Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Benda Perak


__ADS_3

"Hooaamm"


"Apa aku tadi malam bermimpi?", gumam Noah sambil menguap bangun tidur.


Dia mengucek matanya dan memandang ke arah jendela. Jendela dalam keadaan tertutup rapat dengan gorden yang meredupkan sinar matahari pagi yang menembus ke arahnya.


"Tadi malam, apa yang sedang aku lakukan?", Noah masih sibuk mengingat ingatannya tadi malam.


Setelah Noah dan Naru melihat pemandangan langit malam, Noah tertidur bersandar di bahu Naru. Setelah itu, dia tidak mengingat apapun lagi.


Naru hanya mengembalikan Noah ke dalam kamarnya dan membaringkannya tidur di kasur. Sedikit senyuman terlukis di bibirnya. Kemudian Naru menghilangkan diri.


"Cling"


"Hoaam.. Hari sudah pagi aja", keluh Noah.


Dia berjalan dan membuka pintu kamar. Terlihat Naru sedang tertidur di luar kamar Noah, bersandar di dinding.


"Na-Naru?"


"Um?, Selamat pagi Noah", ucap Naru.


"Ngapain kamu tidur disitu? Kamu kan punya kamar di kamar tidur bawah"


"Aku tidak suka", balas Naru menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalo gitu", sahut Noah dan berjalan segera menuruni tangga.


Naru menangkap tangan Noah, "Pakaian itu.. Apa hanya aku dan ayahmu saja yang melihatnya?"


"Tentu saja", jawab Noah yakin.


"Syukurlah", Naru merasa lega.


"Ada apa denganmu?", tanya Noah heran.


"Ti-tidak, tidak apa-apa"


"Kalo gitu, apa kamu mau sarapan sama kita?"


"Ba-baiklah.."


Noah berjalan dan Naru mengikutinya dari belakang. Ayah yang sudah terlihat rapi dan tampan sedang menyiapkan makanan di ruang makan.


"Selamat pagi, ayah", sapa Noah.


"Selamat pagi, Noah. Eh?, kenapa dia bersamamu?", tanya Ayah penasaran.


"Gak tau ayah. Dia tadi tiba-tiba tidur di luar kamarku", jawab Noah jujur.


"Ooh.. Kalian terlihat semakin akrab saja"


"Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan secara baik-baik ya anak muda. Maaf, karna aku terlalu sibuk sendiri. Saya adalah Tanaka, ayah Noah"


"Saya adalah Va-"


Belum selesai melanjutkan perkataannya, Noah langsung menginjak kaki Naru. Terlihat Naru menahan kesakitan.


"Dia Naru, ayah", jawab Noah.

__ADS_1


"Oh? Oohh.. Duduklah, kita akan sarapan bersama", ajak ayah dengan ramah.


"Tok tok tok"


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Sepertinya ada tamu yang mengganggu.


"Ayah buka pintu dulu ya Noah. Kalian berdua bisa sarapan duluan", ucap Tanaka kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Kalian biasa sarapan seperti ini?", tanya Naru mengerutkan dahinya.


"Iya. Kamu gak suka?"


Naru mencoba tetap duduk.


"Kalo gak suka jangan dipaksain, akan aku buatkan salad buah untukmu"


"Salad?"


Noah langsung beraksi menyiapkan beberapa buah-buahan dan mangkuk. Mulai mengupasnya dan memotongnya sesuai ukuran yang diinginkan.


"Kamu terlihat sangat pandai memasak Noah", puji Naru.


"Pup puff", air ludah Noah hampir saja keluar.


Padahal, menyalakan kompor saja Noah ketakutan apalagi memasak. Para semut yang menjadi saksinya akan bertepuk tangan jika Noah berani memasak.


Ternyata Delano datang bertamu. Tanaka sangat ramah menyapa kedatangannya. Delano hendak mendiskusikan benda yang baru saja dia temukan di suatu tempat.


Namun, saat mereka berdua mulai mengobrol, Delano merasakan sesuatu yang baru dan aneh berada di dalam rumah Tanaka. Dia penasaran.


"Profesor Tanaka, apa Anda membawa artefak baru ke dalam rumah?"


"Aku merasa ada benda baru masuk di dalam rumah Anda. Anda sudah tau sendiri kan bahwa saya bisa merasakan keberadaan benda-benda itu. Mereka seperti punya nyawa yang harus dilindungi"


"Apakah Noah?", gumam Tanaka.


"Ya sudah Prof, kita bicara lagi di kampus nanti. Saya harap kita bisa mendiskusikan benda yang baru saja saya temukan. Maaf mengganggu sarapan Anda"


"Baiklah kalo begitu. Terima kasih, Delano"


"Sama-sama Profesor"


Tanaka kembali ke dapur namun Noah dan Naru sudah tidak berada di sana. Tanaka pun melanjutkan sarapannya dan bergegas kembali pada kesibukannya.


Noah dan Naru sudah berada di dalam kamar. Tanpa sepengetahuan Naru, Noah membawa beberapa macam biji buah-buahan di dalam saku baju tidurnya. Noah pun mengeluarkannya dan menaruhnya di atas meja.


"Untuk apa kamu membawa biji-biji itu Noah?"


"Theh hee.. Aku Ingin menanamnya"


"Emang bisa ditanam di dalam kamar?"


"Iya gak gitu.. Mau aku keringkan dulu di dekat jendela", balas Noah sambil berjalan ke arah jendela.


Noah dengan yakin langsung membuka gorden jendelanya dan "Srriingg" cahaya matahari pun masuk menembus kaca jendela. Naru pun langsung menghindarinya.


"Ops! Bahaya sekali. Kamu sengaja ya?", kesal Naru.


Noah hanya menjulurkan lidahnya untuk memberikan candaan. Kemudian dia melihat ke arah luar jendela. Dia melihat Delano dari balik kaca jendelanya.

__ADS_1


"Kak Delano?"


"Kemarin, waktu aku dan dia di kantin, mata ini tidak terjadi apa-apa. Tapi sebelum itu, aku sangat yakin telah melihat bayangan hitam di sekitar dirinya"


"Noah?"


Dan benar, mata kanan Noah berubah menjadi emas menyala karena melihat Delano dari kejauhan. Terasa sangat sakit dan panas.


"Ada apa dengan kak Delano?", lirih Noah.


Air mata mengalir dari mata kanannya. Noah tidak kuat menerima reaksi tersebut. Matanya serasa terbakar.


"Aku harus bisa menolongnya, tapi bagaimana caranya?"


"Naru! Bisakah kamu menolongku? Menolong kak Delano", pinta Noah dengan perasaan sedih. Matanya bergetar seolah hendak menangis.


"Delano? Siapa dia?", Naru lemah mendengar pernyataan Noah. Bahkan, Noah semakin menggenggam erat bajunya tanda permintaannya begitu serius.


Naru sedikit kesal melihat ada pria lain hadir di kehidupan Noah. Tapi, dia juga menyadari. Bahwa dirinya pun orang baru yang baru saja mengenalnya.


"Kletek kletek kletek"


"Sret sret sat sreet"


"Naru! Suara apa itu?"


"Ada sesuatu yang bergerak, Noah"


"Tapi apa?"


"Sreet.. Whusss"


Pisau kupu-kupu mengarah ke arah Naru dan mengenai lengan kanannya. "Crass!!" Mengiris kulit lengannya yang putih dan seketika darah muncrat keluar.


"Noah awas!" Naru berusaha melindungi Noah.


"Noah, keluarlah dari kamar. Aku akan menghadapi pisau itu", pinta Naru.


"Tidak Naru, kamu terluka. Aku ingin membantumu"


Pisau pun mengarah ke pintu dan menancap. Tanda dia tidak ingin membiarkan Noah keluar dari kamar.


"Kenapa pisaunya bergerak?", Noah menjadi panik.


"Ini sangat berbahaya", Naru mencoba mengarahkan sihirnya ke pisau tersebut, namun pisau itu mulai bergerak kembali. Ini akan sulit dan mengganggu konsentrasi Naru.


"Apa yang harus kita lakukan Naru?", Noah terlihat sedikit cemas dan ketakutan.


Seketika pisau itu mengarah lagi ke Naru. Naru langsung menghempaskannya dengan sihirnya. Pisau terjatuh tapi masih bisa bergerak.


Ternyata pisau perak itu bereaksi terhadap Naru si Vampir. Benda perak yang membahayakan nyawa Vampir. Perak adalah senjata ampuh yang mampu memusnahkan bangsa vampir.


"Pisau itu hanya mengincarku. Syukurlah, Noah tidak akan terluka. Tapi, aku melihat Noah sangat mengkhawatirkan diriku", kesal Naru.


"Naru, awasss!!"


"Slep, crattt!"


Darah Naru kembali muncrat, mengenai segala sudut ruang kamar Noah.

__ADS_1


"Naaruuu!!"


__ADS_2