya yang lain dalam mengerjakan tugas-tugas makalahnya. Lagian Ia kan superwomen yang bisa mengerjai semuanya sendiri. Sementara Ajeng? Dia tidak punya teman lain selain aku. Pikir Gale dalam hati.


"Kamu tenang ya, Aku ke Yogya sekarang, penerbangan pagi ini," kata Gale pada Ajeng ditelfon


"Matursuwun, njih, Gal.. Tapi gimana kampus?," kata Ajeng pada Gale sambil mengusap airmatanya


"Aku pulang ke Jakarta dengan penerbangan malam, jangan khawatir. Yang perlu di khawatirkan sekarang hanya dirimu," jawab Gale menenangkan Ajeng


Telfon terputus, Gale segera siap-siap untuk penerbangan ke Yogyakarta. Pada malam hari, Ia ikut penerbangan malam untuk kembali lagi ke Jakarta dan tiba di rumah sudah tengah malam. Belakangan, Ia sering melihat Naava sering belajar hingga larut malam, Ia enggan untuk mengganggu , lagian, dirinya sendiri sudah letih pulang pergi Jakarta-Yogya dalam sehari.


***


Gale keluar dari kamar tempat Naava dirawat dengan wajah gusar. Ia terlihat sangat kesal dan marah melihat Naava yang sama sekali tak memperdulikan kehadirannya disana. Ia tak habis pikir, 'Bagaimana Naava malah memilih Danang, untuk menjaganya yang sedang sakit, sementara ada aku, aku ini kan tunangannya?' pikir Gale dalam hati


Ia berjalan cepat ke mobil, didalam hatinya yang ada marah dan rasa panas terhadap Danang. Apakah Ini yang dinamakan cemburu?


Sementara handphonenya yang dari tadi dikantongnya berdering, telfon dari Ajeng yang dari tadi menanyakan kabarnya.


Ajeng yang mulai bisa menata hatinya kembali, meminta Gale untuk datang kembali ke Yogya, karena Ia akan melaksanaan Pertunjukan Amal yang memerlukan tenaga medis didalamnya, karena dalam acara tersebut juga diadakan pemeriksaan kesehatan secara gratis untuk lansia.


Telfon itu kembali berdering, sementara Gale masih kacau dengan pertengkarannya dan Danang tadi.

__ADS_1


Ia mematikan ponselnya, menghidupkan mobil, lalu pulang ke rumah. Satu-satunya orang yang ia ingin jumpai saat ini ialah Oma. Ia mau mengakui kesalahannya beberapa hari ini tidak bisa bersama Naava. Kalau saja dia menyempatkan waktu untuk membantu Naava dalam menyelesaikan makalahnya, tentu Naava tidak akan jatuh sakit seperti saat ini.


"Oma, i need you..," kata Gale berbicara sendiri.


__ADS_2