
Setelah kejadian yang pastinya cukup menjadi perhatian ke dua belah pihak keluarga akhirnya kini Audy memberanikan diri untuk menemui Auriga dengan keadaan yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Audy tidak mungkin terus menghindar. Suka tidak suka mau tidak mau Audy harus menghadapinya. Menyelesaikan adalah yang terbaik.
Audy duduk di sebuah kursi yang tersedia di lapangan komplek perumahannya. Kuris hasil tangan para seniman andal yang sengaja manfaatkan bahan habis pakai.
Auriga tampak duduk di kursi yang lainnya. Jujur saja suasananya begitu canggung. Audy sudah terhitung tiga hari menjauhinya selepas kejadian haru biru hari itu, dan sore ini wanita itu mengajaknya bertemu.
Audy berdeham. Berusaha menghajar kecanggungan yang ada.
"Maaf buat hari itu." Audy memulai pembicaraan. Wanita yang tampak nyaman dengan hoodie putih kebesaran itu berbicara tanpa melarikan pandangannya ke arah Auriga.
"Kamu gak salah. Maaf kamu saya balikin," jawab Auriga teramat tenang yang mana berhasil mengambil atensi Audy.
Suasana canggung itu mendadak lenyap saat satu gerakan tangan Audy menghantam bahu pria itu. Entah kenapa jawaban Auriga terdengar begitu menyebalkan di telinganya.
"Engga usah! Gak usah lo balikin, ambil sama kembaliannya sekalian! Dasar nyebelin."
Auriga meringis. Bukan karena sakit melainkan karena terkejut. "Kamu gak berubah, setiap datang tamu, pasti melampiaskannya ke tubuh saya. Untung tangan kamu ngga berubah tetep kecil kayak upil jadi ngga sakit."
Mata Audy mendelik. Tentu saja dirinya tidak terima. Apa katanya tadi? Kayak upil? Upil?! Yang benar saja!
"Lo ... Sedekat apa, sih, kita dulu?! Kok gue gak ingat bagian yang lo sebutin itu?"
Auriga menghela napas panjang. Pria ber-hoodie hitam itu tampak memandang Audy dalam.
"Saya juga ngga tahu. Justru itu yang pengen saya tanyakan sama kamu. Kenapa cuma tentang saya yang kamu lupain? Udah gitu, banyak hal yang dulunya kamu suka sekarang jadi ngga. Kamu ingat pas saya bawa bunga mawar putih di rumah sakit? Itu karena kamu dulu suka sekali bunga itu. Lalu, daun seledri. Dulu kamu tidak suka daun itu, bahkan untuk sekadar mencium baunya saja, tapi kemarin pas kita makan bakso bareng ternyata kamu suka," jelas Auriga panjang lebar.
Audy termenung. Benarkah? Audy yang tidak punya jawaban pun ikut menghela napas panjang.
"Yaudah, anggap aja ini adalah kado dari Allah buat lo. Lo gak mau, kan, di jodohkan sama gue? Jadi yaudah dengan gua hilang ingatan berarti lo bebas—"
"Kamu sudah tahu semuanya?" Ada nada khawatir di dalamnya.
"Iya. Gue yang maksa perjodohan kita, dan lo dari awal udah nolak. Lo punya Anggita, tapi yang bikin gue sebal dari diri gue, gue tetap maksa perjodohan kita di saat gue tahu kalau lo udah punya Anggita ... Alona bilang gue punya alasan, gue tulus cinta sama lo ... Tapi entah kenapa seberapa banyak gue berusaha memahami, gue tetap merasa jahat. Dan setiap gue berusaha mencari alasan kenapa gue sebegitu kukuhnya sama perjodohan kita dengan cara nyebut-nyebut nama lo sama Anggita dada gue malah rasanya sakit, dan gue frustrasi karena gak bisa ingat apapun. Gue benci sama diri gue, juga sama elo."
Auriga terdiam beberapa detik. "Kamu bebas membenci saya, tapi jangan pernah membebaskan saya dari jeratan kamu."
__ADS_1
Audy tentu terkejut mendengarnya. Bukankah pria itu punya seorang kekasih? "Lo, gila?!"
"Ya saya gila karena kamu, dan saya butuh kamu untuk mengobati kegilaan saya." Takdir memang misteri bukan? Lihat siapa sosok yang mengucapkan kalimat itu?
Auriga pernah membenci kalimat itu. Namun, kini lidahnya dengan lihai mengecap dan suaranya dengan lantang mengucap. Tidak ada yang benar-benar pasti di dunia ini segala hal bisa saja terjadi. Dan saat ini kamu sedang menyaksikan bagaimana dunia bekerja.
"Ga, sadar! Lo punya Anggita, lo udah punya cewek! Oke gue emang pernah merebut elo dari dia ... anggap aja waktu itu gue lagi gak waras, dan sekarang gue sembuh, gue udah balik waras lagi, jadi udah ya, kita berhenti."
Auriga tersenyum kecil. Senyuman manis. Sangat manis. Hingga rasa-rasanya Audy bisa mati karena terkena diabetes.
"Cuma kamu, kan, yang waras?"
Audy menggeleng tak percaya. "Wah! Kacau, Ga. Otak lo ada yang rusak."
Auriga memandang Audy tanpa riak emosi. Dia benar-benar hanya memandang wajah Audy. Satu detik, dua detik ... detik pun telah berlalu. Tanpa permisi Auriga meraih tangan Audy lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
"Saya mencintai kamu Audy, bahkan sejak dulu di saat saya belum memahami rasa ini. Namun, saya kecewa karena dihari itu kamu tidak datang ... Tanggal yang kita tetapkan sebagai hari pertemuan kita ... Kamu tidak datang..."
Pelukan Auriga mengerat.
Audy tercengang. Fakta gila apalagi ini?
Audy dengan brutal melepaskan diri. Matanya memandang Auriga tajam.
"Lo berengsek Auriga!" teriak Audy tanpa sadar.
"Iya, saya akui saya berengsek dan tolol."
Audy mendelik. "Maksud lo gue yang tolol?"
Auriga mendadak diam, alis tebalnya saling bertautan.
"Engga. Saya bilang saya yang tolol."
"Gue yang tolol, gue lebih tolol karena udah suka sama orang tolol kayak lo."
Auriga menggeleng. Dia tidak terima ada yang mengatai Audy seperti itu, bahkan di saat kata itu keluar dari mulut wanita itu sendiri.
__ADS_1
"Engga, saya yang tolol. Kamu engga."
"Gue yang tolol. Titik."
"Engga, Ody. Saya yang tolol."
Audy tak suka. Kenapa Auriga tidak mau mengalah?
"Gue!"
"Saya!"
"Gue!"
"Saya! Saya! Saya!"
Audy menggeram marah. Lengannya terulur dan kini jemari mungilnya sudah mendarat dengan aman di kepala Auriga, meremas rambut Auriga cukup kuat.
"Yaudah. Lo! Lo! Lo! Lo yang tolol! Auriga tolol!"
Anehnya bukannya marah, Auriga justru malah terkekeh. Bahkan pria itu tergelak. Jemari mungil milik Audy tak akan pernah cukup mampu memberikan rasa sakit, setiap ruasnya terlampau unyu.
Bukannya rasa sakit yang hadir justru lonjakan bahagia yang menggebu-gebu yang tercipta. Pria satu ini memang aneh, dijambak pun tetap bahagia.
"Silahkan jambak saya, sampai botak juga saya ikhlas, yang penting kamu bahagia dan punya saya," tandas Auriga yang membuat Audy kontan melepaskan jambakannya.
Audy memandang Auriga sengit. Sedang mencari hidangan empuk untuk menghukum Auriga, dan mata cokelat kopi itu terperangkap pada daun cuping Auriga yang memang bisa dikatakan jenis daun telinga yang menawan. Daun telinganya caplang. Dan entah kenapa, bagi Audy daun telinga milik Auriga begitu memesona.
Audy mendekat dengan perlahan yang membuat Auriga mewanti-wanti pergerakan Audy, mata ke duanya tampak saling bertautan.
Audy sengaja memerangkap arah pandang Auriga, memakunya hingga misi dia selesai dijalankan. Dan saat Auriga benar-benar lengah suara teriakan Auriga pun terdengar menggelegar yang mana bersahutan dengan tawa Audy yang menggema.
Sedangkan daun telinga milik Auriga tampak memerah dengan bekas gigitan Audy yang unyu.
...•••...
Kali ini, biar aku yang mengambil alih. Aku yang akan membawamu kembali. —Auriga Prayoga
__ADS_1