Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Replika Lantai


__ADS_3

Senyum misterius Delano memberikan tanda bahwa dia sedang memiliki rencana rahasia untuk Noah. Namun, kedatangan Tanaka membuatnya menunda rencana tersebut.


Tanaka datang ke gedung departemen arkeologi mencari Delano untuk segera mengajaknya mendiskusikan benda artefak yang baru saja Delano temukan.


"Noah, ayah pinjam Kakakmu dulu yah", canda Ayah.


"Kakak?", balas Noah heran.


"Aku pergi dulu ya Noah. Lain kali kita lanjutin lagi obrolan kita", ucap Delano tersenyum.


"Lain kali? Emang masih ada?", gumam Noah


Noah sendirian di dalam gedung arkeologi. Dia mencoba memastikan lagi suara minta tolong yang baru saja dia dengar.


"Aku yakin ada suara yang meminta tolong, tapi siapa?", Noah berjalan mendekati replika lantai ukiran yang berada di tengah-tengah lantai gedung bercorak simbol dewi matahari itu.


Saat Noah berjalan mendekatinya, dia jadi teringat dengan pisau kupu-kupu yang harus segera dia kembalikan kepada Dosen. Noah pun pergi dan segera menemui dosennya.


Noah berlari tanpa memperhatikan jalan, sehingga dia menabrak tiga pria yang ada di depannya. Noah terpental dan jatuh terduduk.


"Bug!"


"Aduh", keluhnya.


"Wohoho.. Ada cewek nabrak kita gays", ucap pria yang bernama Rio.


Pria yang ditabrak Noah bernama Saga mengulurkan tangannya hendak membantu Noah berdiri. Namun, seketika Naru datang dan berada tepat di depan Noah.


Ketiga pria itu terbelalak kaget melihat kedatangan Naru, membuat pria yang mengulurkan tangannya menarik tangannya kembali.


"Siapa dia? Cepat sekali datangnya?", sahut Rio kesal.


"Sudahlah. Biarkan saja", balas Saga.


"Noah, bisakah kita pulang sekarang?", ucap Naru.


"Oooh.. Sepasang kekasih", gerutu Rio.


"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan bersama", ucap Naru sambil memegang kedua pundak Noah dan seketika Noah dan Naru menghilang dari hadapan ketiga pria tersebut.


Noah dan Naru sudah berada di dalam kamar tamu rumah Noah sendiri. Naru membelakanginya dengan perasaan kecewa.


"Ada apa Naru?"


"Noah, Siapa Delano itu?"


"Kak Delano? Dia.. Senior aku di kampus"


"Apa hubungan kalian berdua?"

__ADS_1


"Hubungan? Seperti Adik dan kakak kelas mungkin, hehe", Noah tidak mengerti


Ujung bibir Naru jadi sedikit bergerak, "Gadis ini tidak tau apa itu yang namanya perasaan", keluhnya


"Apa kamu menyukainya?"


"Umm..", Noah terdiam tersipu-sipu malu sendiri.


Naru mengambil jubah vampirnya yang terlipat rapi di laci meja kecil dekat tempat tidurnya. Dia mulai memakainya. Noah kaget sekaligus khawatir.


"Naru? Kamu, mau kemana?"


"Maafkan aku Noah, aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus segera pergi lagi"


"Enggak.. Enggak mungkin", lirih Noah.


Naru semakin merapikan jubahnya dan yakin untuk segera pergi menghilang. Perasaannya tertekan karena dia mulai tersentuh oleh kehadiran Noah. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya untuk mengurusi perasaan tersebut.


"Jangan pergi, Naru", lirih Noah tiba-tiba memeluk Naru dari belakang.


"Eh?"


"Jangan pergi, kumohon. Tinggalah disini", Perasaan egosi Noah langsung menggoyahkan keyakinan Naru.


"Aku harus segera mencari Haru dan sang Dewi. Raja sudah menungguku untuk segera pulang, namun aku masih belum mandapatkan petunjuk apapun. Ditambah lagi, perasaan ini", batin Naru kesal.


"Tidak", Noah semakin erat memeluknya dengan yakin terus mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Naru, tinggallah sebentar disini. Gadis ini akan membantumu menemukan Haru", ucap suara samar-samar dari Ibunda Ratu.


"Ibunda"


"Sebenarnya, apa hubungan Noah dengan Ibunda Ratu? Apa karna mata emas itu?", batin Noah


"Naru, jika kamu pergi, Bagaimana dengan nyawamu yang ada di dalam diriku ini?"


Naru berbalik perlahan, memandang kepala Noah yang berada di pelukannya, "Nyawa itu milikmu Noah, aku tidak akan mengambilnya. Kamu akan terus hidup dengan nyawa itu".


"Umm.."


Suara telefon berbunyi. Noah melepas pelukannya dan pergi untuk mengangkat telefon. Ternyata ayah menelefon dan menanyakan keberadaan Noah. Mendengar Noah sudah berada di rumah bersama Naru, Tanaka sudah tidak merasa khawatir lagi.


Kemudian, Noah berjalan ke kamarnya. Berganti baju dan merebahkan dirinya di kasur. Perasaan sedih dan malas menyelimuti dirinya, ia pun tertidur untuk menenangkan perasaannya tersebut.


Di kamar tamu, Naru mendapatkan pesan telepati dari tangan kanan sang Raja di Eropa. Dia menyampaikan pesan bahwa sang raja sedang jatuh sakit dan kondisi rakyat vampir di sana semakin mengkhawatirkan.


Para vampir tidak bisa bertahan hidup dengan baik sehingga naluri vampir mereka mulai mengganas. Para vampir saling memburu hewan dan bertarung satu sama lain. Pesan tersebut membuat Naru semakin tidak berdaya menanggung tanggung jawab tersebut.


Naru menuju kamar Noah untuk mengucapkan selamat tinggal. Melihat Noah sedang tertidur, sejenak Naru memandang lembut wajah putri tidur itu yang ayu rupawan untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


"Salaam Noah", ucap Naru sambil membelai kening Noah.


"Maafkan aku karna mencoba mengajakmu ikut mengembara bersamaku. Kamu adalah seorang manusia, kamu harus dilindungi disini"


"Naru, jangan pergi"


Naru tersenyum, dia menggenggam telapak tangan Noah dengan kedua tangannya. Sejenak ia menemani Noah tertidur.


Tanaka masih sibuk di kampus, hingga hari mulai petang Tanaka pun belum pulang ke rumah. Noah dan Naru sedang tertidur bersama. Cahaya matahari mulai redup dan berganti dengan gelapnya malam dihiasi kelap kelip bintang di langit sana.


"Tolong.. Tolong aku.."


Seketika Noah terperanjat bangun mendengar suara tersebut muncul lagi.


"Suara itu lagi"


"Noah, ada apa?"


"Naru, kamu? Ngapain disini?"


"Apa kamu sedang bermimpi?", tanya Naru balik.


"Umm..", Noah menggeleng.


Noah menceritakan suara minta tolong tersebut kepada Naru. Suara itu muncul dari gedung departemen arkeologi. Dia meminta Naru untuk mengantarkannya ke sana.


Naru percaya kepada Noah, dia pun mengantarkan Noah ke gedung tersebut dengan kekuatan sihirnya. Dalam sekejap mata, Noah dan Naru sudah berada di dalam gedung arkeologi.


"Aku yakin, suara itu ada di sekitar sini"


Noah terus berjalan mencari, hingga dia menginjakkan kakinya di atas replika lantai bercorak dewi matahari tersebut. Seketika mata emasnya menyala. Naru mulai khawatir.


Noah menyentuh ukiran-ukiran lantai tersebut dengan kedua tangannya, perlahan cahaya muncul di sela-sela ukiran itu. Saling menyambung satu sama lain. Cahaya pun semakin terang hingga membelah lingkaran lantai menjadi dua.


Suara gemuruh semakin terdengar diiringi dua dari setengah lantai lingkaran tersebut terbuka. Lantai tersebut ternyata sebuah pintu untuk menuju sesuatu yang ada di bawahnya.


Pintu setebal 10cm mulai terbuka lebar bersamaan debu-debu dan pasir tanah berjatuhan ke bawah. Noah yang masih fokus dengan tindakannya tiba-tiba menjerit.


"Kyaaaa!!", Noah terjatuh ke dalam.


Seketika Naru menghilangkan dirinya untuk segera menangkap Noah yang sedang terjun kebawah. Ruangan itu sangat dalam hingga Noah dan Naru masih terus terjun dari sana.


Akhirnya mereka sampai di dasar ruangan tersebut. Noah berada aman di pangkuan Naru.


"Bangun tidur, tiba-tiba terjun hingga ke dalam sini bukankah ini sangat memacu adrenalinmu Noah?", canda Naru sambil tertawa.


"Hemph! Turunkan aku", pinta Noah kesal.


"Haa ah.. Kamu akan menemukan apalagi disini?"

__ADS_1


__ADS_2