Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Emas Sempurna


__ADS_3

Chacha turun dari kursi dan berpindah mendekati Noah. Melihat Noah masih tertidur lelap dengan nafas yang berat, Chacha ingin menyanyikan nyanyian tidurnya. Terpejam, dengan tangan memohon. 


Bibirnya yang mungil, mulai melantunkan bait demi bait dengan sepenuh hati. Ketulusan hatinya membuat tubuhnya bercahaya ungu. Berharap, nyanyian tidurnya bisa menenangkan Noah. Tapi..


“Sruing.. sruiing..”, tubuh Noah perlahan bercahaya emas.


“Panass..”, gumamnya.


“Hoss.. hossh..”


“Panass..”


"Sruing.. Sruing.."


"Sruing.. Sruing.."


“Hah!”, Noah pun terbangun. 


Vampir kecil itu masih fokus dengan nyanyiannya. Namun, seketika dia kaget saat Noah tiba-tiba memegang erat lengan tangannya. Noah tidak bisa mengendalikan dirinya.


“Mama?! Sakit"


"Sruing.. Sruing.."


"Panas. Ada apa dengan tubuhku?", Tubuhnya semakin gemetaran menerima reaksi dari mata kanannya.


"Mama!"


“Brug!!”


Noah akhirnya menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, kedua tangannya mengepal erat menahan panas di tubuhnya. Bukan hanya tubuhnya yang semakin panas, tapi mata kanan Noah bereaksi dan membuatnya semakin kesakitan.


“Tidak..”


“Sakit..”


"Sakit.."


“Tidaaakk!”


...****************...


Sementara itu, di tempat Naru berada bersama Haru, Sean dan Saga. Naru langsung bisa merasakan kehadiran kekuatan dari Noah.


“Kekuatan apa itu? Noah.."


“Ada apa, Naru?”, tanya Sean cemas.


...****************...


Dan, di kerajaan Vampir..


“Rajaku, Putriku telah menunjukkan kekuatannya”, ucap Tanaka juga merasakan kehadiran kekuatan Noah.


“Apa? Ini belum waktunya kan? Ada apa sebenarnya?”


“Perasaannya sedang tidak terkendali, di samping itu, dia terserang demam. Sehingga, pertahanan diri Noah melemah untuk mengendali kekuatan dari sang ratu”


“Apa kita perlu kesana?”


“Tidak perlu, Rajaku. Mereka pasti akan bisa mengendalikannya”, pungkas Tanaka


...****************...


Saat membuka mata, Noah sudah berada di dalam gedung departemen arkeologi. Kakinya menapak tepat di tengah replika lantai berukiran simbol dewi matahari.


Sendirian.


Kedua matanya pun telah sempurna berwarna emas. Saat tangannya mulai menyentuh kembali ukiran tersebut, cahaya muncul memenuhi dirinya.


Bersinar tegak menembus atap gedung menuju langit. Delano yang sedang melakukan penelitian di dalam gedung tersebut, seketika menoleh, "Ada apa ini?"


"Apa yang sedang terjadi?"


"Hah? Noah?"


“Noah!!”, panggil Delano.

__ADS_1


“Kak Delano?”


“Menyingkirlah dari sana!”


Noah berdiri dan menoleh ke arah Delano. Kedua matanya benar-benar menyala, tapi dia tidak bisa mematuhi perintah Delano. Noah mengangkat tangan kanannya dan seketika Delano terhempas jatuh.


“Ada apa dengannya? Kekuatannya sungguh besar. Aku tidak bisa melawannya”, keluh Delano.


...****************...


“Lihatlah ke langit! Ada cahaya aneh di sana”, ucap Saga


Sean berlari mendekati jendela, memastikan keberadaan di mana cahaya tersebut muncul.


“Kekuatan ini? Aku harus kesana!”, pungkas Naru langsung menghilangkan diri.


“Tuan Naru?!"


Jezz!! Dia benar-benar tidak mau bekerja sama dengan kita”, keluh Saga


“Saga! Kita juga harus kesana”, pinta Haru


"Baiklah Tuan Haru"


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil Saga dan segera melaju ke tempat di mana cahaya itu berada. 


...****************...


Cahaya itu mengarah ke tempat di mana replika lantai asli itu berada, yaitu di negeri padang pasir. Reruntuhan dan banyaknya pasir telah menutupi keberadaan kerajaan vampir di padang pasir. 


Setitik cahaya yang berpusat di tengah ukiran dewi matahari itu perlahan membesar untuk menyapu pasir dan mengangkat bebatuan yang menutupinya. Setitik yang semakin lebar, semakin lebar dan membesar memenuhi lingkaran lantai. 


Lantai tersebut menjadi bersih dan utuh kembali. 


...****************...


“Ibunda. Kenapa kau melakukan ini kepada Noah?”, keluh Naru yang sudah berada di dalam gedung arkeologi.


“Kau harus segera menolongnya, kalau tidak tubuhnya akan segera hancur bersama cahaya itu”, ucap Delano


“Apa?”, Naru tercengang


“Naru?”


“Noah!”


“Tidak bisa.. tidak bisa..”


Konsentrasi Noah menjadi terganggu hingga dia memegangi kepalanya untuk menghentikan perbuatannya tersebut, “Tidak.. Tidaaakk!”


Naru berusaha mendekati Noah tapi kekuatan di sekitar Noah menghalanginya. Semakin Naru mendekat kekuatan itu semakin mendorong Naru menjauh. 


“Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan Noah menghilang”


Naru menghadirkan petir kepada cahaya itu, gemuruh dan kilatan-kilatan suara petir yang luar biasa mulai menyambar, semakin mengganggu konsentrasi Noah.


“Kyyaaa!”, Noah langsung merunduk ketakutan.


“Ini saatnya”


Naru melompat dan terbang sejenak di atas ruang gedung, mulai mengayunkan tubuhnya untuk mendekat kepada Noah. Kekuatan cahaya itu terlihat mulai melemah.


Naru telah berhasil mendekat kepada Noah. 


“Berbahaya sekali mereka berdua itu”, gerutu Delano merasa ketakutan.


“Noah?”


“Naru?”


“Panas! Tubuhnya panas sekali”, keluh Naru kesulitan menyentuh pundak Noah.


Saat Noah reflek menatap ke arah Naru, seketika dia sadar bahwa kedua matanya masih berwarna emas. Dia ketakutan dan rendah diri bahwa Naru akan tidak menyukainya. Noah semakin merunduk dan menyembunyikan mukanya di dalam lututnya.


“Noah, ada apa?”


Noah menggeleng.

__ADS_1


“Ayo kita pulang”, ajak Naru lebih lembut


“Se-sebentar”


Noah tersentak kaget saat Naru mencoba menyentuhnya kembali. Jatuh terduduk membuat kedua tangannya menapak dibelakang dan menyentuh kembali replika lantai tersebut. Seketika pintu replika lantai langsung terbuka.


“Eh? Eeeeehhh!!”, Noah terjatuh ke dalam ruang bawah tanah begitu pula bersama Naru.


Keadaan ruang bawah tanah terlihat sangat berbeda. Terlihat lebih luas dan sangat luas, bahkan tidak terlihat dinding dan ujungnya. 


“Kyyaaaa!!”, Noah terus meluncur jatuh ke bawah.


“Cring”


Naru mendekatkan diri kepada Noah, menangkapnya dan melindunginya dengan pelukannya.


“Sial! Tubuhnya malah semakin panas”


“Noah, kita akan jatuh kemana?”, tanya Naru heran


Noah pun heran, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pintu perlahan menutup kembali.


“Pejamkan matamu. Kita akan kembali lagi ke atas”, ucap Naru


Namun, ternyata Naru tidak bisa menggunakan kekuatannya karena pintu telah menutup kembali. 


“Apa?”, Naru tercengang


“Ada apa Naru?”


“Ki-kita akan jatuh, Noaahh!”


“Eeeeeehhhh!”


Noah dan Naru semakin jatuh ke bawah, membawanya entah kemana. 


...****************...


“Tuan, cahayanya menghilang”, ucap Saga yang dari tadi memperhatikannya meskipun sambil menyetir mobil.


“Lanjutkan Saga, kita tetap kesana”


“Baik”


Mereka bertiga sampai di kampus. Turun dari mobil dan berlari menuju gedung arkeologi. Saat mereka masuk ke dalam, sudah tidak terjadi apa-apa. Melainkan melihat Delano yang masih tersungkur.


“Hei penyihir samvah, apa elo melihat kejadian apa yang terjadi disini?”, tanya Sean garang.


Delano hanya mengangkat kedua bahunya 


“Sepertinya, Naru telah menghentikannya”, ucap Haru


“Lalu, kemana mereka pergi?”, tanya Saga


“Mereka telah jatuh ke dalam ruang bawah tanah”, sahut Delano.


“A-apa?”, Sean langsung berlari menuju lantai berbentuk lingkaran tersebut.


"Tempat apa ini sebenarnya", Sean menendang-nendangkan kakinya di lantai tersebut. 


Delano yang melihat perbuatan Sean langsung marah dan mendekatinya, “Berani ya kau merusak fasilitas gedung!”


“Ooohh.. bisa dirusak ya?”, Sean semakin menginjakkan kakinya dengan keras di lantai tesebut, bahkan sampai melompat-lompat beberapa kali.


“He-hentikan itu!”, Seketika Delano menangkap tubuh Sean


“Eh?”, Saga tercengang kaget


“Eh?”, Haru ikutan kaget


“Eeeeehhh! Apa yang sedang kau lakukan?!”


Tanpa sadar Delano ternyata memeluk tubuh Sean, membuat Sean malu dan terus memberontak. Namun, Delano tidak menganggap dirinya telah memeluknya. Dia hanya menangkapnya untuk menghentikan tingkah Sean.


“Berhentilah memberontak!”, ucap Delano kewalahan


“Lepaskan tanganmu bodoh!”

__ADS_1


__ADS_2