Love And Medicine

Love And Medicine
Pria Dingin Itu


__ADS_3

Naava masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jas dokter miliknya, kemudian segera pergi berangkat ke kampus. Tak sengaja Ia berpapasan dengan Gale yang juga akan pergi berangkat mengajar.


"Mau kemana kamu?," kata Naava pada Gale


"Ke kampus, saya mengajar," kata Gale dengan dingin, khasnya.


"Ke UI? Saya juga mau kesana," kata Naava sambil tersenyum mencoba mengakrabkan diri dengan tetangga sebelah kamarnya ini. Ia berharap dalam hati akan ditawarkan tumpangan juga oleh Gale.


"Ya, bagus. Saya pergi duluan,"


kata Gale yang langsung pergi tanpa menatap wajah Naava lagi.


"Ih, laki-laki macam apa dia ini! Ngga punya empati dengan wanita! Dasar! Laki-laki pengecut, jangan-jangan lo gay ya?," kata Naava mengumpat pelan-pelan.


Naava melihat Gale turun dari lantai 2, mencium tangan dan pipi Oma dengan hangat untuk berpamitan, seakan sudah sangat dekat dengan beliau.


'Kenapa dia begitu hangat dengan orang lain? Tidak seperti denganku. Dingin! Aneh! pikir Naava dalam hati.


***


TEEEEETTT!


Bunyi klakson mobil terdengar dari arah luar rumah Naava. Ternyata Gina dan Alia sudah menunggu diluar untuk menjemput.


" Yaaaa! Bentaaaaarrr!!," Teriak Naava dari jendela. Ia bergegas pamit dengan Oma, dan berlari menuju mobil Gina. Ia langsung mengambil tempat duduk di kursi belakang mobil Gina


"Lo lama banget sih! Ngapain aja dari tadi?," tanya Alia.


"Lo lo semua harus dengar cerita gue!," kata Naava serius membuat Alia dan Gina harus membalik badan dan terfokus hanya pada dirinya.


"dr. Gale ternyata anak dari temen almarhum ayah ibu aku.." kata Naava


"Ya terus kenapa? Rekan sejawat kan memang harusnya saling kenal sih Na..," jawab Gina


"Iya, dan sekarang, selama Dia menggantikan dr. Abimayu ngajar dikampus kita, dia bakal tinggal di rumah gue! Kebayang ngga sih looooo??," kata Naava dengan wajah meringis


"Are you seriousss?," kata Gina dan Alia bebarengan.


"Kalian bisa bayangin ga sih? Rumah gue yang begitu hangat, nyaman, bakal berubah suasananya jadi dingin kaya ruang mayat gara-gara dia!," ucap Naava kesal


"Waaahh. Gue bakalan sering-sering main ke rumah lo, nih Na.. Soalnya ada dokter cakep!," seru Gina kegirangan


" Yah, lo belum tau dia aja Gi.. Kaya nya dia gay deh. Dari potongannya sih cakep, tapi dia ga pernah tuh bersikap baik sama gue, aneh, tau..," tutur Naava


"Yah, itu artinya lo ga menarik dimata dia hahaha," jawab Gina


"Terserah lo deh, pokoknya gue udah ingetin, liat aja nanti" kata Naava kesal.


***


Gina baru saja selesai memarkirkan mobilnya di belakang kampus. Mereka baru akan mengikuti kelas lagi pukul 10.00


"Gila! Baru juga mulai mata kuliah ini, udah dikasih tugas bertubi-tubi dari dia," kata Naava kesal karena mendapat tugas makalah seabrek-abrek dari Gale di mata kuliahnya kali ini.

__ADS_1


"Yes! Gue ada kesempatan buat datang ke rumah lo, dan minta diajarin sama dokter Gale! Aww, senangnya! Boleh ya Naa?," kata Gina kecentilan sambil mengipas wajahnya yang kepanasan terik matahari, sembari mereka berjalan menuju kantin belakang kampus.


"Yah, boleh, datang aja, palingan juga diusir sama dia," kata Naava santai


"Gausah terlalu bersemangat, Gi. Lo juga belum tau betul dia gimana kan," nasihat Alia


"Kalian cerewet banget sih! Kita liat aja. I'll try..," jawab Gina optimis


"Eh, itu, dia datang," kata Alia menunjuk kearah Gale yang terlihat sedang berjalan kearah mereka.


"Saya mau pulang, kamu mau ikut?," tanya Gale singkat kearah Naava tanpa menghiraukan ada Alia dan Gina disitu.


"Kenapa tiba-tiba nawarin? Tadi pagi juga kamu dingin," jawab Naava jual mahal.


"Ya atau Tidak? Jangan berbelit-belit!," bentak Gale tiba-tiba.


"Kamu mau nawarin kok maksa sih?!," tanya Naava kesal


"Berarti Tidak," kata Gale berjalan cepat pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Hey! Tunggu dulu! Aku belum selesai!,"kata Naava yang segera berlari mengejar Gale tanpa sadar Ia meninggalkan kedua temannya itu.


Ia berlari mengejar Gale, lalu menarik tangannya


"Kamu kenapa sih ngga bisa ngomong baik-baik aja?," tanya Naava kesal


"Saya ngga suka orang yang ribet seperti kamu!," kata Gale tenang


"Saya tidak bilang benci, tolong jangan melebih-lebihkan. Sekarang ayo ikut kalau kamu mau," jawab Gale sembari masuk ke dalam mobil BMW miliknya.


Naava masuk ke mobil Gale dengan wajah kesal, memasang seat belt, dan diam sepanjang perjalanan. Ia berpikir keras selama didalam mobil.


'Gue harus ngomong apa untuk mencairkan suasana?'


'Kenapa gue mau aja sih, di suruh-suruh dia!'


'Gue ga mau ngomong duluan!'


'Emangnya gue cewe apaan!!'


'Emang dia siapa, sombong bukan main!!'


Ditengah perjalanan, handphone miliknya berdering, panggilan dari Oma Widya.


"Halo Oma,"


"Sayang, ini Oma sedang diluar. Maaf tadi Oma buru-buru pergi melayat ke tempat Oma Sarifah, suaminya meninggal..," kata Oma dari ujung telfon.


"Innalilahi.. Jadi Oma dimana sekarang?," kata Naava lagi


"Oma Masih di rumah duka, sayang. Nah, Oma tadi kan buru-buru, jadi lupa deh titip kunci rumah. Kamu ajak Gale jalan-jalan diluar ya sayang, mungkin malam nanti Oma baru kembali," kata Oma buru-buru


"Hah? Aduh, iya iya. Hati-hati ya Oma..," jawab Naava terpaksa. Kali ini dia betul-betul habis akal.

__ADS_1


Naava berpikir apa yang harus ia sampaikan pada Gale kali ini. Apa dia akan marah? Atau badmood? Atau.....


"Kita ga bisa pulang kerumah," kata Naava ragu


"Maksud kamu?," tanya Gale tiba-tiba mengentikan mobilnya


"Iya, Oma sedang ada urusan. Kunci dibawa. Kita ga bisa masuk rumah," jelas Naava lagi


"Jadi?," tanya Gale


"Wanna have some dinner? Kita bisa makan dulu sambil nunggu Oma, kan?," jawab Naava pelan


"Kamu tunjukkan dimana," kata Gale terpaksa


"Eh, kamu mau? Serius?," kata Naava kaget tak percaya Gale setuju akan usulnya, padahal dia hanya iseng menanyakan hal itu tadi


"Apa setiap kata harus aku ulangi ya? Gak cukup satu kali buat kamu, hah?," kata Gale kesal mendengar Naava yang berulang-ulang menanyakan hal yang sama


" Yah, engga sih. Gimana kalo kita ke Belmondo? Masakan khas Jerman. Disana steaknya enak, kamu mesti coba deh," kata Naava girang bisa makan malam bersama seorang Gale.


"Terserah, kamu tunjuk jalan," kata Gale singkat


***


Naava merapikan kembali rok Tutu miliknya sambil menunggu Gale keluar dari mobil. Ia melihat Gale yang sepertinya sedang bertelfon dengan seseorang dengan sangat serius. Entah memang sedang serius, atau memang Gale disetiap liku hidupnya harus serius terus walau dalam keadaan apapun.


"Ayo," kata Gale sambil jalan cepat menduluani Naava yang dari tadi sudah menunggunya. Naava tergesa-gesa menyusul Gale yang jalannya cepat sekali.


"Eh, tunggu dong! Kamu itu kaya dikejar hantu aja sih," kata Naava terengah-engah sambil memegang tangan Gale secara tak sadar. Gale yang kaget tangannya dipegang seorang wanita, hanya terdiam kaku memandang Naava.


"Maaf! Maaf! Aku ga sengaja," kata Naava memelas. Dia sunggu malu telah bersikap begitu. Mereka berdua jadi canggung.


"Kamu disini?," tiba-tiba ada seorang wanita cantik, berkulit sawo matang memakai gaun hijau selutut, berbandana senada dengan gaunnya datang menyapa mereka.


Ia datang dengan gandengannya seorang pria, berkemeja rapi, tampan, dan wangi, sepertinya dari kalangan kelas atas, dilihat dari mobil yang diparkirnya.


Terlihat wajah Gale pucat pasi melihat wanita itu, seakan melihat hantu saja. Matanya melotot melihat wanita berparas Ayu itu, bergandengan dengan lelaki yang benar-benar sepadan dengannya.


"Kamu kenapa disini?," jawab Gale ketus


"Saya akan makan malam, ini Robi, tunangan saya," jawab wanita itu, sambil memperkenalkan tunangannya ke Gale.


"Saya Robi, kamu temannya Ajeng?." kata laki-laki tampan itu


"Saya Gale.. Oh iya, Ajeng, perkenalkan, Naava, dia calon istri saya, kami akan menikah bulan depan..," kata Gale tenang sambil merangkul bahu Naava kemudian mencium keningnya. Naava terpelongo mendengar perkataan Gale. Ia menatap ke arah Gale, terpaksa senyum dan menyalami Ajeng beserta tunangannya.


"Oh.. Selamat kalau begitu..Cantik sekali, beruntung kamu mendapatkannya," jawab Ajeng gemetar


"Oiya tentu saja, maaf, kami buru-buru harus pergi. Sampai jumpa lain waktu. Senang bertemu dengan kalian. Ayo, sayang kita harus pergi," kata Gale menarik tangan Naava. Naava yang hanya manggut-manggut seperti berisyarat meminta maaf kepada sepasang kekasih itu kalau mereka harus cepat-cepat pergi.


'ADA APA DENGAN INI SEMUA, GALE?' pikir Naava dalam hati. Ia sungguh tak sabar mendengar penjelasan dari Gale, si manusia aneh ini.


***

__ADS_1


__ADS_2