Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Masa Kecil


__ADS_3

“Ayah, sebenarnya kita ada di mana? Tempat ini membuatku tidak nyaman”


“Sebentar Noah, saat kita masuk ke dalam wilayah kerajaan kamu pasti akan merasa senang”


“Baiklah, ayah”


Pukul empat dini hari, Noah bermimpi. Dia memimpikan masa kecilnya bersama ayahnya berkunjung ke negeri gurun pasir untuk melakukan penelitian arkeologi. Tempat yang sangat asing bagi Noah, karena dia tidak mengetahui bahwa semua rakyat di sana adalah vampir. 


Suasana membuat perasaannya sedikit tidak tenang. Saat mereka berdua terus berjalan, seorang pedagang vampir yang ramah memberikan buah apel kepada Noah, Noah pun bisa memperlihatkan senyumannya.


Di dalam kerajaan, Tanaka bersama putrinya menghadap langsung kepada Sang Raja dan Ratu. Di mimpi, Sang Raja dan Ratu tidak terlihat jelas bagi Noah. Noah hanya bisa berdiam diri dan melihat-lihat ke sekeliling.


Tanaka melakukan obrolan bersama mereka yang membuat Noah tidak bisa mendengar dan mengerti.


“Noah, apa kamu anak yang pemberani?”, tanya ayah.


“Eh?”


“Jika kamu anak pemberani, kamu boleh bermain di sini. Tapi, jangan keluar dari wilayah kerajaan ya?”, ucap Tanaka kepada putrinya yang berusia 5 tahun itu.


“Baiklah ayah..”


Noah pergi dan berjalan-jalan melihat wilayah kerajaan. Noah menggerutu melihat bangunan kerajaan yang hanya berwarna tanah saja. Dia kesal, dia yang suka sekali dengan keindahan harus bertemu dengan sesuatu yang kusam dan tidak menarik sama sekali.


Dari serambi atas, Noah melihat sebuah kebun yang luas berwarna hijau dan buah-buahan yang berwarna-warni. Noah kecil langsung berlari untuk mencari jalan menuju kebun tersebut. Keingintahuan dan perasaan tidak sabarnya membuatnya tersandung.


Noah tetap bersemangat, akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia melihat kebun dari dekat semakin indah baginya. Bunga-bunga dan kupu-kupu terbang mengerumuninya. Noah merasa sangat senang dan menari-nari sendiri di sana.


“aduh”


Tiba-tiba seorang pemuda vampir melempar batu ke arahnya dan mengenai dahinya. Anak vampir yang lebih tinggi dan lebih tua darinya.


“Kau siapa? Berani bermain di kebunku”, ucapnya.


“Aku, Noaa”, ucap Noah ramah.


“Kenapa kau tidak marah aku melempar batu di kepalamu?”


Seorang pemuda vampir satu lagi mendatangi Noah, “Kamu gakpapa?”, tanyanya.


“I-ya”


“Naru! Minta maaflah kepadanya! Dia ini seorang gadis. Kau harus baik kepadanya”, pinta Haru.


“Eh, gakpapa kok”, sahut Noah merasa tidak masalah.


“Untung kamu baik Nona, kalo tidak mungkin kamu dan Naru akan bertengkar”, ucap Haru tertawa kecil dengan lembut.


Dahi Noah mulai sedikit mengeluarkan darah, tapi Noah tidak menyadarinya.


“Cih!”, Naru mendekat.

__ADS_1


Noah sejenak terpana dan mematung melihat Naru mendekatinya, dalam hati dia merasa takut bahwa Naru akan memarahinya ataupun mendorong tubuhnya. Tapi..


“Cup!”, Naru malah mencium dahi Noah yang berdarah.


Sedikit geli dan perih saat dia berani menjilat darah tersebut, Noah tertawa kecil karena kegelian dan menjadi heran dengan sikap Naru tersebut.


“Na-Naru!!”, Haru tersentak kaget dan merasa malu sendiri. 


“Apa sudah lebih baik?”, tanya Naru.


“Apa?”, Noah bingung


Ratu pun datang menghampiri ketiga anak kecil tersebut. Ratu yang sangat tinggi, ramping dan cantik. Gaunnya berwarna putih keemasan. Rambutnya panjang dengan banyak aksesoris emas menghiasi tubuhnya. 


Haru tersenyum dan senang melihat kedatangan Ratu, namun Naru langsung memalingkan mukanya karena merasa canggung melihat kewibawaan sang ratu.


“Maafkan mereka berdua ya gadis kecil”, ucap Ratu sambil berlutut dan membelai lembut dagu Noah. Seketika luka di dahinya langsung kembali pulih.


“Siapa namamu?”, tanyanya.


“Aku.. Noaa”


“Noah, aku adalah ratu disini. Seorang Dewi Matahari. Ibu dari kedua vampir kembar. Apa kamu merasa takut?”


“Ratu sangat cantik. Aku tidak merasa takut sama sekali”, ucapan jujur dari Noah seperti memberikan keakraban saja diantara Noah dan Ratu.


Haru tersenyum sedangkan Naru menganga kaget melihat Noah begitu berani dan akrab berbicara dengan Sang Ratu.


“Kalo begitu, lihatlah keindahan dengan kedua matamu itu ya Noah”, ucapnya seraya mengubah terangnya hari menjadi gelap. Matahari seketika tenggelam dan berganti dengan bulan dan beberapa bintang menghiasi langit tanpa awan.


Bukan hanya itu saja, seluruh bangunan yang berwarna tanah tersebut tiba-tiba memancarkan cahayanya di malam hari dengan sangat indah. Benar-benar seperti istana di negeri dongeng. Noah semakin terpesona.


"Ratu memang luar biasa", ucap Naru terpana.


Noah memutarkan tubuhnya untuk menikmati pemandangan indah tersebut. Tapi, ada sesuatu yang menarik perhatiaannya. Dia melihat ada cahaya segaris menuju ke langit.


"Ratu? Itu apa?", tanya Noah.


Ratu tersenyum, "Kamu ingin melihatnya?"


"Iya"


Seketika Ratu menggandeng tangan Noah dan langsung tiba di tempat tersebut. Mereka berdua berada di sebuah ruangan khusus yang sangat luas. Tidak ada apa-apa di sana. Cahaya tersebut semakin dekat terlihat.


Noah berjalan mendekatinya. Ternyata cahaya itu bersinar dari lantai berbentuk lingkaran berornamen simbol matahari.


Lantai tersebut mengingatkan Noah pada sesuatu yang tidak asing baginya. Benar-benar tidak asing baginya.


"Mama, bangun!", ucap Chacha.


Noah pun membuka mata. Sekejap bayangan mimpi menghilang. Noah menguap dan mengucek kedua matanya.

__ADS_1


"Sudah pagi ya?"


"Mama, lihat"


Chacha mengarahkan telunjuknya ke arah jendela. Dia bermaksud memberitahukan bahwa memang benar pagi sudah datang dan matahari sudah membiaskan bayangan cahayanya.


"Benar sudah pagi"


"Ya sudah Chacha, ayo kita turun", ajak Noah.


"Iya"


Noah dan Chacha turun dari lantai dua dan melihat Haru sedang menyiapkan makanan di dapur. Noah berbunga-bunga melihat kebaikan Haru tersebut.


"Kamu, sangat berbeda ya dengan Naru", sahut Noah.


"Eh? Selamat pagi Noah, Chacha"


"Selamat pagi juga Haru"


Haru sangat ramah kepada Noah, membuat Noah nyaman menerimanya. Chacha duduk di meja makan sedangkan Noah membantu Haru menyiapkan makanan.


Keakraban terlihat diantara mereka. Noah sendiri sangat senang bisa bertemu dengan Haru, saudara Naru. Apalagi mereka bisa saling mengobrol dengan asik.


"Chacha senang"


Noah dan Haru langsung menoleh.


"Papa Nayu dan Mama Nowa", ucap Chacha sambil membuat tanda love di kepala menggunakan kedua tangannya.


"Apa? Ehehehe", Noah hanya tertawa kecil melihat Chacha yang tiba-tiba seperti itu.


Haru pun tersenyum sungkan.


Noah mendekati Chacha bermaksud untuk meluruskan pemahamannya tersebut. Pemahaman bahwa Chacha menganggap Haru adalah Papanya karena memang sangat mirip dengan Naru.


"Chacha. Dia itu saudara Papa Nayu, namanya Haru. Mereka berdua adalah saudara kembar"


"Ooh.."


"Kamu mengerti?"


"Iya, Mama", Chacha mengangguk.


Noah pun tersenyum.


Mama Nowa dan Papa Hayu"


"Apa?", Noah langsung tersentak kaget.


Pemahaman seorang anak kecil ternyata tidak semudah itu. Noah jadi bingung saat Chacha menunjuk Haru sebagai "Papa" Hayu.

__ADS_1


Noah sendiri menjadi sungkan kepada Haru.


"Dia menganggapku sebagai papanya juga", batin Haru.


__ADS_2