Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 10. TENTANG LUKA


__ADS_3

Audy tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mendengar langsung dari mulut pria yang sudah sejak lama menawan hatinya bahwa dia telah mencintai wanita lain. Bak mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Audy tidak pernah menyangka bahwa akhir rasa cintanya akan seperti ini.


Saat mendengarnya langsung, senyumnya boleh saja terukir manis, tapi tidak dengan hatinya yang seketika hancur lebur. Jantung yang tadinya berdebar karena rasa cinta yang membuncah telah beralih menjadi gedoran kesakitan.


Dadanya sesa saat dengan jelas manik matanya melihat Auriga yang dengan keyakinan penuh mendeklarasikan bahwa pria itu tak lagi sendirian.


Auriga Prayoga, Sang penawan hatinya ternyata telah ditawan oleh wanita lain.


Bukan kabar ini yang ingin Audy dengar, dirinya hadir kembali bukan untuk mendapatkan luka separah ini.


Audy memandang langit malam yang hari ini tampak cerah, mulutnya boleh membisu, tapi tidak dengan pikirannya yang riuh. Sungguh hari ini menjadi buruk saat pengakuan Auriga layangkan dengan penuh ketegasan sore tadi.


"Ga, padahal aku mengira selama ini aku tidak jatuh cinta sendirian. Aku salah ternyata," bisiknya.


Audy menarik napas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Maaf, Ga, aku udah janji pada diriku bahwa sekali kamu, selamanya tetap kamu. Aku tidak akan berhenti sebelum benar-benar aku bisa berhenti."


...•••...


"Saya minta maaf, apakah masih sakit?" tanya Auriga sesampainya di halaman rumah Audy.


Audy melirik Auriga sinis. "Menurut, lo?"


"Yasudah kita ke rumah sakit," tandas Auriga seraya menyalakan mesin mobil.


"Gak usah, lebay banget cuma ke gores doang bukan ke tusuk, ke cincang, ke gergaji, ke—"


"Saya takut kamu terluka, Audy."


Audy memantapkan pandangannya ke arah Auriga. "Gue gak papa, oke?"


"Kepala gue masih bulat, tangan gue masih dua," lanjutnya seraya menunjukan anggota tubuh yang disebutkannya.


"Besok saya jemput."


Audy berdecak seolah-olah kagum. "Wah, ternyata lo gak main-main ya mau jadi kacung gue. Sayangnya agenda gue gak jelas, gue gak tau mau ke mana, dan gue rasa lo besok juga harus kerja, kan?"


Audy benar, bagaimana pun selain bertanggung jawab terhadap Audy dia juga punya tanggung jawab yang lainnya.


"Kalau gitu sepulang saya kerja kita makan bakso gimana?"

__ADS_1


Audy tampak menimang-nimang. "Oke, deh."


Auriga mengembuskan napas yang tanpa sadar sedari tadi tertahan saat menunggu jawaban Audy.


"Gue pulang, dan gak usah mampir, malu-maluin rambut lo itu."


Auriga memang masih dengan penampilan konyolnya, tidak ada waktu untuk menormalkan kembali karena saat dirinya baru saja melepaskan satu kunciran Audy sudah lebih dulu merengek minta pulang.


Audy melenggang memasuki rumah tanpa kata-kata perpisahan seperti biasanya. Wanita itu benar-benar telah berubah. Bolehkah Auriga memiliki setitik rindu dihatinya terhadap momen-momen itu?


Momen di mana Audy masih sangat mencintainya, momen di mana dirinya adalah dunia wanita itu.


...•••...


Audy dengan kegigihannya. Malam ini, wanita itu kembali lagi menemui Auriga. Menunggu Sang pujaan hati dengan niat pulang bersama.


Namun, ternyata yang Audy dapat hari ini adalah pemandangan yang sangat menyayat hati. Di sana di luar Restoran Audy melihat dengan jelas Auriga yang tengah dirangkul oleh wanita lain.


Auriga tampak berpamitan pada rekannya yang lain, lalu melangkah beriringan dengan wanita yang belum Audy ketahui namanya.


Audy sakit hati tentu saja, tapi dia tidak akan membiarkan Auriga menghilang dari pandangannya selama pria itu belum sampai di tempatnya.


"Ga, aku sakit hati, tapi aku gak bisa benci sama kamu."


Mobil Auriga tampak berhenti di sebuah kedai makan tradisional. Sepertinya mereka berniat untuk makan malam bersama terlebih dahulu.


Dan dengan kesadaran penuh Audy ikut memarkirkan mobilnya di sana. Dia tampak mengambil kacamata hitam di dashboard guna menutupi matanya yang sedikit sembab karena selama berjalanan dia tak henti-hentinya memproduksi air mata.


Audy tahu ini hanya akan semakin memperparah lukanya, tapi memilih pergi meninggalkan dua sejoli itu begitu saja pun tak membuat hatinya lebih baik.


Sebenarnya tidak ada interaksi romantis, ke duanya benar-benar hanya berbincang seadanya tanpa ada sentuhan fisik yang berlebih. Namun, Audy jelas tahu wanita itu bukan temannya Auriga. Auriga bukan tipe pria yang dapat bergaul dengan banyak wanita. Bahkan dengan dirinya yang notabene mantan sahabat kecilnya pun tak ubahnya orang asing, pria itu benar-benar membangun dinding yang tinggi. Audy yakin sekaki wanita itu adalah kekasih Auriga yang diakui pria itu kemarin sore terhadapnya.


Audy hanya memesan minuman dan sepotong kue yang tidak akan disentuhnya. Keberadaanya pun bukan murni untuk makan.


Auriga dan wanita itu tampak selesai, Audy dengan sigap bangkit.


Kini mobil Auriga tampak berhenti di depan sebuah apartemen, yang tentu saja bukan milik Auriga. Audy tebak itu tempat tinggal wanita itu. Audy berdoa dalam hati, semoga Auriga tidak turun dan memilih mampir.


Dan doanya terkabulkan, Auriga bahkan tidak turun dan langsung menginjak pedal gas sesaat setelah wanita itu turun.


Audy sangat lega. Setidaknya hatinya yang telah babak belur tidak kembali terkena hantaman menyakitkan lainnya.

__ADS_1


Audy semakin mempercepat laju mobilnya mengikuti mobil Auriga yang ternyata tidak melaju ke jalur apartemen pria itu, jalur ini Audy tahu. Jalur yang Auriga ambil adalah jalan menuju kediaman keluarga Prayoga.


Dan ya kini mobil Auriga terparkir di halaman istana Prayoga dengan Audy yang ikut berhenti tepat di belakang mobil Auriga.


Auriga tampak mengernyitkan dahinya. Dia jelas tahu siapa pemilik mobil dengan warna yang mencolok itu, sudah terhitung lima hari dia melihatnya semenjak pemiliknya menemuinya dan memperkenalkan diri sebagai sahabat masa kecilnya. Auriga tentu mengenal dan mengingatnya, dia Audy Maharani Tanujaya Sang malaikat pelindungnya dulu. Namun, dia tidak bisa sedekat dulu karena ada hati Anggita yang harus dijaganya.


Audy keluar masih dengan kacamata hitam yang bertengger.


"Selamat malam, Aga," sapa wanita itu ceria.


Auriga hanya diam seperti biasa.


Audy tetap melangkah dengan ke dua tangan yang ditempatkan di belakang walaupun tak ada sambutan.


"Aku bawain sesuatu buat kamu," sambungnya dengan tangan yang menyodorkan kantung hitam yang berisikan sebuah kotak berukuran sedang dengan warna senada.


Auriga meliriknya tanpa minat.


"Di terima ya, aku yakin kamu pasti suka."


Auriga lelah, dia tidak ingin menghabiskan energi yang tersisa untuk mendebat Audy, dia pun tampak mengambil kantung itu lalu berniat pergi setelahnya.


"Terima kasih udah mau menerima," ujar Audy dengan senyuman memukaunya.


Auriga hanya berdeham lalu lekas pergi. Belum sempat Auriga membuka pintu, Audy lebih dulu menghentikannya... "Aga!"


Auriga hanya berdiam tanpa berbalik dengan Audy yang melangkah mendekat.


"Aku lowbat, aku butuh charger," ucap Audy sebelum memeluk Auriga tanpa permisi.


Auriga yang terkejut tentu mematung, dia tak habis pikir dengan desiran hangat yang perlahan mulai menyeliara. Jantungnya bahkan berdebar kencang, tapi dalam bersamaan hatinya terasa hangat. Reaksi yang seharusnya tidak dimilikinya untuk wanita lain.


Audy yang merasa tidak ada penolakan atau pun balasan dari pria itu tentu merasa sudah lebih dari cukup. Dia lelah, dia juga terluka. Dalam diam Audy berpikir ... haruskah dia merelakan Auriga? Haruskah dia menyerah saja? Tapi bagaimana dengan cintanya?


Audy yakin Auriga akan bahagia bersamanya, jadi apakah keputusan untuk terus memperjuangkan Auriga adalah pilihan yang tepat? Bahkan disaat Auriga sudah memiliki tambatan hati?


Audy tidak mau menyerah.


...•••...


Aku begitu menginginkanmu hingga tanpa sadar aku telah melewati batas rasa sakitku. Perihal luka aku terluka, perihal sakit aku sakit, tapi membayangkan kehidupanku tanpa kamu itu jauh lebih melukai dan menyakitiku.—Audy Maharani Tanujaya

__ADS_1


__ADS_2