
“Apa?”
“Kenapa aku tiba-tiba tertiduurr?!”
Bangun tidur, Noah langsung kebingungan dengan keadaan dirinya sendiri. Dia tidak sadar bahwa dirinya tadi malam tiba-tiba tertidur dan sekarang sudah bangun pagi begitu saja. Dia menengok ke kanan ke kiri dengan sangat panik mencari-cari keberadaan Naru.
Sepi.
“Apa aku bermimpi lagi?”, Noah termenung.
“Kenapa? Kenapa?! Aku tidak ingin itu hanya sekedar mimpi saja! Tidak. Tidak!!"
“Mama?”, Chacha terbangun, karena kepanikan Noah, dia menjadi ikut cemas. Vampir kecil itu tidak biasa melihat tingkah Noah yang tidak biasanya.
“Chacha, mana Papa Naru?”
“Papa? Nayu?”
“Iya. Papa sudah pulang, Chacha”
“Iya? Papa Nayu, mana?”
“Tapi.. kenapa?”, Setelah beradu dengan kekesalannya, tubuh Noah serasa sangat lemah dan lelah.
“Bug!”, Noah seketika menjatuhkan lagi tubuhnya ke kasur. Uap panas serasa keluar dari tubuhnya. Dia seperti melihat fatamorgana tepat di langit-langit kamar tidurnya.
“Ada apa, denganku?”, keluhnya sambil menempelkan punggung tangannya di dahinya sendiri.
“Aku.. demam..”
Noah terserang demam. Tubuhnya panas, suhu tubuhnya meningkat drastis. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk bangun. Berjalan ke kamar mandi dan berganti baju. Sejenak dia kembali duduk di kasurnya.
“Naru. Aku akan membalas perbuatannya karena telah berani menghantuiku”, gumam Noah melamun dan tidak bersemangat.
“Mama? Ada apa?”
“Chacha, sepertinya.. Mama demam, hehe”, candanya.
“Demam?”
“Sebaiknya kita turun dulu yuk, sarapan. Mama akan buatin sarapan buat kamu dan Haru”, ucap Noah seraya berjalan sendiri keluar kamar. Chacha mengikutinya dari belakang.
Noah sakit karena terlalu memikirkan Naru dan perasaan Haru, juga terlalu banyak minum coklat dingin. Padahal, sejenak dia mendapatkan kembali kebahagiaannya karena Naru telah kembali pulang dan saling melepas rindu. Tapi, entah kenapa Naru sudah tidak terlihat lagi.
Suhu tubuh Noah semakin meningkat karena dia tidak tahu harus berbuat apa dengan demamnya tersebut. Semakin dia bergerak, semakin tubuhnya panas dan lelah.
“Ayah, kapan ayah pulang?”, keluhnya.
__ADS_1
Noah terus memaksakan diri untuk menyiapkan sarapan pagi. Saat dia membuka kulkas, dia melonjak kaget karena suhu dingin kulkas langsung menusuk tubuhnya, “Di-dingin sekaliii!!”.
"Ha-Hasyingg!!"
Haru pun datang membantu, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia tidak bisa menyentuh Noah sedikit pun karena kilatan petir itu. Perasaannya semakin kesal ditambah rasa khawatirnya melihat Noah ternyata sedang demam.
“Duduklah Noah, aku akan menyelesaikan semuanya”, pinta Haru.
“Te-terima kasih Haru”
Noah tertidur sejenak menyandarkan kepala di atas meja makan. Tubuhnya semakin lemas dan panasnya semakin meningkat. Tidak tega melihat keadaan Noah, terpaksa Haru akan melakukan sesuatu. Dia akan menghancurkan pelindung dari Naru di tubuh Noah.
Haru perlahan memejamkan matanya dan kembali membukanya. Dua bola mata emasnya terlihat sangat terang dan pupilnya menjadi tajam segaris. Kekuatannya mulai keluar dan memenuhi sekujur tubuhnya. Mendapat penolakan yang sangat kuat dari sihir Naru, Haru tetap memaksakan tangannya untuk menyentuh lengan Noah.
Sihir Naru beradu dengan kekuatan Haru, sedikit demi sedikit kilatan petir itu mulai retak, retak, retak dan hancur. Tidak terjadi apa-apa dengan tubuh Noah, hanya saja Haru menjadi terengah-engah atas keberhasilannya. Sedikit kilatan petir ikut melukai pipi Haru hingga berdarah.
“Dengan begini, aku bisa membawa Noah untuk istirahat lagi di kamar”
“Jangan sentuh dia!”, seketika Naru datang dan menghempas tangan Haru. Mata Naru berubah menjadi merah dan gigi taringnya terlihat.
“Kenapa kau tidak mengizinkanku untuk menyentuhnya?”, tanya Haru santai dan ramah.
“Karna aku sekarang sudah tidak bisa mempercayaimu, Haru”
“Sekarang? Bodoh sekali. Aku saja sudah sejak dulu kala tidak mempercayaimu Naru”
“Noah adalah takdirku, takdir kerajaan. Karna takdir, aku bisa lebih dulu mengenalnya daripada kau, Naru. Aku sudah bisa memahami Noah dengan sangat baik. Jadi, kau tidak perlu melanjutkan misimu itu”
“Haru.. Aku.. tidak percaya kau bicara seperti itu”
“Maka dari itu, menyingkirlah”, ucap Haru masih dengan ketenangan dan keramahannya. Dia akan segera mengangkat tubuh Noah.
“Jangan, sentuh, dia!”, Naru langsung menghempaskan sihirnya untuk mendorong Haru terjatuh dan menjauh dari Noah.
“Papa?”, Chacha yang sedari tadi memperhatikan semakin ketakutan.
“Cih!”, keluh Naru
Naru memegang pundah Haru dan mengajaknya menghilang begitu saja. Naru dan Haru menghilang dari hadapan Chacha. Sedangkan, Noah tidak sadarkan diri karena telah terlelap tidur.
Naru tiba-tiba membawa Haru ke sebuah gedung basket yang luas dan tertutup.
“Pintar sekali kau mencari tempat?”, sindir Haru
“Karna disini, aku bisa leluasa menghajarmu Haru”
“Apa kau bilang?, Apa kau tidak melihat, bahwa aku juga sebuah matahari. Kau akan hancur jika aku menggunakan kekuatan ini”
__ADS_1
Seketika mata merah Naru semakin fokus dan menambah kekuatan sihirnya. Hanya dengan menggunakan tangan, dia langsung menghempaskan Haru terjatuh jauh terhantuk dinding.
“Jika kita tidak bisa berdamai disini, akan ku hancurkan kau sekarang juga”, ucap Naru.
“Hancurkan saja aku. Maka, kerajaan tidak akan bisa kembali pulih. Rakyat kita akan semakin merana dan Raja akan segera mendekati ajalnya”
“Haru! Kenapa kau selicik itu. Haaah!”, Naru langsung mendekat secepat kilat dan melempar tubuh Haru dengan kekuatan sihirnya lagi hingga jauh terhantuk dinding yang lain. Mengulanginya lagi dan mengulanginya lagi.
Haru benar-benar seperti seorang psikopat. Dia tidak merasakan sakit ataupun amarah sedikitpun. Wajah ramahnya selalu memberikan senyuman palsu.
Saat ada kesempatan, Haru langsung menarik tangan Naru. Dia mulai mengeluarkan kekuatan mataharinya dan membuat sekujur tubuh Naru langsung kepanasan. Asap mulai membakar kulitnya.
“Hentikan kalian!”, Sean datang langsung dengan tendangan di kaki Haru.
Seketika Naru jatuh terkulai tak berdaya. Haru pun merasa kesakitan atas tendangan di kakinya tersebut.
“Apa karna gadis itu kalian saling bertarung seperti ini? Memalukan!”
“Sean.. lemah lembutlah sedikit”, pinta Saga.
“Jika elo ikut campur, gue juga akan mengomelimu Saga!!”
“Eeehh..”, Saga langsung melenguh ketakutan
“Naru, apa kau tidak apa-apa?”, tanya Sean seraya mengulurkan tangan.
“Tidak perlu!”, Naru langsung menghempas tangan Sean dan tetap membiarkan dirinya terbaring lemah menikmati rasa panas di tubuhnya sendiri.
“Maafkan aku Haru karena telah menendang kakimu”
“Tidak masalah”, balas Haru ramah.
“Haru, Naru, kalian itu vampir yang baik dan bermartabat. Kenapa kalian jadi bertarung satu sama lain?”, tanya Sean sambil menurunkan kadar kemarahannya.
“Noah bukanlah pengganti Sang Dewi, dia adalah seorang manusia yang harus dilindungi. Aku akan melindunginya dengan seluruh kekuatanku”, ucap Naru sambil memulihkan lukanya.
“Tidak. Aku akan mengubahnya menjadi Sang Dewi. Itu adalah takdir”, elak Haru.
“Musuh kita sekarang Delano, ayahnya pun juga mulai bergerak untuk menentang sang raja vampir lagi. Jadi, kalian berdua, berdamailah”, pinta Sean.
“Supaya adil, Nona Noah berikan saja kepadaku”, ucap Saga santai.
“Jangan bermain-main kau bocah!”, Naru langsung marah.
“Ahahaha.. iya iya maaf”, balas Saga mengangkat kedua tangannya.
Naru dan Haru masih saling melempar tatapan tajam. Ikatan persaudaraan mereka akan menjadi permusuhan.
__ADS_1