
Noah, Chacha dan Haru sarapan bertiga. Haru bisa menyesuaikan diri untuk makan apa saja seperti manusia. Sedangkan Chacha hanya menyukai buah-buahan.
"Kalian benar-benar berbeda. Haru, gimana kamu bisa makan apa saja sedangkan Naru hanya bisa makan buah-buahan?"
"Kamu benar Noah, kami sebenarnya hanya bisa makan buah-buahan", balas Haru membenarkan.
"Lalu, kenapa kamu bisa suka makan apa saja?"
"Itu karna aku sudah lama hidup bersama manusia, jadi aku sudah terbiasa dengan makanan manusia"
"Jadi kamu sudah lama hidup bersama manusia? Kasihan sekali Naru, dia mati-matian mencari dirimu lho Haru.."
"Ceritanya panjang, Noah.."
"Panjang? Pendekkan donk", gerutu Noah. Seketika Haru langsung tertawa sopan.
"Mama, Chacha udah selesai"
"Baiklah Chacha.. Kamu bisa kembali lagi ke kamar. Mama akan bereskan dapur dulu kalo gitu"
"Iya.."
Haru berniat membantu Noah untuk membereskan dapur tapi Noah menolak. Melihat Haru yang baik dan perhatian, membuat Noah menjadi sungkan sendiri jika Haru akan membantunya lagi.
Tentang Haru yang sudah lama hidup di dunia manusia, dia akan menceritakan segalanya kepada Noah. Selama ini, Haru hidup di dalam tubuh Delano. Sudah cukup lama sejak dia menjadi mahasiswa baru dan kenal dengan Tanaka, ayahnya Noah.
"Jadi ternyata, selama ini Kak Delano adalah kamu Haru?"
"Iya"
"Kamu sangat pandai menyamar ya, hihihi", canda Noah.
"Maafkan aku ya Noah. Aku jadi seperti penipu bagimu. Tapi, aku juga ingin mengucapkan sesuatu"
"Se-sesuatu? A-Apa itu?"
"Aku mau mengucapkan terima kasih kepadamu. Dari mimpimu akhirnya aku bisa menemukan kembali dimana jasadku berada"
"Ooh.."
Noah tidak mempermasalahkan hal itu. Segala apa yang sudah berlalu, ia biarkan berlalu saja selama tidak ada penyesalan disana. Bahkan ketika Haru meminta maaf lagi, Noah juga langsung memaafkannya.
Dia bersyukur bahwa Haru masih hidup, ini akan menjadi berita gembira untuk Naru jika Naru sudah kembali pulang kepada Noah.
Haru menyesali perbuatannya karena telah menyakiti Noah untuk menemukan petunjuk di dalam mimpi. Sekarang, permasalahan mereka berdua pun selesai membuat Haru merasa lega dan lebih terbuka.
"Noah, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Silahkan Haru"
"Sebenarnya, gadis kecil itu siapa?" tanya Haru sungkan namun hanya pura-pura.
__ADS_1
"Dia Chacha. Gadis itu seperti kalian, yaitu seorang vampir. Namun, dia adalah vampir setengah manusia. Kata Naru sih gitu"
"Lalu, kenapa kalian bisa menjadi ayah dan ibu bagi dirinya?"
"Itu.. Hehe.. Gimana ya?"
Noah menceritakan bahwa Chacha bisa memanggil dirinya dan Naru sebagai Mama Papanya karena mereka berhasil menolongnya keluar dari ruang bawah tanah di gedung arkeologi.
"Sebenarnya, agak gimana gitu. Tapi aku jadi suka aja bisa dipanggil Mama baginya. Naru pun juga tidak mempermasalahkannya", ucap Noah tersipu malu.
"Kalian benar-benar tidak keberatan ya dipanggil gitu?"
"Iya"
"Tapi, aku kan jadi ikut dipanggil Papa baginya"
"Umm.."
"Kamu cari sendiri aja deh Haru jawabannya", pungkas Noah langsung beranjak pergi.
"Eh, tunggu Noah. Mau kemana?"
"Aku mau ke kebun, menyiram tanaman"
"Boleh aku ikut?"
"Te-tentu.."
...****************...
"Sean, apa elo gak bosen makan daging mulu?"
"Enggak lah.. Semakin gue makan daging, semakin membuatku ketagihan. Pokoknya gue harus makan daging terus", balas Sean sambil mengunyah beef steaknya.
"Elo gak merasa kasihan kepadaku apa? Menghabiskan uang itu memang gampang, tapi kalo uang gue sampe habis, gue harus gimana? Cari uang itu enggak gampang Sean"
"Iya iya, gue akan membantumu cari uang"
"Nah dari dulu kek. Kenapa baru sekarang.."
"Tunggu tunggu..", Sean mulai curiga
"Apa?"
"Kita ini sudah lama bersama lho Saga, dan sejak dulu elo tidak mempermasalahkan kalo gue sering minta daging. Tapi sekarang, kenapa elo jadi sering mengomel? Apa elo sudah mulai bosan dengan gue?"
"Eh?", Saga terperanjat kaget dan bingung sendiri mencari alasan. Alasan dia menghentikan Sean makan daging memang bukan karena akan menghabiskan uangnya, tapi dia ingin Sean bisa mengubah pola makannya.
Delano pun sekilas terlihat melewati mereka berdua. Dia baru saja memesan makanan dan menuju tempat duduk di belakang mereka. Delano tidak menyadarinya.
"Saga, dia orang yang kemarin kan?"
__ADS_1
"Bener, tapi sepertinya dia tidak menyadari kita"
"Huff! Dasar Penyihir Spam"
"Apa itu Penyihir Spam?"
"Penyihir samvah", cengir Sean
Saga dan Sean jadi terkikik sendiri atas ejekan mereka sendiri.
Sean dengan berani menyapa Delano. Bertemu kembali dengan dua orang yang telah menghajarnya kemarin, membuat Delano menciutkan nyalinya. Wibawanya turun apalagi nyawa Haru sudah tidak ada di tubuhnya.
"Nga-ngapain kalian di sini?"
"Ye, kita duluan kali yang sudah disini", ketus Sean
Delano pun langsung beranjak dan mencari tempat duduk lain. Dia tidak memiliki niat untuk berurusan dengan Saga dan Sean.
"Benar-benar penakut", ejek Sean
"Sebenarnya, tujuan dia apa sih sampe ngganggu itu vampir kecil?"
"Dia itu suka sekali menghisap nyawa, Saga.."
"Nyawa? Mudah sekali baginya.."
"Mudahlah.. Tapi, hanya nyawa-nyawa sampah dan lemah saja yang bisa dia hisap. Karna vampir kecil itu masih kecil mungkin baginya mudah saja untuk menghisapnya. Atau, mungkin ada tujuan lain yang dia sembunyikan"
"Memangnya, selain dia bisa menghisap nyawa dia bisa apa lagi?"
"Dia bisa menghisap kekuatan. Kalo seperti ini, dia seperti sangat berbahaya. Tapi, hal itu mungkin akan mustahil baginya, karena jika kekuatannya tidak sebanding atau tidak lebih besar dari kekuatan lain maka dia akan terkena imbasnya sendiri"
"Elo pandai sekali Sean"
"Siapa dulu donk. Makanya, jangan sering ngomelin gue. Kalo elo butuh informasi siapa yang akan kasih tau elo kalo bukan gue"
"Iya iya"
...****************...
Noah masih sibuk merawat tanamannya. Dia ingin merawat tanamannya hingga bisa tumbuh subur dan tinggi. Dia terpikat akan cerita Naru bahwa di negerinya ada kebun yang sangat indah, sekaligus ingatan cerita itu mengingatkannya pada mimpi yang baru saja dia dapat.
"Mimpi itu.. Maksudnya apa ya? Aku khawatir jika mimpiku nanti memberikan suatu petunjuk yang misterius lagi", keluh Noah.
Haru terdiam memperhatikan Noah. Dia sudah sejak awal menyukai Noah, tapi dia juga bisa merasakan bahwa Noah hanya menganggapnya sebagai teman atau orang yang baik baginya.
Mengungkapkan perasaan kepada orang yang tidak tepat seperti mengucapkan selamat tinggal. Setelah mendengar kata penolakan maka rasanya seperti sudah tidak akan ada pertemuan lagi.
"Noah, aku sudah menyukaimu sejak awal apakah kamu mengerti itu?", batin Haru.
"Tapi, apa karna kita telah nyaman menikmati waktu bersama sehingga perasaan ini jadi terabaikan?"
__ADS_1
"Tidak. Itu karna Noah sendiri memang tidak memiliki perasaan apapun terhadapku. Perasaan yang dia punya hanya perasaan nyaman dan senang karena mengenal diriku. Bukan perasaan cinta"
"Haruskah aku membuatnya menyukaiku?"