
Haru dan Sean sedang berada di rumah Saga.
"Saga! Tolong, pergilah ke rumah, dan temani Chacha! Kasihan dia sendirian", perintah Haru.
"Tapi, Tuan?"
"Cepatlah!"
"Jezz.. Baiklah.."
Dengan berat hati Saga meninggalkan tempat sembari melirik Sean yang terpejam sejenak dengan duduk melipat tangannya dan menyilangkan kakinya.
Saga pun pergi dan menyalakan mobil untuk segera menuju rumah Noah.
Walaupun Sean terlihat tenang dengan mata terpejamnya, tapi ujung bibirnya terus saja bergerak dengan kepala tertuliskan kata "Kesal" atas perbuatan Delano kepadanya.
Haru juga galau dan dihantui rasa dilema, Gejolak hatinya sudah tidak bisa tertahankan lagi.
"Sean!", gertak Haru sambil memukul meja.
"Hah! Apa?"
"Apa kau pernah meminum darah manusia?"
"Apa? It- ituu..", Seketika Sean memalingkan matanya. Sekilas, Dia sejenak membayangkan dirinya pernah meminum darah Saga.
"Jadi, kau pun pernah meminum darah manusia? Apakah dia Saga? Kenapa dia tidak mati?"
"Eh? Saga itu kan Dokter, dia bisa mengobati dirinya sendiri, eheh.. Ehe he he he", Sean terkekeh canggung.
"Oo.. Begitu ya"
"Haru, kenapa kau menanyakan itu?"
Haru pun berjalan mendekati Sean yang masih duduk di sofa. Tatapan seriusnya membuat Sean sedikit ketakutan.
Haru mencoba menaruh kedua tangannya di antara kepala Sean yang bersandar di sofa, namun seketika Sean langsung menggulingkan badannya dan berniat menghindar.
“Haru? Apa yang ini kau lakukan?”
Sean berdiri dan hendak melarikan diri, tapi Haru langsung memegang pergelangan tangan Sean, mendorongnya hingga terhantuk ke dinding.
“Sean, berikan darahmu untukku”, pinta Haru dengan tatapan kosong
“Kau gila ya?! Apa untungnya aku memberikan darahku untukmu? Kita kan sama-sama vampir”
“Aku ingin merasakan seperti apa rasanya darah”
"Kalo begitu, panggil saja Saga untuk kembali"
"Tidak. Aku ingin merasakan darah seorang wanita. Apakah itu seenak darah milik Noah?"
"Apa?"
"Seaann.."
Haru! Hentikan perbuatanmu”
__ADS_1
“Jika kau melawan, aku akan membakarmu”
“Apa?”
Haru mengubah matanya menjadi emas. Selama ini Haru tidak pernah menampakkan gigi vampirnya, tapi kali ini dia akan melakukannya.
“Sean, kumohon.. izinkan aku meminum darahmu. Aku sedang lemah sekarang, tidakkah kau ingin menolongku?”
“Bahkan dia sampai memohon dan merendahkan diri dihadapanku. "Haru, ada apa denganmu?”, batin Sean.
Haru mulai memegang erat kedua pundak Sean dan mengarahkan penciumannya di leher Sean. Sean bergidik namun terasa terbuai, nafasnya mulai terdengar hingga semakin menggoda bagi Haru.
“Kamu harum Noah”
“A-Apa?”
“Sean, jika kau tidak bisa melihatku sebagai Haru, maka lihatlah aku sebagai Naru bagimu. Bukankah kau menyukainya?”
“Naruuu..”
Mereka berdua pun terhanyut kepada lamunannya, khayalan tak nyata namun membuatnya semakin terbuai. Mereka saling memandang satu sama lain, mencurahkan segenap perasaannya yang tak tertahankan.
Perasaan Haru semakin menderai, membuatkan semakin yakin untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan kepada Sean. Gigi taringnya yang tak pernah terlihat, kini muncul dengan sangat kuat dan runcing.
Perlahan Haru mencoba menjilat leher Sean, Sean semakin melonjak. Haru sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi. Seketika "clap", "crasshh", giginya menancap begitu dalam di leher Sean.
"Ha-Haruuuu"
Sean terpejam merasakan enak dan sakit menjadi satu. Perasaannya menjadi gila dan candu. Sedikit dia menggigit bibirnya untuk menahan nikmat yang dirasa atas perlakuan Haru.
Haru mengulangi lagi gigitannya, sangat kuat dan sedikit merobek daging leher Sean. Terlihat sangat mengerikan dan menyakitkan. Sean terus menahan kesakitannya.
"Darah ini, semakin membuatku mabuk", batin Haru.
"Puaskan dirimu Haru", pinta Sean yakin.
Sean terduduk lemas dan menyerahkan seluruh dirinya kepada Haru. Dia membiarkan Haru menikmati dirinya hingga benar-benar bisa memuaskannya.
Kental dan merah pekat. Haru menyalurkan haus darahnya dengan terus menghisap dan menjilati darah di leher Sean.
Matanya yang ramah kini menjadi sayu dengan tatapan tanpa jiwa nan kosong. Benar-benar tidak nyaman untuk dilihat.
Sean tidak berdaya, dirinya serasa akan kehilangan nyawa. Tapi, gigitan sesama Vampir tidak akan menghilangkan nyawa satu sama lain. Kesakitan itu akan segera pulih jika sudah dihentikan.
"Haru.. Kiss me!", desakh Sean
"Dasar gadis licik", goda Haru
Haru pun mengarahkan mulutnya yang penuh darah ke mulut Sean. So very gothic and creepy.
Sejenak, Haru melupakan tentang dirinya yang penuh keramahan dan ketenangan. Dia memang memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang.
Haru menyadari akan kepribadian dirinya tersebut, banyak topeng palsu yang muncul di mukanya tapi hanya dirinyalah yang bisa melihatnya.
Tak seorang pun yang menganggap Haru orang yang buruk, semua orang mempercayainya tapi Haru lah yang menipu mereka dan dirinya sendiri. Haru kesulitan menghadapi kepribadiannya tersebut.
"Sean, jika kau mau, kau juga boleh menggigit leherku dan menghisap darahku", ucap Haru.
__ADS_1
"Haru.."
"Aku sangat hancur sekarang. Rasanya, apa yang telah kudapatkan tidak bisa membuatku merasa lega"
"Haru.. Jangan menjadi orang yang lemah"
"Kau benar Sean. Setelah ini, akan segera kujalankan rencana dan niatku yang sesungguhnya"
"Aku, akan selalu ada untukmu", Sean tersenyum lembut dihadapan Haru. Membuat Haru kembali menciumnya kembali.
...****************...
Sementara itu, Saga di rumah Noah. Dia menemani Chacha dan berniat mengajaknya bermain.
"Chacha, biasanya apa yang kamu lakukan jam segini bersama Noah?"
"Mama Nowa?"
"Hm.. Iya, Mama Nowa", Balas Saga dengan matanya yang segaris dengan bibir manyun.
"Tidur", jawab Chacha singkat.
"Astaga.. Jam segini? Tidur?"
Chacha mengangguk.
"Chacha, tidakkah kita berdua ini memiliki kecocokan? Kau gadis vampir yang pandai menidurkan, aku juga pandai menidurkan", cengir Saga.
"Hm?", respon singkat Chacha.
"Gadis kecil, aku ini seorang Dokter, apapun bisa aku lakukan. Aku juga tidak kalah dari mereka-mereka para vampir. He he he he", Saga terus terkekeh.
"Hm"
"Jezz.. Semua vampir itu memang dingin. Enggak cowok, enggak cewek.. Mereka benar-benar miskin emosi", gerutu Saga.
"Chacha, maukah Papa Saga membacakan buku cerita untukmu?"
"Saga, Papa? Tidak. Chacha, gak suka!"
"Gakpapa kan.. Aku juga ingin dipanggil Papa olehmu gadis manis", goda Saga
"Papa?"
"Aahh.. Panggilan itu langsung membuatku candu"
"Papa Saga?"
"Iidiih.. Unyu.. Baiklah, Chacha.. Dimana Papa bisa cari buku cerita untukmu?"
Chacha pun mengajak Saja menuju ruang tengah. Ruang tengah yang biasa Tanaka gunakan untuk menonton televisi dan bersantai. Kini, rumah itu benar-benar sunyi.
Di sekeliling sofa yang melingkar terdapat rak yang penuh dengan buku-buku. Noah tidak pernah memperkenalkannya kepada Chacha. Sehingga, kini saatnya Saga yang akan memperkenalkan buku kepada Chacha.
"Sini Chacha, Papa akan pangku kamu di sofa ini"
"Baiklah", Chacha tersenyum.
__ADS_1
"Vampir kecil ini bisa menerimaku dengan baik", batin Saga merasa bangga.