
Keesokan harinya.
Santi sudah tiba di sekolah dia sengaja datang pagi agar bisa menyalin semua catatan lidya selama dia nggak sekolah.
Di kursi di bawah pohon tempat santi dan alex bertemu. Tak lupa juga di sampinya sudah ada makanan ringan yang mendampinginya,santi suka belajar sambil mendengar kan musik menurutnya belajar sambil mendengar musik membuat dia sedikit mengerti pelajaran yang tak dia sukai.
Saat dia serius belajar kadang membuatnya berpikir akan masa depan ,apa yang harus dia lakukan setelah lulus sma atau kuliah,dulu saat masih sd dia punya cita cita jadi dokter gigi dan ketika smp cita citanya berubah menjadi pegawai swasta atau negeri,dan sekarang saat sma dia bahkan tak memiliki mimpi dan cita cita atau bahkan keinginan.
Aku ingin jadi ini tapi nggak cocok denganku ,aku ingin jadi itu tapi tak ada yang mendukungku.
Santi mengusap mukanya pikirannya itu membuat mood seriusnya hilang .dia menatap awan yang sudah mulai cerah dan awan hitam hilang menghirup udara segar dan berkata"nanti aku jadi apa"ujarnya.
"Buuuk" seperti suara orang jatuh di dekat santi dan membuatnya terkejut dan melihat.
Dilihatnya alex sedang menggelinding di rumput dan seketika dia langsung berdiri merentangkan tangan dan tersenyum.
"Baaaa!! Kau pasti terkejut kan??"ujarnya ketika atraksi yang dia buat selesai.
Santi hanya mengeleng gelengkan kepala dan terus melihatnya dengan baju yang sedikit kotor karna berguling.
"Itu bajumu kotor"ujar santi saat alex mendekat.
Alex mengusap baju dan rambutnya yang sudah kotor
"yang kotor itu disini"ujar santi sambil menepuk pungung alex dan mengusapnya.
"Santii ..kenapa kau masih nggak menghubungiku??"tanya alex saat santi sibuk mengusap bajunya.
"Ngapain"tanya santi balik.
"Kita kan temann!!"jawab alex.
"Kalau gitu mana nomor telfonmu"ujar santi seraya memintanya dengan tangan.
"Aku sudah memberikanmu kertas kecil itu kan ??"tanya alex lagi.
Santi pura pura nggak tau dan menggelengkan kepalanya karna dia pikir orang yang memberikan kertas itu bukan alex yaa walau kertas itu ada setelahnya datang.
Alex menghela nafas panjang dan memberikan santi henfon miliknya.
Santi terus melihat ke kanan dan ke kiri tangannya memastikan kalau yang dia ketik benar benar milik alex,setelah selesai dia menyimpan nomernya dan menelfonya agar tak salah.
__ADS_1
"Dreeeet ,tangan kirinya bergetar dan berkata "ini sudah benar .ambillah"
Dimas mengambilnya lalu berkata lewat telfon "makasiii"
"Nanti pulsaku habis"pekik santi.
"Kau buat apa" tanya alex.
"Ini aku sedang buat catatan "jawab santi.
"Kau tidak lelah menulis sambil tengkurap seperti itu?"tanya alex ,yang dari tadi sudah melihat santi menulis sambil membungkuk.
"Kau mau jadi meja ??"tanya santi sambil tersenyum sinis.
Tanpa berpikir panjang alex langsung membungkukkan punggungnya dan mencium litutnya namun masih duduk di kursi itu "pakailah "ujar alex.
"Hahahhaha,,bercanda aku nggak mau ini juga sudah hampir selesai"jelas santi yang tak percaya kalau alex dengan mudah menerima tawarannya.
Alex kembali membenarkan posisi tubuhnya dan memperhatikan santi yang sedang menulis.
"Alex kau tak pulang ??"tanya santi.
Santi sadar kalau saat alex dan ifan bertengkar alex tak melihatnya dan langsung pergi.
"Hehehhehe...nggak itu biasanya kan kamu bolos ,sekarang kamu nggak bolos lagi?" ucapnya gagap sembari tersenyum kecut.
"Aku??.aku bolos cuma hari itu saja itupun pertama kalinya" ujar alex bohong.
"Aa ,ketahuan sekali bohongmu itu"ejek santi.
.
.
.
Ditempat lain dimas sedang berada di sebuah mini market bersama wulan sambil memakan 1 cup mii.
Mereka saling berbincang bincang sambil tertawa dan wulan masih terlihat sedikit canggung.
Entah sejak kapan rasa suka dimas terhadap wulan semakin bertambah setiap harinya ,dimulai dari menolongnya ,mengobati lukanya hingga semua percakapan percakapan yang membuatnya merasa nyaman.
__ADS_1
"Wulan, kau orang yang membuat orang lain nyaman ,bahkan aku beberapa hari mengenalmu membuatku suka padamu" ucap dimas dengan nada kecil agar tak didengar oleh wulan.
"Apa kau bilang sesuatu??"tanya wulan.
Dimas hanya diam dan melihatnya .
Lidya yang tak jauh dari sana mendengar percakapan dan menghampirinya.
"Hai..apa yang kalian sedang bicarakan?" tanya lidya langsung duduk di kursi di dekat mereka.
"Kau ?? Kau apa yang kau lakukan disini !?"tanya dimas .
Lidya hanya diam dia ingin bertanya tentang semua pertanyaan pertanyaan yang wulan dulu bicarakan dengan orang yang masih meisterius menurutnya itu.
"Dimas kau suka apa ??"tanya lidya sembari memandang wulan
"Wulan kau pasti ingin bertanya tentang hal itu sejak lama kan??"lanjutnya.wulan terkejut sembari menggelengkan kepalanyaa .
"Benarkah?? Kenapa kau nggak bilang hal itu lebih dulu?? Aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur"ujar dimas tak menyangka kalau wulan juga sedang memendam perasaan kepadanya.
"Jadi dimas jelaskan saja semua yang kau sukai kepadanya agar dia bisa berbicara dengan tenang tanpa gagap haha"ujar lidya sinis , saat seperti ini lidya terlihat seorang anak terpelajar yang dingin dan sinis.
"Aa..aa...atidak usah ,tidak usah aku juga tak perlu itu sekarang" ujar wulan namun dimas langsung menjelaskan secara rinci dan jelas semua yang dia sukai dari makanan ,minuman ,sampai hal kecil sekaligus.
"Aku suka makan steak,minum jus,warna merah,hobi foli,bla bla bla bla"pokoknya semua tentangnya dia jelaskan dan ketika sudah selasai menjelaskan dia mengatakan "sepertinya sekarang aku juga suka kamu"ujarnya sembari menatap wulan dengan mata yang berbinar binar.
"Heiii ,heii hentikan drama kalian buat orang mau muntah"ujar lidya sembari terus memandangi mereka merasa kalau dimas memang benar benar menyukai wulan tapi wulan hanya berpura pura malu namun juga memendam perasaan suka.
Setelah lama mereka berdua berbincang tanpa memperdulikan lidya ,sudah banyak anak anak sekolah yang datang . mereka juga memutuskan pergi ke sekolah masing masing agar tak terjadi rumor yang tak mengenakkan .
Wulan pergi langsung ke sekolah sedangkan jarak sekolah dimas masih agak jauh dari sana .
Dan lidya dia mengikuti wulan pergi ke toilet tempat mereka berbincang beberapa hari lalu,namun hari ini berbeda dia benar benar melihat siapa yang wulan ajak bicara sekaligus tak percaya bahwa itu nanda ,orang yang selalu dia puji puji selama ini .
Tak menyangka kalau dia punya anak buah yang dengan mudahnya dia suruh suruh ,lebih tak menyangka kalau dia dekat dengan anak anak perempuan yang berandalan ,nakal ,dan selalu berurusan dengan ruangan bk .bukan selalu bahkan setiap hari,bahkan sudah bercap hitam.
Dia berfikir jangan jangan nanda yang menggerakkan mereka dan ketika perbuatannya diketahui maka dia akan diam dan menyuruh mereka maju agar tak ada yang tahu.
Dia ingin mendengar percakapan apa yang mereka bicarakan tapi teman temannya sengaja bicara keras agar tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam toilet,dia juga ingin masuk ke salah satu toilet yang dekat dengan wulan tapi didalamnya sudah berisi orang orang.
"Ngapain kalian ramai ramai begini di toilet?? Ada acara apa ?? Ikut dong!"
__ADS_1