Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Departemen Arkeologi


__ADS_3

"Noah, kamu cantik dengan pakaian itu", Ayah memuji pakaian yang biasa Noah pakai setiap hari ke kampus sambil bersiap menyetir mobil.


"Te-terima kasih, ayah"


"Tumben", batin Noah heran.


Tiba-tiba Naru sudah duduk di kursi belakang. Tanaka yang melihat dari spion hanya bisa tersenyum, sedangkan Noah langsung menoleh ke belakang.


"Salaam..", cengir Naru.


"Hemph", Noah kembali menghadap ke depan.


Noah mencoba menceritakan kepada Tanaka tentang benda teknofak yang ia pinjam dari Dosen. Dia pun meminta maaf karena tidak memberitahukannya lebih dulu.


Tanaka memahami itu, beliau pun memberi saran kepada Noah supaya benda itu bisa diteliti lebih lanjut oleh Delano sebelum dikembalikan lagi kepada Dosen.


"Baik, ayah", sahut Noah.


"Dia patuh sekali dengan ayahnya. Jika ayahnya memintanya untuk menikah dengan Delano apa dia juga akan menurut?, cih!" Naru semakin menggerutu.


"Hemph!", Noah menoleh ke belakang lagi.


Sampai di kampus, seperti biasa Delano menunggu kedatangan Tanaka dan Noah dengan jarak tiga meter. Noah turun dengan memberikan ejekan kepada Naru dan pergi begitu saja.


"Anak muda, apa kau tidak ingin ikut turun?", ajak Tanaka kepada Naru.


"Tidak", jawab Naru singkat.


Naru hanya bisa melihat Noah yang semakin jauh di sana. Rasa kesal semakin bertambah dan memenuhi isi pikirannya.


Sesuai pesan ayahnya, Noah langsung meminta bantuan kepada Delano untuk membantunya meneliti pisau kupu-kupunya tersebut.


Delano mengajak Noah ke gedung departemen arkeologi. Karena, di gedung tersebut Delano bisa lebih fokus dan merasa nyaman melakukan pengamatannya.


Noah dan Delano telah sampai di gedung departemen arkeologi. Gedung tersebut sangat unik karena di tengah-tengah lantainya terdapat replika lantai ukiran berdiameter tiga meter. Replika lantai yang dibuat mirip dengan aslinya yang berada di negeri padang pasir sana.


Departemen Arkelogi adalah gedung yang dianggap suci bagi mereka para arkeolog. Sehingga, ketika masuk ke dalam harus melepas alas kaki dan masuk dengan membungkukkan badan.


Noah dan Delano mulai melepas sepatu mereka. Saat Noah sedang melepas sepatunya, dia melihat Naru berada di kebun dekat gedung tersebut. Noah berencana menghampirinya.


"Kak Delano, sebentar ya kak", Noah langsung berlari menghampiri Naru.


"Naru..", panggil Noah.


Naru sedang berdiri memandangi dedauan pepohonan yang menari-nari. Suasana terasa sejuk di sana. Bahkan, sinar matahari pun tidak membakar kulit Naru. Naru serasa bernostalgia.


"Dunia ini sangat indah"


"Sudah lama aku tidak melihat keindahan ini setelah kepergian ibunda ratu"


"Naru!", panggil Noah lagi.


"Noah?"


"Kamu tidak dengar aku memanggilmu dari tadi?"


"Eemm..", Naru hanya memalingkan mukanya lagi.


"Kamu sedang apa disini?"


Naru masih terdiam. Banyak pikiran kembali menyelimuti dirinya. Dia harus segera melakukan pengembaraannya lagi untuk mencari Haru dan pengganti Dewi matahari.

__ADS_1


Dia menyadari, bahwa dirinya yang sekarang sedang terjebak oleh sesuatu yang mengganggu perasaannya.


"Noah"


"Iya?"


"Maukah kamu ikut aku mengembara?"


"Apa?"


"Tapi, pengembaraanku ini mungkin tidak akan memberikan kebahagiaan dan keindahaan apapun untukmu"


"Eh?"


"Terima kasih Noah, karena kamu sudah menyelamatkan diriku. Aku, tidak bisa membalasnya dengan sangat baik"


"Naru?"


Noah terpana melihat Naru memandang dedaunan yang menari-nari itu. Begitu mempesona saat beberapa cahaya mengintip dari sela-sela ranting dan daun pohon. Angin kecil pun mengerak-gerakkan rambut Naru dengan indah.


"Adududududuh", Noah melompat-lompat kecil karena tiba-tiba kakinya terasa geli dan gatal.


"Noah, ada apa?"


"au au au, Naru tolongin aku"


"Banyak semut mengerubungi kakimu Noah"


"Apa?, Emm.. Makanya tolongin aku"


Naru pun menyingkirkan semut-semut itu tapi malah tangannya ikut terkena gigitannya


Naru menggunakan sihir pikirannya untuk bisa berbicara kepada semut-semut tersebut. Dia meminta semut-semut untuk menyingkir dan pergi meninggalkan tempat.


Sihir itu pun berhasil, Naru merasa sangat lega.


"Kamu seperti malaikat Naru", ucap Noah berkaca-kaca.


"Ahahaha.. Akhirnya kamu mengakuinya juga", balas Naru langsung mengangkat tubuh Noah dan mengantarkan kembali ke gedung departemen arkeologi.


Di depan gedung, Delano masih bersabar menunggu Noah kembali. Terlihat Naru yang sedang menggendong Noah berjalan ke arahnya. Delano tersenyum menyapa, sedangkan Naru terbelalak bertemu dengan Delano.


"Ha-Haru? Ti-tidak mungkin"


Naru melihat Delano sangat mirip dengan saudara kembarnya. Pakaian manusianya tidak mengecoh mata Naru. Bagi Naru, Delano benar-benar sangat mirip dengan Haru, bahkan tahi lalat yang berada di bawah matanya juga sama.


"Lama tidak jumpa, saudaraku", sapa Delano ramah


"Apa?", Naru masih belum percaya.


Sambil menurunkan Noah, Naru perlahan mendekati Delano. Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain. Sihir mereka berdua pun keluar dan saling terikat satu sama lain.


"Benarkah kau Haru?"


"Ahahaha.."


"Katakan! Apakah kau Haru?!"


"Naru? Ada apa?", Noah datang untuk melerai. Dia berada di tengah-tengah Naru dan Haru. Mendorong Naru untuk sedikit menjauh.


"Naru, kumohon jangan menakutiku", lirih Noah

__ADS_1


Naru pun menghela nafas dan menurunkan kadar ketegangannya. Matanya yang merah menyala kembali menjadi hitam.


"Noah, apakah kita jadi untuk mengamati benda tersebut?", ajak Delano.


"Eh? Umm.. Baiklah kak"


"Naru, ada apa?", tanya Noah khawatir.


Naru memandang lembut ke arah Noah, membelai rambut dan menyentuh sebentar anting jam pasirnya. Tidak menjawab malahan jongkok melihat kondisi kaki Noah yang berbintik-bintik merah.


"Makhluk-makhluk kecil ini berani mengalahkanku", keluhnya sambil memberikan sinar penyembuhan untuk kaki Noah.


"Noah?", panggil Delano


"Te-terima kasih Naru", ucap Noah canggung.


Naru berdiri dan pergi meninggalkannya.


Noah memandang sedih kepergian Naru, dia pun berjalan mengikuti Delano memasuki ruang gedung.


Noah dan Delano duduk berdua berhadapan. Noah mengeluarkan pisau kupu-kupunya yang masih terbungkus dengan kain dan menyerahkannya kepada Delano.


Hanya dengan sekali tarikan nafas, pengamatan yang dilakukan Delano pun selesai. Nyawa yang berada di dalam pisau itu dia hirup, dan pisau itu sudah menjadi benda mati kembali.


"Apa? Gitu doank kak?", Noah terperanga.


"Iya, selesai kan?", canda Delano.


"Ahahaha.. Tidak kusangka. Kak Delano memang hebat"


"Terima kasih, Noah"


"Sama-sama"


"Kalo gitu, sejak kemarin aku langsung minta bantuan aja sama kak Delano. Kasihan Naru sampai terluka begitu", batin Noah.


"Ngomong-ngomong, kamu terlihat kenal dengan pria itu Noah? Terlihat sangat dekat sekali?"


"Ehehehe..", Noah tersipu malu sambil memalingkan mukanya.


"Apa dia pacarmu?"


"Pa pa pa pa pa ? A-apa Kak?", tanya Noah baik


"Paaa car. P-A-C-A-R, Pacar"


"Pa pa pa pa pa? Apa itu kak?"


"Ahahaha.. Dasar gadis lugu", canda Delano sambil membelai lembut kepala Noah.


"Umm", Noah tersipu malu


"Sring sring.. Sring sring.. Sring sring..", terdengar suara mulai menganggu pendengaran Noah.


"Tolong.."


"Kak Delano, ada yang meminta tolong?"


"Siapa? Aku tidak mendengarnya?"


Seketika senyum palsu nan misterius terlukis di bibir Delano. Matanya menajam dengan ditutupi bayang-bayang kemisteriusan.

__ADS_1


__ADS_2