Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 28. CEMBURU LAGI


__ADS_3

Jam makan siang sebentar lagi berlangsung, dan kini Audy sedang siap-siap untuk bertandang ke tempat kerja Auriga. Semalam pria itu mengiriminya pesan, yang berisi permintaan untuk datang ke restoran. Katanya dia sedang mendemokan resep baru, dan Auriga ingin Audy yang mencobanya pertama kali.


Audy yang separuh hidupnya dihabiskan untuk memuja makanan, tentu saja tidak akan menolak. Apalagi makanan hasil karya tangan Auriga. Audy akui pria itu memang sangat ahli dalam perihal mengolah makanan.


Hari ini Audy tampil memukau dengan warna hitam andalannya. Kaos kebesaran polos yang dipadukan dengan celana kulot. Kali ini Audy memilih mengenakan sepatu dengan alas yang cukup tebal. Sedangkan rambutnya tampak di gelung asal.


Audy suka sekali dengan style-nya ini. Menurutnya, Audy terkesan kuat dan siap menindas Auriga. Setelah membaca buku harian miliknya semalam, Audy memutuskan balas dendam.


Jika kalian mengira Audy akan langsung cabut dari kehidupan pria itu lalu menangisi nasibnya, jangan harap. Temui saja tokoh utama seperti itu di FTV andalan para ibu-ibu.


Dirinya adalah Audy Maharani Tanujaya. Manusia yang tidak suka diperlakukan semena-mena oleh manusia lainnya. Ya, meskipun dirinya belum menemukan ingatan yang utuh sepenuhnya.


Langit tampak cerah, matahari hari ini berkontribusi sangat banyak untuk mempercantik bentangan indah berwarna biru di atas sana. Audy suka melihatnya. Wanita itu tampak menarik napas sejenak, menikmati karya Tuhan yang memang tidak pernah ada yang gagal.


Setelahnya, Audy tampak memakai jaket kulit hitamnya untuk menghalau sinar matahari yang kemungkinan bisa membakar kulitnya. Tabir surya memang selalu on point, tapi tetap saja Audy ingin berjaga-jaga.


Helm full face-nya pun kini sudah terpasang cantik.


Hari ini Audy berencana pergi sendiri. Sedangkan Alona beserta ART lainnya dirinya tugaskan untuk membeli apapun barang-barang berwarna hitam. Sebenarnya Audy hanya bingung harus memberikan perintah apa, yasudah yang lewat saja dipikirannya langsung diultimatumkan.


Tidak butuh waktu yang lama kini Audy sudah berada di halaman restoran. Memang menggunakan motor itu lebih hemat waktu, karena macet pun tetap bisa menerobos.


Audy pun melangkah ke arah yang sudah sangat dirinya hapal. Sesaat sampai Audy langsung disuguhi pemandangan yang langsung menyergap rasa laparnya juga rasa kagumnya.


Perutnya dibuat tergila-gila oleh masakannya, dan kini matanya dibuat tergila-gila oleh pemandangan Auriga yang tampak seratus kali lebih tampan dari biasanya.


Kenan tampak menyapa terlebih dahulu, karena memang dia yang menyadari pertama kali. Auriga yang mendengar nama Audy disebut tampak langsung menoleh dan tersenyum cerah pada wanita itu. Sedangkan Kaivan tak bergeming.


"Kamu duduk dulu, ya," pinta Auriga yang sebenarnya tidak perlu karena Audy sudah lebih dulu mengincar kursi.


Tak lama sebuah hidangan yang mengguncang lidahnya tersaji cantik di depannya. Audy tidak tahu pasti apa saja yang ada di dalam menu itu, hanya saja yang pasti dilihat dari penampakannya hidangan tersebut memiliki rasa gurih pedas, rasa favoritnya.


Audy tentu saja dengan antusias langsung mencomotnya dengan tangan, tidak lupa dia juga sempat membaca doa.


"Waw! Enak banget, Aga!" seru Audy yang berhasil menciptakan binar-binar kebahagiaan di netra hitam pekat milik Auriga.


"Rate-nya berapa?"

__ADS_1


"Pake nanya, ini mah sejuta per sepuluh," tandas Audy yang tampak fokus dengan hidangan.


Kenan yang berada di sana sigap menyodorkan segelas air putih yang baru saja terhidang di hadapan Audy langsung di ambil Auriga dan diteguknya hingga tandas. Lalu dia kembali mengisi gelas yang berbeda dan menyerahkannya pada Audy.


Ingin rasanya Kenan terbahak. Namun, raut kesal Auriga jauh lebih menarik jika bertahan lama. Kenan yakin, rautnya itu seketika akan berubah datar jika Kenan kelepasan tertawa.


"Gue hari ini makan di luar, gue cabut," tutur Kaivan seraya melengang pergi ke ruang ganti.


Auriga hanya mengiyakan, sedangkan Kenan hanya mengangguk. Audy? Wanita tampak fokus pada hidangannya.


"Besok gue mau dibuatin lagi, ya," tutur Audy setelah hidangannya nyaris habis.


Auriga tentu tidak akan menolak. "Siap, apapun buat kamu."


Kenan berdeham cukup kencang. Jujur saja, telinganya sedikit geli mendengar penuturan Auriga yang terkesan jadi budak cinta. Rasanya aneh disaat dulu pria itu dominan cuek dan tak acuh akan sekitar.


...•••...


Audy izin untuk pergi ke Mini Market terdekat untuk membeli sesuatu. Auriga sempat merengek minta ikut. Namun, Audy menolak. Lagi pula dirinya hanya sebentar, mending waktunya Auriga gunakan untuk bersantai dulu saja. Meskipun ingin segera menindas pria itu, Audy cukup baik hati untuk tidak menggunakan waktu yang tidak pas. Terlebih pekerjaan Auriga cukup berisiko.


Audy memilih jalan kaki saja, kebetulan Mini Marketnya berjarak cukup dekat.


Saat sedang mengantre dia mendapatkan seseorang di depannya tampak kebingungan.


"Aduh, kak, kayaknya dompet saya jatuh, sebentar ya saya ambil uang dulu, tempat kerja saya dekat sini."


Petugas kasir tampak kebingungan. Sepertinya, beliau sering mendapatkan pelanggan seperti itu dan tidak pernah mendapatkan hasil yang baik dari peristiwa tersebut. Audy yang tidak ada niatan ingin merendahkan sama sekali dengan baik hatinya menyodorkan seluruh belanjaannya, lalu berkata...


"Bayarnya sekalian ya, kak, sama punya beliau."


Raut sang kasir kontan cerah. "Baik, kak."


Setelahnya Audy pun meninggalkan Mini Market tanpa berbicara sepatah kata pun pada sosok yang tanpa sengaja ditolongnya.


"Nanti gue ganti," ujar sosok itu tanpa menoleh ke arah Audy.


Audy hanya diam. Matanya lurus memandang Kaivan yang melangkah angkuh.

__ADS_1


"Dasar bocah!" dengusnya.


...•••...


Audy menaruh plastik belanjaannya, disusul dirinya yang mendudukkan diri di kursi.


"Ken, nih, mau gak?" tawar Audy yang melihat Kenan baru selesai mencuci tangan.


Kenan mengambilnya. "Suka stroberi juga?"


"Benget, tapi kayaknya gue baru merasa suka akhir-akhir ini aja."


"Mau gak ke kebun stroberi sama aku?"


"Boleh."


"Engga! Apaan kamu, ngga boleh. Sama saya aja, jangan sama dia," serobot Auriga yang entah datang dari mana.


Audy tampak melirik Auriga, mengikuti pergerakan pria itu. "Siapa gue lo?!" Audy mendelik sinis. Tiba-tiba saja deretan tulisan kesakitan Audy terbayang sangat jelas. Audy jadi dongkol, kenapa juga Auriga sekarang malah tampak seperti pria yang sedang cemburu padahal, kan, dalam tulisan yang dibacanya semalam pria itu tak acuh padanya.


"Saya calon suami kamu."


"Ogah! Nikah aja sana sama cewek lain, gua mau nikah sama cowok lain aja!"


Auriga kontak mendelik tak terima. "Engga! Sama saya titik! Lagian Kenan juga gak bakal mau sama kamu, dia sekarang udah punya cewek," bebernya yang berhasil memancing reaksi tanda tanya di raut wajah Audy.


"Lho, siapa, Ken?"


Kenan tampak tersenyum kecil. "Ada, lah."


Audy mengerti sepertinya Kenan belum siap untuk bercerita lebih.


"Jadi, yang tersisa cuma saya. Sama saya aja." Auriga tampak ngotot.


Audy tak menjawab sesaat. "Yaudah gue sama dia aja," tuturnya seraya menunjuk Kaivan yang sedang berdiri memunggungi mereka. Entah sedang melakukan kegiatan apa pria itu, sedari tadi dia tampak sibuk sendiri.


Kali ini Auriga tidak hanya mendeilk, tapi juga memekik kencang. "Sembarangan! Engga!"

__ADS_1


Kali ini Kenan tak dapat menahan tawanya, pria itu berhasil menyemburkan tawanya. Ah ekspresi Auriga menurutnya sungguh sangat lucu.


...•••...


__ADS_2