Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Cincin Ruby Rose


__ADS_3

"Naru.. Apa yang harus aku lakukan?"


Noah meletakkan sebuah lampu kaca otomatis di atas meja. Sebuah lampu yang berhasil dia beli dari pusat kota bersama Lidya.


Lampu berbentuk kelopak bunga mawar dengan bentuk telur di tengahnya. Saat lampu itu diletakkan pada dua genggaman tangan, benda itu akan bercahaya biru bening yang terang.


Noah menyandarkan kepalanya di samping tangan Naru. Menikmati kegalauan dengan hanya terus memandangi Naru yang sedang terpejam.


"Naru, kapan kamu bangun? Aku akan memberikan darahku kalo kamu bangun"


Seketika Naru memberikan reflek kejut di telapak tangannya. Noah pun tersenyum, dia akan melanjutkan ucapannya sendiri untuk mengajak Naru mengobrol.


Bukan merasa bersyukur tapi gadis itu malah terkikik geli melihat reaksi Naru mendengar apapun yang diceritakan Noah kepadanya.


Noah terus bercerita hingga dia merasa mengantuk kemudian tertidur.


Para arkeolog bersiap berangkat ke padang pasir untuk melanjutkan penelitiannya kembali. Menyiapkan beberapa peralatan dan segera naik ke mobil.


"Gimana Lidya, kau jadi ikut kami?"


"Selama ada Ali, aku akan ikut", jawab Lidya yakin dan tersenyum ke arah Ali, tapi Ali mengacuhkannya.


"Ahahaha.. Kau selalu berhasil memenangkan hati putriku, Ali", puji William.


Ali pun menaiki mobil dan Lidya duduk di sampingnya. Sedangkan pria tua dengan gayanya yang sok tangguh merasa sangat percaya diri duduk di belakang.


Matahari senja semakin mempercantik cakrawala. Semburat warna oranye menembus masuk melalui celah-celah dinding dan kaca jendela tempat Noah berada.


Noah terbangun dan berjalan menghampiri pemandangan tersebut. Membuka pintu dan mendapati sebuah balkon mini yang membuatnya bisa menikmati sejenak keindahan langit yang diberikan Tuhan kepada alam.


"Sungguh indah pemandangan langit di waktu senja. Inilah Sunset", ucapnya yang tanpa sadar segaris air mata turun dari mata kanannya.


Indah.


"Dan, janji fajar akan datang", balas Naru yang tiba-tiba sudah berdiri di samping pintu.


"Hah?", seketika hati Noah terkejut dan dia langsung membalikkan badan.


Matanya berkaca-kaca melihat orang yang membalas ucapannya adalah Naru, Noah segera memeluk pria yang selama ini dia rindukan di sepanjang waktu dalam hidupnya.


"Salam, Noah", sapa Naru.


Gadis itu langsung menangis mendengar ucapan Naru yang sudah sangat lama tidak dia dengar. Dia menangis karena benar-benar merindukan pria vampirnya tersebut.


"Kenapa kamu semakin cantik jika menangis, Noah? Jika terus begini, aku akan membiarkanmu menangis sepanjang waktu", ucap Naru usil.


"Hentikan itu, Naru. Apa kamu ingin melihat sunset bersamaku?", ajak Noah sambil mengarahkan telunjuknya ke arah senja berada.

__ADS_1


"Tentu saja", jawab Naru tanpa masalah.


Noah pun tersenyum. Mereka berdua sejenak memandang pemandangan dengan senyuman tulus yang terlukis di bibir dua insan yang saling mencintai.


Tampak senang dan hanyut pada kekagumannya masing-masing.


"Noah, aku ingin menikahimu"


Sebuah pengajuan lamaran pernikahan terucap dibibir seorang vampir penerus klan vampir bermata merah. Dia pun menciptakan sebuah cincin melalui telapak tangannya.


Cincin batu bulan dengan permata indah berbentuk bunga mawar warna merah. Ruby Rose.


"Eh?", Noah pun menoleh.


"Bukan keinginan saja. Tapi, harapan. Sebuah harapan untuk menikahimu. Pasti.", lanjut Naru sambil meraih tangan kanan Noah dan menautkan cincin pemberiannya di jari manisnya.


Siluet cahaya oranye bercampur gelap membuat Noah terpana melihat Naru yang tampak bersinar. Angin kecil menambah romansa. Bagai seorang malaikat.


"Chup!", gadis itu pun menaikkan kakinya kemudian mencium pipi kekasihnya dengan sangat mesra dan sejenak menahannya di sana.


Naru menikmati moment tersebut hingga matahari benar-benar tenggelam dari keberadaannya.


"Aku bersedia, Naru", jawab Noah selesai mencium. Mereka berdua pun saling melempar senyum.


"Haa ah.. Kalo begitu, Bukankah kamu akan memberikan darahmu jika aku sudah bangun, gadis manis?", tanya Naru setelah lega.


"Apa?"


"Kamu akan, melakukan,nya, di sini?", tanya Noah grogi.


"Tentu saja", jawab Naru sambil menautkan jari jemari tangan kirinya ke sela-sela rambut Noah kemudian memberikan sebuah ciuman di bibir calon istrinya tersebut.


Noah menerimanya dengan senang hati. Masih belum selesai, Naru kembali menciumnya dengan posisi yang berbeda.


Kemudian mereka saling memeluk satu sama lain. Noah begitu nyaman berada di dalam pelukan Naru sedangkan Naru tampak tenang melindungi Noah dengan pelukannya.


"Noah, apa aku benar-benar menakutkan bagimu saat aku berubah menjadi vampir?", tanya Naru


"Uumm.. Bukan begitu. Aku hanya membohongi perasaanku saja, bahwa ternyata kamu itu sangat mengagumkan, Naru"


Noah pun mengangkat kepalanya dan menatap yakin ke arah Naru. Membelai pipinya yang selembut sutra. Perlahan mata merah Naru pun terlihat.


"Aku bahagia bisa bertemu denganmu, vampir bermata indah, semerah bunga mawar"


"Cup", Naru pun kembali memberikan kecupan manis di bibir Noah. Noah semakin bahagia mendapat aliran cinta dari Naru.


Mereka duduk supaya lebih leluasa memberikan ciuman satu sama lain hingga benar-benar menyentuh ke dalam relung hati.

__ADS_1


Sensasi bahagia menyelimuti tubuh mereka hingga memberikan kehangatan di udara yang mulai dingin.


Perlahan Naru mengendus lembut leher Noah dan bersiap untuk memberikan gigitan manis di lehernya.


"crap! Crreess", darah mengalir dua garis di leher Noah.


"Ack! Aaa aah. Sakiitt", Noah melenguh.


"Wajahmu selalu cantik. Ekspresi apapun yang kamu berikan selalu membuatku semakin menyukainya", ucap Naru menatap lembut dengan mata merah sayunya.


Naru kembali menggigit dan mulai menghisap perlahan darah yang terus mengalir. Menghisapnya lebih hingga bisa membuat Noah melupakan rasa sakitnya dan berganti menjadi rasa candu.


"Naru.. Ini, enak", ucap Noah merasa ketagihan dengan wajah yang sangat tersipu malu.


"Eh?", Naru menjadi kaget. Dia pun memendekkan kembali taringnya.


"Belum saatnya kamu mengatakan itu, Sayang. Aku menyukainya, tapi katakan itu lagi kalo kita sudah menikah nanti", balas Naru seraya menautkan hidungnya ke hidung Noah.


"Ma-maafkan aku..", ucap Noah semakin membuat Naru gemas padanya.


"Ahahaha.. Gadis nakal", canda Naru.


"Mmoo.. Kamu membuatku jadi merasa bersalah", sahut Noah memalingkan mukanya.


"Manis sekaliii", balas Naru seraya semakin gemas dengan mengacak-acak rambut Noah yang harum mewangi.


"Ehehe.. Naru, hentikan.."


"Aku ingin segera pulang supaya bisa melihatmu kembali memakai baju tidurmu itu lagi", ucap Naru mengeluh kesal.


"Kenapa kamu suka sekali aku memakai baju itu? Apa kamu jangan-jangan juga ingin memakainya?"


"Noah. Kamu tidak memandangku sebagai seorang wanita bukan?"


"Eh? Kamu ternyata seorang wanita, Naru?"


"Bodoh sekali", Naru semakin gemas dan tertawa dengan terus menggelitik kedua pinggang Noah.


"Ahahaha.. Naru hentikan.."


"Aku tidak akan berhenti untuk terus mencintaimu gadisku"


"Bu-bukan itu.. Ahahaha.. Hentikan.."


"Noah, ayo kita pulang"


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2