
Santi menagis di dalam kamarnya walau pipinya sakit kena air mata yang asin tapi hatinya lebih sakit lagi.
Dia Merasa sebagai seorang anak yang kurang pengertian ,merasa menyesal akan kelakuannya selama ini walau dia memang tak menyukai ibu tirinya tapi kenapa kenapa juga ayahnya harus dibencinya?.
"Ayaah " ujar santi berkali kali ,ingin sekali dia mengunjungi ayahnya tapi pasport pun tak punya ya walau sudah punya ktp.
"Drrrreeeeeettt" heandphonnya berdering di baju sekolahnya di samping tempat tidur.
Santi mengangkatnya tapi tak berbicara nomernya tak dikenal.
"Aku di luar ada yang ingin ku bicarakan" ujar ifan di balik telepon .
"Nggak " jawab santi serak.
"Daripada di rumah ,lebih baik kau cari angin kan ??" saran ifan lagi membujuk.
Santi langsung menutup telponya berpikir kalau yang dikatakan ifan mungkin benar .
Mengambil hodie besar kesukaanya mengikat rambut cepol tanpa bantuan sisir, tak mau melihat muka merahnya di depan cermin.
Dia berpikir dimas juga harus dia ajak tapi dimas tertidur menyisakan tangisan cegukanya.
"Aku nggak tahu sekarang harus bagaimana " ujar santi sembari keluar dari kamar dimas.
πππ£
"Tunggu " ujar santi melihat ifan sedang berjalan pergi.
Ifan bahkan masih menggunakan pakaian sekolahnya dari tadi entah jalan mana saja yang sudah dilewatinya sembari memikirkan orang yang datang bersamanya tadi.
"Itu bibirmu luka ?" tanya santi .
"Justru kamu mukamu luka lebam banyak begitu masih sempat sempatnya menangis sampai matamu jadi kayak balon"
"Tunggu yaa " santi berjalan pelan kembali ke rumahnya dan kembali sembari membawa kotak obat.
"Ayo aku bawa kau pergi melihat bintang " ifan menggandeng tangan santi lalu berjalan pergi.
__ADS_1
"Tapi itu lukamu obati dulu "
"Disana saja "
***
Melewati jalanan kecil yang tak familiar bagi santi jalan menanjak juga membuat kakinya semakin sakit.
"Dimana tempatnya ?? Kakiku lelah" ocehnya sembari tetap berjalan sementara ifan dia hanya diam tak menyautinya.
"Itu lihatlah " ujar ifan menunjuk ke sebuah cahaya kecil yang banyak di bawah sana.
Mulut santi ternganga melihat pemandangan itu terlihat langit bebas tanpa hambatan dengan beribu bintang berkilau di bawahnya juga ada cahaya kota yang mengkilap di malam hari.
"Waaah ..kau tau dari mana tempat seindah ini?? "
"Hanya nggak sengaja "
Mereka duduk di bangku didekat situ lama terdiam tanpa ada pembicaraan.
"Itu lukamu sini aku obati" santi mendekatkan dirinya membuka kotak obat kecil yang dia bawa dan mengobati ifan.
"Apa"
"Siapa orang tadi yang membawamu pulang?? Pacarmu??" tanya ifan dengan rasa penasaranya yang sejak tadi.
Santi tertawa kecil dan ifan langsung yakin "memang benar itu pacarnya" ujarnya dalam hati.
"Dia itu saudara tiriku aku lebih besar sih tapi cuma tiga bulan hehe" santi terkekeh sembari menjelaskan dan dimas menahan malunya sendiri karna seuzon.
Ifan memeluk santi memberinya semangat "masalahnya udah beres sekarang jangan menangis "
santi kembali menangis mendengar ucapan itu.
"Lah kok kamu menangis lagi??" ujar ifan mengusap airmatanya
"Ayahku dia dia sudah pergi ...dia nggak akan bisa menumuiku lagi hiks huu aku nggak tau bagaimana hal itu bisa terjadi aku itu anak bodoh ifan aku aku bahkan belum meminta maaf padanya atas sikapku " santi semakin menangis kencang.
__ADS_1
Ifan nggak tau tentang itu jadi dia hanya diam memberikan bahunya sebagai sandarannya.
"Kau boleh cerita semuanya padaku" saran ifan.
"Aku aku nggak tau bagaimana hal itu bisa terjadi hiks ....aku aku pikir dia berbohong tapi tadi surat itu menunjukkan kebenaranya aku ingin ke jepang melihat ayahku tapi aku nggak punya pasport kak lisa juga nggak mengijinkanku huhu aku harus bagaimana ifan ?" menangis tersedu sedu mengeluarkan unek unek hatinya.
"Aku mungkin nggak tahu harus bagaimana jika jadi kamu .. Kamu itu kuat apapun keputusanmu aku akan mendukungmu"
Mereja berdua terdiam diiringi suara jangkrik berpikir sejenak dan santi berkata " bagaimana bisa perusahaan yang ayahku langsung berpindah ke tangan paman itu, walau dia punya saham tapi pewaris perusahaan kan yang akan mendapatkanya?? Bagaimana bisa nanda tahu ayahku tiada dan menunjukkan fotonya siapa yang memberinya ,,bagaimana bisa ??"
"Sudah jangan pikirkan hal yang sedih itu saat ini biarkan pikiranmu tenang sejenak lihat kesana " ifam menunjuk ke arah langit ada hujan meteor disana .
"Lihatlah Langit dan kota yang gelap di malam hari bisa secerah ini walau ada banyak penderitaan di bumi ini kau juga harus begitu kau yang cerah lebih menyenangkan" ujar ifan.
"Kau waktu ini pulang yaa melihat ayahmu sekarang bagaimana keadaanya ??" tanya santi ingin mengubah suasana gundah hatinya.
"Ya sama seperti ayahmu " ifan menghela nafasnya dan santi terkejut tak percaya.
"Tapi aku nggak sedih karna memang aku nggak menyukainya bahkan sejak dulu "
"Mau kau mendengarkan ceritaku?" tanya ifan disahuti anggukan kecil santi.
"Dia pergi meninggalkan ibuku yang sakit dan mencari wanita lain mereka bercerai ....ibuku yang punya bisnis fashion dirampas ayahku untuk menikah dan ibuku mengulang merintis usaha fashion dari nol hingga sekarang sudah punya lebel pakaian " ifan menarik nafasnya panjang
"Walau sudah ceraipun ibu masih menyimpan perasaan padanya dia sakit ibu yang mengurus biaya rumah sakitnya tapi apa yang ibu dapatkan dia terus didepak hingga di cap wanita murahan ....mati pun rasanya dia tak pernah menyesal melakukan itu " jelas ifan menjelaskan kejadian masa kelamnya di masa lalu.
Ifan diam karna tak mendapat respon dari santi melihatnya dan ternyata dia tertidur , ifan tersenyum entah kenapa dia merasa dirinya tak dapat dikendalikan saat melihat santi.
"Ya tuhan kenapa aku bisa begini?" ujar ifan merasa sedikit kesal sembari tersenyum menatap wajah santi yang terlihat bersinar di mata ifan.
ππππ
**Hiii para pembaca (kalau ada) makasi yaa mau baca novel orang mager dan haluan ini hehhe
Jika boleh :) likeπ komen (pedas manis pun saya terima) dan vote yaa biar nggak mageran lagi nulisnya .
Kalau feelnya nggak dapet maaf yaa baru pertama kali nulis dan tanpa ada pengetahuan dan pengalaman di bidangnya.
__ADS_1
πβΊπππππ by ..ketemu di bab selanjutnya yaa** ....