Love And Medicine

Love And Medicine
Ciuman Pertama


__ADS_3

Sinar matahari pagi sudah menyingsing, masuk melalui celah-celah jendela kamar hotel itu. Naava perlahan mulai membuka matanya, namun sambil menyipit terasa silau, karena terpapar sedikit sinar matahari.


Ia mencoba bangkit dari tidurnya, namun lengannya terasa sakit dan kesemutan, seperti sedang menahan beban yang berat. Dilihatnya Gale yang tepat berada disampingnya sangat dekat, bahkan mereka saling bersentuhan satu dengan yang lain. Ia lihat juga tangan Gale berada diatas tubuhnya, seperti sedang memeluk.


DEG!! DEG!! DEG!!


Bunyi detak jantung Naava kencang.


'Apa sepanjang malam tadi kami tidur seperti ini?'


'Dalam tidur kami sudah berpelukan'


'Oh tidak Naava, tidak mungkin!!'


Ucap Naava dalam hati, Ia menutup mata sambil menggelengkan kepalanya cepat-cepat, tidak terima dengan apa yang sedang terjadi


"Kenapa jantungmu berdetak sangat cepat?," kata Gale tersenyum dengan kedua bola matanya masih terpejam. Tangannya masih menempel di tubuh Naava. Ternyata Gale juga sudah bangun dari tadi.


"Ah, siapa bilang ha-ha-ha!! Itu perasaanmu saja! Jantungku berdetak normal!!," kata Naava kaku. Badannya tegang seperti patung menahan tangan Gale yang masih menimpanya.Kepalanya tegak, pandangannya terpaku pada langit-langit kamar.


"Kamu begitu bersemangat, semalam. Saya tidak menyangka, kamu se-agresif itu," kata Gale tenang, sambil senyum senyum sendiri.


"ARRRRGGGHHH!! APA KAMU BILANG?? APA YANG KAMU PERBUAT PADAKU SEMALAM? HAAAH? TIDAK! TIDAK MUNGKIN!!!," kata Naava mencampakkan tangan Gale dari tubuhnya. Ia panik, dan segera bangkit dari tempat tidur, memegangi tubuhnya sendiri.


"Kita kan segera menikah, tidak apa-apa tidur bersama dulu, kan??," kata Gale terus tersenyum menahan tawa.


"APA YANG KAMU PERBUAT SEMALAM, LELAKI CABULLL?? HAAAAHHH!!," teriak Naava sambil memukul-mukul tubuh Gale dengan bantal. Gale tertawa melihat reaksi Naava, saat dikerjai olehnya. Sebenarnya tidak ada apa-apa yang terjadi tadi malam. Gale hanya ingin mengerjai Naava, membuatnya panik dan kesal. Sebuah hiburan pagi hari, melihat Naava marah dan panik, pikir Gale.


"Sssshhh!!! Jangan teriak-teriak!!," kata Gale panik, sambil menarik tangan Naava yang sedang melemparinya bantal, sehingga Naava terjatuh kembali keatas tubuhnya. Mereka berdua saling bertatapan sangat dekat. Naava yang takut terjatuh, sontak langsung menutup matanya rapat-rapat.


'Kenapa wajah nya yang putih bersih dan terlihat sangat cantik, meski baru bangun tidur?' Pikir Gale dalam hati sambil menatap wajah Naava yang saat ini sangat dekat dan berada tepat diatas wajahnya.


Gale perlahan semakin mendekatkan wajahnya pada Naava, lalu mencium bibirnya.


Naava yang kaget hanya bisa terdiam. Ia perlahan membuka matanya, tak percaya bahwa saat ini Gale sedang menciumnya.

__ADS_1


TOK TOK TOK


"Permisi! Layanan kebersihan kamar!," tiba-tiba kamar digedor oleh pelayan kebersihan hotel. Membuat Gale melepaskan ciumannya, dan membuat mereka berdua jadi salah tingkah.


"Hmm.. Nanti saja!," teriak Gale pada pelayan kebersihan itu. Gale menggaruk belakang kepalanya, seperti orang yang salah tingkah.


Sementara Naava, bergegas berdiri, dan merapikan bajunya.


"Hmm.. aku.. aku mau siap-siap dulu, kita pulang ke Jakarta pagi ini, kan?," kata Naava gugup, langsung pergi mengambil handuk untuk mandi.


"Iya," kata Gale, namun sambil tersenyum.


***


Pagi itu mereka kembali ke Jakarta, didalam mobil mereka berdua hanya diam, dan canggung satu dengan yang lainnya karena kejadian tadi pagi dikamar hotel. Naava mencoba mencairkan suasana, dengan memberikan lelucon-lelucon garing, khasnya.


"Gale, kamu tahu kebo apa yang selalu cape?," kata Naava memecah keheningan mereka


"Apa?," kata Gale


"Ga tau!," jawab Gale singkat, Ia terlalu malas untuk berbasa-basi.


"Jawabnya Kebo-gor jalan kaki, hahahahaha," kata Naava tertawa sendirian, sementara Gale hanya diam mendengar teka teki garing dari Naava. Ia tetap serius menyetir mobil.


"Ayo kita coba lagi!!, Buah, buah apa yang bisa nyanyi? Aku yakin kamu ga bisa jawab!! hahaha," kata Naava lagi masih sambil tertawa.


"Apa?," kata Gale singkat


"Ih, kamu memang ga pernah main teka teki ya? Jawab dulu dong!! Jawab Apa aja kek!!," kata Naava mulai kesal


"Ya aku emang ga tau," kata Gale lagi malas meladeni Naava


"Jawabannya : Buah-mad Dhani hahahahahhaha!!!," kata Naava tertawa terpingkal sambil memukul pundak Gale, lalu tiba-tiba diam melihat reaksi Gale yang melotot, seperti orang yang sedang naik darah.


"Kamu dari kecil ga pernah diajak becanda beginian ya? Jadi orang serius banget!," kata Naava pelan, takut diamuk oleh Gale.

__ADS_1


"Kamu tuh berisik banget sih!! Aku ga bisa konsentrasi menyetir, tau!!," kata Gale mulai mengamuk.


"Yeee.. dia malah ngamuk," kata Naava sambil tersenyum.


"Gale, kamu tahu ga, hari sabtu ini kan acara ulang tahun fakultas kita! Katanya ada acara malam sejuta pesona, dan harus membawa pasangan!," kata Naava pada Gale. Ia seperti ingin memberi kode pada Gale, untuk mengajak dirinya menjadi pasangan ke acara itu. Terlalu gengsi bagi seorang wanita, kalau harus mengajak duluan seorang pria ke pesta dansa, pikir Naava dalam hati.


"Oh, iya. Saya tau," kata Gale singkat


"Kalo aku sih, banyak yang mengajak untuk pergi kesana, tapi aku belum tau mau pergi dengan siapa," kata Naava sombong. Ia berharap Gale langsung mengajak dirinya.


"Oh.. Bagus kalau begitu," kata Gale santai sambil menyetir


"Oh.. Iya.. Bagus kan? Kalau kamu? Haduh, kasian juga ya kalau ada yang datang ke pesta dansa sendirian, ha-ha," kata Naava menyindir Gale


"Aku? Sudah ada yang mengajakku kemarin," kata Gale dengan tenang, mengejutkan Naava.


'Apa?? Seorang Gale yang kasar, pemarah, dan anti-sosial ini sudah punya teman ke pesta dansa?'


'Siapa yang mau mengajaknya kesana? Hanya wanita aneh, yang mau mengajak Gale!!'


'Pasti dia hanya mengarang, takut malu padaku! Tenang saja, Naava, mana ada yang mau mengajak seorang Gale! Hahaha' ucap Naava dalam hati.


" Oh, bagus kalau begitu!! Jadi kamu tidak kaku, kalau harus pergi sendiri nanti hahaha," kata Naava sambil tertawa, seperti dibuat-buat.


"Iya," jawab Gale santai.


***


Perjalanan dilanjutkan dengan Naava yang tertidur sepanjang jalan. Tiba-tiba mereka sudah sampai di rumah saat sore.


Namun, satu yang terus terganjal dihatina, siapa sosok yang sudah mengajak Gale untuk pergi ke pesta dansa nanti?


Daaann.. Aku harus pergi dengan siapa kepesta dansa nanti??? Oh Tidaaaakk!! Malunya aku pada Gale, kalau harus pergi sendirian kesana. Padahal dari tadi aku sudah menyepelekannya, mengira dia tidak punya teman untuk pergi kesana! Sedih sekali rasanya, aku seperti gadis jomblo yang kesepian!!


Dimana harga diriku sebagai salah satu wanita paling dikagumi se Fakultas Kedokteran ini?? Arrrghhhh!!!

__ADS_1


__ADS_2