
Auriga seperti kesetanan, dia mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh. Meskipun begitu, dia tetap memperhatikan keselamatannya. Matanya selalu fokus ke depan, dan ketika lampu rambu lalu lintas berwarna merah pun dia selalu berhenti. Waktu yang sudah menunjukan pukul satu dini hari membuat jalanan tampak lengang. Auriga bersyukur, dia bisa lebih banyak menghemat waktu.
Tujuannya saat ini adalah komplek perumahan tempat tinggalnya dulu. Auriga tentu tidak ingin banyak membuang waktu, sesampainya di sana dia langsung turun dan menemui satpam yang betugas. Dan betapa dia sangat bersyukur atas apa yang Tuhan berikan untuk mempermudahnya. Pak Agung masih berkerja di sana dan kabar baiknya malam ini beliau sedang bertugas.
Setelah rekan kerja Pak Agung memanggil sang pria tua dengan tubuh tambun itu Auriga langsung menyapanya santun, dilanjutkan dengan memperkenalkan diri. Pak Agung tampak sempat terkejut karena perubahan dirinya yang cukup signifikan. Tubuh Auriga yang kini tinggi dengan beberapa otot yang menonjol memang cukup banyak menyumbang ketampanan pria itu. Wajar jika Pak Agung sempat tidak mengenalinya.
Setelah cukup lama berbincang Auriga pun mulai masuk ke inti topik pembicaraan.
"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan, Pak."
Pak Agung mengangguk. "Boleh, Den. Tentang apa, ya?"
"Bapak ingat Audy?" tanya Auriga yang tidak langsung mendapatkan jawaban.
"Audy putri dari keluarga Tanujaya," tambah Auriga yang membuat kerutan di dahi Pak Agung melemah. Tentu saja beliau kenal. Audy Maharani Tanujaya putri kesayangan Tanujaya yang di kenal sebagai anak konglomerat dengan kepribadian supel dan menyenangkan di komplek itu.
"Tentu, saya ingat, Den. Kenapa?"
"Apakah sekitar sepuluh tahun yang lalu, dia menitipkan sesuatu sama Bapak?"
Pak Agung tampak berpikir lama. Kejadian sepuluh tahun yang lalu bukanlah hal yang bisa beliau ingat dengan gampang. Terlebih usia beliau yang tak lagi muda menjadi pemicu utama.
"Audy katanya menitipkan sesuatu pada Bapak untuk saya waktu itu. Sebuah hadiah," papar Auriga dengan harapan yang begitu besar.
Perlahan mimik kebingungan Pak Agung memudar. "Saya ingat! Non Audy menitipkan sebuah kotak ... Astaghfirullah, saya lupa, Den. Allahuakbar, saya mohon maaf, Den ... sebentar, ya, saya cari dulu..." Pak Agung tampak bangkit dengan rasa bersalah yang menggunung.
Dan betapa leganya Auriga saat melihat Pak Agung kembali tidak dengan tangan kosong. "Alhamdulillah, Den, masih ada, tapi sudah sangat kotor, Den. Ya Allah ... saya mohon maaf, Den, saya benar-benar lupa. Saya benar-benar telah lalai dalam menyampaikan amanah," tutur Pak Agung tak hentinya meminta maaf.
Auriga tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Pak, saya memaafkan. Terima kasih ya sudah bersedia saya repotkan."
"Tidak sama sekali, Den, justru saya yang merasa bersalah karena telah lalai, terlebih saya ingat waktu itu Non Audy sempat menunggu lama juga di sini."
Dan mengalir lah cerita lainnya.
__ADS_1
Kalian tahu? Ketika kalian memang tidak benar-benar mampu untuk menjaganya, maka lebih baik beritahukan lebih awal. Kotak hadiah itu mungkin sesuatu hal yang kecil bagi sang satpam, tapi bagi Auriga kotak itu sama dengan definisi segalanya tak akan runyam seperti ini.
Bukan maksud hati ingin menentang takdir, tapi cobalah untuk selalu berhati-hati agar tidak menyakiti banyak hati.
...•••...
Audy sudah bulat dengan keputusannya, hari ini dia telah mengundang keluarganya juga keluarga Prayoga untuk bertemu. Tentu saja dia menyelipkan sebuah permintaan, yaitu dengan tidak mengajak Auriga untuk ikut sert. Audy beralibi bahwa nanti dirinya sendiri yang akan membuat janti temu secara langsung dengan pria itu.
Tempat yang Audy pilih adalah sebuah vila di salah satu kota bogor. Audy merasa bogor yang dingin akan cukup mampu untuk menenangkan hatinya yang sejak semalam begitu kacau tak karuan.
Audy melangkah ke arah ruangan yang sudah terdapat keluarga Tanujaya dan Prayoga di dalamnya. Audy bahkan bisa mendengar senda gurau yang tercipta.
Hari ini Audy tampak manis dengan gaun di bawah lutut berwarna baby blue dengan manik-manik mutiara bertaburan di sepanjang roknya. Kaki mungilnya terlihat terbalut sepatu hak pendek berwarna putih.
Ke dua kakinya sempat terhenti sebelum benar-benar memasuki ruangan. Dia mencuri waktu untuk menarik napas panjang lalu membuangnya secara perlahan.
Dan saat dia memasuki ruangan...
Penampilannya sontak mencuri perhatian. Karena Audy yang berdiri di depan mereka adalah Audy yang selera berpakaiannya mirip sekali dengan Audy yang tidak hilang ingatan.
Audy duduk dengan anggun di salah satu single sofa yang hanya ada satu-satunya di sana.
"Ayah, Bunda, Om, Tante, terima kasih sudah berkenan datang menyempatkan waktu untuk berkumpul di sini," ujar Audy yang mendapatkan anggukan serta senyum tulus.
"Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, kalau ada hal yang ingin aku sampaikan ... Aku udah ingat semuanya..."
Tarikan napas lega serta seruan heboh dari para ibu terdengar. Bahkan kini Anindya dan Anjani bergantian memeluk Audy disertai kalimat ucapan selamat pada wanita itu.
Audy tersenyum manis menanggapinya. Namun, mereka yang di sana tetep merasakan ada keganjalan.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan, sayang?" Anindya lebih dulu mengajukan pertanyaan.
Audy tidak langsung menjawab, dia memandangi satu persatu setiap pasang mata yang fokus melihatnya. Kepala Audy tertunduk. Jantungnya kembali bergemuruh. Namun, dia tidak ada niatan untuk menenangkan gemuruhnya.
__ADS_1
"Aku ingin membatalkan perjodohan aku sama Aga," tutur Audy yang kontan mendapatkan reaksi cukup signifikan. Semua raut wajah yang ada di sana menampilkan mimik keterkejutan luar biasa.
"Lho, kenapa, Sayang? Apa Aga sudah menyakiti kamu?" seloroh Anjani.
Audy menggeleng kuat, kali ini isak tangisnya terdengar menimpali. Audy tak kuasa untuk menahan air matanya. Padahal dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, tapi tetap saja hatinya luar biasa sakit.
"Sebenarnya aku yang nyakitin Aga," imbuh Audy dengan suara yang cukup serak.
"Aku yang maksa Aga buat mau sama aku. Aga sebenarnya menolak perjodohan kami sejak awal. Aku yang udah nyakitin Aga dengan bersikap egois," lanjut Audy dengan tangis yang makin keras.
Rasanya menyakitkan, tapi dalam bersamaan Audy merasa lega.
"Aga udah begitu dengan baiknya bertahan sama aku yang punya kepribadian menjengkelkan ... Aku sudah menyakiti Aga..."
Tulus itu punya banyak definisi, dan Audy telah memilih tulus versinya. Dia memilih meninggalkan Auriga bukan karena cintanya yang tak lagi ada, melainkan karena dirinya tahu Auriga tidak bahagia bersamanya.
Audy bisa menahan luka yang disebabkan oleh kehilangan, tapi Audy belum tentu bisa menahan luka yang disebabkan oleh kenyataan bahwa dirinya adalah sumber luka dari orang yang dicintainya.
Terkadang, hatimu di buat jatuh cinta pada orang yang tidak pernah bersedia untuk mengobati luka akibat jatuh ke padanya. Lantas, apakah kamu salah?
Tidak.
Dalam perihal ini tidak ada siapa pun yang memiliki label salah dan benar.
Kamu hanya tidak perlu egois, karena ternyata tidak ada hal yang membahagiakan dari kata itu.
Audy pernah bersikeras menggenggam Auriga hingga jemarinya penuh luka. Kini Audy ingin mencoba untuk melepaskannya. Luka memangnya masih ada, tapi setidaknya tugasnya kali ini hanya perlu sembuh. Tidak akan ada lagi luka tambahan.
Audy pernah egois, dan kini dia ingin belajar untuk tidak egois.
"Tante aku minta tolong jangan biarkan aku terlalu lama menyakiti orang yang aku cintai," mohon Audy sebelum suara tangisnya berubah menjadi raungan.
Kehilangan selalu menyakitkan. Menangis sebagai bentuk kesakitan itu tidak apa-apa. Menangis lah sampai puas. Sungguh, itu sangat tidak apa-apa.
__ADS_1
...•••...