
Sudah tiga hari Noah bersama Chacha berdiam diri di dalam rumah. Naru juga telah kembali ke negerinya. Tidak ada seorang pun yang mengganggu ketenangan mereka. Mereka menikmati waktu bersama dengan bersantai dan bergembira.
"Aku merindukanmu, Naru", setiap hari Noah terus-terusan mengucapkan kerinduannya kepada Naru.
Saat Chacha melihat ke arah luar jendela kamar, dia melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar.
"Mama, ada yang datang"
"Siapa?", Noah pun ikut mengintip dari balik gorden jendela kamarnya tersebut.
Bukan Tanaka yang pulang, melainkan seorang pria tinggi datang berkunjung dengan sebuah mobil berwarna putih.
"Eh? Kak Delano?, Tumben dia ke sini bawa mobil. Mau apa dia? Ayah kan gak ada di rumah"
Terpaksa Noah harus berganti pakaian untuk menyambut kedatangan Delano. Chacha pun ikut berganti kostum. Delano mulai memencet bel dan Noah berjalan datang membukakan pintu gerbang.
Nyawa Haru sudah tidak ada di tubuh Delano. Sehingga dia sudah menjadi dirinya sebagai manusia sekaligus dirinya yang asli yang seorang penyihir penghisap jiwa. Dia berniat mengajak Noah untuk berangkat kuliah karena sudah tiga hari Noah tidak hadir di kampusnya.
"Selamat pagi, Noah", sapa Delano dan langsung duduk di kursi tamu teras.
"Pagi Kak Delano", balas Noah.
"Ayah kan tidak ada di rumah, ngapain Kak Delano ke sini?", sambungnya.
"Aku harus bisa membuat Noah keluar supaya vampir kecil itu juga ikut keluar", batin Delano
"Kak Delano.. Kakak gak usah repot-repot mengajakku kuliah karna aku pasti sudah dibolehi ayah untuk tidak kuliah, lagi pula aku juga tidak bisa berangkat kuliah sendiri"
"Yee.. Siapa bilang aku mau ngajak kamu kuliah"
"Lalu apa?"
"Noah, aku telah menemukan artefak baru. Aku yakin kamu pasti suka. Bisakah kamu ikut denganku untuk menyelidiki artefak tersebut?"
"Umm gimana ya.. Baiklah kalo begitu. Tapi, bolehkah aku membawa seseorang?"
"Siapa?"
"Chacha, kemarilah", panggil Noah
Chacha keluar dan langsung berlindung di belakang Noah. Dia ternyata sangat malu untuk bertemu dengan orang umum.
"Itu dia vampir kecilnya, aku harus menyembunyikan kekuatanku dulu", batin Delano.
Sampai di kampus, Delano membawa mereka berdua ke gedung departemen arkeologi. Melihat gedung itu lagi, Chacha langsung memundurkan dirinya.
"Mama, aku takut. Aku tidak mau ke sini"
__ADS_1
Segaris senyum licik pun terlukis tersembunyi di bibir Delano.
"Gakpapa Chacha, Mama akan melindungimu"
Chacha patuh. Delano telah berhasil mengajak mereka berdua masuk ke dalam gedung. Delano menunjukkan kepada Noah tentang artefak tersebut. Ternyata dia tidak berbohong, namun dia tetap memiliki rencana tersembunyi.
Artefak tersebut berupa peta harta karun dari gurun pasir. Terbuat dari perunggu berbentuk lingkaran. Yang pasti, peta itu memberikan petunjuk misterius pada sesuatu yang rahasia. Noah langsung fokus dan rasa penasarannya muncul.
"Apa peta ini juga memiliki nyawa kak?", tanya Noah sambil meraba peta berukuran 20cm.
Delano meresponnya hanya dengan memain-mainkan bahunya saja.
"Luar biasa ini kak, gimana kakak bisa menemukan artefak unik ini?"
"Mama, aku takut"
Rasa keingintahuan Noah benar-benar menyibukkannya. Dia begitu antusias meneliti artefak penemuan dari Delano. Namun di samping itu, Chacha terus saja mengeluh ketakutan.
Delano berniat mengajak Noah berdiskusi dan saling mencatatkan beberapa hasil temuan dari penelitian mereka berdua. Dia melakukan hal itu untuk mengalihkan perhatiannya dari Chacha.
Chacha semakin lemah. Raut wajahnya pun pucat pasi. sesekali dia menunduk memainkan jari-jemarinya. Terlihat dengan sangat jelas raut wajah ketakutan di wajahnya. Hanya merasakannya saja sudah seperti itu, apalagi mendengar panggilannya.
"Vampir kecil.. tolong kami.."
"Tenangkan kami.."
"Kami butuh nyanyianmu.."
Suara yang terdengar menakutkan dan menyedihkan, membuat Chacha duduk tidak tenang, sebentar-sebentar melenggok ke kiri, sebentar-sebentar melenggok ke kanan. Aura dari ruang bawah tanah terus memanggilnya.
"Mama.."
"Sebentar Chacha..", jawab Noah singkat tanpa memperhatikan keadaan Chacha.
Delano semakin tersenyum licik.
Merasa diacuhnya sama Noah dan sudah tidak bisa menahan ketakutannya sendiri, Chacha pun turun dari kursi dan pergi meninggalkan tempat. Dia berjalan perlahan keluar gedung dan berlari ke luar area kampus.
Chacha yang kecil berlarinya masih tertatih-tatih, sering kali dia terjatuh dan menabrak orang di depannya. Beruntung tidak ada yang menangkapnya untuk mencoba menolongnya, karna itu akan membuat Chacha malah semakin ketakutan melihat banyak orang yang ia lalui.
Dia pun berlari ke kebun dan taman belakang wilayah kampus. Di sana dia menyembunyikan diri di balik pohon yang besar. Menarik nafas dan mencoba menenangkan diri.
Noah masih sibuk dengan kesibukannya, dia benar-benar lalai menjaga Chacha. Sikapnya sama persis dengan ayahnya, ketika dia sibuk dia melupakan segalanya. Noah yang tidak tahu keburukan sikapnya itu, membuatnya menjadi orang yang tidak memiliki rasa peduli.
Dua jam berlalu, Chacha yang sudah tertidur di bawah pohon merasa kepanasan. Dia ingin kembali ke sisi Noah tapi Chacha tidak tahu jalan kembali. Chacha kebingungan. Dia hanya terus berlari dan berlari.
"Mama.."
__ADS_1
Hampir selesai dengan penelitiannya, Delano meminta izin kepada Noah dengan alasan ingin ke kamar kecil. Akhirnya Noah bisa bernafas lega telah menyelesaikan penelitiannya. Dia menghela nafas dan terpejam sejenak.
"Astaga!"
Noah langsung terperanjat bangun karena teringat dengan Chacha. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, mulai memanggil-manggil nama Chacha. Chacha tidak ada bersamanya.
"Chacha? Chacha, kamu dimana?"
"Aku.. Aku telah mengabaikannya..", keluh Noah dengan perasaan bersalah.
"Chacha.. Chacha.."
Noah mulai keluar gedung, memakai sepatunya kembali dan berjalan cepat mencari-cari keberadaan Chacha.
Di samping itu, dengan sekejap mata Delano telah menemukan Chacha, si Vampir kecil. Dia mendekatinya dengan keramahannya.
Chacha sedikit takut, tapi dia tidak lari melainkan berdiam diri untuk memberikan reaksi penolakan.
"Chacha, kenapa kamu bisa disini?", tanya Delano pura-pura.
"Jangan, mendekat!", perintah Chacha dengan suara ketakutan.
"Gadis manis, aku akan mengantarkanmu kepada Mamamu kok"
"Bohong"
"Kenapa? Apa kamu tahu siapa aku yang sebenarnya?"
"Umm.."
"Papa.. tolong Chacha" lirih vampir kecil itu.
"Ayolah, ikut aku..", Delano pun menangkap tangan Chacha tapi tidak dengan paksaan. Chacha terus menolak ajakan Delano.
"Jangan, gak mau.."
Delano menghirup nafas sejenak untuk merasakan aura kekuatan Chacha. Dia benar-benar tergiur dengan kekuatan yang dimiliki Chacha.
"Papaaa!!"
Noah yang masih mencari keberadaan Chacha jadi tersentak ikut terpanggil. Perasaannya semakin khawatir.
"Set. Set. Set. Set", sebuah lompatan kilat datang mengarah ke beradaan Chacha dan Delano.
Chacha semakin menarik dirinya mundur untuk memberikan penolakan terhadap Delano. Saat tubuhnya menyentuh sinar matahari, Chacha mulai merasa tersengat.
"Hup! Klebet!!", Seorang pria vampir datang menolong dengan menutupkan jubahnya ke tubuh Chacha.
__ADS_1
"Papa?", seketika Chacha pun pingsan.
Seorang pria vampir datang dengan jubah yang lebar dan terjuntai di tanah. Berdiri tegap dengan celana khas hitam dan sepatu pantofelnya. Kerah lebar menutup leher dan sebagian rambutnya. Pita merah yang mengaluh di leher berbalut kemeja putih bergoyang-goyang tersapu angin. Senyum segaris nan lebar ke samping pun terlukis. Naru datang menolong.