
“Menangislah, tidak apa-apa. Karena aku juga pernah menangis seperti dirimu walaupun aku sudah besar”, ucap Lidya.
“Seorang gadis tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri selain harus mengadu kepada keluarganya. Kesedihan tidak harus selalu ditahan di dalam dada, tapi luapkanlah. Setidaknya hanya dengan menangis, itu sudah cukup membuat kita lega”, lanjutnya panjang lebar sambil mengelus pundak Noah.
Noah terus menangis seperti anak kecil karena dia benar-benar merindukan ayahnya dan juga beberapa kejadian yang tidak mampu dia kendalikan.
Lidya sendiri pun senang bisa merasakan kembali sebuah pelukan hangat seperti keluarga. Menjadi mandiri itu memang perlu, tapi kasih sayang dan kehangatan keluarga harus selalu dijaga.
Lidya berharap, jika suatu saat nanti dia menikah dengan Ali, hubungan mereka akan semakin harmonis dan bisa menciptakan hubungan keluarga yang utuh dan bahagia.
Noah sudah merasa tenang, rasa rindu kepada ayahnya sedikit terobati karena pelukan hangat dari Lidya.
“Terima kasih..”, ucap Noah lirih.
“Jangan sungkan. Kenalin, aku Lidya. Putri dari seorang arkeolog tua”, ucap Lidya seraya melepas pelukannya.
“Arkeolog?”, tanya Noah.
“Iya. Ayahku seorang arkeolog dan aku juga seorang arkeolog. Begitulah”, balas Lidya sedikit terkekeh.
“Aku juga. Namaku Noah. Ayahku seorang arkeolog dan aku juga seorang arkeolog”, ucap Noah tapi lebih tersenyum ramah.
“Kita sama ya”
“Ahahaha iya..”
“Kalo begitu, apa kamu mau jalan-jalan sebentar bersamaku?”, ajak Lidya
“Tapi, Naru..”, ucap Noah ragu sambil melihat sedih ke arah Naru.
“Biarkan dia istirahat dulu. Mungkin, jika kamu membelikan sesuatu untuknya pasti dia akan senang dan bangun lebih cepat”, ucap Lidya
“Bisakah begitu?”
“Tentu saja”
"Baiklah”
“Eh, tunggu. Kamu bau Noah”, canda Lidya
“Ba-ba-ba-bau? Ma-maafkan aku..”, ucap Noah merasa sangat malu.
“Ahahaha.. kamu bisa mandi dulu kok. Aku akan meminjamkan beberapa baju untukmu. Akan aku ambilkan. Sebentar ya”
Noah beranjak dari tempatnya dan segera menuju kamar mandi untuk mandi. Lidya juga sudah menyiapkan pakaian ganti di meja dekat kamar mandi sehingga Noah bisa langsung berganti saat selesai mandi.
__ADS_1
Selesai mandi, sejenak dia melihat keadaan Naru. Tersenyum sejenak dan mencium tangan kanannya, “Aku akan membawakan sesuatu untukmu Naru, kamu pasti suka. Jadi, tunggu ya..”, ucap Noah kemudian berjalan keluar menemui Lidya yang sudah menunggu di luar.
Noah dan Lidya berjalan-jalan menikmati kebersamaannya berkeliling area pemukiman warga dan pasar. Meskipun suasananya cukup asing dan berbeda dari kondisi di negerinya, Noah cukup bisa menyesuaikan diri.
Dia tidak merasa kaget dan bingung karena dia sudah terbiasa pergi ke luar negeri bersama ayahnya. Jalan-jalan memang menjadi salah satu kesukaannya untuk menambah wawasan dan menemukan sesuatu yang unik saat melewatinya.
“Kak Lidya, apakah tadi kakak juga menangis?”
“Apa? Eh? Umm.. Ahahaha.. Kekanak-kanakan sekali”, sahut Lidya beralasan.
“Kenapa tadi kamu menangis kak?”
“Jangan dibahas, aku malu untuk menceritakannya”
“Eeehh.. Lalu, ayah kamu sekarang di mana?”
“Dia ada di sini kok, cuma sedang meneliti sesuatu yang menarik perhatiannya lagi”
“Menarik perhatian? Apa itu?”
“Ayahku melihat fatamorgana di gurun pasir sana”
“Fata-morgana?”
“Iya. Sebuah kerajaan besar tiba-tiba muncul dan bercahaya di sana. Sehingga Ayah dan Ali langsung tertarik dan hendak segera menelitinya. Padahal kan sia-sia saja itu fatamorgana. Meskipun kita kesana juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Kan, Noah?”
“Noah, lihat! Toko ini menjual apa aja yang dibutuhin seorang gadis seperti kita”, ucap Lidya.
“Eh? Apa itu?”
“Ayo kita masuk”
“Uwwaaa..”, seketika Noah terkesima melihat isi toko yang ternyata sangat luas dan megah. Seperti sebuah gedung dansa atau mall di negerinya.
Pemukiman warga di negeri gurun pasir tersebut sudah sangat modern. Rumah-rumah padat penduduk yang dilindungi dengan lima pilar dan dihubungkan oleh tembok benteng yang super tebal dan tinggi.
Sebelum mereka menikmati barang-barang yang menarik mata dan hati mereka, Lidya mengajak Noah menaiki menara toko di pusat bangunan. Lidya mulai memencet tombol lift dan segera masuk bersama rombongan yang ada.
Hanya memerlukan beberapa menit saja, mereka telah sampai di puncak menara toko. Menara yang sangat tinggi menjulang langit.
“Lihatlah, Noah. Dari sini kita bisa melihat keseluruhan dari negeri ini”
“Uwwaa.. bener kak. Apa di sana, tempat kalian meneliti tentang fatamorgana tersebut?”, tanya Noah
“Eh? Kamu bisa melihatnya dari sini?”
__ADS_1
“Yup. Terlihat sangat jelas”
“Iya walaupun kita bisa melihat segalanya dari sini, tapi tempat itu lumayan bahkan sangat jauh hlo Noah. Mobil jeep ayah saja tidak kelihatan.
“Aku bisa melihatnya kok Kak. Hihihi..”
Meskipun Noah merasa bangga bisa melihat dengan sangat jelas tapi dia tidak menyadari bahwa itu terjadi karena reaksi dari matanya. Matanya bisa melihat dengan sangat jelas walaupun dengan jarak yang sangat jauh.
“Ada seseorang yang berambut putih, apakah itu ayahmu kak?”
“Mana?”, Lidya jadi ikut penasaran.
Padahal tanpa alat bantu teropong pun Noah bisa melihatnya dengan sangat jelas. Lidya pun mengambil teropongnya yang selalu di cantolkan di sabuk celananya. Sangat jauh hingga dia harus terus mengatur zoom nya supaya bisa sedikit jelas, namun masih tidak berhasil.
“Ada apa dengan gadis itu?”, gumam Lidya.
“Kalo begitu, kita turun yuk”, ajak Lidya.
Lidya dan Noah melihat-lihat barang yang dipampang bebas di barisan toko-toko. Sangat unik dan berbeda, tidak ada warna indah melainkan dominan warna coklat, emas, merah, hijau dan putih. Pakaian pun tidak ada pakaian fashion yang biasa Noah pakai, hanya pakaian abaya dan jubah serta kain-kain yang membentang lebar.
Lentera-lentera unik dan makanan-makanan khas negeri gurun pasir. Sangat sulit bagi Noah untuk mencari barang yang menurutnya indah untuk dirinya dan Naru. Buah-buahnya pun hanya tersedia apel, jeruk, anggur dan kurma.
“Kak Lidya biasa beli apa disini?”
“Apa? Ahaha tidak.. aku jarang sekali berbelanja Noah, aku kesini hanya cuma melihat-lihat dan memanjakan mata saja”
“Ooohh..”
“Apa ada sesuatu yang menarik perhatianmu?”, tanya Lidya
“Apa ya? Aku juga belum menemukannya, hehe”, balas Noah
“Aku ingin membeli lentera lampu yang terbuat dari tembaga ini, tapi sepertinya Naru akan tidak suka. Karna dia tidak menyukai benda-benda logam. Apalagi kalo ada apinya”, batin Noah.
“Apa ya? Umm..”, Noah masih berfikir mencari sesuatu yang cocok untuk Naru. Tapi, ternyata dia sangat kesulitan.
“Kak Lidya, apa kakak punya seseorang yang paling berharga selain seorang ayah?”
“Um? Maksudnya?”
“Iya.. Umm.. Seseorang yang paling kamu sayang”, ucap Noah menundukkan kepala sambil bermain-main dengan jarinya karena malu.
“Ahahaha.. Kamu tahu aja Noah”
“Apa? Ada ya Kak? Si-siapa?”
__ADS_1
Rahasia donk..”, balas Lidya menyeringai.
“Eh?”