
Noah hanya bisa mematung dan menangis di tempat. Dia semakin sedih karena tidak bisa membantu Naru menghadapi pisau tersebut, ditambah penyesalannya karena telah membawa benda itu ke rumah.
"Jangan menangis Noah", ucap Naru merasakan perih di beberapa tubuhnya yang terluka. Darahnya semakin menetes mengenai karpet lantai.
"Aku harus bisa menolong Naru. Aku pasti bisa menolongnya. Ayo berfikir Noah!!"
Seketika Noah mengingat ingatannya saat di kelas. Saat pisau kupu-kupu itu bereaksi terhadap telapak tangannya, Noah kemudian mengambil pisau itu menggunakan sapu tangan.
"Kain. Iya kain. Dengan kain, pisau itu tidak akan bisa bergerak lagi", gumam Noah.
"Naru! Gunakan kain!"
"Kain?, baiklah"
Naru langsung menggunakan sihirnya untuk menggerakkan kain yang berada di rak dan melemparkannya kepada pisau yang sudah siap mengarah lagi ke dirinya.
Seketika mata pisau menembus kain yang mengenainya. Pisau kembali menantang Naru untuk mengincar jantungnya.
"Ini tidak akan berhasil jika pisau itu terus bergerak. Terpaksa aku harus menggunakan sihir terkuat", Naru lengah saat dia sedang berfikir.
"Naru..", lirih Noah.
"Whuss!! Clap!!"
"Crap!", Seketika pisau menancap kokoh di dada Naru.
"Uhuk!", Naru tersentak kaget, tubuhnya terpental membentur dinding kamar. Darah di dada muncrat bahkan mulutnya pun mengeluarkan darah. Kulit dadanya terbakar karena reaksi dari bahan perak.
"Ack! Ahack hack! Si-siaall!!"
Naru mulai menundukkan kepala untuk berkonsentrasi melakukan sihir terkuat tersebut. Dia pasrah dengan konsekuensinya, yang terpenting pisau itu bisa segera ia taklukkan.
"Tidak. Tidak?, Tidaak!!", Noah berlari menghampiri keberadaan Naru.
"Sang Waktu!"
"Kekuatanmu sungguh agung"
"Tunjukkan kekuatanmu kepadaku sekarang jugaaa!!"
Seketika cahaya membias ke seluruh ruangan, "Crangg!!" Waktu terhenti. Semua yang terlihat tidak bergerak. Seperti patung. Seperti gambar di dalam foto. Pergerakan Noah pun juga terhenti.
Naru terengah-engah. Dia berjalan tertatih-tatih untuk mengambil kain yang terjatuh di lantai. Sihirnya menghentikan sang waktu sedang mengancam nyawanya.
"Akhirnya selesai juga"
Naru melepas pisau yang menancap di dadanya menggunakan kain tersebut. Membungkusnya dan mengemasnya dengan sangat erat.
Masih ada satu lagi yang harus dia lakukan, yaitu mengembalikan kondisi kamar Noah ke semula. Darah di mulutnya muncrat kembali diiringi batuk yang menyakitkan.
Naru mengarahkan telapak tangannya ke segala penjuru kamar Noah. Perlahan darah yang terlihat berceceran mulai menghilang. Benda-benda yang berantakan kembali rapi ke sedia kala. Kamar Noah kembali indah seperti semula.
"Aku tidak menyangka, hanya melawan sebilah pisau saja membuatku sampai kehilangan nyawa", Perlahan Naru berjalan menghampiri Noah.
__ADS_1
Begitu sulit mengangkat tangan yang terkulai lemah dan terluka. Tangannya bergetar menyentuh pipi Noah. Naru berusaha untuk menghapus air mata yang membekas di pipi Noah.
"Gadis yang sangat baik. Dia menangisiku sampai seperti ini. Maafkan aku, Noah" Perlahan mata Naru mulai terpejam.
"Bruk!", Dia terjatuh tak berdaya. Waktu kembali seperti sedia kala.
Noah hampir tersentak jatuh dari pergerakannya. Dia bingung melihat keadaan kamarnya yang terlihat sudah tidak terjadi apa-apa.
"Apa- yang- sedang terjadi?"
Hening..
Udara mulai masuk melalui ventilasi kamar. Serpihan-serpihan cahaya menghiasai seluruh ruangan. Noah melihat Naru terbaring tak bernyawa di karpet lantai.
"Naru?"
"Apa dia sedang tertidur? Ataukah dia.."
"Tidak.. Tidak.."
Noah gemetaran mendekati Naru. Dia menjatuhkan lututnya karena terasa sangat linu. Air matanya mengalir lagi. Tangannya bergetar menyentuh wajah tampan Naru yang berantakan. Tangan dan dadanya penuh luka dan darah.
"Naru.. Aku harus bagaimana?"
"Dewi, tolong hidupkan Naru kembali"
"Hiks hiks", Noah terisak-isak.
Mata emas Noah tidak mau menyala, tanda bahwa mata itu tidak bisa menghidupkan Naru. Mata itu hanya bisa menyembuhkannya.
"Kalian berdua sangat memaksakan diri", gumamnya.
"Haruskah aku menolong mereka?"
Pria yang tidak diketahui identitasnya karena tubuh dan wajahnya tertutup rapat oleh jubah mantel yang sangat tebal. Namun, penampilannya memperlihatkan bahwa dia juga seorang vampir dengan tahi lalat di bawah matanya seperti milik Delano.
"Aku harus mengembalikan separuh nyawanya"
"Tapi.."
Noah semakin lirih dan kesulitan berbicara kepada Naru. Hatinya terasa tertusuk perih hingga darahnya terus mendesir-desir seperti duri-duri kecil.
Noah memberanikan diri mencium Naru untuk mengembalikan nyawa kepada Naru. Tapi, keyakinannya masih goyah. Hatinya masih ragu-ragu sehingga ciumannya tidak berhasil.
"Bangunlah Naru"
Akhirnya Noah menggigit sendiri telapak tangannya hingga benar-benar berdarah. Darah anyir nan amis ia hisap dan rasakan. Dia meneguhkan keyakinannya bahwa apa yang ia lakukan pasti berhasil. Noah terus menghisap darahnya sendiri hingga memenuhi mulutnya.
Noah mengarahkan mulutnya yang penuh dengan darahnya kepada mulut Naru. Dia meminumkan darahnya tersebut dengan sangat lembut dan tulus.
Matanya terus terpejam menahan tangis diiringi kecupan yang terus bergerak, "bangunlah Naru".
Kilauan cahaya semakin terang menyinari. Perlahan mata Naru terbuka. Tangannya bergerak mengarah kepala Noah. Tangan itu membelai lembut kepala Noah yang mungil.
__ADS_1
Mata Noah semakin bergetar namun tangisannya berubah menjadi tangisan bahagia. Dia membiarkan dan menerima balasan kecupan dari Naru. Mereka berdua menikmati kebahagiaan bersama.
"Cih! Kalian berdua membuatku cemburu. Tapi, tenang saja. Sebisa mungkin, aku tidak akan membenci kalian berdua"
Pria di atas tiang listrik itu ternyata masih memantau keadaan Noah dan Naru. Dia pun menghilang dalam sekejap mata.
"Darah Noah menyentuh perasaanku", lirih Naru. Dia berbalik badan dan membaringkan Noah di lantai. Memandang lembut wajah ayunya.
"Noah, Kamu benar-benar mengganggu perasaanku"
"Eh?"
Perlahan Naru menyingkap kerah baju tidur Noah, kulit kuning langsatnya terlihat begitu bersih dan bersinar. Naru kembali menatap, Noah pun mengangguk.
Perasaan Noah semakin mendesir, benih cinta semakin meluap di dalam hatinya. Ditambah Naru begitu lembut menghirup aroma leher dan pundak Noah, sesekali memberikan kecupan disana.
"Cup"
"Cuph"
"Emmhh", Noah berusaha menahan desahannya.
Naru menggigit pundak Noah dengan gigi taringnya yang tajam. Sangat kuat hingga Noah terus menahan rasa sakitnya.
"Tok tok tok"
"Noah, 15 menit lagi ayah tunggu di dalam mobil. Segeralah berkemas atau kita akan terlambat", ucap ayah dari luar kamar Noah.
Noah terperanga kaget mendengar ucapan Ayahnya yang tiba-tiba. Dia memalingkan mukanya karena merasa sangat malu.
"Naru.."
"Aku, harus segera berangkat kuliah"
Naru menghentikan perlakuannya, "bisakah aku ikut?", pinta Naru.
"Apa?"
"Bolehkah aku ikut pergi ke kampus?"
"Bubu.. Ahahaha.."
"Ke-kenapa kamu malah tertawa?"
"Boleh saja Naru, kenapa harus minta izin? Kamu kan bebas melakukan apapun yang kamu mau"
"Ba-baiklah.."
"Kalo gitu aku siap-siap dulu", Noah berjalan menuju kamar mandinya.
"Noah, kamu terlihat cantik dengan pakaian itu"
"Ja-jangan mengejekku Naru!!"
__ADS_1
Noah langsung melempar bantal ke arahnya.