
“Aku, di mana?”
Noah telah bangun dari tidurnya. Dia bangun dalam keadaan yang tidak tahu apa-apa. Bola matanya terlihat kabur dan cara dia melihat begitu sayu dan kosong. Tidak ada tenaga karena jiwanya telah terpisah.
“Noah? Kau tidak apa-apa?”, tanya Saga yang sepanjang waktu setia menjaga.
Noah hanya bisa menggeleng. Rasanya, memori di otaknya telah kosong dan jiwa di tubuhnya menghilang. Padahal, kenyataannya memang seperti itu.
“Syukurlah kalau Anda sudah bangun, Tuan Haru sudah menunggu Anda di ruang makan”, sahut Sean.
“Tuan Haru? Siapa?”
“Dia, suami Anda”, balas Sean singkat.
“Suami?”
Saga yang mendengar itu begitu teriris hatinya. Dia menggigit bibir bawahnya karena tidak tega melihat kondisi Noah yang kosong dan tidak berdaya.
“Mari saya bantu Anda menyiapkan diri”, kata Sean mulai mendekati Noah.
Saga pun keluar ruangan dan membiarkan Sean bersama Noah. Hatinya begitu berat karena harus membiarkan ini semua terjadi. Ingin sekali dia melindungi Noah, tapi dirinya memang tidak berdaya hanya sebagai manusia.
Tidak ada ekspresi apapun yang bisa Noah tunjukkan. Nada bicaranya pun tidak ada intonasinya. Noah hanya bisa patuh menerima pelayanan dari Sean.
Sean mendandani Noah dengan sangat cantik. Wajah Noah dirias dengan makeup. Rambutnya disulap menjadi curly dan beberapa bagian dikepang dan diberi hiasan rambut.
Sementara itu, tempat di mana Naru dan pengikutnya berada. Pencarian Naru masih belum membuahkan hasil. Padang bunga mawar yang mereka cari memang sulit sekali ditemukan.
“Bagaimana aku harus mencari? Sedangkan tidak ada petunjuk sedikitpun yang terlihat”, keluh Naru semakin kehabisan tenaga.
Raziel yang terus mencari dengan melompat pohon ke pohon lainnya pun masih tidak bisa menemukannya.
“Kita sudah berada di perbatasan dunia vampir dan wilayah manusia. Jika memang padang bunga itu berada di wilayah manusia, haruskah kita kesana?”, tanya Huey.
“Tidak semudah itu kita bisa masuk ke wilayah manusia, Huey”, balas Raziel.
“Kalaupun diperbolehkan, sudah dari dulu gue akan menjamah wilayah manusia. Karena disanalah sumber dari banyaknya kenikmatan”, sahut Louie.
“Kau mau dibakar hidup-hidup apa kalau ketahuan manusia bahwa kau seorang vampir”, Raziel terkekeh sinis.
“Cih! Rasanya kesal sekali. Sampai kapan kita akan menderita seperti ini!!”, Louie mulai emosi dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Saat ketiga vampir itu sedang menganalisa keadaan, Naru yang sedang kelelahan mulai mendapatkan sebuah telepati. Dia memeluk dirinya sendiri seperti seorang yang sedang menggigil kedinginan.
Separuh nyawa yang dia berikan kepada Noah, menghantarkan sebuah perasaan yang tidak mengenakkan. Dia merasakan kekuatan nyawa Noah semakin melemah.
“Apa yang sedang terjadi?”, batinnya.
“Naru, apa yang sedang kau rasakan?”, tanya Huey.
“Aku tidak mengerti. Aku merasa, nyawa Noah sedang terancam. Sedangkan, aku tidak tau keberadaannya sekarang di mana?”
“A iya, aku baru ingat. Penyihir jelek itu telah memberi tahu kita tentang dimana gadis itu dibawa”, Ucap Raziel membantu memberi petunjuk.
“Ke mana Noah dibawa?”, tanya Naru.
“Penyihir jelek itu mengatakan, bahwa gadis itu dibawa ke padang pasir”
“Apa?, tidak mungkin”
“Kita harus segera menemukan ladang bunga itu supaya Naru bisa segera menjemput gadisnya kembali”, sahut Huey.
“Tapi, bagaimana, hah?!”, Louie mulai menggerutu dibarengi rasa lapar yang mulai menyiksanya kembali.
“Noah, beritahu aku, dimana sebenarnya ladang bunga itu”, gumam Naru sesak.
Waktu terus berjalan. Di samping itu, Haru bersama Saga sedang melakukan perjalanan siang di pemukiman warga padang pasir. Sebelum mereka memasuki wilayah pemukiman, perjalanan mereka melewati camp para arkeolog, 10 arkeolog.
Pertemuan mereka dengan Haru terlihat tidak asing bagi kesepuluh arkeolog. Namun, Haru sendirilah yang merasa tidak mengenal mereka semua. Bagi mereka, Haru adalah Naru yang telah mereka kenal bersama Noah saat awal berjumpa di padang pasir.
Meskipun Haru mendapatkan sapaan dari mereka, Haru membalasnya dengan keramahan dan keterbukaan. Namun, sifatnya yang baik malah membuat mereka curiga dan saling mempertanyakannya.
Terlebih Ali yang sangat peka dan tanggap situasi, “Siapa kau sebenarnya?”, tanya Ali serius.
“Bukankah kalian telah mengenal saya? Jadi, tidak perlu kan saya memperkenalkan diri”, balas Haru santai.
“Mereka tidak menyadari bahwa kau sebenarnya berbeda dari dia. Tapi, aku sendiri bisa langsung menyadarinya melalui sikapmu dan raut wajahmu itu”
“Ahaha.. cerdik sekali Anda”
“Ali, sebenarnya ada apa ini?”, tanya Lidya masih bingung.
“Kalau Anda sudah tau siapa saya yang sebenarnya, saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Silahkan Anda jelaskan sendiri siapa saya. Lagi pula, kedatangan saya kesini untuk mengundang kalian bisa hadir di pesta pernikahan saya”
__ADS_1
“Naru!! A-akhirnya, kalian menikah juga”, sahut Lidya histeris
Ali hanya bisa menepuk jidatnya karena ucapan spontan dari Lidya. Sehingga, Haru pun merasa senang dan bangga mendengar pernyataan tersebut. Meskipun, dirinya harus dianggap sebagai Naru.
“Baiklah, kami akan datang”, balas Ali singkat.
“Terima kasih”, Haru pun beranjak dan kembali melanjutkan perjalanannya bersama Saga.
Keramahan wajah Haru memberikan bayangan kebencian di dalam hatinya. Dia tidak menyangka masih mendengar nama Naru dari orang lain. Naru telah memberikan kesan yang baik bagi orang-orang yang telah dia temui.
“Kau memang harus hidup sebagai Naru, Haru. Hahaha”, balas Saga berani.
“Haa ah, benar-benar menyebalkan. Saudara kembarku itu memang harus disingkirkan”, Cara Haru berucap pun semakin terdengar menakutkan. Vampir yang tidak memiliki emosi tapi menyimpan beribu topeng di wajahnya. Wajah joker dan Jiwa psikopatnya semakin tersirat di wajahnya yang selalu tenang.
“Ali, apa yang mengganggu pikiranmu?”, tanya Lidya cemas.
“Lidya, kamu tau? Dia sebenarnya bukan Naru seperti yang kamu kira”
“Eh? Benarkah? Aku tidak menyadarinya”
“Kemungkinan, dia adalah saudara kembarnya. Tapi, kedua saudara kembar itu memiliki sikap yang saling bertolak belakang”
“Me-mereka kembar?”
“Iya”
“Ka-kalau mereka kembar, bagaimana nasib Noah? Gadis itu, akan tidak bisa mengenali sosok suaminya yang sebenarnya”
“Itulah yang membuatku bingung. Kenapa Noah bisa menikah dengan kembarannya Naru? Apa ada rencana dibalik itu semua?”
“Hmm..”, Lidya pun ikut berfikir.
“Pernikahan yang mencurigakan”, tiba-tiba William datang menyela.
“Ayah! Mengagetkanku saja!”, balas Lidya
“Meski begitu, kita tetap harus berpihak kepada Naru dan Noah. Sebenarnya apa yang sedang dan akan terjadi?, kita harus mengetahuinya saat mengunjungi pesta tersebut”, lanjut William.
“Ayah benar. Besok, kita harus datang di pesta pernikahan Noah dengan suami palsunya”, balas Lidya menyipitkan mata.
“Kau sendiri, kapan akan menyusul mereka Lidya?”, canda Ayah.
__ADS_1
“I-itu.. tanyakan sendiri pada Ali”, seketika pipi Lidya memerah dan langsung beranjak pergi meninggalkan ayahnya dan calon suaminya tersebut.