Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Jam Pasir


__ADS_3

Dua gadis saling menyebut ayahnya untuk kembali. Lidya dan Noah.


Lidya duduk di tempat kerja William, melipat tangannya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang saat ayahnya memaksakan diri untuk segera pergi menuju fatamorgana tersebut.


Sedangkan Noah yang terbaring, mulutnya juga terus bergerak menyebut-nyebut ayahnya dengan mata yang masih terpejam.


Naru menggenggam tangan Noah untuk menenangkannya dengan sihir kehangatan. Perlahan, sihir tersebut bereaksi dan membuat kekasihnya tersebut bisa kembali tenang.


"Noah, bukalah matamu. Aku mohon", pinta Naru.


Perlahan-lahan mata kekasihnya pun terbuka, sedikit samar kemudian dia berkedip. Berkedip lagi hingga semakin jelas dan bisa tersenyum melihat Naru sedang menundukkan kepalanya saat mengenggam tangannya.


"Naru?"


"Noah.."


Seketika Naru terbelalak kaget mendengar panggilan dari kekasihnya itu. Air matanya sedikit berlinang namun dia menahannya supaya tidak menetes.


Rasa haru dan syukur menyelimuti hatinya, Naru benar-benar bahagia bisa mendengar panggilan itu lagi dari orang yang paling dia sayangi setelah ibunda ratu.


Naru pun membalasnya dengan menatap lembut dan tersenyum, "syukurlah, kamu telah bangun"


"Kita, ada di mana?", tanya Noah


"Kita sedang berada jauh dari rumah, Noah"


"Jauh? Umm.. Bisakah kamu membantuku untuk bangun?", pinta Noah sambil menggerakkan tubuhnya untuk bisa bangun sendiri.


"Baiklah.."


Naru mengangkat punggung Noah supaya dia bisa duduk di ranjang kasur. Naru pun juga menata beberapa bantal di belakangnya supaya Noah bisa bersandar sejenak.


Naru.. Aku mendengar ada yang sedang menangis"


"Aku juga mendengarnya kok"


"Eh? Jadi.. ini bukan diriku saja?"


"Bukan", balas Naru sambil menggelengkan kepala.


"Naru.."


Sejenak..


Sejenak..


Tiba-tiba..


"Sruiingg.. sruing.."


"deg.. Deg.."


"Suuingg.."


Reaksi mata emas Noah seakan menembak jantungnya seperti suara dentuman. Suara yang kemudian memberikan sensasi di sekujur tubuhnya. Merinding.


"Nggiiiing.."


Noah langsung merasakan pusing dadakan di dahi bagian kanan, mata kanannya bereaksi lebih kuat. Noah sedikit kesakitan hingga dia terus memeganginya.


"Noah, ada apa?"


"Aaa!!!", Noah mencoba untuk menahannya.


Semakin sakit saat mata kirinya ikut bereaksi, sedikit demi sedikit mata kirinya pun berubah menjadi emas sempurna. Noah memejamkan matanya karena tidak kuat menerima reaksi tersebut.

__ADS_1


Noah! Ada apa?", tanya Naru sambil menggenggam erat pundak kekasihnya karena semakin khawatir kemudian menatapnya lebih lekat.


Tapi, gadis yang telah memiliki dua mata emas sempurna itu menundukkan kepalanya dan ingin menyembunyikannya dari Naru.


"Naru, sakit.."


"Tunjukkan mata itu"


"Tidak, Naru. Ini sangat sakit. Mataku seperti terbakar"


"Tenangkan dirimu, aku akan membantumu untuk mengendalikan mata itu"


"Um.."


"Noah, tahanlah sebentar"


"Ack! Aaa!!! Sakiiit"


Mata vampir merah Naru mulai terlihat menyala lagi. Dia sedang memaksakan diri untuk menggunakan sihirnya lagi demi Noah. Dia sedikit terengah-engah saat mentransfer sihir pengendalinya untuknya.


"Aku.. Sudah, tidak, kuat lagi", batin vampir itu.


Perlahan-lahan reaksi mata emas itu menghilang dan mengembalikan mata Noah ke semula. Hitam.


Anting jam pasir Noah pun ikut bergetar menerima energi dari Naru. Bergetar dan bercahaya biru terang. Jam itu tiba-tiba bergerak dan membalikkan posisinya sehingga pasir biru kembali berada di atas.


Seketika, fatamorgana kerajaan vampir padang pasir perlahan runtuh ke bawah tanah dan aurora menyapu bersih bayangan tersebut.


"Uhuk! Craatt"


Haru yang berada di gedung arkeologi pun batuk dan muncrat darah dari mulutnya. Dia menjatuhkan dirinya dan terduduk lemas sambil memegangi dadanya.


"Uhuk.. Ahack hackk!"


Vampir bermata emas itu pun terjatuh lemas dan pingsan.


Kembali lagi pada Noah dan Naru. Noah mulai bisa tenang namun Naru telah kehabisan tenaganya. Naru menjatuhkan dagunya tepat di pundak Noah.


Matanya terpejam dan tubuhnya melemah, membuat Noah tidak mampu menahan berat badan Naru sendiri.


"Brugg"


Noah menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan Naru terkulai lemah di atasnya. Naru pun pingsan.


"Naru?"


"Naru!!", panggil Noah dengan menepuk-nepuk punggung Naru.


"Seseorang.. Tolong aku..", pinta Noah semakin khawatir melihat keadaan Naru.


"Seseorang.. Tolong.."


"Ada apa Nona?"


Leo dan Boni langsung datang. Lidya yang terdiam di tempat kerja William tersentak kaget dengan panggilan itu.


"Tolong bantu dia..", ucap Noah cemas.


"Boni, ayo bantu angkat pria ini", ajak Leo.


Leo dan Boni mengangkat tubuh Naru dan membaringkan di ranjang kasur milik Ali. Kasur yang berada dekat dengan tempat Noah berada.


"Pria ini.."


"Ada apa?", tanya Noah takut.

__ADS_1


"Pria ini.."


"Jantungnya.."


"Nona! Pria ini jantungnya.."


"Hus!!", Boni langsung menampar pundak Leo.


"Pria ini hanya pingsan", jawab Leo.


"Syu, syukurlaaah", sahut Noah terharu namun dia malah menangis. Menangis terus dan menangis keras seperti seorang anak kecil.


Rasanya, perasaan sedih, kesal, takut yang tidak tertahankan akhirnya keluar dan terluapkan.


"Huaa huaa.. Huuaaa hiks.."


"Eeehh.. Adik kecil, jangan menangis", pinta Leo jadi merasa bersalah.


"Hiks.. Hikkss.. Huaaa huaa"


"Ayaaah.. Ayaaah.."


Noah semakin menangis tersedu-sedu dan sesenggukan. Lidya yang tergugah hatinya berjalan menghampiri Noah.


Dia mendekati Noah dan memeluknya erat penuh kasih sayang. Lidya yang tampak lebih dewasa dari Noah, dia seperti menjadi seorang kakak yang mencoba menenangkan adiknya yang sedang menangis.


"Tidak apa-apa menangis.. Menangislah.. Karna kamu tidak sendirian disini", ucap Lidya.


"Huaa huaa.. Huaa", Noah masih menangis.


"Eeehhh", Leo dan Boni jadi canggung sendiri.


...****************...


William dan Ali sudah hampir sampai di tempat fatamorgana tersebut tapi bayangan itu telah menghilang sebelum mereka berhasil mencapainya.


Ali pun langsung menghentikan laju mobilnya dan merasa sangat kesal. William hanya bisa menarik nafas kecewa.


"Sial! Bayangan itu cepat sekali hilangnya!!"


"Tempat ini benar-benar ajaib", William masih saja mengulangi perkataannya tersebut.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang kapten?" tanya Ali.


"Haa ah.. Kekuatan fatamorgana tersebut memang sangat besar, mungkin pengendalinya tidak kuat mengendalikannya", keluh William.


"Kita tetap dekati tempat itu", lanjutnya.


Dua mobil jeep pun ternyata sedari tadi juga mengikuti mereka berdua dari belakang, yaitu Robert, Levi dan Davin.


"Ali, kenapa kau tidak mempedulikan calon istrimu itu?", ejek Robert.


"Tau apa kau tentang urusan pribadi gue?", timpal Ali.


"Eeii.. Santai bro..", balas Robert.


"Dia menangis karena mendapati dua pria yang paling dia sayang mengacuhkan dirinya begitu saja", lanjutnya.


"Kau!", Ali langsung menarik kerah baju Robert hingga membuat Robert sedikit tercekik.


"Kau ini benar-benar pria temperamental Ali", ucap Robert.


"Hentikan tingkahmu itu Ali!", bentak kapten.


"Robert! Jaga mulutmu itu. Jangan suka memprovokasi keadaan"

__ADS_1


"Emang salah gue apa?", Robert bingung sendiri.


Levi dan Davin hanya bisa melempar senyum sungkan nan canggung karena tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2