Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Padang Bunga Mawar


__ADS_3

"Kalian masih saja mencari?"


Malam pun tiba. Delano datang dengan sayap besarnya yang terus mengepak-ngepak menyapu udara. Naru duduk beristirahat di batu besar, Huey bersandar di pohon dan Raziel bersama Louie berdiri di atas pohon.


Dedaunan beterbangan akibat ulah kibasan dari sayap Delano. Dia datang dengan tawanya yang sangat khas.


"Mau kah aku bantu?", Delano menawarkan diri.


"Cih! Penyihir jelek datang lagi", gerutu Raziel.


"Kau itu selalu mengataiku jelek apakah aku benar-benar sejelek itu, heh?", Delano mencoba menurunkan kadar kekesalannya dan mulai mengatupkan sayapnya untuk lebih dekat kepada Raziel.


"Ja-jangan terlalu mendekat!", bentak Raziel.


"Ah sudahlah!", acuh Delano.


Dia mulai kembali terbang dan meluncurkan diri ke atas langit untuk memantau ke sepenjuru wilayah.


"Apa yang akan dia lakukan?", tanya Huey melirik.


"Aku sungguh lapar! Lapar lapar lapar!!!", teriak Louie.


"Hei semuanya! Aku melihat suatu wilayah yang sangat luas di sana. Apakah kalian sudah menemukannya?", ucap Delano dengan suara yang menggema.


"Tempat apa itu?", tanya Naru.


"Itu adalah tempat yang sangat luas. Sebuah padang kosong tanpa kehidupan di sana. Apa kalian tidak ingin melihatnya?", balas Delano.


"Sedikit membuatku penasaran", Naru pun menanggapi dan mulai berdiri di atas batu tersebut.


"Kita harus kesana kalo begitu", balas Huey.


"Okei!! Waktunya bergerak lagi", balas Raziel.


"Raziel, temukan mangsa untukku", pinta Louie merengek dan memelas.


"Kau ini harus sering-sering mengganjal perutmu dengan batu supaya kau tidak sering mengeluh kelaparan Louie!! Membuatku kesal saja", acuh Raziel kemudian dia melompat ke batang pohon selanjutnya.


"Ayo Tuan Naru, kita harus segera bergegas", ajak Huey mengikuti Raziel.


Naru pun mengikutinya dengan Louei di belakangnya. Delano ikut bergabung dengan terbang di udara.


"Mari, ikutilah aku", ajak Delano.


Sementara itu, di kerajaan padang pasir.


"Aku masih menyimpan anting Nona Noah", ucap Saga di tempat duduk.


"Aku harus mengembalikan benda ini kepadanya, tapi bagaimana? Aku tidak bisa membuatnya memakainya lagi. Kalau Haru melihatnya pasti akan memintanya untuk melepasnya lagi"

__ADS_1


Saga berfikir untuk mencari cara supaya benda milik Noah tersebut bisa dipakai kembali oleh Noah. Benda yang memiliki kekuatan batu safir yang bisa melindunginya.


Noah berada di balkon istana sambil memandang langit kosong tanpa satu pun hiasan bintang.


"Bulan, entah kenapa aku merasa sangat kesepian. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa", lirih Noah mencoba berbicara kepada Bulan yang menemaninya.


"Aku, merasa merindukan seseorang"


"Meskipun di istana ini ada Haru, Sean dan Saga tapi mereka tidak bisa membuatku merasa nyaman"


"Bulan, jika kamu tau siapa sebenarnya orang yang aku rindukan, tolong sampaikan kerinduanku kepadanya. Supaya dia mengerti bahwa aku merindukannya. Dan kami bisa saling mendekap satu sama lain meski kami tak bisa bertemu"


"Noah, apa yang sedang kamu lakukan?", tanya Haru berjalan mendekatinya.


"Haru.."


"Langit tampak tenang di atas sana. Apa itu mengganggumu?", tanya Haru.


"Umm", Noah menggeleng pelan. Dia menyambut kedatangan Haru dengan senyum simpul dan ketenangannya.


"Aku merasa, orang yang aku rindukan adalah dia yang sedang ada dihadapanku. Tapi, entah kenapa perasaan ini tidak bisa mencapainya", batin Noah menatap kehadiran Haru.


"Noah, kamu harus segera istirahat. Malam sudah larut, aku tidak ingin kamu kedinginan dan jatuh sakit", ucap Haru menyelimuti punggung gadis pujaannya dengan mantel.


"Terima kasih", balas Noah tersenyum.


Perjalanan Naru dan pengikutnya sudah sampai pada tempat yang di tuju. Empat manusia itu akhirnya menapakkan kakinya bersama di sana.


"Benar ini tempat yang kau maksud, Penyihir jelek?", tanya Raziel memastikan.


"Bisa gak sih elo tidak memanggilku penyihir jelek?!"


"Terserah!"


"Raziel, kenapa kita sudah sampai sedangkan kau belum mendapatkan mangsa untukku", rengek Louie.


"Diam kau, Louie", tandas Raziel.


"Tegaa", balas Louie dengan air mata buayanya.


"Aku bisa merasakan energi bulan di sini", ucap Naru.


"Tempat ini benar-benar luas dan tidak ada apapun", tambah Huey.


Raziel mulai berkeliling untuk memuaskan rasa penasarannya terhadap tempat tersebut. Dia berlari seperti seorang serigala dan melompat-lompat ke segala penjuru.


Delano mengikutinya dari belakang. Gerak terbangnya memudahkannya untuk pergi kemana pun dia suka.


"Hei semuanya, lihat. Di sini terdapat kolam air kecil. Jika dilihat-lihat, kolam ini tepat berada di tengah-tengah tempat ini", ucap Delano.

__ADS_1


"Dan tepat di tengahnya muncul pantulan bulan di sana", lanjut Raziel.


Naru dan Huey mulai mendekati tempat tersebut.


"Energi ini semakin kuat. Aku bisa merasakannya dengan tubuhku", ucap Naru sambil menatap bulan yang tepat berada di atasnya.


"Apakah ini air ajaib?", tanya Raziel penasaran.


"Kau harus mencobanya Tuan Naru", pinta Huey.


"Baiklah", jawab Naru.


Naru mulai memasukkan selangkah kakinya ke dalam kolam tersebut dan cahaya pun muncul. Air itu perlahan melilit tubuhnya melalui pijakan pertama dari kakinya.


"K-Kau tidak apa-apa Tuan?", tanya Huey.


"Tenanglah. Air ini tidak mengancamku"


Air itu semakin penuh menyelimuti tubuh Naru hingga dia tenggelam di dalamnya. Kesegaran dan ketenangan yang diberikan air tersebut perlahan-lahan menyembuhkan luka dan mengembalikan kekuatan Naru.


"Luar biasa", puji Raziel terpana.


"Apakah ini tempat yang dimaksud? Kebun mawar merah? Tapi, tidak ada satupun bunga mawar tumbuh di sini", selidik Huey


Cahaya bulan semakin terpancar atas kedatangan Naru di sana. Padang tanah tersebut pun mulai bereaksi dengan apa yang sedang terjadi.


Naru melayang di udara diikuti air dari tempat tersebut. Kemudian setelah di rasa cukup, Naru turun dan menapakkan dirinya di tanah dengan sekujur tubuh yang basah kuyup.


Kehadirannya pun perlahan membasahi tanah dan sesuatu tumbuh dari sekitar pijakan kakinya.


"Apa- Apa yang sedang terjadi?", Raziel semakin terkejut.


"Sesuatu tumbuh dari bawah kaki Tuan Naru", balas Huey.


"Aku, merasakan ketenangan. Kekuatanku semakin pulih dan malah semakin bertambah", ucap Naru.


Naru berjalan dengan ketenangannya dan diikuti sesuatu tumbuh dari bekas pijakan kakinya.


Benih-benih itu semakin tumbuh dan berkembang. Tanaman mawar mulai tumbuh lebat di sana. Pertumbuhan yang sangat cepat dengan mawar-mawar merah yang mulai merekah dengan sangat indah.


Naru mulai menggunakan kekuatannya untuk lebih menambah pertumbuhan bunga mawar itu ke bagian wilayah lain.


"Hebat. Hebat sekali kekuatan Tuan Naru. Dia bisa membuat keajaiban yang luar biasa", histeria Raziel.


Kini, tanah padang kosong itu penuh dengan tanaman bunga mawar merah yang sangat indah. Bunga-bunga mawar yang merekah saling bersinar satu sama lain, sehingga memperindah tempat tersebut.


Bulan semakin senang menerima sambutan tersebut. Delano sedikit memiliki ide dengan membantu memberi angin dari sayapnya.


Sekejap, bulu-bulu indah keluar dari sayapnya dan menghujani untuk menghiasi udara. Sungguh indah.

__ADS_1


__ADS_2