Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Sepuluh Arkeolog


__ADS_3

"Ayah.. Ayah.."


Di dalam mimpi, Naru mendengar Noah sedang memanggil-manggil ayahnya.


Mulut Naru pun bergerak dan berucap, "Noah.."


"Ayah..", panggilan itu kembali terdengar. Beberapa kali, beberapa kali. Semakin terdengar, semakin tidak tenang bagi Naru.


Seketika Naru pun terperanjat bangun dan memanggil Noah dengan sangat khawatir, "Noah!".


Naru bangun disaat orang-orang masih tertidur. Mendapati Noah masih tertidur di ranjang sebelahnya, akhirnya dia bisa sejenak melepas nafas lega.


Lidya dan enam anggota arkeolog lainnya masih terlelap tidur di ranjang masing-masing. Suasananya terlihat sangat berbeda bagi Naru.


Naru juga heran dengan keadaan dirinya sendiri, badan dan lengannya penuh dengan perban putih. Dia pun keluar ruangan dan melihat seorang pria paruh baya sedang fokus sendirian di meja penelitian. Rambutnya sudah memutih dengan jidat yang terlihat begitu lebar ke atas.


"Apakah Anda yang telah menolong kami?" tanya Naru.


Pria itu pun menoleh. Kaca mata bulat kecil yang menempel di hidungnya terlihat lucu. Tapi, dia pria paruh baya adalah seorang pria cerdas yang memiliki ilmu tinggi.


"Oh? Anda sudah bangun anak muda?"


"Em..", Naru hanya mengelus leher belakangnya karena sungkan. Pria bernama William itu pun memperkenalkan dirinya, bahwa dia adalah kapten dari 10 anggota para arkeolog yang meneliti daerah tersebut.


Ali yang berjaga di luar kemudian masuk ke dalam camp karena mendengar obrolan Naru dan William. Ali adalah tangan kanan William sekaligus calon suami bagi Lidya, putri William.


"Bagaimana keadaanmu bocah?", tanya Ali angkuh.


"Bocah?", batin Naru heran.


"Kalo kasur itu sudah tidak kau pakai, berarti aku sudah bisa memakainya untuk tidur sekarang", ucap Ali.


William pun tertawa melihat tingkah Ali, "Jangan sok bergaya kau Ali. Ramahlah dan santailah kepada siapapun", ejek William.


"Cih!", Ali pun memalingkan mukanya.


Dia pun berjalan menuju ranjangnya dengan mata yang sudah sangat mengantuk dan lelah. Seharian dan semalaman berjaga di depan dengan hanya duduk bersandar membuat tulang-tulangnya serasa kaku.


"Ayah.. Ayah..", Noah mengigau.


Naru yang mendengar itu langsung kembali menemui Noah yang terbaring di ranjang milik Leo. Diikuti William yang merasa ikut terpanggil juga.


Noah mengigau kemudian kembali tertidur lagi. Raut wajahnya terlihat sangat sayu dan pasi. Matanya terlihat bersedih dan kelelahan.


Naru mendekat dan menggenggam tangan Noah dengan kedua tangannya. Dia sangat prihatin melihat keadaan Noah yang terbaring lemah dan tak berdaya.


"Sebentar lagi, dia pasti bangun. Jadi, kau tidak usah khawatir bocah", sindir Ali dengan acuhnya.


"Kukira, putriku sedang memanggilku. Ternyata, dia masih terlelap di sana", ucap William memandang Lidya yang masih tertidur di ranjang.


"Anda juga seorang ayah?" tanya Naru.


"Sudah sangat lama aku tidak mendengar panggilan itu, jadi saat gadis ini memanggil ayahnya, rasanya aku sedang bernostalgia.. Haha..", jawab William.


"Dia sepertinya memimpikan ayahnya", ucap Naru memandang serius ke wajah Noah.


"Kemana ayahnya pergi?"


"Ke negeriku..", balas Naru singkat.


"Apa dia juga seorang Peneliti sepertiku?"

__ADS_1


"Iya"


"Aku juga seorang peneliti, seorang arkeolog, penelitian sangat menyibukkanku hingga aku juga melupakan segalanya. Ku harap, ayahnya bisa segera kembali", ucap William.


Naru hanya terdiam.


"Sudahlah. Temanilah dia, karena dia membutuhkan orang yang paling dia sayang saat dia kembali membuka matanya", William pun kembali ke tempat kerjanya.


"Noah..", lirih Naru.


Diiringi lagu dari Makino Yui & Irino Miyu insert song Tsubasa Reservoir Chronicle dengan judul lagu Yume no Tsubasa.


...Konna ni mo tooku e futari wa kite shimatte...


...(Kita berdua telah datang sampai ke tempat yang jauh seperti ini)...


...Ano koro no...


...(Saat itu)...


...Osanai kimi no hohoemi ni mou kaerenai ne...


...(Sudah tidak dapat kembali lagi kepada senyuman beliamu) ...


...Kimi ga warau sekai ga suki de...


...(Aku suka pada dunia yang kau tersenyum)...


...Soba ni itai soredake...


...(Aku hanya ingin berada di sampingmu)...


...Wasurekaketa itami wo mune ni...


...Time goes by...


...(Waktu berlalu)...


...Toki no nagare wa...


...(Aliran waktu)...


...Futari wo kaette yuku keredo...


...(Mengubah kita berdua tapi)...


...Nakushita mono mo yume miru mono mo...


...(Hal yang hilang dari kita juga hal yang kita impikan)...


...Sono te o totte omoidasu yo...


...(Raih tangan itu dan ingatlah)...


...Itsumo kimi no soba de...


...(Aku akan selalu berada di sampingmu)...


Naru pun memberikan kehangatan dengan sihirnya. Perlahan, cahaya muncul di sekujur tubuh Noah. Meringankan segala beban yang masih menempel di diri Noah.


Noah mulai bisa menunjukkan senyuman di bibirnya, dan matanya sudah terlihat cukup tenang untuk dipandang. Wajahnya yang pucat perlahan kembali ayu nan rupawan.

__ADS_1


"Noah, jangan khawatir. Aku akan selalu berada di sampingmu, menjagamu, dan melindungimu dengan seluruh kekuatanku", gumam Naru.


Ali tersenyum dengan ucapan Naru yang samar-samar terdengar di telinganya, "Bocah itu, sangat percaya diri mencintai gadisnya", batinnya.


Beberapa jam lagi, hari akan menjelang pagi. Para anggota masih terlelap tidur, Naru pun menyandarkan kepalanya di samping Noah dan menutup matanya untuk sejenak tidur kembali.


William masih tenang dengan penelitiannya. Dia sedikit terusik dengan panggilan ayah dari Noah. Selama ini, dia selalu sibuk dengan penelitian dan pekerjaannya. Kehangatan keluarga sudah tidak pernah dia rasakan.


Usianya yang sudah cukup tua yaitu 50 tahun berjalan, menurutnya akan sia-sia jika dia ingin mengembalikan lagi kehangatan rumah tangganya.


Istrinya sudah lama menceraikannya, sehingga tidak ada harapan lagi bagi William. Dia hanya bisa terus membesarkan putrinya dan membuat putrinya bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.


"Aku sudah menduga, bahwa Kapten pasti tidak tidur demi melanjutkan penelitian", sindir Lidya melipat tangannya sambil bersandar di dinding.


"Kau sangat mengenal diriku, Lidya", balas William tersenyum.


"Ha ah.. Orang tua sepertimu memang membutuhkan seseorang untuk selalu mengingatkanmu. Usiamu akan semakin pendek jika kau tidak memperhatikan jam istirahatmu Kapten"


"Lidya, bisakah kau sekali memanggilku ayah?"


"Apa?"


"Ahaha.. Tidak apa-apa, hanya keinginan kecil. Tidak usah dihiraukan. Lupakan saja"


"Lidya pun menundukkan kepalanya, dia tersenyum dan sedikit memberikan perhatian kepadanya.


"Ayah", ucap Lidya.


Hati William langsung tersentuh, tubuhnya menjadi sedikit bergetar dengan air mata yang mulai mengintip dari pupil matanya.


"Apa kau.. ingin menemaniku untuk jalan-jalan sebentar?", ajak William sendu.


"Tumben?", sinis Lidya dengan sedikit memahami.


"Jalan pagi bukankah akan menyehatkan badan?", ucap William.


"Baiklah. Aku akan ambil mantel dulu"


"Aku akan menunggumu di luar", pungkas William.


William dan Lidya keluar basecamp dan melakukan perjalanan bersama. Beberapa anggota juga mulai bangun dari tidurnya, kecuali Ali dan Naru, juga Noah.


"Boni, ini tugasmu memasak bukan?", ucap seorang pria yang tidur di samping Boni, sedangkan Boni masih saja terus menguap.


"Iya-iya aku tau..", balas Boni.


"Ayo ayo pada bangun!!", ucap Robert yang bertubuh paling kekar dan terlihat paling sangar.


"Jangan berisik!", balas Ali langsung melempar bantalnya ke arah Robert.


"Sudah sudah ayo Robert kita keluar", ucap Levi sambil mendorong Robert keluar sebelum keributan muncul diantara Robert dan Ali.


Para anggota yang bernama Robert, Boni, Levi, Davin, Maro dan Kenzo mulai keluar ruangan. Mereka mulai membagi tugas di pagi hari sesuai jadwal masing-masing.


Maro dan Kenzo mulai pergi ke pasar untuk membeli beberapa barang kebutuhan. Robert sedang melakukan gym untuk kebugaran badannya. Levi dan Davin sedang mengulas hasil penelitian.


Ali masih nyenyak tertidur, sedangkah Naru sudah mulai membuka matanya. Silauan cahaya pagi yang tembus dari jendela sedikit menganggu ketenangannya.


"Noah, dia masih belum bangun?", gumam Naru.


"Syukurlah, suhu tubuhnya sudah kembali normal. Tapi, kapan dia mau membuka matanya?", lanjutnya sedikit rindu.

__ADS_1


Naru berdiri dan memandangi seluruh ruangan, bangunan yang tidak terlihat seperti rumah. Sangat berbeda sekali dengan rumah milik Noah.


Naru keluar dan melihat Boni sedang sibuk di dapur.


__ADS_2