
"Cahaya ini berasal dari antingnya", ucap Saga.
"Anting? Benda apa itu?", tanya Sean.
"Benda logam yang menggantung di kedua telinganya", balas Saga.
Bagi Sean, benda-benda yang terbuat dari logam memang menjadi pantangan untuk kaum Vampir. Itu sebabnya, mendengar benda bernama anting sangat asing baginya.
"Oo.. seperti cincin? Sebagai wanita gue cukup iri tidak bisa memakai perhiasan-perhiasan yang dimiliki manusia", balas Sean cemberut.
"Haha, kalian para vampir memang sangat primitif", ejek Saga.
Haru tidak berpengaruh dengan kehadiran benda-benda logam seperti itu, dia melepas anting milik Noah dan melihatnya sejenak. Mempertanyakan benda tersebut kepada Saga.
"Benda ini terlihat ajaib, darimana dia dapat?"
"Entahlah. Namun, yang saya tahu pasir biru itu sangat langka. Mungkin, karena mereka (Noah dan ayahnya) seorang arkeolog, mereka begitu mudah menemukan benda-benda unik bersejarah yang memiliki kekuatan tersembunyi", jelas Saga.
"Kalo begitu, simpanlah", pinta Haru dengan melempar anting tersebut kepada Saga.
Tubuh Noah jatuh di tangan Haru. Haru berjalan dan membawa Noah ke ruangannya. Saga sebagai manusia merasa sangat Iba melihat keadaan Noah, tapi dia akan tetap setia kepada Haru.
Delano berada di pucuk atap kastil. Jubah penyihirnya mengibas-ibas terkena tiupan angin, dan juga sayap putihnya masih kokoh membentang dengan sangat simetris.
"Apa gue mengikuti kehendak si penyihir mata emas itu ya? Dia sepertinya punya rencana yang sangat menarik, memisahkan jiwa Noah dari tubuhnya"
"Whugg whugg", suara sayap yang mulai bergerak terbang.
"Whugg whugh"
Angin hasil kibasan sayap Delano begitu kuat. Benda-benda di atap kastil mulai bergerak dan meluncur ke bawah. Dedaunan beterbangan dan Delano mulai bergerak terbang.
"Angel, kau sungguh luar biasa", Delano memuji arwah putih yang berada di dalam tubuhnya. Setelah itu, dia terbang menuju tempat Naru berada.
"Huey, apa yang akan kita lakukan dengan pria ini?", tanya Raziel kesal.
"Kita harus segera menolongnya"
"Menolongnya? Untuk apa?"
"Dia harus segera mengubah takdir dan menjemput takdirnya", jawab Huey tenang. Ketenangannya sebelas dua belas dengan Haru.
Louie melenguh kelaparan. Suara perutnya menggema dan wajah tirusnya terlihat sangat menyedihkan. Keadaannya menganggu keseriusan Huey dan Raziel.
"Huey! Kenapa kau melepas gadis itu dan malah menolong pria ini? Hah?! Kita sudah tidak makan berhari-hari, tidakkah kamu merasa kelaparan?"
__ADS_1
"Huff.. Elo tuh memang sudah jadi vampir gila, Louei! Mati saja sekalian daripada kau terus mengeluhkan kelaparanmu"
"Raziel, kau kan pandai berburu. Gunakan taring dan cakarmu untuk mendapatkan sebuah mangsa lezat untukku"
"Benar juga, taring dan cakar ini kalo tidak sering aku asah akan semakin tumpul saja. Baiklah, ayo Louei! Kau juga ikut!"
Raziel dan Louie pergi berburu. Sedangkan, Huey sedang mencoba memberikan pertolongan kepada Naru. Bekas tusukan benda perak milik Delano melepuhkan kulit dadanya.
Huey membuatkan ramuan obat herbal dengan menggunakan tanaman-tanaman obat, menumbuknya dan mulai menempelkan pada luka-luka yang membekas di tubuh vampir Naru.
Naru merasakan rasa perih yang mendesir karena reaksi obat tersebut. Dia mencoba menahannya, tapi tubuhnya mulai bergerak tak menentu. Tangannya mencengkeram hebat kasur yang ia tiduri.
"Pe-perih sekali!!" Keluhnya dengan langsung terperanjat bangun.
"Tenangkan dirimu, supaya obatnya bisa bereaksi dengan baik"
"Siapa kau?!", tanya Naru kaget
"Perkenalkan, Tuan. Saya Huey. Huey Anthony, vampir origin yang sudah lama tinggal di sini. Saya hanya ingin menolong Anda"
"Kau yang mencoba mencelakai Noah bersama dua vampir itu kan?"
"Maafkan kami, kami tidak mengetahuinya bahwa gadis tersebut adalah milik Tuan"
"Tuan?"
"Lalu, di mana Noah?"
"Dia, dibawa oleh kembaran Anda"
"Apa?!", seketika Naru kembali merasakan kesakitan di beberapa tubuhnya. Dia tidak kuat menerima reaksi ramuan herbal pemberian Huey. Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya melemah.
"Ramuan apa ini?! Rasanya benar-benar menyiksa", Naru pun terpejam dan ambruk kembali di kasur.
Huey berjalan keluar dan mendapati Raziel telah berhasil menangkap seekor mangsa. Seekor rusa yang sangat gemuk dan terlihat sangat lezat.
"Huey!! Siapkan kayu bakar dan api!", perintah Raziel.
"Kenapa pakai dibakar segala. Bagiku, dimakan langsung itu sudah sangat lezat", sanggah Louei yang mulai menarik kaki rusa tersebut.
"Bodoh! Gak tau malu! Benar-benar gila! Dimana sikap estetismu itu Louie. Jika kau seperti itu terus, kau akan berubah menjadi zombie"
"Huey!!"
"Iya-iya", balas Huey patuh tanpa perdebatan apapun. Gadis vampir semampai tersebut memang sangat cerewet dan kasar. Diam lebih baik bagi Huey dari pada terus berdebat tanpa henti seperti yang dilakukan Louei kepadanya.
__ADS_1
"Ahahaha.."
Delano menertawai tingkah Raziel, Louei dan Huey. Dia berani datang dengan keadaan sayap yang sudah mengatup.
"Apa aku boleh ikut pesta bersama kalian?", tanya Delano menyeringai.
"Kau telah melupakan pertarungan kita ya sehingga kau datang tiba-tiba dan meminta jatah?! Heh?!", Raziel langsung mengomel.
"Tenanglah.. Aku hanya bercanda kok"
"Si-sial! Kau membuatku malu dengan ucapanku sendiri. Hmph!", balas Raziel acuh.
"Bagaimana keadaan pria vampir itu?", tanya Delano lebih mendekatkan diri.
"Pergilah kau penyihir jelek!!", tiba-tiba Louei datang dengan sebuah tongkat kayu mengarah kepada Delano.
Namun meleset. Pandangan kaburnya membuatnya terkecoh sendiri karena rasa kelaparan yang semakin menyiksa perutnya. Louie tersungkur dan kembali membuat Delano tertawa puas.
"Aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan. Tolong supaya bisa kalian sampaikan kepada pria vampir yang bernama Naru itu", ucap Delano.
Huey muncul dengan membawa setumpuk kayu bakar. Delano yang melihatnya mulai memberikan sedikit penghormatan kepada ketua geng vampir tersebut.
Huey mengabaikannya dan mulai menata kayu-kayu bakar untuk segera ia siapkan sebagai bahan bakar memanggang daging rusa.
"Aku dengar, kau telah menolong vampir itu", sahut Delano.
"Apa yang ingin kau sampaikan kepada kami?"
"Jika dia tidak ingin kehilangan kekasihnya, dia harus bisa segera bangun dari tidurnya. Kembarannya akan membawanya ke padang pasir esok hari", tandasnya.
"Kau ini, sedang berpihak kepada siapa?"
"Anggap saja, aku seperti burung merpati. Yang suka menyampaikan kabar kemana-mana"
Delano mulai melebarkan sayapnya lagi dan mengayunkannya supaya tubuhnya bisa terangkat. Debu tanah dan daun-daun ranting kering mengganggu pandangan Huey dkk.
"Penyihir jelek! Jangan gunakan sayapmu di tempat yang tidak sesuai! Dasar sombong!!", olok Raziel.
"Sampai jumpa", Delano mulai terbang meninggalkan mereka semua.
"Jika kita ketemu lagi, gue akan potong itu sayap!!", teriak Raziel.
"Sadis bener", gumam Delano yang sudah terbang tinggi di angkasa.
Dia memutarkan tubuhnya dan melesat jauh ke angkasa. Sayapnya berputar indah kemudian terbentang lebar nan kokoh. Delano merasa bangga telah memilikinya.
__ADS_1
"Arwah putih? Siapa dia?", tanya Author.