Love Story Twin Vampire

Love Story Twin Vampire
Gurun Pasir


__ADS_3

Noah dan Naru telah sampai di gurun pasir.


Sebuah hamparan padang pasir merah yang sangat luas. Lantaran pemandangannya yang merah dan hampir tak ada tanaman, negeri ini disebut sebagai Sun of Earth.


Negeri yang dulunya berdiri kerajaan Vampir mata merah bersama Ratu Sang Dewi Matahari. Namun kini hanya tinggal hamparan pasir saja.


Naru berada tepat di tengah lantai bulat berukiran simbol dewi matahari sambil memangku Noah yang telah pingsan. Ukurannya sangat besar, yaitu tiga kali lebih besar dari ukuran replika di gedung arkeologi.


Replika lantai di gedung arkeologi ternyata merupakan jalan penghubung menuju lantai kerajaan Vampir di gurun pasir. Replika tersebut sengaja dibuat oleh seorang penyihir dimensi pada waktu kerajaan itu masih ada.


Para arkeolog terdahulu menggunakannya sebagai jalur pintas keluar masuk dari dunia manusia ke negeri vampir. Namun, sekarang lantai yang disebut sebagai pintu masuk dimensi itu sudah tidak bisa dipakai lagi, karena tiadanya Dewi Matahari dan hancurnya kerajaan.


Saat Noah terpilih mendapatkan kekuatan dari Sang Dewi, Noah bisa membuka pintu tersebut. Dia dan Naru akhirnya terjatuh ke dalam ruang hampa di bawah pintu itu dan seketika sampai di gurun pasir.


“Kita telah sampai di kerajaan vampir gurun pasir milik Ibunda, Noah”, ucap Naru.


Perbedaan waktu yang sangat panjang, membuat Noah dan Naru berada di gurun pasir sore hari. Matahari sore masih menyengat untuk mereka berdua.


Tidak ada seorang pun di sana, hanya ada padang pasir yang sangat luas sejauh mata memandang. Langit menjulang seperti sebuah payung besar dengan gradasi warna yang sangat indah, biru putih semburat oranye. 


Matahari yang sudah condong di barat masih membiaskan cahaya terangnya ke penjuru padang pasir. Menyilaukan, dan sangat menyengat bagi Naru.


“Aku bisa terbakar di sini. Adakah orang di sini?!!”, teriak Naru.


Naru memeluk mesra kepala Noah dengan penuh kasih sayang tapi hatinya sangat sedih. Punggungnya mulai mengeluarkan asap dan matahari semakin membakar tubuhnya. Dia sedang tidak berdaya sekarang.


Dari arah yang sangat jauh, mulai terlihat beberapa rombongan mobil jeep mengarah ke tempat Naru berada. Mereka adalah rombongan arkeolog dan peneliti dari daerah tersebut.


Lima jeep berhenti melingkari lantai yang berukiran simbol Dewi Matahari tersebut. Mereka semua turun dan berjalan mendekati Naru yang sedang memangku Noah.


“Anak muda, apa yang membuatmu tiba-tiba berada disini?”, tanya Pemimpin.


Naru pun mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah sangat berantakan dan kelelahan. Dia hanya bisa mengucapkan, “Tolong, kami..”


“Brug!” Seketika Naru ambruk di tempat.


“Cepat-cepat!! Tolong mereka berdua!!”, perintah Kapten. Sang pemimpin para arkeolog. Seorang Kapten bernama William.


Beberapa anggota mulai mengangkat tubuh Noah dan Naru, mereka akan membawanya ke dalam mobil dan melaju kembali ke Camp dekat pemukiman warga.

__ADS_1


“Kapten! Gadis ini tubuhnya panas sekali”, ucap salah satu anggota.


“Kalo begitu, bergegaslah lebih cepat dan segera panggilkan dokter!”, balas Kapten


“Baik, Kapten!”, sahut mereka.


“Hmm.. Apa mereka jatuh dari langit bersama cahaya tadi?”, gumam Kapten mengernyitkan dahi.


Para arkeolog tersebut tergugah karena mereka juga melihat cahaya yang tiba-tiba muncul mengarah di tempat tersebut. Mereka mendatanginya untuk bisa menelitinya lebih dalam.


“Benar-benar peninggalan yang sangat luar biasa”


Kapten peneliti dan beberapa anggotanya terpana melihat artefak lantai yang sangat besar dengan ukiran simbol dewi matahari di sana. Mereka tidak berhenti untuk mengambil gambar dan mendekatinya dengan kaca pembesarnya.


Sementara itu, mobil Jeep yang membawa Noah dan Naru telah sampai di Camp. Mereka membaringkan Noah dan Naru di ranjang yang terpisah namun berdampingan.


“Mereka ini sebenarnya siapa? Keadaan mereka berdua sangat aneh”, gumam salah satu anggota bernama Leo.


“Gadis ini sedang terserang demam tinggi”, sahut pria yang lebih tampan dari Leo, dia adalah Ali.


“Panggilkan dokter untuk mereka”, perintah Ali


"Dari mana gadis ini mendapat pasir gurun langka berwarna biru?", Ali memperhatikan gadis itu, dan melihat antingnya.


Kemudian, dia berganti memperhatikan keadaan Naru. Dia sedikit tercengang melihat keadaan kulit Naru yang merah dan terbakar.


“Anak muda ini, apa dia punya kelainan kulit?”, gumamnya.


Ali pun berjalan keluar untuk menunggu kedatangan Leo yang membawa Dokter untuk Noah dan Naru. Duduk bersantai dengan memakai kaca mata hitamnya. Menyilangkan kaki sambil menyeruput kopi di sore hari.


“Ali, ini Dokternya”


Hari mulai petang, langit sudah berwarna kelabu. Noah dipasangkan infus dan monitor detak jantung. Keadaan Noah sangat kritis, suhu panas tubuhnya terus meningkat juga mengalami dehidrasi akut sehingga membuat tubuhnya sangat lemah dan detak jantungnya tak menentu.


Dokter telah selesai melakukan tindakan untuk Noah, dia beralih melakukan pengobatan untuk Naru. Naru sendiri mengalami kelelahan dan beberapa kulit yang merah terbakar. Dokter pun membalut sekujur tubuh Naru yang terbakar menggunakan obat dan perban.


“Gi-gimana keadaan mereka berdua Dokter?”, tanya Leo.


“Mereka berdua sudah saya tangani dan beri obat. Biarkan mereka istirahat dan bangun sendiri. Kalau keadaan mereka terlihat memburuk, kamu harus secepatnya memanggil saya kembali”, ucap Dokter

__ADS_1


“Baik Dokter”, balas Leo


Ali dan Leo begitu setia menemani. Dokter menyampaikan keadaan pasien dan memberikan beberapa pesan untuk Ali dan Leo supaya mereka bisa merawat pasien dengan baik. Setelah itu, Leo mengantarkan Dokter kembali ke rumah sakit.


“Jezz!! Merepotkan sekali”, keluh Ali sambil menyilakan rambut kirinya.


Ali hanya terdiam, dia tidak ingin ikut repot mengurus Noah dan Naru. Ali membiarkannya supaya Leo saja yang merawatnya. Ali keluar dan menuju mobil jeepnya. Menyalakan mesin dan berniat menyusul para rombongan peneliti di gurun pasir sana.


...****************...


“Tempat ini memang sungguh ajaib, banyak keajaiban muncul dari tempat ini”, ucap William.


“Tempat ini, sebenarnya apa Kapten? Kita sering sekali kesini karena banyak artefak-artefak peninggalan yang kita bisa temukan disini, tapi setelah dirasa cukup kita sudah tidak menemukannya kembali. Saat kita kembali esoknya lagi, benda-benda artefak itu ada lagi. Selalu membuatku bingung”, sahut Billy.


“Karena tempat ini tempat yang sangat ajaib”, balas Kapten singkat.


“Anda selalu saja berkata seperti itu. Saya lelah selalu mengulangi pertanyaan saya ini Kapten”, gerutu Billy.


“Ahahaha.. Kalo begitu, jangan pernah kau ulangi lagi pertanyaan itu Billy”


“Tapi, saya belum menemukan jawabannya Kapten! Kapten!!”, belum selesai membalas ucapan kapten, Billy sudah ditinggalkan saja. Kapten berpindah ke tempat lain.


Ali datang ke tempat tersebut dan disambut oleh seorang wanita arkeolog cantik bernama Lidya. Ali pun melemparkan sebuah tas ke arahnya.


“Lidya, tasmu ketinggalan di mobilku”, ucap Ali dingin


“Pantas saja aku kesulitan mencarinya. Terima kasih Ali”, balas Lidya 


“Sudah sampai mana perkembangan penelitian ini?”, tanya Ali


“Kapten masih fokus menelitinya. Mungkin hingga esok pagi dia pun tidak akan selesai menelitinya. Ahahaha..”, sindir Lidya.


“Kau kan putrinya, kenapa kau tidak pernah memperlakukannya sebagai seorang ayah, Lidya?”


“Bodoh! Dia tidak terlihat sebagai seorang ayah bagiku. Karena dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri”, balas Lidya melipat tangannya dan memandang kosong ke arah Kapten WIlliam.


“Kau juga tidak terlihat sebagai putrinya”, balas Ali santai.


“Ah! Terserah!”, Lidya pun berjalan meninggalkan Ali dan ingin menyibukkan diri dengan penelitiannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2