
"Lidya, darimana saja kamu?", tanya William.
William, Ali dan tiga anggota lain sudah tiba di camp lebih dulu dari pada Lidya dan Noah yang dari pusat kota.
Lidya terharu melihat kepulangan William dan Ali tapi ia lebih menampakkan wajah cueknya supaya tidak terlihat dramatis lagi bagi mereka.
Boni memanggil semuanya untuk mengajak makan dan bercengkerama bersama. Seluruh anggota segera merapat di meja makan begitu pula Noah.
Tidak ada yang bisa menolak hidangan makanan buatan Boni, bahkan hanya dengan aroma masakan saja mereka sudah rela antri untuk mendapatkan tuangan pertama dari sendok masaknya.
"Apa yang telah kalian dapatkan dari pusat kota?", tanya William yang duduk di kursi utama sebagai kapten.
"Itu..", jawab Noah canggung karena baru pertama kali bisa kumpul bersama dengan 10 arkeolog tersebut.
"Tidak usah sungkan. Makanlah apa yang sudah berada dihadapanmu", ucap Ali sembari menikmati makanannya.
"Aku tadi mengajaknya jalan-jalan setelah dia siuman dari tidurnya yang panjang. Syukurlah, itu cukup bisa membuatnya senang", balas Lidya dengan mata tersenyum ke arah Noah.
"Gadis kecil, kamu terlihat lebih ramah daripada priamu itu. Kamu sangat manis dan mudah bergaul dengan kami", sahut Leo.
"Dasar perayu!", sindir Levi.
"Hehe.. Rasanya lampu di basecamp kita jadi semakin terang saja karena ada gadis ini", ucap Leo semakin membesar-besarkan.
"Ava iya? Padahal sudah seterang ini, apakah itu masih kurang terang bagimu Leo? Dasar modus!"
Levi dan Leo semakin menggila untuk saling melempar ejekan dan sindiran dan Leo masih saja membangga-banggakan kiasannya.
Noah tersenyum melihat acara makan bersama 10 arkeolog tersebut, meskipun mereka berbeda dan tidak ada darah saudara tapi ikatan kekeluargaan mereka sangat kompak, hangat dan menyenangkan.
"Lidya, nanti malam aku dan Ali akan kembali ke tempat penelitian. Apa kamu mau ikut?", tanya William.
"Terserah!", jawab Lidya acuh.
Ali tersentak kaget dan sedikit mengernyitkan dahinya. Baginya, tidak biasanya Lidya bersikap seperti itu.
"Aku, sudah selesai makan", ucap Lidya seraya beranjak dan pergi ke balkon basecamp.
Selesai makan, Ali akan menyusulnya untuk memastikan keadaan Lidya yang tidak seperti biasanya.
Putri dari arkeolog tua tersebut sudah merasa bosan dengan apa yang selama ini dia lakukan bersama para arkeolog itu.
Dia memandang kosong ke arah padang pasir yang membentang luas hingga tidak terlihat ujungnya. Sambil menyilakan rambut ke telinga kiri karena angin sembari menggerakkan helaian rambutnya yang lurus sepundak menganggu pandangannya.
__ADS_1
Tatapan kosongnya mensiratkan bahwa dia sedang mengeluh karena dirinya semakin hari semakin tidak dihiraukan. Apalagi sampai rela menangis tersedu-sedu karena kejadian fatamorgana yang mengebohkan para peneliti.
"Rasanya aku menyesal menangisi mereka", keluh kesahnya.
Lidya mulai putus asa dengan perjodohan dirinya dengan Ali, merasa warna kehidupannya semakin lama semakin memudar, meskipun dia mencoba acuh dan menerima keadaan tapi tetap saja masih mengganjal di dalam hati.
"Ada apa denganmu, Lidya?"
"Ali?"
"Kau terlihat berbeda?"
"Entahlah", jawab Lidya singkat.
Lidya pun sejenak ingin mengobrol bersama Ali, Ali pun berkenan menemaninya. Pria jangkung yang nampak cuek dan dingin kepada siapapun tapi dia sangat memperhatikan Lidya dengan sikap tenangnya tersebut.
Mereka berdua memanfaatkan waktu senggangnya untuk saling melepas penat dan mencurahkan segala isi hati yang selama ini tertahan.
"Apa kau ingin aku untuk segera menikahimu, Lidya?", tanya Ali merasa cemas.
"Apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya kepadaku?"
"Aku melihat kekhawatiran di wajahmu. Bukankah kamu memikirkan hal yang sama denganku?"
"Semua pria sama saja. Saat mereka telah fokus pada kesibukannya mereka selalu melupakan segalanya, bahkan orang terkasihpun dilupakan. Sedangkan, wanita tidak akan bisa menyibukkan diri sendiri selain hanya ingin punya kesibukan dengan orang yang dia sayang", lanjut Lidya.
"Selama ini, kita memiliki kesibukan bersama dalam penelitian apakah itu tidak membuatmu senang?"
"Entahlah.."
"Katakan, apa yang kau inginkan sekarang? Jangan selalu menahan diri untuk menerima keadaan di sekitarmu Lidya. Jika kau ingin sesuatu katakan saja. Meskipun itu terdengar menganggu, tapi keinginanmu akan menyadarkan orang yang ternyata begitu bodoh karena telah mengabaikanmu"
"Kau mengerti hingga sejauh itu, Ali?"
"Tentu saja. Siapa yang akan selalu aku lihat selain dirimu?", ucap Ali yakin
"Maafkan aku", ucap Lidya lirih
"Ahahaha.. Kenapa kau tiba-tiba kekanak-kanakan seperti ini sih", canda Ali sambil mengacak lembut poni rambut Lidya.
Memang benar, Lidya sedang ingin disayang dan diperhatikan layaknya seorang gadis pada umumnya. Sedangkan, Ali yang pertama yang akan selalu bisa mengendalikan apa yang Lidya inginkan.
...****************...
__ADS_1
"Saga! Cepatlah, elo harus segera menyembuhkan Haru!", Pinta Sean
Haru terbaring lemas tak bergerak di kasur milik Saga. Dia telah mendapat kekuatan penolakan dari Naru melalui tubuh Noah.
Hipnotis kekuatan mata emasnya ke mata emas Noah seketika putus karena Noah tidak bisa mengendalikannya dan Naru telah menghentikannya.
"Tenanglah, Sean. Dokter harus bisa sabar menangani pasien tau!" Ucap Saga sembari sibuk meracik obat-obatan herbal.
"Gue jadi seperti tabib jika harus berurusan dengan obat-obatan seperti ini. Huff", keluh Saga.
"Jika Gue memiliki sihir, gue akan bisa menyembuhkannya dengan cepat", gumam Sean.
"Chacha, bisa bantu", ucap vampir kecil itu yang sedari tadi berdiam diri tidak ada yang memberinya perhatian.
"Benarkan dokter kecil?", tanya Saga senang.
"Um!!", balas Chacha ikut senang karena merasa sangat dihargai.
"Kalian benar-benar sudah cocok satu sama lain", sindir Sean menyipitkan matanya.
"Elo gak usah cemburu Sean. Kan Elo gak punya hati sama gue", ejek Saga.
"Dasar kau Saga!", Sean langsung memukul kepalanya.
"Toeng!!", banyak bintang yang berputar-putar pun muncul di kepala Saga.
"Hihihi.. Kalian lucu", sahut Chacha.
"Vampir kecil! Tau apa kamu?!", Sean semakin menyipitkan matanya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Chacha.
"Kalo kalian berdua bisa menyembuhkan Haru, aku merasa menjadi orang yang tidak berguna disini", ucap Sean tiba-tiba merasa rendah diri.
"Jangan merasa rendah diri. Elo sudah ada disampingnya saja sudah sangat membantu", canda Saga yang menurut Sean itu sebuah ucapan yang serius.
Sean pun tersipu malu. Dia jadi mengingat kejadian yang dilakukan Haru kepadanya waktu lalu. Wajahnya memerah seperti buah delima.
"Kenapa kau Sean? Tersentuh dengan ucapan gue? Ahahaha", sahut Saga.
"Saga! Jangan suka mempermainkanku!", Sean memukul kepala Saga lagi.
Sedangkan, Chacha bersiap untuk menyanyikan nyanyian tidurnya. Nyanyian tidurnya tidak hanya menidurkan dan menenangkan hati, tapi kekuatannya cukup bisa menyembuhkan dan meringankan beban penderitaan.
Chacha tidak menghiraukan Saga dan Sean yang sedang bertengkar. Dia akan fokus untuk menyembuhkan Haru.
__ADS_1