Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Dewi Matahari


__ADS_3

“Kenapa kita harus membeli buah-buahan, Noah? Di rumah kan buah-buahan kita masih banyak”, ucap Tanaka yang sedang menyetir mobil mengantarkan Noah membeli buah ke supermarket.


“Pria tadi memintaku untuk membelikannya buah-buahan”, jawab Noah.


“Buah yang seperti apa?”


“Buah yang.. Eem.. Katanya untuk menambah darah gitu”


“Apa dia pria anemia?”


Tidak tau ayah”


“Ngeeeng.. Whuusss”, suara mobil melaju.


Sampai di supermarket, Noah dan ayahnya mulai masuk ke dalam. Mengambil troli dan berjalan berdampingan mencari tempat buah-buahan berada.


“Ayah, apa saja buah yang bisa untuk menambah darah?”


“Apa ya, mungkin seperti buah bit, mangga, alpukat, pepaya, leci, semangka, tomat, anggur merah, stroberi, kismis, apel, pisang dan persik. Itu yang ayah tau”


“Ba-banyak sekali?!”


“Ya udah, kita beli aja semuanya”


“Ayah memang sangat baik”, ucap Noah memeluk lengan ayahnya.


“Ada yang perlu kita beli lagi, Noah?”


“Waah.. Ayah memang ayah yang sangat dermawan”


“Jangan terus memuji ayah”


“Baiklah.. Ikuti aku ya Ayah..”


Noah memimpin jalan di depan untuk membeli apa saja yang mereka butuhkan. Tanaka dengan santai mengikuti kemana pun putrinya berjalan. Melihat putrinya gembira hanya itulah harapan satu-satunya dari Tanaka.


Dalam perjalanan pulang, Noah hendak menanyakan perkataan Delano kepada ayahnya tentang ayahnya yang akan pergi ke luar negeri.


“Ayah, apa Ayah akan ke luar negeri lagi?”


“Eh? Kok kamu sudah tahu duluan?"


“Tadi Kak Delano memberitahuku”


“Kok dia bisa tahu”, gumam ayah.


“Maaf ya Noah, Ayah belum sempat bilang. Iya, Ayah akan ke luar negeri tiga hari lagi. Apa kamu akan ikut?”


“Tentu saja”, jawab Noah yakin sambil mengayun-ayunkan kakinya.


“Kamu tidak ingin menjaga pria itu di rumah?”

__ADS_1


“Apa?, Ayah ingin aku menjaga pria itu? Hemm..”


“Bukankah kamu sangat mengharapkannya bangun? Tapi, ayah lihat kamu jadi kecewa saat melihatnya bangun”


“Itu..”, Noah bingung mencari alasan.


Noah mengarahkan pandangannya keluar jendela mobil. Dia melihat stand penjual masker. Seketika Noah meminta Tanaka untuk menghentikan mobilnya.


“Ayah, aku ingin beli masker”, pinta Noah.


“Baiklah. Kamu tunggu di mobil ya, biar ayah yang belikan”


Tanaka turun dari mobil dan menghampiri stand penjual masker. Di samping itu, di dalam mobil Noah yang sedang duduk menunggu mulai menyentuh bibirnya lagi sambil mengingat kembali kecupan yang Vampir itu berikan padanya.


“Kenangan ini tidak bisa hilang”, keluh Noah.


Noah berniat membeli masker untuk diberikan kepada Naru. Setelah sampai di rumah nanti, Noah akan meminta Naru untuk memakai masker. Tujuannya untuk menutup mulutnya supaya tidak sembarangan lagi menyentuh bibir Noah bahkan menggigit leher Noah lagi.


Sampai di rumah, Noah melihat Naru dari balik jendela rumah. Naru melihat tajam dan serius ke arahnya. Noah sedikit bergidik ngeri dan canggung.


“Haruskah aku mengatakannya kepada ayah, bahwa pria itu adalah..”


“Eemm..”, Noah masih ragu.


“Salaam.. selamat datang di rumah kembali”, sapa Naru kepada Noah. Sedangkan, Tanaka masih sibuk mengemasi barang belanjaannya di bak belakang mobil.


“Dasar Vampir aneh!”, gerutu Noah.


“Tolong bantu ayah. Banyak barang yang harus dibawa masuk ke dalam rumah”, pinta Noah kepada Naru.


Melihat mobil yang terparkir di depan rumah tanpa perlindungan sebuah atap dan tidak dimasukkan ke dalam garasi, Naru sedikit memundurkan dirinya hendak menolak perintah Noah. Sedangkan, matahari terlihat sangat terik di sana.


“Kamu kan putrinya. Harusnya kamu yang membantu ayahmu membawa barang-barang tersebut”, jawab Naru realistis.


“Kamu benar. Tapi, ayah tidak akan mengizinkanku untuk membantu. Jadi, kamu wahai pria yang baik hati. Tolong bantu ayahku ya”, pinta Noah lebih lembut.


“Baiklah”


Naru menuruti permintaan Noah, walaupun itu sangat berat baginya untuk melakukannya. Dia mulai berjalan mendekati Tanaka yang masih menata barang di belakang mobil.


“Biar ku bantu”, ucap Naru dingin.


“Kau anak muda yang sangat baik, terima kasih”, jawab Tanaka ramah.


“Kenapa dia jadi ramah?”, batin Naru.


Matahari terlihat menyengat, kulit Naru dan tubuhnya mulai sedikit terbakar. Tanaka tidak terlalu memperhatikannya, sedangkan Naru mulai mengeluh kepanasan.


Dua kali Naru harus membantu mengangkat barang-barang tersebut. Dia langsung menjatuhkan dirinya ke sofa untuk menetralkan kembali suhu tubuhnya. Lumayan cukup lama untuk memulihkan tubuh yang berasab dan terbakar.


“Ibunda..”, keluh Naru.

__ADS_1


Ayah sedang sibuk menata barang belanjaannya. Noah datang menghampiri Naru dengan membawakannya jus buah bit yang dicampur wortel dan potongan kecil buah apel ditambah sedikit madu. Melihat keadaan Naru, Noah langsung mengkhawatirkannya.


“Tu-tubuhmu kenapa?”, tanya Noah sambil meletakkan jus itu di atas meja.


“Kamu kan sudah tahu bahwa aku seorang Vampir. Matahari akan langsung membakar tubuhku dengan sangat mudah”


“Kenapa kamu tidak menolak saja perintahku tadi”


“Aku tidak ingin mengecewakanmu”


“Umm.. Maafkan aku”


Naru langsung luluh mendengar permintaan maaf Noah. 


“Sambil menunggu tubuhku pulih kembali, maukah kamu mendengar ceritaku?”, pinta Naru sedikit mengarahkan pandangannya kepada Noah.


“Aku adalah seorang Vampir yang berasal dari gurun pasir. Sangat aneh bukan? Itu karna ayahku Raja Vampir Eropa namun menikah dengan seorang Dewi Matahari dari gurun pasir”


“Dewi Matahari?”, gumam Noah.


“Ada apa?, Apa ceritaku terdengar aneh bagimu?”


“Umm.. tidak. Itu sangat menarik, sangat menarik. Kisah cinta yang mengubah sejarah kehidupan para vampir”, jawab Noah mulai antusias.


“Sang Dewi adalah Ibunda Ratu kami yang sangat melindungi kami, kami para vampir bisa beraktifitas langsung di bawah panasnya matahari tanpa takut tersengat dan terbakar. Dan, walaupun kerajaan kami berdiri di atas negeri tanah gersang. Kerajaan kami sangat sejahtera dan makmur. Kami memiliki kebun buah yang subur, mata air yang jernih dan pemandangan alam yang menakjubkan”


“Sang Dewi begitu baik hati. Aku ingin kesana”, ucap Noah


Naru tersenyum, dia pun melanjutkan ceritanya lagi.


“Atas kemurahan hatinya, Ibunda Ratu meminta kami para Vampir untuk tidak memburu hewan dan menghisap darah manusia. Beliau menggantikan sumber makanan kami dengan buah-buahan. Beliau mengutuk kami yang berani menghisap darah manusia akan menjadi vampir gila yang tidak terkendali dan harus segera dilenyapkan”


“Luar biasa”, ucap Noah.


“Namun sayang, Ibunda telah tiada. Tiadanya Ibunda Ratu menjadi bencana alam bagi kami para vampir. Kerajaan kami seketika runtuh dan para Vampir lenyap seketika karena tersengat matahari dan panasnya cuaca di padang pasir”


“Apa?”, Noah kaget sekaligus sedih.


Naru menyandarkan kepalanya di sofa dan menutup matanya dengan lengan kirinya. Segaris air mata mulai mengalir dari balik matanya yang tertutup.


“Minumlah, Naru”, Ucap Noah sambil menawarkan jus buatannya.


“Kamu, memanggil namaku?”


“U- uumm..”, jawab Noah memalingkan matanya dengan pipi sedikit memerah.


“Dia tersipu malu memanggil namaku. Begitu sangat manis”, batin Naru.


Di samping pipinya yang memerah, pikiran Noah sedikit berbicara. Dia menjadi penasaran dengan Dewi Matahari, Ibunda Naru.


“Apa mata emasku dari dia?”, batin Noah.

__ADS_1


__ADS_2