
Pagi itu, William dan Lidya sedang berjalan-jalan santai di sekitar pemukiman warga. Warga sudah sangat mengenal mereka, sehingga saat mereka saling bertemu, mereka dengan sangat mudah saling menyapa.
“Kau sangat aneh hari ini, Kapten?”, tanya Lidya heran.
“Aneh kenapa?”
“Kenapa kau tiba-tiba memintaku untuk memanggilmu ayah?”
Wllliam pun terdiam sejenak, kemudian berucap, “Gadis tadi..”
“Um? Gadis tadi?”
“Gadis tadi, mengigau dan mencari-cari ayahnya. Aku jadi merasa tersentuh”
“Ooh.. jadi, karna itu?”
“Umm.. Tidak semudah itu menjawab “iya” Lidya.. Sebab, panggilan yang sudah sangat lama diinginkan untuk didengar rasanya benar-benar sangat dirindukan. Sekarang, aku menyadari.. bahwa aku ternyata masihlah seorang ayah bagi seorang putri yang berada di sampingku sekarang ini. Maafkan ayah ya Lidya.. Maaf atas segalanya"
“Ayah..”, balas Lidya tersenyum
Sementara itu, Leo membawa kembali Dokter ke Camp untuk memeriksa keadaan Noah yang sudah semalaman tertidur, sedangkan Naru sudah sadarkan diri dan bangun di pagi hari.
“Dokter, bagaimana keadaan adik kecil saya dokter?”, tanya Leo.
“Plak!”, seketika Levi langsung menampar punggungnya, sontak membuat Leo terkejut dan bingung sendiri.
“Elo kenapa?”, tanya Leo heran.
“Sejak kapan Elo menganggap gadis ini sebagai adikmu? Hah?”, tanya Levi
“Sejak gue menolongnya lah”, balas Leo bangga
“Seharusnya, gadis ini sudah bisa bangun dan membuka matanya, mengingat tubuhnya sudah stabil. Tapi, hatinya masih menahannya untuk tidak bangun di waktu sekarang”, ucap Dokter mengarahkan pandangan kepada para pria yang menjaga keadaan Noah.
“Lalu, apa yang harus kami lakukan Dokter?”, tanya Leo lagi.
“Elo kok sangat perhatian Leo”, sanggah Levi sambil melirik tajam ke arah Naru.
“Tidak ada”, balas dokter singkat
“Eh? Tidak ada?”, Leo bingung
“Kalo begitu, Bisakah Anda mengantarkan saya kembali ke Rumah sakit?”, pinta Dokter dengan cepat.
“Apa?”, Leo semakin bingung
“Hanya orang yang tepat yang bisa membangunkannya”, pungkas Dokter sambil melihat ke arah Naru kemudian berjalan keluar ruangan.
“Dokter, maksudnya gimana?”, tanya Leo masih penasaran
“Dokter?!”
Leo pun dengan terpaksa mengantarkan Dokter kembali ke Rumah Sakit. Levi dan Davin yang masih berada di tempat merasa sungkan dan canggung karena tatapan tajam dari Naru. Namun, seketika Robert mengagetkan Naru dengan mengalungkan lengannya di lehernya.
“Anak muda! Jangan hanya melamun terus! Ayo, kita ngegym aja!”, pinta Robert dengan semangat.
__ADS_1
“Aku sedang tidak bersemangat”, balas Naru tidak bertenaga.
“Jangan galau gitu donk, kasihan gadis kau kalo lihat pacarnya lemah dan tidak bersemangat gitu”, ucap Robert merajuk
“A-Apa?”, Naru langsung tersipu malu mendengar sindirian dari Robert. Semakin memerah karena Levi dan Davin melirik ke arahnya.
“Ka-kalian sebenarnya mau apa?!”, bentak Naru sedikit grogi
“Hahaha.. Ayo tarik dia anak-anak buahku!!”, pinta Robert kepada Levi dan Davin. Levi dan Davin pun menarik Naru keluar ruangan.
“Jangan menjadi pria yang lemah. Ayo, kumpulkan kembali tenagamu!!”, perintah Robert.
...****************...
Haru mendatangi gedung departemen arkeologi bersama Sean, Saga dan juga Chacha. Setelah dia meluapkan keinginan untuk kepuasannya kepada Sean, sekarang perasaannya sudah cukup lega dan tekanan batinnya sedikit menghilang.
Kekecewaannya harus dia buang karena perasaan cintanya tidak bisa dia sampaikan kepada Noah. Kini, dia akan menunjukkan kekuatan sebenarnya yang dia miliki.
“Haru, apa yang akan kau lakukan disini?”, tanya Sean penasaran.
“Tunggu dan lihatlah sendiri”, balas Haru tersenyum.
Haru mendekat ke replika lantai dan berkonsentrasi untuk merasakan energi yang berada di sekitarnya. Matanya perlahan berubah menjadi emas dan tatapannya menjadi lebih tajam dan serius.
Dia mengangkat tubuhnya hingga berhasil berdiri melayang. Angin kecil pun muncul dari arah bawah kakinya. Semakin besar hingga memenuhi seluruh lingkaran lantai.
Setelah angin sempurna memenuhi lantai tersebut, semburat cahaya emas melingkar dengan kecepatan kilat langsung melaju ke arah langit.
"Sruing.. Sruing.."
Kekuatan energinya semakin besar hingga mampu mendorong Sean, Chacha dan Saga tergerak mundur dari tempatnya.
"Chacha, jangan takut. Peluk Papa Saga", pinta Saga sambil melindungi kepala Chacha dengan lengannya.
"Papa kau bilang?!", Sean tidak terima.
"Kami berdua, sudah memiliki ikatan kekeluargaan", balas Saga bangga.
"Elo suka sekali mencari kesempatan ya!", gerutu Sean sambil terus menahan dirinya.
Kekuatan Haru semakin besar hingga bisa dirasakan Raja Vampir bermata merah di Eropa.
"Apa yang sedang dilakukan Haru sekarang Peramal?" tanya Sang Raja.
"Kekuatannya telah memuncak, tapi belum sempurna. Dia akan menciptakan fatamorgana negeri vampir di gurun pasir tempat Noah dan Naru berada", balas Peramal.
"Untuk apa dia melakukannya?"
"Haru akan menarik perhatian Noah supaya dia segera bisa menyempurnakan kekuatan bersama Haru, sehingga kerajaan vampir di gurun pasir benar-benar bangkit dan utuh kembali"
"Hmm..", Raja sejenak mengelus dagunya.
"Tapi Raja.. Fatamorgana ini sangat membahayakan?"
"Apa?"
__ADS_1
"Fatamorgana ini akan menarik perhatian orang yang melihatnya. Dan saat mereka berhasil mendekatinya maka seketika mereka tidak akan bisa kembali lagi. Mereka akan terjebak hidup di dalamnya"
"Kekuatan Haru benar-benar sangat hebat", balas Raja.
"Ratuku.. Inikah takdir yang kau inginkan? Kedua putra kita saling melawan satu sama lain dan untuk mengembalikan kerajaanmu ini haruskah seperti ini jalannya?", keluh Raja.
"Raja..", Peramal pun ikut bersedih.
Dan, di negeri padang pasir, fatamorgana kerajaan vampir perlahan mulai terlihat. Sangat besar hingga terlihat jelas bagi mata yang melihatnya.
Naru seketika langsung merasakan energi tersebut, "Kerajaan Ibunda telah bangkit kembali. Tapi..", keluhnya sedikit curiga.
Bayangan kerajaan tersebut masih terlihat palsu karena terdapat siluet aurora di atas langitnya.
"Meskipun itu palsu, apakah itu akan membahayakan manusia yang melihatnya?", gumam Naru.
"Kapten! Kapten!!", teriak Levi memanggil William yang sedang fokus dengan penelitiannya di meja kerjanya.
"Ada apa Levi?"
"Kapten, lihatlah keluar!", pinta Levi.
Seketika William terperanjak bangun karena ikut merasakan sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di padang pasir sana.
"Ali! Siapkan mobil!", perintah kapten.
"Baik, kapten", balas Ali tegas.
"Tunggu dulu kapten!", pinta Lidya.
"Aku sudah tidak bisa menunggunya lebih lama lagi, Lidya"
"Tapi, bukankah itu hanya sebuah fatamorgana?"
"Ayah tahu itu.. Dengan mendekatkan diri lebih dekat lagi maka rasa ingin tahu ini akan semakin jelas, bukan? Kamu sudah tau itu kan Lidya?"
"Ayah.."
"Percayalah.. Setelah ayah dan Ali kesana, kau akan terkejut dengan berita yang akan kami bawa pulang"
William mulai naik ke dalam mobil Jeep dan Ali bersiap menjalankan laju mobil.
"Ayah.. Ayah!! Jangan pergi!" Pinta Lidya tegas.
"Ayah.. Ayaaaahh!!", teriak Lidya semakin kencang.
Laju mobil jeep semakin kencang menuju keberadaan bayangan kerajaan vampir tersebut.
Lidya menangis tersedu-sedu karena William tidak mematuhi perintahnya. Leo memapahnya masuk ke dalam camp kembali.
"Ayahh.. Ayah..", lirih Lidya.
Noah yang masih tertidur mulai tergugah karena mendengar panggilan "ayah" dari seseorang. Noah kemudian ikut memanggil dengan perasaan sedih.
"Ayah.. Ayah!!"
__ADS_1