
Naru sudah membawa Noah pulang bersama Chacha ke rumah, dia menidurkan Noah kembali di kasurnya. Dia memberikan sinar penyembuhan untuk Noah dan menghilangkan darah yang membekas di kaki dan mulutnya.
"Papa?"
"Chacha, apa kau ingin Mamamu bangun kembali?"
"Um!", Chacha mengangguk pasti.
"Kalo begitu, tutuplah kedua matamu rapat-rapat"
Chacha pun langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, meskipun sedikit melirik. Naru akan memberikan ciuman di bibir Noah. Seketika Noah terperanjat bangun membuka matanya.
"A-apa yang kamu lakukan?!"
"Seperti inikah reaksimu saat aku membangunkan tidurmu?"
"Mmoo..", Noah memberontak hebat karena perlakuan Naru kepadanya. Naru hanya menyeringai karena merasa senang masih bisa mencium Noah.
"Mama Nowa", Chacha langsung melompat dan memeluk Noah yang sudah bangun dari tidurnya.
Mendengar Chacha memanggil dan memeluk dirinya, Noah pun menjadi tenang dan senang. Noah kemudian memperhatikan penampilan Chacha sejenak.
Pakaian vampir berwarna hitam dan putih membuat Noah mengkritiknya. Dia tidak suka melihat gadis memakai pakaian yang seperti itu, apalagi anak kecil.
Noah pun berencana memperlihatkan pakaian masa kecilnya kepada Chacha, dia akan mengizinkan Chacha untuk memakai pakaiannya tersebut.
Noah mengeluarkan pakaian-pakaian tersebut dan menatanya di kasur. Sungguh pakaian anak-anak yang lucu dan cantik. Dress mori summer berwarna vintage kesukaan Noah.
Sebelum Noah meminta Chacha untuk memakainya, dia akan mengajak Chacha mandi bersama terlebih dahulu.
Naru merasa cemburu melihat Noah memperlakukan Chacha dengan baik dan lemah lembut, bahkan tidak segan untuk mengajaknya ikut mandi bersamanya.
"Kenapa hanya Chacha? Apa kamu juga tidak mengajakku mandi bersama, Noah?"
"Apa?"
"Mandi bersama mungkin akan terasa sangat menyenangkan, bukan?", ucap Naru tanpa rasa malu.
"Umm.. Selama ini aku memang selalu mandi sendiri, tapi sepertinya menyenangkan kalo bisa mandi bersama-sama", Noah tersenyum polos
"Noah, kenapa kamu mudah sekali berfikir begitu?, Seorang pria dan wanita dewasa hanya bisa mandi bersama jika sudah menikah", bisik Naru di telinga Noah
"Eh? Tapi kan, kita, belum, menikah, Naru?"
"Masih bolehkan kita mandi bersama?", bisik Naru semakin merayu di telinga Noah.
"Dasar, Jelek!!" Noah langsung menghantukkan kepalanya di kepala Naru. Meskipun terasa sakit, tapi Noah merasa sangat puas memberi pelajaran kepada Naru.
Naru pun keluar kamar, sedangkan Noah dan Chacha menikmati mandi bersamanya.
Naru berada di luar kamar Noah mulai merenung kembali. Dia menundukkan kepalanya dengan perasaan rendah diri. Tidak berdaya dan merasa tidak berguna.
"Haru, maafkan aku. Aku benar-benar saudara yang tidak berguna. Kau benar, sampai sekarang pun aku masih belum bisa menemukanmu", keluh Naru bersandar di dinding luar kamar.
"Tapi, kenapa kau memiliki kekuatan menghisap jiwa? Aku belum pernah melihatmu melakukan itu di masa lalu"
__ADS_1
"Sebenarnya, siapa Delano itu?", ucap Naru sedikit curiga.
Noah dan Chacha selesai mandi, mereka pun keluar kamar. Mendapati Naru sudah menunggunya di luar, Noah masih saja kaget dengan kebiasaan Naru tersebut.
"Kamu itu suka sekali menungguku di luar kamar?", ketus Noah.
"Chacha, ayo kita makan", ajak Noah ramah tanpa mempedulikan Naru karena dia masih kesal.
"Huff, vampir kecil itu berhasil menggantikan posisiku sekarang", gerutu Naru.
Noah hanya bisa menyiapkan yang bisa ia siapkan untuk sarapan bertiga. Roti dengan selai, susu, air putih dan salad buah.
"Nona, buatkan aku jus", pinta Naru memelas.
"Bubu.. Dia kembali merana", sindir Noah
"Baiklah.. Tapi, kamu harus membayarku 50 ribu saja"
"Gimana Vampir bisa punya uang?", balas Naru
"Makanya kerja donk"
"Pekerjaan apa yang bisa Vampir lakukan wahai nona yang kikir?"
"Cek!! Nih, jusnya", kesal Noah.
Setelah mereka bertiga selesai sarapan. Noah berencana untuk melakukan pekerjaan rumah. Sangat langka perbuatan Noah tersebut, karena hanya ayah yang selalu melakukan pekerjaan tersebut.
"Kenapa kamu harus repot-repot melakukan itu semua Noah?", ujar Naru sambil mengambil sapu dan kemoceng di tangan Noah.
"Haha.. Teladan sekali. Inikah yang dirasakan ayahmu? Dia tidak rela melihat putrinya melakukan pekerjaan rumah. Begitu pula diriku"
"Lihatlah! Akan aku gunakan sihirkuuu!", Euforia Naru
"Eits!! Jangan pakai sihir", sahut Noah.
"Lalu?"
"Gunakan tangan dan tenagamu Naru"
"A-apa?"
Akhirnya, Naru lah yang mengerjakan pekerjaan rumah. Sedangkah, Noah dan Chacha pergi ke kebun belakang rumah. Noah berencana menanam biji-bijian buah di kebun tersebut.
"Mama? Mau apa?"
"Apa Chacha pernah melihat manusia menanam pohon?"
Chacha hanya bisa menggeleng.
"Perhatikan ya Chacha", pinta Noah.
Noah pun mulai menanam satu demi satu biji-biji tersebut. Chacha merasa penasaran, sehingga dia juga ingin mencobanya. Chacha dan Noah bahagia menanam biji buah bersama-sama.
"Mama, ini apa?", ucap Chacha seraya dia memegang seekor ulat bulu di tangannya tanpa rasa takut.
__ADS_1
Seketika Noah menjerit ketakutan. Reflek kejut Noah membuat tangannya menghempas ulat tersebut dari tangan Chacha. Ulat bulu jatuh di telapak kaki Noah sendiri.
"Uwaaaa.. Jauhkan, jauhkan!!"
Noah mengibas-ibaskan kakinya supaya ulat tersebut terlepas, namun ulat itu masih menempel kuat di kakinya. Naru menangkap punggung Noah yang hampir terjatuh.
"What's wrong, girl?", bisik Naru.
"K-kyaaaa", Noah semakin menjerit.
Noah terduduk lemas di pangkuan Naru. Naru masih bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi.
"Mama, ulat", ucap Chacha
"Ulat? Apa itu Chacha?"
"Itu, di kaki"
Naru melihat-lihatnya namun tidak ketemu, "Mana?"
Pipi Naru sedikit memerah karena harus menyingkap sedikit baju yang menutup lutut Noah tersebut. Mulai mencari dan ternyata ulat tersebut menempel erat di betis Noah.
"Inikah Ulat? Dia juga sekali mengigit Noahku!!", gerutu Naru.
"Pergilah kau makhluk kecil menyebalkan!!", Naru melempar jauh ulat tersebut terbang ke angkasa.
"Hanya gara-gara ulat sampai membuatnya pingsan"
Naru mengangkat tubuh Noah dan mendudukkannya bersandar di serambi teras dekat kebun rumah tersebut.
"Chacha, apa kau ingin Papa membangunkan Mamamu lagi?"
"Umm!!", Chacha mengangguk pasti.
"Ahahaha.." Naru hanya tertawa.
"Chacha, sebenarnya kamu vampir dari mana?"
"Um?", Chacha hanya bisa menggeleng.
"Haa ah.. Kenapa ada vampir kecil segala sih", keluh Naru menghela nafas tidak rela.
Sejenak mereka bertiga menikmati suasana tenang bersama. Noah masih pingsan dengan konyolnya bersandar di bahu Naru. Naru memandang langit biru di sana sedangkan Chacha tersenyum-senyum sendiri sambil mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung.
"Apakah aku harus hidup disini?", keluh Naru.
"Aku terjebak di kebahagiaan bersama Noah dan Chacha. Sedangkan, negeri vampirku disana sedang terlihat tidak baik-baik saja. Apa yang harus aku lakukan?"
Suara telepati hadir lagi menyapa Naru, "Tuan Naru. Kami mohon, kembalilah ke Eropa. Raja dan kami sangat membutuhkan bantuanmu"
"Tapi, Haru masih belum ketemu"
"Tetaplah kembali Tuan, keadaan kami disini sangat tidak baik dan mengenaskan"
"Baiklah, aku akan segera ke sana"
__ADS_1