
“Ayahanda, aku akan membawa Noah besok ke padang pasir. Aku akan melakukannya saat matahari berada tepat di pusat langit mengarah pada simbol Sang Ibunda berada”
“Jika apa yang kamu lakukan akan berhasil, ayah akan menyetujuinya. Bagaimana Peramalku?”, ucap Sang Raja kepada Haru kemudian bertanya kepada peramalnya.
“Seperti itulah takdirnya”, balas Tanaka singkat meski masih merasakan keganjilan di benak hatinya.
“Jangan khawatir, meskipun Jiwa Noah terpisah tapi dia masih bisa hidup, hanya saja-”, belum selesai Haru melanjutkan ucapannya, Tanaka langsung menyela.
“Aku mengerti. Anda tidak perlu melanjutkannya, Tuan Haru”, balasnya langsung tapi dengan hati yang sangat berat.
Ketenangan dan keramahan Haru tidak menghadirkan suasana yang bersahabat dan menyenangkan. Sehingga membuat Tanaka cangguh dan tidak bebas mengobrol dengannya.
Berbeda dengan Naru, Tanaka begitu mudah membuat candaan kepadanya sehingga kedekatan mereka berdua langsung terjalin dengan sangat mudah.
Apa yang Haru lakukan kepada Noah sangat menentang norma kemanusiaan. Jiwa Noah yang terpisah akan mengakibatkan diri Noah hidup dalam ingatan dan perasaan yang kosong. Dia akan menjadi manusia hidup tanpa emosi.
Jika Haru berhasil memisahkan jiwanya, dia akan mengadakan pesta untuk menarik para tamu hadir ke kerajaan vampir padang pasir yang telah bangkit kembali. Kehadiran kehidupan tersebut akan menyempurnakan keberadaannya secara maksimal.
Haru telah selesai mengutarakan segala rencana dan keputusannya kepada Sang Raja dan Peramal. Keputusannya yang bulat tidak ada penentangan sedikitpun dari mereka. Jika Naru ada, Naru pasti langsung menentang keputusan Haru tersebut.
Keheningan malam begitu mencekam suasana hati. Tinggal menunggu waktu beberapa jam lagi, takdir yang tidak diketahui benar atau salah akan segera tampak di depan mata.
Sang Raja termenung menatap gelapnya langit dengan perasaan tak berdayanya. Tanaka terdiam menundukkan kepala dengan perasaan pasrahnya. Haru pergi meninggalkan tempat.
Di luar sana, di luar bangunan kastil. Para makhluk malam tak henti-hentinya berharap menunggu kedatangan takdir tersebut. Vampir yang telah hilang kesadaran dan berubah menjadi zombie hanya terus meraung-raung menghadirkan kengerian.
Vampir-vampir lain yang masih hidup pun merasa merana karena harus terus menahan diri untuk hidup tanpa darah dan daging. Ada juga vampir yang sudah saling membunuh satu sama lain, mempertahankan hak hidupnya dan mencari kekuasaan.
“Aauuu..” suara auman serigala yang saling bersahutan.
“kuaak.. kuaak, kuaak”, suara burung gagak yang beterbangan.
Hutan belantara itu sudah dipenuhi dengan bangkai dan mayat yang menghadirkan aroma yang menyayat hati. Kondisi kehidupan vampir di eropa benar-benar mengenaskan.
Tiga vampir yang telah kenyang memakan daging buruannya sudah merasakan kedamaian di dalam hati. Padahal, kondisi hewan buruan sudah sangat menipis dan hampir punah. Beruntung sekali mereka masih bisa merasakan nikmatnya makan.
__ADS_1
Huey termenung di atas genteng, Raziel tertidur lelap sedangkan Louei masih sibuk membersihkan sela-sela giginya dengan ranting pohon yang runcing. Di sisi itu, Naru sendiri terkulai tak berdaya akibat serangan dari Delano.
Naru bermimpi. Ibunda Ratu hadir di dalam mimpinya. Sejenak menyapa dan mulai mengajak Naru berbincang.
“Naru, berkorbanlah. Berkorbanlah demi kekasihmu dan Haru”, ucap beliau.
“Berkorban? Untuk Noah dan untuk Haru?”
“Seperti apa, Ibunda?”, Lanjut Naru setelah mempertanyakannya kepada Ibunda.
“Ikutilah suara hatimu yang paling dalam, maka kamu akan menemukan pengorbanan apa yang pantas kamu berikan”
“Suara hati? Ibunda, aku masih belum mengerti”
“Naru. Kamu benar, bahwa Haru telah menyalahi takdir, tapi dia tidak mengerti. Tuntunlah dia, dan buat dia mengerti tapi dengan jalan perdamaian, bukan dengan jalan permusuhan”
“Ibunda, aku sedang tidak berdaya sekarang”
“Matamu itu, memiliki kekuatan dari bulan merah tapi keindahannya dari bunga mawar. Pergilah ke kebun yang dipenuhi dengan bunga mawar merah, maka kamu akan bisa segera pulih kembali”, pungkasnya.
“Bunga mawar?”
“A-ada apa Ibunda Ratu?”
“Jangan sering menghisap darah gadis itu hanya sebagai alasan untuk memulihkan tenagamu ya Naru. Ibunda bisa melihat kecuranganmu, bahwa kamu melakukannya kepada Noah hanya ingin bermesraan dengannya saja”, canda Ratu.
A-Aku tidak bermaksud seperti itu”, Naru tersipu dan gagap tingkah.
“Hmm hmm hm.. putraku yang satu ini sudah tumbuh menjadi seorang pria pecinta ternyata. Sehingga Ibundanya pun jadi dia abaikan”, keluh Ratu dengan air mata buaya.
“Aku tidak bermaksud mengabaikan Ibunda Ratu”
“Jangan khawatir, Ibu merestui kalian berdua. Gadis itu benar-benar telah memberimu energi positif yah. Jadi, jagalah dia dan cintai dia untuk selamanya”
“Ibunda..”
__ADS_1
Perlahan Naru mulai membuka mata, kehadiran mimpinya pun hilang. Dia terdiam memandangi langit-langit atap dengan keadaan tubuh yang masih terbaring lemas di atas ranjang kasur.
Tubuhnya menggigil kedinginan dan sedikit menahan rasa sakit di luka dadanya. Tanpa kekuatan sihirnya, luka yang dia dapat tidak akan pulih dengan cepat. Sedangkan, keadaan dirinya pun sudah sangat lemah dan kelelahan.
Naru membiarkan ramuan tersebut bereaksi terhadap lukanya dan bersabar menunggu kesembuhan secara normal. Dia menurunkan kakinya dari kasur dan ingin keluar melihat keadaan di luar sana.
Kakinya pun tidak bisa berdiri dengan kokoh, sehingga dia mencari beberapa sandaran untuk membantunya berjalan ke luar rumah, sebuah markas yang disebut oleh ketiga vampir tersebut.
“Kehidupan vampir di sini memang sudah sangat buruk. Sebenarnya, aku ingin mereka tetap tinggal di sini. Tapi, itu sudah tidak memungkinkan. Aku ingin menyelamatkan kehidupan mereka, tapi tidak dengan membangkitkan kembali kerajaan Ibunda”
“Ternyata, tidak semudah itu membangkitkan kembali kerajaan Ibunda. Setelah melewati beberapa waktu, perjalanan dan masa, seperti inilah lika-liku yang harus kami lewati”
“Ibunda, maafkan aku. Aku masih belum bisa mengerti”
Huey pun turun dari atap rumah, “Anda, sudah bangun Tuan?”
“Jangan memanggilku Tuan”, balas Naru gampang.
“Aku menghormati Anda. Sepatutnya saya memanggil Anda sebagai Tuan”
“Sudahlah. Panggil saja aku Naru. Aku sama seperti kalian. Dan aku tidak sedang menginginkan tahta ataupun kekuasaan”
Louie yang masih nangkring di pohon pun ikut menyahut, “Kau punya hati yang legawa ternyata. Baiklah Naru, kita akan menjadi pengikutmu kalo begitu”
“Kalian tahu, di mana aku bisa mendapatkan kebun bunga mawar merah?”
“Kebun bunga? Bukankah Anda telah kesana bersama kekasih Anda?”, tanya Huey.
“Kami belum kesana”
“Jarang sekali kami melihat kebun bunga di sini, Naru. Bagi kami para vampir, bunga hanyalah sebuah ilusi. Hanya rumor kosong yang tidak menarik perhatian”, balas Louie yang tidak mempercayai keberadaan kebun bunga tersebut.
“Benarkah?”, Naru kaget.
“Apa yang Noah lihat berarti itu hanya sebuah bayangan yang tidak nyata?”, batin Naru.
__ADS_1
“Jika kita mencarinya, pasti kita bisa menemukannya”, balas Huey memberi solusi.
“Betul. Setidaknya kita bisa memiliki kesibukan sekarang”, timpal Louie tertawa terbahak-bahak.