
Malam hari, sinar rembulan menerangi kerajaan vampir di padang pasir. Keindahannya menarik perhatian bagi yang melihatnya.
Para penduduk manusia dan penduduk vampir mulai berdatangan untuk memenuhi undangan pernikahan Haru dan Noah.
Kemegahan kerajaan itu juga menarik perhatian para arkeolog dan seniman dari luar negeri. Sebenarnya bukan benar-benar menarik perhatian tapi lebih tepat menghipnotis, sebuah paksaan supaya para manusia hadir dan berada di wilayah kerajaan tersebut.
Raja vampir dan masyarakat vampir di eropa juga hadir semua. Wajah bahagia terlihat di setiap raut wajah mereka.
"Tuan Haru sangat hebat!", sahut seorang wanita vampir.
"Kita akan sembuh dan tidak akan tersiksa lagi!"
"Hore! Hore!!"
"Hidup Tuan Haru! Hidup Tuan Haru!!"
Di sana juga sudah tersedia makanan-makanan dan hidangan lezat untuk keabadian kehidupan mereka. Bukan daging mentah dan darah, melainkan buah dan daging matang yang lezat.
"Rakyatku! Mulailah hidup di negeriku ini, karna kalian akan abadi dan sejahtera di sini!", seru Haru dengan kewibawaannya.
Dia berdiri bersanding dengan Noah dan Saga di sebelah kanannya dan Sean di sebelah kiri Noah.
"Hidup Tuan Haru! Hidup Tuan Haru!!!"
Keseruan dan kemeriahan menyelimuti seluruh gedung kerajaan. Gemerlap dan kesenangan hiburan juga tersedia untuk mereka.
"Tuan, rakyat vampir sepertinya semuanya sudah berada di dalam ruangan ini", bisik Sean.
"Baguslah," jawab Haru.
"Sementara itu, jangan kalian biarkan ada manusia masuk ke dalam sini. Biarkan mereka berada di luar karena aku akan segera memulai upacaranya", lanjutnya.
"Baik, Tuan!", sahut Saga patuh.
"Rakyatku! Siapakah yang akan menjadi Raja selanjutnya setelah ayahku bertahta?", Seru Haru.
"Raja Haru! Raja Haru! Raja Haru!!"
"Kemudian, siapakah yang akan menjadi Ratu selanjutnya setelah ibundaku tiada?", seru Haru lagi.
"Ratu Noah! Ratu Noah! Ratu Noah!!"
Seketika, cahaya semakin menerangi di sekeliling wilayah kerajaan. Cahayanya melesat ke langit dan turun ke bumi seperti butiran-butiran embun. Butiran-butiran embun itu di terima oleh para manusia di luar kerajaan.
Perlahan, butiran-butiran embun itu membuat manusia bercahaya dan mulai mengaburkan pandangan mereka. Rasa sakit mulai menusuk jantung mereka, sehingga teriakan terdengar di mana-mana.
"AAAA!!"
"AAAAAA!!"
"Kamu dengar itu, Saga?", tanya Haru bangga.
__ADS_1
"Iya, Tuan", balas Saga miris.
Jeritan akibat siksaan itu masih terus terdengar. Jika jeritan itu mulai mereda dan hilang, itu berarti Haru akan meraih keberhasilannya. Yaitu, menyerap seluruh kehidupan manusia dan menjadikannya sebagai kehidupan abadi bagi rakyat vampirnya.
"Kau tidak akan berhasil Haru!!", seketika Naru datang bersama ketiga pengikutnya dan seorang penyihir.
"Whuss!!", Huey datang di sampingnya.
"Whuss!!", Raziel datang di samping Huey.
Whuss!!", Louie datang di samping Naru.
"Whugg whugg whugg!" Delano datang di atas mereka sambil mengepakkan sayapnya.
"Terlambat!", bantah Haru.
"Aku akan segera menghentikanmu!", seru Naru.
"Raziel! Huey! Louie!! Buka seluruh pintu kerajaan ini!!", perintah Naru.
"Baik!" Mereka bertiga langsung bertindak mematuhi perintah Naru.
Segala pintu mulai terbuka dan proses pengambilan nyawa itu menjadi terhambat. Hantaran nyawa yang mulai diterima oleh para vampir kembali keluar dari tubuh mereka dan akan kembali lagi ke pemiliknya.
"Kurang aja kau, Naru!!", elak Haru. Haru langsung maju dan mengarahkan serangannya kepada Naru.
Naru langsung bisa menghindarinya. Mata Haru berubah menjadi kuning keemasan dan mata Naru berubah menjadi merah menyala.
"Kau yang seharusnya sadar diri, Naru! Kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan negeri Ibunda!", balas Haru dengan menghindari serangan Naru.
Naru dan Haru sedang bertarung dengan sangat hebat. Inilah saatnya Delano mengambil kesempatan ini. Dengan senyumnya yang menyeringai, dia terbang masuk mencari keberadaan jiwa Noah yang terkurung.
Sean yang melihat itu langsung memerintahkan Saga untuk menjaga Noah, "Saga! Jagalah Noah. Sepertinya, penyihir itu sedang merencakan sesuatu".
"Apa?", Saga terperanjat.
"Aku, akan pergi sekarang"
"Baiklah, Sean!"
Delano terbang dengan sangat cepat sehingga membuat Sean kesulitan dalam mengejarnya. Akhirnya, Delano telah menemukan tempat dimana jiwa Noah berada. Sean segera menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan disini, hah?", seru Sean.
"Sial! Ketahuan gue!!", gerutu Delano serius.
"Aku tidak akan membiarkanmu membawa jiwa Nona Noah!", Ucap Sean dengan segera menyerang Delano.
"Ups! Jangan terburu-buru Nona cantik", balas Delano dengan mudah menghindari serangan Sean.
Sean terus menyerang Delano sehingga menyibukkan Delano untuk kembali membalas serangan itu.
__ADS_1
"Jika seperti ini terus, gue tidak bisa membawa jiwa itu pergi", batin Delano yang masih bertarung dengan Sean.
"Terima kasih, anakku", Ucap Seorang penyihir berkekuatan sangat besar tiba-tiba telah datang dan berdiri di samping peti mati berisikan jiwa Noah.
"Ayah!", sambut Delano dengan senang.
"Apa? Ayah?!", Sean kaget dengan kedatangan Penyihir itu. Saat fokusnya terbagi, Delano dengan cepat langsung menyerang Sean dan membuat Sean jatuh dan terpental ke dinding.
"uhukk!", Sean batuk mengeluarkan darah.
Delano berjaga-jaga dan menghadang Sean supaya Sean tidak kembali menyerang. Sang Penyihir Kuat itu segera membuka peti mati dan mengambil Noah dengan mudah.
"Jangan! Uhuk uhuk! Jangan, ambil jiwa Nona Noah!", Sean akhirnya tumbang dan pingsan.
"Kita pergi, anakku!", ajak sang penyihir dengan senyum jahatnya. Seketika mereka menghilangkan diri dari tempat mereka berada.
Noah hanya bisa diam melihat pertarungan dan kejadian di depan matanya. Kepanikan benar-benar tidak membuatnya bergeming sedikit pun.
Tiba-tiba, Noah memejamkan matanya dan jatuh terduduk. Melihat itu, Saga langsung berteriak karena panik. "Nona Noah! Noah! Ada apa denganmu? Bangun, Noah! Noah!!", teriak Saga sambil menepuk kedua pundaknya.
Melihat kepanikan Saga, Haru dan Naru berhenti bertarung. Mereka langsung menghampiri keberadaan Saga bersama Noah.
"Noah!", Naru seketika pengambil alih tubuh Noah dan menyandarkannya di pelukannya.
"Ada apa, Saga?" tanya Haru.
"Ada yang telah terjadi di tempat jiwa Noah berada. Sean sedang menghentikan Delano di sana", jawab Saga.
"Delano?", sahut Naru.
"Terlambat! Sean tidak berhasil menghentikannya", sahut Haru merasa menyesal dan penuh kesal.
"Apa yang sedang terjadi, Haru? Katakan!", kata Naru dengan wajah yang sangat marah.
"Apa?", Saga langsung lemas.
"Penyihir itu, telah membawa Jiwa Noah pergi dari tempatnya berada. Dan jika ini dibiarkan, Noah akan segera mati", balas Haru.
"Keterlaluan!"
"Kita harus segera mencari keberadaan jiwa Noah, Naru", ucap Haru merasa menyesal.
Naru langsung menggendong Noah. Haru mulai berlari menuju peti mati itu berada dan Naru mengikutinya. Saga dan ketiga pengikut Naru mengikutinya dari belakang.
"Sean!", panggil Saga langsung menghampiri Sean yang telah pingsan tak berdaya.
"Disinikah tempat Jiwa Noah berada?", tanya Naru.
"Iya. Tapi, aku tidak tahu kemana jiwa Noah itu dibawa", jawab Haru.
"Ayah tau dimana keberadaan mereka", sahut Sang Raja tiba-tiba datang bersama sang peramal, ayah Noah sendiri. Tanaka.
__ADS_1
"Raja!"