
Tekan like, vote, komen and favorite.
Hadiah yang tak diinginkan
Happy Reading!!!
Sudah hampir enam bulan, Aleisha menjalani pekerjaan sebagai Pelayan Resto.
Saat ini dia terlihat sudah terbiasa dengan suasana yang ada. Begitu juga dengan pelanggan tetap yang terbiasa dengan penampilan Aleisha yang berbeda dengan Pegawai lain.
Di penghujung tahun ini sampai awal tahun, Resto semakin ramai oleh pengunjung. Apalagi sekitar tanggal dua puluh empat Desember sampai satu Januari.
Tentu itu tak di tanya lagi, Resto sangat padat. Jika ingin makan di tempat, mereka harus booking terlebih dahulu.
Di ruang istirahat
Nur, Nazwa, Aleisha dan Karin. Terlihat sedang beristirahat. Mereka sedang menyantap makan siang yang di sediakan Resto untuk Pegawai.
Wajah letih, terlihat jelas di raut muka mereka yang nampak lelah.
Bagaimana tidak? Belum saja buka, Pelanggan nampak sudah berdatangan.
"Ayo semangat! Ini hari terakhir!" seru Nur menyemangati Karin dan Nazwa.
"Iya, semangat!" sahut mereka berdua yang seketika semangat.
Mereka bertiga lalu melihat ke arah Aleisha yang terlihat senang juga.
"Kamu pasti juga senang, karena ini hari terakhir.." kata Nazwa tersenyum ke arah Aleisha.
"..aku senang juga, tapi ada hal lain yang membuatku senang.." balas Aleisha.
"..memangnya apa?" tanya Karin pada Wanita bergamis itu.
Aleisha tersenyum, dia kembali teringat akan kejadian pagi tadi.
"..aku sangat senang, akhirnya setelah hampir setahun. Mereka bisa masuk Al-Qur'an.." ucap Aleisha dengan denyum berkembang.
"..mereka? Siapa?" tanya Nur.
"Anak-anak yang tinggal di dekat kontrakan.." jawab Wanita itu.
"..jadi kamu ngajarin anak ngaji.." ucap Nur yang baru tahu.
Aleisha menganggukan kepala mengiyakan.
"Iya, Kak Nur. Aleisha setiap hari mengajar ngaji, tapi dia mengajarnya free.." beritahu Nazwa.
"..masyaAllah, Aleisha.." kaget Nur yang tak menyangka. Masih ada orang yang memberikan ngaji gratis.
Aleisha terkekeh lalu dia melihat ke arah ketiga Wanita bergantian.
"Iya, Kak. Selagi aku bisa mengajar secara gratis. Aku kerjakan.." ucapnya.
__ADS_1
"Tapi, yang membuatku sedih. Niat mengaji anak berkurang, mereka lebih memilih bermain dengan HP dari pada mengaji.." lanjutnya dengan wajah sendu.
Karin dan Nazwa menganggukan kepala setuju dengan perkataan Wanita itu.
"Contohnya kita saja, HP aja bagaikan hidup kedua. Gak bisa jauh-jauh dari kita.." ucap Nazwa.
Begitulah kehidupan sekarang, kemana-mana semua orang pasti selalu membawa HP. Semua serba HP, dari membayar atau apapun.
# # #
Akhirnya hari yang di tunggu -tunggu datang. Yaitu, hari pengumuman hadiah.
Sore ini, semua Pegawai kembali berkumpul dengan senang. Berharap dirinya yang mendapat hadiah.
"Terimakasih untuk kerja sama kalian selama beberapa hari ini.." ucap Pak Baim ke arah Para Pegawai di depannya.
"Sama-sama, Pak.." balas salah seorang Pegawai.
Sedang Pegawai lain tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Pak Baim terlihat ikutan tersenyum ke arah Para Pegawainya.
"..baiklah, seperti tahun biasanya. Hari ini saya akan mengumumkan beberapa orang yang akan mendapat hadiah wisata.." ucapnya yang segera mendapat tepukan meriah dari Para Pegawai.
Prok prok prok prok prok
Usai suara tepukan berhenti. Pria itu kembali melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya, Pak Alano ingin memberikan hadiah ini secara langsung. Tapi karena ada urusan, Pak Alano izin dan di gantikan oleh saya.." jelasnya.
Pria itu lalu mengambil kertas dari kantungnya. Di bukanya kertas itu yang terdapat nama-nama penerima hadiah.
"..penerima hadiah adalah.." katanya yang lalu melihat ke arah Pegawai bergantian.
" ..selamat untuk Santi, Raju, Rini, Salsa, Radi, Tina dan Aleisha. Selamat untuk kalian.." lanjutnya sambil menepuk tangan yang di ikuti Pegawai lain.
Wajah senang terlihat di muka Pegawai yang mendapat hadiah, sedang Pegawai lainnya yang tidak mendapat merasa kecewa. Termaksud Susi yang merasa kesal.
Dia tak terima, bisa-bisanya Pegawai yang belum sampai setahun bisa mendapat hadiah. Sedang dirinya yang sudah setahun lebih belum juga mendapatkannya.
"Harap tenang!" seru Baim mendiamkan ruangan yang ramai dengan suara.
"Untuk Para Pemenang, perjalanan kalian kali ini akan ke Italia.." beritahunya yang kembali tepuk tangan.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan Para Pegawai kembali terdengar.
Diantara kumpulan Pegawai, seorang Wanita terlihat diam mendengar tujuan Negara yang akan di datangi.
Dia merupakan Aleisha, dia terdiam dengan wajah membeku.
Dari banyaknya Negara, itu merupakan Negara yang di hindari dirinya sejak ke jadian beberapa bulan lalu.
__ADS_1
Kalau bisa, dirinya lebih memilih tidak meninggalkan Negara tercintanya.
Usai pengumuman singkat, Pak Baim undur pamit ke ruangannya di ikuti semua Pegawai yang berbubaran.
Wanita bergamis itu, segera mengejar sosok Pria berjas yang berjalan dengan langkah lebar.
"Pak Baim!" panggilnya yang segera mendapat tolehan dari Pria itu.
"Iya, ada apa Aleisha.." katanya yang melihat ke arah Wanita itu.
"..maaf Pak, boleh saya...menolak hadiah wisata itu.." ucap gugup Aleisha.
Pria berkemeja warna biru itu terdiam memperhatikan Wanita di depannya.
"..sebaiknya kamu fikirian dulu, kesempatan ini tidak datang dua kali.." katanya yang lalu meninggalkan Wanita itu.
Diarahkan kakinya ke arah kursi lalu mendudukinya. Aleisha menghela nafas panjang.
Baginya, tanpa berfikirpun dia akan menjawab tidak.
Dari arah ruang berkumpul tadi, Susi dan Santi berjalan bersama.
Susi melihat tak suka ke arah Aleisha yang duduk.
"..mulai besok aku rajin juga ah, biar bisa jalan-jalan ke luar Negri kayak anak baru.." ucap Susi menekan kata baru dia akhir kata.
"Enak bangat, belum juga setahun udah jalan-jalan ke luar Negri.." lanjutnya menyindir Aleisha.
Sedang Santi yang berjalan bersama Susi hanya diam.
Dia tau betul alasan temannya ini tak mendapat hadiah.
Aleisha yang memang mendengar perkataan Wanita itu yang lumayan keras, berkata "Kamu mau ke Negara itu. Kalau mau kamu saja yang pergi.." ucap Aleisha lemas.
Mendengar perkataan Aleisha, Susi merasa kesal. Dia tidak mau di kasihani Wanita itu.
"..gua gak butuh, tahun depan gua masih bisa jalan-jalan ke Negara yang lebih bagus.." jawabnya yang lalu pergi menarik tangan Santi di sebelahnya.
"..aahhh.." Wanita bergamis itu kembali menghela nafas.
Dirinya bingung, mengapa sampai sekarang. Wanita itu tetap bersikap demikian pada dirinya.
Padahal jika Wanita itu mau menerima hadiahnya, dengan senang hati Aleisha akan memberikannya.
Tapi, sayangnya ego Wanita itu lebih besar dari pada keinginannya. Membuatnya menolak mentah-mentah.
# # #
Terimakasih sudah membaca cerita ini...
Jangan lupa juga baca cerita
FRIEND AFTER MARRIAGE, UHIBBUKI dan Cerpen
__ADS_1
Tekan like, koment berkaitan cerita dan vote supa SMIM semangat membuat lanjutan ceritanya...
Salam hangat SMIM