Love And Medicine

Love And Medicine
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Bis yang ditumpangi Naava hampir sampai. Cepat-cepat Ia turun dari bis, jalan menuju kelas pertama di semester ini.


Dilantai 2, ia langkahkan kakinya besar-besar menaiki anak tangga seakan dikejar hantu saja. Dari luar jendela, didapatinya dua sosok makhluk yang sangat ingin Ia temui sebulan belakangan ini.


“Hey kalian! Aku kangeeeennnnn!,” ucap Naava sembari memeluk kedua temannya itu. Alia dan Gina. Mereka bertiga merupakan bintang kelas yang di kagumi oleh teman seangkatan, mahasiswa-mahasiswa tingkat atas, bahkan beberapa dosen juga ada yang menaruh perhatian terhadap mereka.


“Naa, I miss youuu! Kok ga bales chat aku sih? Kan kita bisa berangkat bareng tadi, biar aku jemput, ” ucap Gina sembari membalas pelukan Naava


“Ia, gue naik bis. Tadi pagi gue kesiangan hehehe,”


“Gimana lo? Sehat kan? Kok lo tambah gemuk sih selama liburan? Lo ngepain aja sih, beb? Pokoknya habis ini kita langsung treatment buat ilangin lemak-lemak di pipi lo ini!,” timpal Gina menujukan pertanyaan bertubi-tubi ke Naava.


“Gue aman-aman aja kok, Gi. Tenanggggg…. Lo sehat kan? Lia, lo sehat juga kan? Kangen banget gue sama lo berdua,”


“Iya, kita sehat Na.. Eiya, nih, Ibu kemaren manggung sama The Gingger, gue mintain kaos ditandatangani dengan nama lo!,” ucap Alia sambil menyerahkan kaos The Gingger, band Favorit Naava.


Dikaos tersebut bertulis, “For Naava, with Love”. Dibubuhi seluruh tandatangan anggota The Ginggers.


“AWWWWWWW! Are you serious? Thankyouuuuu Gi!,” ucap Naava sambil histeris menciumi kaos yang baru ia terima.


“Udah deh lo gausah lebay!,” balas Gina yang tidak begitu tertarik dengan band jazz yang disukai Naava


“Yee, biarin.! Pokoknya gue seneng! Hahaha”


“Udah ga usah ribut. Kalian tau ga sih, by the way, gosipnya dosen kita di mata kuliah ini agak killer..”


“Masa? Se killer apa sih sampe ga bisa dikalahkan sama pesona kita? Hahaha,” kata Gina percaya diri.


“Kemarin aku jumpa mas Ricko, dia lagi mohon-mohon untuk diluluskan mata kuliah ini. Udah 4 kali dapat D terus..” Alia menerangkan seperti di film-film horror.


“Iya sih, aku juga dengar. Kemarin Danang juga bilang begitu. Katanya ngomongnya songong banget. Ngasih nilai juga pelit..” timpal Naava


“Eh, lo masih komunikasi sama Danang?,” potong Gina


“Iya, Cuma sekali. Dia neror gue terus. Sehari nelpon 12 kali,”


“Dasar ya, gue perlu ingetin berapa kali sih biar dia gak gangguin lo lagi? Masih jelas diingatan gue waktu dia…”


“Gin. Plis. Gue gak mau bahas lagi..” jawab Naava sambil menunduk.


Setiap membahas Danang, mantan kekasih Naava, langsung teringat di kepalanya tentang Danang yang berselingkuh dengan model papan atas beberapa bulan lalu.


Saat itu, Alia yang sedang menginap disebuah hotel tempat Ibunya manggung, berpapasan dengan Danang yang sedang bemesraan dengan seorang model dengan baju minim berlipstik merah muda, seperti yang dilihat Naava dari foto yang dikirim Alia melalui chat pribadi WhatsAppnya.

__ADS_1


Semenjak itu, Naava memutuskan untuk break dengan Danang, yang berujung dengan kata putus. Namun, hingga sekarang Danang tetap mengharap pada Naava dengan Dalih, dia dirayu oleh wanita itu, dia khilaf, dan lain, dan lain sebagainya.


“Eh, masuk tuh dia..,” ucap Alia sambil menunjuk menggunakan bola mata kearah pintu masuk kelas.


Pria tinggi, berkulit putih. Memakai setelan jas Putih khas dokter dan jam tangan hitam di pergelangan tangan kanan . Rambut hitamnya yang rapi dengan brewok di sekitaran pipi membuatnya datang bak Pangeran yang siap menjemput Putri dari kerajaannya.


Pesona yang dimilikinya langsung ditangkap oleh Naava yang tak berkedip sedetikpun memandanginya, dari pintu masuk, kemudian berjalan perlahan seperti ada angin yang berhembus mengiringi tiap langkah kakinya, detak demi detak jantung Naava mengikuti tiap langkah kaki Pangeran ini, ia semakin mendekat, apa yang terjadi? Ada apa dengan pria ini?


“Ada yang salah?,” sahut pria berjas putih itu


“Cakep.”


“Maksud kamu?”


“Kamu. Cakep. Eh, maksudnya, ada orang lewat tadi cakep,” jawab Naava grogi.


Terdengar gelegak tawa seluruh mahasiswa memenuhi ruangan itu.


“Kamu itu disini belajar. Bukan memperhatikan orang-orang cakep. Mengerti kamu?,” bentaknya.


“Maaf dok,”


“Semuanya. Perkenalkan, Nama saya dr. Gale Pranatha Surya Sp. Anstesi. Saya dosen pengganti sementara Prof. dr. Abimayu Sp. Anestesi dikarenakan beliau sedang melaksanakan ibadah Umroh selama sebulan kedepan. Sebagai catatan, kalian berada disini untuk nyawa orang lain. Jangan bodoh dengan memikirkan hal yang lain..” katanya sambil memandang wajah Naava yang tertunduk malu.


“Lo tadi kenapa,Na? Ada masalah?” tanya Alia penasaran


“Engga, Lia. Gue lagi ngga focus aja tadi, belum sarapan. Hehe..”


“Lo sakit, Na? Atau terpesona melihat gantengnya dr. Gale? Ciyee.. Hahahaha..” timpal Gina


“Ah, eh apasih lo.. engga kok.. Makan yuk..Laper nih” jawab Naava grogi, disambut mata Gina dan Alia yang saling bertatap, jelas-jelas mereka menyadari ada yang aneh dengan sahabat mereka yang satu ini.


“Lo makan apa? Gue pesanin siomay yah..,” kata Alia sambil merangkul Naava. Mereka bergegas ke kantin belakang, tempat mereka biasa nongkrong untuk menunggu kelas selanjutnya.


Naava menuang kecap manis ke mangkuk siomay yang dipesankan Alia. Tidak habis pikir, bisa bertemu dokter yang sebegitu rupawannya. Ia termenung membayangkan wajah dr. Gale yang bersegi, rambutnya yang hitam rapi bersebak ke kiri, wangi tubuhnya menenangkan bak aroma therapy saat berbicara dekat dengan Naava. Dalam sekejab Ia bisa menyihir Naava, membuatnya tak bisa melupakan momen dikelas tadi.


Mengapa dokter bisa sebegitu menyerupai malaikat? Dalam hati Naava.


"Permisi, boleh saya minta kecapnya?" seru dr. Gale tiba-tiba muncul di depan Naava.


Naava tak sadar, hampir setengah botol kecap ia tuangkan ke dalam siomay miliknya, sembari melamun tadi.


"Kamu mau habisin kecapnya?," seru dr. Gale Sedikit keras sehingga membuyarkan lamunan Naava. Sontak Naava kaget lalu tak sengaja Mengarahkan botol kecap ke arah dr. Gale sehingga mengotori jas putih miliknya.

__ADS_1


"Ah, Ya ampun.. Maaf ya. Eh, maaf dok.. Saya ga bermaksud.." seru Naava


"Hey! Apa-apaan ini! Apa sih yang kamu pikirkan?"


" Maaf dok, Saya.. saya ngga bermaksud mengotori baju kamu.. eh, baju dokter.." sahut Naava gugup sambil melap jas dr.Gale dengan tisu.


" Kamu tadi yang melamun dikelas kan? Apa kerjaan kamu hanya melamun saja sepanjang hari, hah?" bentak dr. Gale kepada Naava yang mulai menunduk.


"Tunggu, tunggu.. Maaf dok, maaf sekali, teman saya sepertinya kurang sehat, saya akan bawa dia istirahat dulu, sekali lagi maaf dok," seru Alia sembari menggandeng tangan Naava pergi keluar kantin.


Gina lekas pergi membayar makanan dikantin, lalu menyusul kedua sahabatnya itu.


"Naa, lo kenapa sih?" Tanya Gina lembut.


"Gue sepertinya kurang sehat, Gi.." jawab Naava asal-asalan


"Oke, kita ga usah ikut kelas selanjutnya. Kita berdua anter lo pulang. Ya?"


"Oke.." kata Naava setuju sembari masih shock. Selama diperjalanan mereka hanya diam, tak seperti biasa. Sesampainya dirumah Naava, Ia bergegas turun, langsung masuk ke rumah, bahkan tak menyampaikan apapun seperti orang linglung.


______________________________________________


Hello Readers!


Tentu para readers sudah punya imajinasi masing-masing tentang sosok seorang Gale dan Naava. Maka dari itu, bagi readers yang belum terlalu bisa membayangkan sosok seorang Gale dan Naava, saya akan memberi tahu, bagaimana sosok mereka di mata saya sebagai penulisnya.


Tentunya foto-foto ini diambil dari berbagai sumber, instagram dan google, dan kebetulan saya melihat mereka sangat mirip dengan tokoh yang ada di imajinasi saya.


Tapi jika tokoh-tokoh ini tidak sesuai dengan imajinasi para readers, tetap boleh kok menikmati Novel ini dengan membayangkan sosok Gale dan Naava dengan versi kalian sendiri.


Silahkan menikmati ❤


Nah, yang pertama tokoh Naava dibayangan saya adalah sosok gadis cantik, berambut panjang kepirang-pirangan, dengan wajah putihnya. Here she is! Cantik ya!




Nah untuk Gale, dimata saya dia adalah pria dingin yang galak dan jutek, namun pesona dan ketampanannya bisa meluluhkan hati semua gadis!



Yah, seperti itu dulu sharingan sosok Gale dan Naava dimata saya. Tetap tunggu cerita di episode selanjutnya yah!

__ADS_1


Dan jangan lupa, untuk klik Like, Comment, dan Vote kalian untuk novel Love And Medicine ya, readers. Dukungan dari kalian, sangat membantu aku dalam menulis bab selanjutnya. Terimakasih, dan selamat membaca semua! ❤


__ADS_2