
Happy Reading!!!
"Bagaimana Pak Baim, apa ada masukan atau aduan dari pegawai dua bulan ini?" tanya Alano.
"Tidak ada Tuan, aduan atau masukan dari pegawai.." beritahunya.
"Tapi, saya merasa khawatir pada pegawai Wanita yang pulang sangat malam.." ucapnya kemudian.
"Maksudmu?" ucap Pria bule itu tidak paham.
"Biasanya, pegawai yang masuk shift sore akan pulang jam sepuluh malam. Tetapi sekarang, mereka akan pulang sekitar jam sebelas atau lebih.." ucapnya.
"Saya tidak akan khawatir jika itu pegawai Pria. Tetapi saya mengkhawatirkan pegawai Wanita.." jelasnya.
Alano menganggukkan kepala paham. Di negaranya Wanita pulang malam tentu hal biasa. Tetapi tidak dengan Negara ini yang rawan saat di malam hari.
"..bukankah Resto ini memiliki penginapan untuk pegawai!?" tatapnya ke arah Baim yang mengingat penginapan yang kosong.
"Iya Tuan.." angguknya.
"Bagaimana kalau Wanita yang mendapat shift sore di berikan pilihan untuk menginap atau pulang.." usul Pria bule itu.
"..boleh juga Tuan.." pikir Baim.
"Baiklah, saya akan menyampaikan hal tersebut pada pegawai yang mendapat shif sore.." ucapnya.
Baim lalu undur diri dari ruangan Pria bule itu.
# # #
Tak terasa, Aleisha sudah bekerja di Resto tersebut selama hampir empat bulan.
Dia sudah mulai akrab dengan pegawai lain. Walau ada beberapa pegawai yang menatapnya dengan tidak suka.
"Aleisha, mulai besok kita dapat shif sore lagi.." beritahu Nazwa yang mendapat jadwal baru.
"Cepat juga ya, sudah dapat shif sore lagi.." ucap Aleisha lalu menghembuskan nafas panjang.
"Kamu gak suka dapat kerja sore?" tanya Nazwa melihat perubahan mimik wajah Wanuta itu.
"..bukannya tidak suka, hanya saja saat pulang kadang aku takut.." jawabnya.
Alasan utamanya, dia takut bertemu dengan hal yang tak di inginkan. Bukan hal gaib, tapi manusia sendiri.
Apalagi dirinya masih merasa sangat takut ketika berhadapan dengan wajah Pria tinggi besar serta wajah mesum.
"Kalau kamu takut, nginap saja di penginapan Resto.." ucapnya kemudian.
"..penginapan Resto?" ulang Aleisha.
"Iya, Pak Baim memberitahu kita bisa menginap ketika mendapat shif sore. Coba kamu buka pesan dari Pak Baim di group Resto.." jelasnya.
Aleisha lantas mengecek HPnya. Dia membuka group chat Resto dan mendapat pesan itu.
"Memang lebih baik menginap.." batinnya.
# # #
Besok sore, Aleisha yang berniat akan menginap di Resto lantas menyiapkan baju lebih di tasnya.
Tadi pagi, dia juga sudah mengabari anak-anak yang tinggal di sekitar rumahnya untuk berubah jam ngaji ke siang hari.
"Waktunya berangkat!" gumanya yang lalu bangkit dari duduknya.
Setelah perjalanan kurang lebih satu jam setengah. Akhirnya Wanita itu sampai di depan bangunan tempatnya bekerja.
Resto sore ini terlihat tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mobil terparkir di halaman.
"Assalamu'alaikum Pak.." salamnya ke arah Pak Satpak.
"Wa'alaikumsalam Ba.." balas Satpam itu.
Aleisha lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam Resto.
__ADS_1
Tak lupa, terlebih dahulu dirinya mengganti baju.
Tap tap tap
Cklek
"..Aleisha kamu sudah datang!" seru Kak Nur yang melihat Al di ruang ganti.
"Iya, Kak.." senyum Wanita itu.
Nur lalu berjalan ke arah lemarinya kemudian mengambil botol minum, setelahnya dia duduk di bangku yang ada di ruangan itu.
"Tadi rame bangat ya Kak.." ucap Al ke arah Wanita itu yang terlihat sangat lelah.
"Lumayan.." balasnya yang kemudian kembali menegak minuman di botolnya.
Al menganggukan kepala paham. Pasti lelah, apalagi saat siang hari yang tamunya kebanyakan dari kantor yang ada di dekat Resto.
"..oh iya, Kakak balik kerja lagi ya. Soalnya, kata Pak Baim akan ada tamu VIP yang datang.." pamit Wanita itu.
"..iya Kak.." balas Aleisha.
Wanita itu kembali melanjutkan ganti bajunya. Dia lalu teringat sejak sebulan lalu tamu VIP mulai sering datang.
Bukan para bule itu yang sering dilihatnya bersama Alano, tetapi bule lainnya atau yang setanah air dengannya.
* * *
Malamnya
"Nazwa, Aleisha, aku mau ke luar sama Raju beli makanan. Kamu mau nitip sesuatu?" tanya Dewi pada dua Wanita itu yang sedang duduk.
"..boleh, Dew. Aku titip gorengan ya.." jawab Nazwa yang lalu memberikan uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribuan.
"..kalau aku mau martabak kacang coklat ya.." balas Aleisha yang memberikan uang pecahan dua puluh ribu.
"Oke, kita pergi dulu ya. Assalamu'alaikum.." pamitnya.
"Hati-hati ya.." ucap Aleisha kemudian.
"Hati-hati.." timpal Nazwa.
Wanita itu menganggukan kepala lalu berjalan ke luar Resto.
"Bosan juga ya!" seru Nazwa pada Aleisha yang sedang membuka buku.
"Hehehe lumayan, tapi gara-gara baca buku ini gak terlalu bosan.." jawabnya sambil menunjuk ke arah buku yang di pegang ya berjudul Khadijah.
"Bukankah itu nama Istri pertama Nabi Muhammad.." katanya yang teringat nama itu.
"Betul sekali, istri yang merupakan contoh sosok Wanita yang luar biasa. Beliau dengan rela mengeluarkan semua hartanya untuk dakwah rasul.." beritahu Aleisha yang terlihat sangat kaguk akan sosok tersebut.
"..benarkah.." ucap Nazwa yang tak tau.
" Iya, Ibunda Khadijah merupakan saudagar kaya. Walau kaya beliau tetap murah hati dan baik. Tetapi setelah menikah dengan Rasul, beliau memberikan hartanya untuk perjuangan Rasul berdakwah.." jelas Aleisha dengan semangat.
"Wahhh keren sekali Ibunda Khadijah.." senyum Nazwa yang telah melupakan prihal tersebut.
"Iy.." angguk Aleisha yang seketika berhenti.
Tap tap tap
Dua mata Wanita itu melihat ke arah sosok Pria yang merupakan Bos mereka berjalan dengan cepat.
Pria itu berjalan ke lantai dua yang disana terdapat tamu VIP.
* * *
Pria berwajah asia itu memperhatikan barang yang ada di tas. Dia mengambil salah satu bungkusannya lalu mengeluarkannya.
Di pegangnya benda bubuk itu tak lama bibirnya menyunggingkan senyum.
"Oke, sekarang mana uangku.." balas orang di depannya dengan wajah tersenyum juga.
__ADS_1
Pria yang memegang bubuk lalu kembali menaruh benda itu ke dalam bungkusan lalu menutup tas itu kembali.
Di arahkan tangannya pada Pria berbadan besar di belakang. Pria itu lalu memberikan koper besar ke arah Pria itu.
"Ini uangmu.." katanya memberikan koper ke arah Pria di depannya.
"Pria itu tersenyum. Dia lantas menarik koper besar itu ke arahnya lalu membukanya.." dia menatap ke arah koper itu lalu kembali menatap ke arah Pria di depannya.
"Berapa jumlah uang ini?" tanya Pria itu tajam ke arah Pria di depannya.
"Sesuai dengan kesepakatan.." balasnya sambil tersenyum.
"Tidak mungkin, koper ini hanya hanya berisi setengah.." tunjuknya kembali arah koper yang berisi lembaran merah.
"Sudahlah segitu saja, bukankah biasanya juga segitu.." timpalnya sambil tersenyum.
Pria di depannya lantas geram. Dia bangkit dari kursinya lalu tangannya menjulur ingin mengambil kembali tas berisi benda bubuk miliknya.
Tapi sayangnya Pria itu menahan tas tersebut, lalu Pria berbadan kekar di belakang mengeluarkan p*st*l.
"Jangan macam-macam, benda ini sudah menjadi milikku.." tariknya kasar lalu memberikan tas itu pada Pria besar di belakang.
Pria pemilik benda bubuk lalu mundur kembali, tapi dia tak terima akan kecurangan Pria itu.
Dia lantas memberi perintah pada dua Pria besar di belakangnya untuk mengambil tas berisi benda bubuk kembali.
"Jangan macam-macam kalian mendekat aku pastikan kalian tidak akan melihat hari esok.." ucap Pria berbadan besar yang memegang tas.
Tapi dua Pria itu tetap melangkah, dia malah mengeluarkan benda serupa.
Tok tok tok
Pintu di ketuk dari luar, memberikan instruksi pada penjaga di dalam membukanya.
Cklek
Melihat sosok yang masuk dia Pria berwajah lokal itu lantas terdiam.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya sosok itu yang tak lain Alano.
Dua Pria itu lalu memberikan instruksi pada ajudannya agar menyembunyikan se*jata yang sudah mengacung.
"Apa kalian ingin bermain denganku!" seru Alano kembali. Matanya menatap tajam secara bergantian ke arah dua Pria itu.
"..tidak Tuan.." balas kedua Pria lokal yang mulai berkeringat dingin.
"Selesaikan masalah kalian. Jika ingin menggunakan benda itu.." tunjuknya ke arah p*st*l.
"Gunakan di luar area ini.." ingatnya.
Kedua Pria itu menganggukan kepala paham.
Alano lalu ke luar dari ruangan itu. Sebelum pergi dia berkata pada orang yang menjaga pintu.
"Awasi mereka!" perintahnya.
"Baik, Tuan.." balasnya.
Kedua Pria berwajah lokal masih terdiam.
Padahal Pria itu hanya berkata saja, tetapi sudah sangat mengintimidasi.
# # #
Terimakasih sudah membaca cerita ini...
Jangan lupa juga baca cerita
FRIEND AFTER MARRIAGE
Tekan like, koment berkaitan cerita dan vote supa SMIM semangat membuat lanjutan ceritanya...
Salam hangat SMIM
__ADS_1