Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Petir Menyambar


__ADS_3

“Aku sudah mengenal Noah sejak lama. Bahkan, sebelum aku mengenal dirinya, aku sudah terlebih dulu akrab dengan ayahnya, Tuan Tanaka. Diriku di tubuh Delano telah memberiku banyak kenangan bersama Noah”


“Sekarang, aku telah kembali di tubuhku yang asli. Tapi, perasaan ini terasa berbeda. Aku menjadi sedikit canggung untuk berhadapan langsung dengan Noah”


Hujan turun di malam hari. Noah dan Chacha masih terlelap tidur. Gemuruh petir akhirnya membangunkan Noah. Melihat sejenak ke arah Chacha yang belum bangun, Noah kembali bersedih dan menyalahkan diri sendiri.


Dia turun dari kasur dan menuju ke meja riasnya, “Kamu terlihat sangat buruk Noah, rasanya.. kesalahanku kepada Chacha seperti tidak termaafkan. Huff”, keluhnya di depan cermin.


Sambil merapikan rambutnya, Noah terus saja berbicara sendiri, “Bekas gigitan Naru sudah hilang. Dia benar, gigitannya hanya seperti semut, tapi rasanya sangat sakit. Aku merindukannya”


“Padahal, tadi aku senang sekali melihat dia telah kembali. Tapi, rindu ini masih seperti tak tersampaikan. Mmooo..!!”, kesal Noah beralih mengacak-acak rambutnya.


“Tok tok tok”


“Iya, sebentar..”


Noah membuka pintu kamarnya dan Naru datang membawakan semangku sup dan teh hangat. Noah heran dengan sikap Naru tersebut.


“Makanan? Untukku?”


“Iya. Bolehkah aku masuk?”


“Si-silahkan..”


Naru menaruh makanan yang dia bawa di atas meja belajar Noah seraya berkata, “Hujan sangat lebat di luar, semoga Sup dan teh hangat ini bisa menghangatkanmu, Noah”.


“I-iya, terima kasih”


“Apa Chacha masih tertidur?”


“Iya. Tapi, aku khawatir Chacha akan kecewa kepadaku atas sikapku tadi”


“Uumm.. gitu yah. Tapi, aku malah yakin saat Chacha bangun dia akan melompat dan langsung memelukmu”, balas Naru sambil mendekat kepada Chacha.


“Kuharap seperti itu”, Noah tersenyum.


Naru membelai sebentar rambut Chacha, “Tidak kusangka, dia bisa menemukan vampir kecil itu di ruang bawah tanah gedung arkeologi”, gumamnya.


Melihat Naru yang sekarang, Noah merasa curiga. Gaya bicaranya yang kurang ekspresif dan beberapa sikapnya yang berbeda membuat Noah ingin mengetahuinya lebih lanjut.


“Naru..”, ucap Noah pelan.


“Iya?”


“Sebenarnya.. Kamu siapa?, Apa kamu benar-benar Naru?”

__ADS_1


Naru langsung berhenti membelai Chacha, dia tersenyum tanpa berbalik ke arah Noah, “Memangnya, menurutmu aku siapa?”


“Umm.. Kamu.. terlihat berbeda”, balas Noah memalingkan matanya.


“Kalaupun aku terlihat berbeda, apakah aku terlihat orang jahat bagimu?”


“Eh?, tidak. Bukan. Aku merasa kamu bukanlah Naru, tapi kamu bukan orang jahat. Kamu adalah orang yang baik dan sangat lemah lembut”


“Dia menganggapku seperti itu”, batin Naru.


“Tolong, jangan menyembunyikan dirimu padaku. Katakan, siapa kamu yang sebenarnya?”


Naru tersenyum lagi, tahi lalat di bawah matanya perlahan terlihat. Mata yang ia buat tajam seperti mata Naru berubah menjadi mata sayu nan ramah. Dia pun menoleh ke arah Noah.


“Be-benar, ternyata dia bukan Naru”, batin Noah mencoba tetap tenang.


“Salam kenal, Noah”, dia tersenyum ramah.


Ka-kamu?, Haru? Ha-Haru?”


Saat Noah mencoba tenang, matanya langsung terbelalak senang melihat Haru berada di hadapannya. Meskipun awalnya dia curiga dan merasa takut.


“Haru.. syukurlah kamu telah kembali. Betapa senangnya Naru bila bisa bertemu denganmu saat ini”, ungkap Noah.


“Iya”, balas Haru tersenyum ramah sambil menyembunyikan sikap kesalnya saat Noah menyebut nama Naru di hadapannya.


“Apa? Gakpapa Haru.. Lagipula, kenapa juga kamu harus menyamar menjadi dia. Kamu kan juga vampir yang tampan, hehe..”


“Aku, hanya kurang percaya diri untuk bertemu gadis sempurna seperti dirimu, Noah”, jawab Haru beralasan.


“Papa?”, akhirnya Chacha bangun dengan masih setengah mengantuk.


“Chacha..”, sapa Noah langsung menghampiri Chacha. Chacha pun langsung memeluknya. Sangat erat dan sambil menangis.


“Maafin Mama ya Chacha atas sikap Mama tadi. Mama gak akan gitu lagi. Chacha mau maafin Mama?”


“Umm..” Chacha langsung mengangguk.


Haru mencoba menyentuh Noah. Dan benar, sesuai prediksinya kilatan petir muncul dan sedikit menyetrum tangannya. Dia menyadari bahwa Naru telah memberikan perlindungan kepada Noah selama dia pergi.


“Dia tahu bahwa aku akan datang kepada Noah”, batin Haru.


Haru berjalan ke arah jendela kamar dan melihat keluar, ternyata hujan masih turun dengan sangat derasnya, “Cek! Kenapa dia harus menjadi vampir sekuat itu? Itu tidak adil bagiku”, kesal Haru sambil melihat petir yang jauh disana saling menyambar satu sama lain.


“Dia selalu bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Sedangkan aku. Aku seperti vampir yang tidak berguna. Padahal kita kembar, tapi kenapa kita tidak sama”

__ADS_1


“Haru..”, panggil Noah.


Haru menoleh.


“Apa kamu baik-baik saja?”


“Tentu saja”, balas Haru tersenyum ramah namun dengan hati yang berat.


“Perasaan itu.. aku ingin sekali menanyakannya kepadanya.. Tapi..”, batin Noah.


“Kalo begitu, aku turun dulu ya Noah”, pungkas Haru seraya keluar kamar Noah.


“Iya, terima kasih Haru atas makanannya”


Noah merasa sedih melihat diri Haru. Meskipun Haru seorang vampir tampan yang baik hati tapi dia merasa bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja. Seperti Naru yang waktu dulu. Dia mendapati Naru adalah vampir tampan, ekspresif dan baik hati tapi Naru juga memiliki hati yang sedang tidak baik-baik saja.


“Sebenarnya, ada apa dengan vampir kembar itu?”, gerutu Noah.


“Mama?”


“Eh, iya Chacha?”


“Kenapa Mama belum ganti baju”


“Apa? Itu..”


Karena Noah tahu bahwa pria itu bukanlah Naru, maka dia tidak berniat untuk berganti baju dan memakai dress baju tidur lengan panjangnya. 


“Gakpapa Chacha. Tapi, Chacha harus ganti baju, udah bau tuh badannya”, canda Noah.


“Mama, terima kasih”, ucap Chacha.


“Umm..”, Noah menggeleng.


“Mama yang harus terima kasih kepada Chacha, karna Chacha sudah maafin Mama dan menerima Mama dengan baik”, lanjutnya.


Saat petir masih saja terus menyambar, hal itu akan dimanfaatkan Delano untuk menambah kekuatan sihirnya. Dia berada di luar rumah dan melakukan semedi di atas tanah dengan hujan terus mengguyur tubuhnya. Beberapa mantra ia ucapkan untuk memanggil roh-roh yang tidak tenang di dalam tanah.


Gemuruh petir membuat para roh lemah di dalam tanah menjadi kalang kabut dan kebingungan. Delano akan menghisap nyawa-nyawa sampah tersebut untuk menambah usia keabadiannya. 


Seperti Haru yang memiliki jasad abadi, Delano lebih memiliki nyawa yang abadi. Dia memiliki banyak nyawa sampah untuk menghidupkannya kembali saat dia mati. Delano tidak memiliki tujuan pasti seperti ayahnya yang seorang penyihir pembasmi vampir. Tapi, Delano lebih ingin menikmati hidupnya agar bisa hidup abadi selamanya.


“Haah.. menyegarkan sekali”


Hujan yang mengguyur tubuhnya semakin membuatnya senang. Saat dia menatap langit, tiba-tiba sesosok putih datang menghampirinya. Terbang tanpa sayap, namun pakaian lebarnya menari-nari bersama angin bagai pengganti sayap di punggungnya.

__ADS_1


Delano pun terpana dan menerima kaki tersebut menapak di kedua telapak tangannya. “Dingin” menyentuh dan “pucat” terlihat. 


“Hantu yang cantik”, sahutnya.


__ADS_2