
Sosok Dominic
Happy Reading!!!
Ketegangan nampak terasa di ruangan itu. Empat orang Pria terlihat duduk menghadap seorang Pria yang sedang menatap ke arah sebuah tab di atas meja.
"Hmmm.." gumamnya sambil menggeser layar tersebut.
Pria tersebut menatap dengan teliti, apa yang ada di tab.
Walau hanya gumaman sekujur tubuh keempat Pria itu seketika menegang. Buliran keringat dingin sudah membasahi kening mereka.
Albern, Booby dan Dario, terlihat sangat tegang. Selama ini mereka tak pernah sekalipun bertemu dengan sosok bernama Dominic.
Mereka hanya mendengar kalau orang yang bernama Dominic adalah Pria dingin yang kejam. Jika memberikan hukuman tidak akan segan-segan walau orang tersebut Wanita.
Tapi, saat bertemu langsung dengan sosok Pria itu. Mereka merasa sifatnya jauh lebih dingin dan di wajahnya tak ada ekpresi sama sekali.
"Alano!" ucapnya.
Seketika ketiga Pria bule melihat ke arah nama yang di maksud.
Mereka mendapati, wajah Alano yang sangat tegang.
Tentu, siapa yang tidak merasa tegang ataupun gemetaran jika berhadapan dengan sosok bernama Dominic. Walau bukan pertama kali bagi Alano bertemu dengannya, tapi tetap saja dirinya merasakan itu.
"Iya, Tuan.." angguknya.
"Telponmu berbunyi.." beritahu Dominic.
Sontak Alano melihat ke arah ponselnya yang bergetar. Di dapatinya disana nama Antonio.
Sontak Pria itu melihat ke arah Pria di depannya yang kembali fokus pada layar pipih itu.
Tak lama telpon mati. Di buka telponnya yang terdapat pesan dari orang yang menelpon tadi.
Antonio:
Aku ada di halaman!
Kata pesan yang tertulis. Pria itu lalu melihat ke arah Dominic yang masih fokus melihat layar pipih itu.
Alano:
Baik Tuan Antonio.
Balas Alano, Pria itu kembali melihat Dominic yang saat ini sudah melihat ke arahnya.
"Dia sudah sampai?" tanyanya datar.
"..iya Tuan.." angguknya.
Sempat sesaat Alano berfikir siapa yang sampai.
Pria itu lalu beranjak dari kursinya. Di ikuti ke empat Pria itu. Kemudian dia melihat ke arah tiga Pria yang diam sejak tadi.
Usai melihat sebentar, dia lantas jalan ke arah pintu yang segera di ikuti oleh Alano.
Sedang ketiga Pria itu masih berdiri di tempat. Mereka merasakan tatapan sesaat dari Tuannya itu.
* * *
Resto sudah tutup, saat ini Para Pegawai sedang menunggu tamu VIP di atas. Mereka menunggu sambil berkumpul di meja tamu Resto
__ADS_1
"Kalian ingat tidak, Pria seram yang sejak sore duduk di bangku pojok sana.." ucap Dewi mengingatkan para Pegawai sore ini.
"Iya aku ingat.." angguk Raju.
"Maksudmu Pria bule yang memakai jaket hitam serta masker.." timpal Beni mengingat Pria itu.
"Iya betul, Pria itu.." balas Dewi menganggukkan kepala.
"Memang kenapa kamu membahas Pria itu? Bukannya dia sudah pergi sedari tadi?" tanya Nazwa.
"Kata siapa dia sudah pergi! Saat ini dia sedang di atas, di ruang VIP bersama Pak Alano dan teman-temannya!" Beritahunya yang sontak Pegawai lain kaget.
"Jadi maksudmu, Pria itu teman Tuan Alano!?" ucapnya memastikan.
"Iya.." jawabnya.
Tap tap tap tap tap
Para pegawai menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari tangga. Mereka mendapati Pria yang di bicarakan sedang turun bersama Alano.
Mereka lantas berdiri, memberi salam pada Pak Bosnya.
Alano menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah Para Pegawainya. Dia berjalan di belakang Pria tinggi besar itu ke arah pintu keluar.
"Lihatdeh, Pak Alano terlihat menghormati Pria seram itu!" bisiknya ke arah teman-temannya.
"Dewi!" seru Nazwa mengingatkan Dewi agar menjaga bicaranya.
"Oh iya, Aleisha sama Rahmi lama betul keluarnya beli makanan.." kata Raju yang mulutnya gatel untuk mengunyah.
"Makanya, harusnya tadi kamu yang keluar sama Beni. Masa anak gadis keluar beli makanan malam-malam.." balas Dewi yang di angguki Nazwa.
* * *
Bbbrrmm bbrrmmm bbrrmm
"Aleisha, kamu masuk duluan ya. Aku markirin motor dulu.." ucap Rahmi pada Wanita yang di boncenginya.
"Iya," sahut Aleisha yang segera turun dari motor gigi itu.
Wanita itu lalu berjalan ke arah pintu masuk. Dia melihat ada mobil hitam ceper yang seingatnya mobil itu belum ada ketika dirinya pergi tadi.
Lalu tak jauh dari mobil itu, dirinya melihat sosok Alano pemilik Resto dan dua Pria lainnya yang tinggi besar.
Dengan perlahan dia berjalan melewati para Pria itu, tak lupa dia menundukkan kepala.
"Permisi, Tuan.." ucapnya dengan gerakan kepala tertunduk dan tangan kanan ke depan.
Tapi tak ada jawaban dari para Pria itu yang berbicara dengan Bahasa yang tak di pahami Aleisha.
"Hati-hati Tuan Dominic, Tuan Antonio.." ucap Alano dengan kepala tertunduk pada dua Pria di depan.
Dominic lalu melihat ke arah Antonio yang nampak diam dengan pandangan ke arah Resto.
"Ada sesuatu yang kamu lihat?" tanya Dominic pada Pria berjas itu.
Pria berjas nampak masih diam dengan tatapan ke dalam Resto. Hal tersebut membuat Alano dan juga Dominic menatap ke arah Resto.
Tapi mereka hanya mendapati Pegawai Resto yang terlihat bersorak senang akan ke hadiran sosok yang tadi melewati mereka.
Puk
Dominic menatap Pria itu lalu mengarahkan telunjuknya ke arah perutnya. Seketika di sadar lalu melihat ke arah Pria di sebelahnya.
__ADS_1
"Seandainya, jika ini pistol pasti saat ini nyawamu sudah berpisah dengan tubuhmu.." ucapnya menatap ke arah Antonio.
Pria itu menundukkan kepala,
"Maaf.." ucapnya.
Antonio segera berjalan lalu membukakan pintu mobil.
Dominic lantas segera memasukinya.
Usai Pria itu masuk, Antonio kembali berjalan ke arah kemudi yang di hampiri Alano.
"Tadi, apa yang Tuan lihat. Sampai membuat Tuan tak fokus pada sekitar?" tanya Pria itu.
"..bukan apa-apa.." balasnya.
"Aku pergi, Alano.." pamitnya yang di angguki Pria itu.
Sebelum memasuki mobil, Pria itu kembali melihat ke arah dalam Resto. Matanya menyipit menatap satu sosok yang hanya wajah sebelahnya yang terlihat.
Seperginya mobil hitam ceper itu, Alano lantas berbalik. Dia penasaran, apa yang di lihat orang kepercayaan Dominic.
Dia hanya melihat para Pegawainya berkumpul sambil tertawa.
"Apa mereka yang di lihat Tuan Antonio tadi?" batinnya bertanya.
* * *
Cklek
"Apa yang kalian lakukan!?" serunya menatap ketiga Pria yang duduk sambil menikmati minuman di tangannya.
"..kami sedang minum.." balas Booby yang lalu meneguk air di dalam gelasnya kembali.
"Aku tau kalian sedang minum, tapi belum saatnya. Masih ada beberapa yang harus kita diskusikan.." ucap Alano pada ketiga orang tersebut.
"Sepertinya hari ini aku gak bisa. Semua otakku seketika terkuras karena bertemu Tuan Dominic.." kata Dario yang masih merasakan ketakutan.
"Tidak bisa, kita harus membahasnya sekarang!" serunya yang lalu duduk di kursi yang kosong.
"..aku tidak menyangka, apa yang kamu katakan benar.." ucap Albern.
"Maksudmu?" tanya Alano kembali.
"Walaupun hanya melihatnya saja. Aku bisa merasakan kegelapan dari tuan Dominic.." beritahunya.
"Pastinya kalian kaget. Apalagi ini kali pertama kalian.." setujunya.
"Tapi kalian tak perlu takut. Selama kalian tak menghianati Tuan Dominic kalian tidak akan berhadapan dengannya.." jelasnya.
Ketiga Pria itu menganggukkan kepala paham. Sebelum melihat sosok Pria itu saja mereka takut, apalagi setelah melihat sosoknya yang ternyata lebih menyeramkan.
"Ohh iya, sementara waktu Tuan Dominic akan menetap disini.." beritahunya yang mendapatkan wajah kaget dari ketiga bule.
"Jadi, ayo kembali kita mulai diskusinya.." ajaknya. Yang mau tak mau di angguki mereka.
# # #
Terimakasih sudah membaca cerita ini...
Jangan lupa juga baca cerita
FRIEND AFTER MARRIAGE
__ADS_1
Tekan like, koment berkaitan cerita dan vote supa SMIM semangat membuat lanjutan ceritanya...
Salam hangat SMIM