
Tekan Vote, like and favorite
Wajah yang tidak di ketahui
Happy Reading!!!
Suasana hening menyelimuti ruangan itu. Dominic terlihat menatap ke arah Antonio yang sedang berkecamuk dengan pikirannya. Tapi hal tersebut tidak di ketahui Dominic, karena dengan lihainya Antonio menyembunyikan ekspresinya.
Sedang Antonio masih terlihat kaget dengan mata masih tetap melihat pada layar pipih itu.
Layar yang menampilkan Sosok Wanita yang duduk di dalam mobil bersama dengan dirinya beberapa jam yang lalu.
Dirinya tahu, jika Tuannya akan meminta mata-mata untuk membuntutinya.
Karena itu, dirinya sengaja mendatangi beberapa klub malam kelas menengah yang merupakan tanggung jawab Albern.
Tapi dirinya tak menyangka, kalau mata-mata itu juga masih membuntuti dirinya yang berniat akan ke Bandara.
"Mengapa kamu diam saja, Antonio!" serunya menyadarkan Pria yang sedang berkelana di pikirannya.
"...ahh..maaf, Tuan.." ucapnya yang menatap mata Mikael.
"..bukankah Wanita itu, karyawan di Resto tempat Alano. Tuan.." ucapnya dengan nada sedatar mungkin.
Dominic menatap tajam Pria di depannya. Pria itu lalu menyenderkan tubuhnya kemudian meletakkan kaki kanannya ke atas kaki kiri.
"..aku tahu, Wanita itu Karyawan di Resto. Tapi yang menjadi pertanyaan! Apa yang kamu bicarakan dengannya di dalam mobil?" tanyanya dengan mata menusuk ke sosok di depan.
Lagi-lagi Antonio terdiam. Dia bingung harus mengatakan hal sebenarnya atau menutupi hal tersebut pada Pria di depannya.
Yang paling membingungkannya, mengapa Pria itu kepo sekali dengan pembicaraannya dengan Wanita itu.
"..seperti yang Tuan tahu, aku tidak terlalu nyaman dengan Wanita yang mendekati ataupun menyapa diriku.." ucapnya dengan sopan tanpa berpaling dari mata Pria di depan.
"Tapi, Wanita itu selalu tersenyum dan menyapa. Itu membuatku risih.." jelasnya.
Dominik menatap Antonio dengan menyelidik. Dia tahu jika tangan kanannya ini memiliki sikap dan sifat tak jauh berbeda dengannya terkait Wanita maupun ekspresi wajah yang dapat di buat sedatar mungkin.
"Jadi, saya mengatakan padanya agar tidak bersikap sok dekat denganku.." lanjutnya.
"..ada yang lain.." ucapnya yang masih menatap Antonio dengan penyelidikan.
"Tidak Tuan.." angguk Pria itu.
__ADS_1
"..memang ada apa Tuan, mengapa Tuan ingin tahu tentang pembicaraan saya dengan Wanita itu?" tanya Antonio kembali.
Saat ini Dominic yang terdiam. Alasannya dirinya bertanya, dia ingin tahu mengapa hatinya sakit melihat wajah sedih Wanita itu.
Rasa sakit yang pernah di rasakannya beberapa bulan lalu.
Sejak tadi dirinya berfikir, jangan-jangan Wanita itu merupakan sosok Wanita beberapa bulan lalu yang menguasai pikiran dan berasaanya.
"..aku hanya ingin tahu. Apa kita pernah bertemu dengan Wanita itu sebelumnya!?" katanya dengan mata masih menatap lurus ke mata Antonio.
"..saya rasa tidak, Tuan.." balas Antonio datar.
Dominic terdiam sejenak memperhatikan Antonio, tak lama dia mengalihkan matanya ke arah lain, dia menghembuskan nafas panjang.
"..aku rasa juga begitu.." katanya yang lalu menyandarkan kepalanya kemudian memejamkan mata.
Dominic berfikir mana mungkin, tangan kanan yang bersamanya sejak lama membohonginya.
Antonio menatap ke arah Dominic penasaran.
"Apa dia mengingat, Wanita itu?" bantuannya menyelidik.
Tapi baginya itu tidak mungkin. Pasalnya, tuannya itu sama sekali tidak melihat wajah Aleisha.
"Saya akan buatkan Tuan teh.." lanjutnya yang lalu bangkit dari sofa yang di dudukinya.
Saat akan berjalan ke arah meja yang terdapat mesin minuman dan juga jenis minuman instan.
"Tidak usah!" seru Dominic kemudian.
"Istirahatlah di kamarmu! Nanti malam kita ada pertemuan dengan kolega.." beritahunya.
"..baik, Tuan.." angguk Antonio yang lalu mengambil tasnya di atas sofa.
Saat akan berjalan ke arah pintu, Pria itu berhenti karena panggilan dari Bosnya.
"Antonio!" panggilnya.
"..iya, Tuan.." katanya yang kembali berbalik ke arah Dominic yang masih dengan posisi yang sama.
"Apa kamu masih ingat dengan Wanita yang kamu bawa ke rumah sakit?" tanyanya.
Pria berjas itu, mengeratkan genggamannya pada tas yang di pemegangnya.
__ADS_1
Jika saja Dominic membuka matanya, saat bertanya hal tersebut. Tentu Pria itu akan menyadari sikapnya sekarang.
"..tentu, Tuan.." balasnya.
"Apa kamu tahu, dimana dirinya saat ini berada?" Tanyanya kembali.
Deg deg deg deg deg
Dada Pria berjas itu kembali berdebar, lagi-lagi tanpa di sangka. Bosnya akan bertanya hal tersebut.
"..saya tidak tahu, Tuan.." jawabnya.
Pria itu lalu menarik nafas dan kembali berucap.
"..seperti yang Tuan Dominic perintahkan. Saya minta pihak rumah sakit untuk membiarkan Wanita itu pergi setelah sembuh.." beritahunya.
"Saya juga tidak mencari tahu apapun tentang Wanita itu, karena Tuan sendiri mengatakan tidak ingin tahu menahu mengenainya.." lanjutnya.
Pria di sofa membenarkan perkataan Pria itu. Dia memang meminta hal tersebut. Tapi kali ini lain cerita.
Dia lalu membuka matanya kemudian mengangkat kepalanya. Di arahkan matanya melihat ke arah Pria yang berdiri tak jauh darinya.
"Yasudah, kamu boleh ke kamarmu.." ucapnya yang segera di angguki Pria berjas itu.
Tinggalnya di ruangan itu. Dominic melirik ke arah tab yang di meja. Di raihnya benda itu lalu menatap wajah Wanita yang berada di mobil. Di gesernya kembali yang selanjutnya menampakkan wajah sedih Wanita itu.
Dirinya sama sekali tak mengingat pernah bertemu dengan sosok Wanita itu. Tetapi mengapa perasaannya tak menentu saat melihat foto dengan wajah sedihnya.
"Siapa sebenarnya kamu!?" geramnya.
Dia lalu menyandarkan kembali tubuhnya kemudian meletakkan tangan yang memegang benda pipih itu ke sampingnya.
Rasa berkecamuk kembali dirasakannya.
# # #
Terimakasih sudah membaca cerita ini...
Jangan lupa juga baca cerita
FRIEND AFTER MARRIAGE
Tekan like, koment berkaitan cerita dan vote supa SMIM semangat membuat lanjutan ceritanya...
__ADS_1
Salam hangat SMIM