
Malam hari di dalam kamar, Noah sedang duduk dengan serius di meja belajarnya. Dia mengambil tasnya dan akan mengeluarkan pisau kupu-kupu yang dia pinjam dari Dosen. Seperti biasa, pisau itu bereaksi saat Noah hendak menyentuhnya dengan tangan kosong.
Noah mengambilnya dengan paksa dan meletakkannya di atas meja. Memperhatikan detail-detail ukiran dengan kaca pembesarnya.
“Kamu boleh meminjamnya, tapi jangan menggunakannya”
Noah mengingat pesan dari Dosen. Dia jadi bingung, apa yang harus dia lakukan terhadap pisau tersebut. Kenapa dia jadi repot-repot menelitinya untuk sesuatu yang tidak jelas baginya.
Tiba-tiba Naru hadir dan duduk di jendela kamar Noah yang terbuka. Naru benar-benar tidak bisa menikmati kesendiriannya sendiri di kamar tidur tamu.
“Apakah seperti itu penampilanmu saat di rumah?”, tanya Naru heran.
“Siapa?!”, Noah langsung menoleh.
"Salaam.."
“Ja-jangan sembarangan masuk kamar gadis seenaknya”, respon Noah merasa malu dan melemparkan buku ke arah Naru.
“Ops! Bahaya tau!”, jawab Naru menangkap buku tersebut dengan sigap. Sikap duduknya goyah dan dia jatuh keluar jendela. Namun, seketika dia langsung menghilang. Noah menghampirinya untuk memastikan keadaannya.
“Tok tok tok”
“Siapa lagi itu?”
Noah membuka pintu.
“Salaam.. Apakah aku boleh masuk ke kamarmu?”, Naru akhirnya meminta izin.
“Kamu benar-benar tidak ada kerjaan ya”, ucap Noah sambil celingukan mencari-cari ayahnya.
“Cari siapa?”, tanya Naru penasaran.
“Cari ayah”, jawab Noah singkat.
Naru pun mendorong tubuh Noah masuk kamar bersamanya. Menutup pintu dan mendorong Noah lebih dalam memasuki ruang kamar tidurnya.
“Kamu mau apa?”, ketus Noah.
“Aku mau bermain denganmu. Sudah lama aku merasakan kesepian. Jadi, temani aku bermain ya Nona”, pinta Naru.
“Jangan memanggilku Nona. Panggil aja aku Noah”
“Baik Noah”, balas Naru tersenyum ramah.
“Vampir ini benar-benar sadis. Aku tidak bisa mengetahui ekspesi apa yang dia sembunyikan di balik keramahannya itu”, batin Noah.
Noah kembali duduk di meja belajarnya. Dia kembali fokus memperhatikan pisau kupu-kupu tersebut, membuka buku dan mengambil peralatan menulis.
“Noah?", panggil Naru
“Iya”, jawab Noah singkat tanpa menoleh.
“Noah?"
“Iya”
“Noah”
Noah mulai kesal dan terganggu, “Sebenarnya apa maumu?”, tanya Noah sambil tidak sengaja menodongkan pisau kupu-kupu yang belum dia buka.
“Be-benda apa itu?”, Naru tersentak kaget.
__ADS_1
“Mau lihat ini apa?”, Noah menyeringai. Dia pun membuka pisau tersebut dengan kedua tangannya, dan mata pisau yang tajam nan runcing muncul dengan kilauannya.
“Jauhkan benda itu!”, perintah Naru.
“Kenapa?”, tanya Noah heran.
“Benda itu sangat berbahaya. Jauhkan benda itu!”
“Iya aku tau ini berbahaya, aku akan hati-hati"
Pisau itu sedikit bereaksi lagi. Noah yang ceroboh tiba-tiba mata pisau sedikit bergerak dan menggores jari telunjuknya. Darah pun menetes dengan cepat.
“Au, sakit”, keluh Noah.
Melihat keadaan Noah, perasaan Naru tergugah. Dia menjadi sangat mengkhawatirkannya dan dengan kecepatan sekejap mata dia langsung berlutut berada di hadapan Noah kemudian menghempas pisau itu dari tangan Noah. Pisau itu terjatuh jauh entah di mana.
“Darahnya menetes sangat banyak dan terlihat berkilauan. Ini akan mubadzir jika aku tidak segera menghisapnya”
Mata Naru berubah menjadi merah. Gigi runcingnya mulai keluar lagi. Naru tergerak oleh nalurinya untuk segera menghisap darah yang keluar dari jari telunjuk Noah
“Na-Naru.. Bukan seperti itu cara menyembuhkannya”, lirih Noah tersipu malu.
“Ini cara yang paling benar”, jawab Naru yakin.
“U-uumm”, Noah menurut.
Suasana menjadi tenang sesaat untuk mereka berdua. Mata Noah mulai sayu menerima perlakuan Naru. Tapi, bayangan dari pisau itu muncul lagi dan mengganggu pikiran Noah.
“Aku.. melihat sesuatu”
“Apa?”, tanya Naru mulai memberikan sinar penyembuhan untuk jari telunjuk Noah.
"Bayangan?"
"Bayangan seorang mayat yang tertusuk sebuah pisau di dadanya dan mayat itu berada di dalam peti mati. Tapi, keberadaannya masih samar-samar terlihat"
"Hah?", Naru langsung mengingat saudara kembarnya.
"Se-seperti apa mayat itu?"
"Aku.. Tidak bisa menggambarkannya karena wajahnya tidak terlihat jelas. Hanya saja, aku melihat dia memakai pakaian vampir"
"Dimana dia berada?", tanya Naru serius menatap Noah dengan reflek memegang erat kedua pundak Noah.
"Sa-sakit Naru"
"Eh?"
"Kamu.. terlihat menakutnya dengan mata merah dan gigi runcing itu", ucap Noah memalingkan mukanya.
"Maaf"
Naru mengubah mata merahnya kembali hitam dan memendekkan gigi taringnya.
"Aku tidak mengerti, kenapa aku jadi sering melihat bayangan-bayangan yang tidak jelas. Apa karna mata kananku ini?", ucap Noah lirih.
"Mata emas itu, darimana kamu mendapatkannya?"
"Bukankah ini mata karna kamu telah memberikan separuh nyawamu kepadaku?", Noah balik bertanya untuk mengetes kejujuran Naru.
"Tidak. Aku berbohong tentang itu"
__ADS_1
"Kamu?, suka sekali berbohong kepadaku. Apa aku terlihat gadis bodoh bagimu?"
"Maafkan aku, Noah"
"Hemph!"
"Ceritakan padaku, kenapa kamu bisa memiliki mata emas di mata kananmu?"
"Kata suara yang tidak terlihat, mata ini pemberian dari Dewi Matahari", jawab Noah ragu.
"Dewi Matahari? Ibunda"
"Uumm.."
"Pantas saja mata itu mirip sekali dengan seseorang yang aku kenal. Tapi aku masih berdiam diri untuk mencari jawabannya sendiri", ucap Naru.
"Orang- yang- kamu kenal? Si-siapa?"
"Saudara kembarku, Haru. Darah ibunda ratu mengalir padanya, sehingga dia memiliki mata emas sepertimu, the gold sun eye"
"Kalian, Tw- Twin Vampir?"
Naru mengangguk.
"Ho-Hooeeee", seketika Noah menjerit, merusak suasana keseriusan mereka berdua. Noah ngeblush membayangkan dua vampir tampan hadir di kehidupannya.
"Ada apa denganmu? Noah?"
"Howe we we we", mata Noah masih berputar-putar.
"Yosh!", melihat suasana sudah sedikit santai, Naru dengan sengaja langsung mengangkat tubuh Noah.
"Ma-mau apa?", tanya Noah canggung.
"Aku akan mengajakmu ke bulan", ucap Naru santai dan menyeringai.
"Ke- ke bulaaan?!"
"Whuuss.. Cling"
Seketika Naru menghilangkan diri bersama Noah. Tiba-tiba mereka berdua berpindah tempat di atas atap rumah. Angin mengayun-ayunkan pakaian mereka.
"Apa masih kurang cukup?", tanya Naru senang.
"Hup!" Naru meloncat berpindah ke atap rumah lain.
"Hup!"
"Huup!", melompat semakin tinggi. Tinggi menuju langit.
Sungguh luar biasa kemampuan Naru. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Menghentikan dan menggerakkan benda sesuka hatinya. Menghilang dan bergerak secepat kilat. Hingga bisa melompat tinggi menggapai awan di langit.
Naru tidak menyadari bahwa Noah yang dia bawa ternyata merasa sangat ketakutan dan memacu adrenalinnya. Noah hanya terus memeluk erat leher Naru dan menyembunyikan mukanya disana.
"Lihatlah Noah! Jangan takut. Pemandangannya sangat indah. Kamu akan menyesal kalo tidak segera melihatnya", canda Naru
"Lebih baik aku menyesal dari pada aku mati melihat ketakutanku", gerutu Noah
"Ahahaha.. Kasar sekali bicaramu", timpal Naru.
Naru pun turun. Mereka berdua duduk di atas atap rumah Noah. Menikmati pemandangan malam bersama. Mereka saling melempar senyum satu sama lain.
__ADS_1