Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 27. MENCARI PUZZLE YANG HILANG 2


__ADS_3

Hari ini Audy lalui dengan kegelapan yang masih pekat. Sama sekali tidak ada titik terang yang Audy temukan untuk menjemput secercah cahaya. Nihil. Audy sama sekali tidak mengingat apapun. Informasi yang didapatnya pun tak cukup banyak untuk membuat otaknya beraksi.


Setelah sesi makan malam yang ditutup oleh perbincangan hangat kini Audy memilih untuk menyambangi kamarnya yang dulu. Tentu tanpa sepengetahuan siapa pun.


Audy sudah berada di depan laci dengan tumpukan buku dengan setiap sampul bukunya memiliki warna senada, yaitu merah muda. Namun, saat Audy berniat mengambil buku paling bawah saat itu pula dia menemukan buku dengan sampul yang berbeda. Warnanya sungguh kontras dengan warna buku yang lainnya. Warna sampulnya hitam.


Audy pun lekas mengganti buku yang ingin diambilnya. Buku bersampul hitam polos itu kini berada di genggamannya. Audy melangkah perlahan ke arah ranjang, menyamankan dirinya di sana.


Halaman pertama telah Audy baca. Ekspresinya datar. Berlanjut pada halaman berikutnya, raut wajahnya masih biasa saja. Semakin banyak halaman yang terbaca semakin membuat Audy ingin lebih jauh untuk mengetahui isinya. Rasanya setiap tulisan di sana memiliki daya tarik yang membuat Audy tak bisa menolak tarikannya.


Rasa sesak di dadanya tiba-tiba menyeruak. Bahkan kali ini tanpa komando air matanya mengalir perlahan membasahi ke dua pipi mulus miliknya.


Aku mencintaimu, Aga.


Lantas, jika kamu membenciku pada siapa aku harus menaruh rasa ini?


Penggalan kalimat yang cukup memberikan efek perih luar biasa pada hati Audy. Rasanya seperti luka basah yang kemudian tertusuk ribuan jarum. Perih, sakit, dan nyeri.


Audy menghentikan aktivitasnya untuk mengahalau sesak di dada yang kian memberontak. Bahkan kini air matanya sudah banjir. Namun, yang paling menyakitkan adalah bahkan ketika hatinya bereaksi sehebat itu otaknya masih belum mengingat apapun.


Audy tampak menarik napas dalam. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terjeda. Kini Audy perlahan mulai mempercayai pernyataan Anggita tentang Auriga yang membenci dirinya. Namun, kenapa? Kenapa Auriga membencinya? Kenapa Audy yang sebelum kehilangan ingatan tidak menulis alasan spesifik Auriga membenci dirinya kala itu? Rasanya semua menjadi sangat rumit.


Apakah alasannya hanya karena dirinya mencintai pria itu? Apakah benar-benar hanya karena Audy mencintai Auriga? Atau ada alasan lain?


Mungkin semua akan tampak masuk akal ketika Auriga mencintai Anggita, tapi Auriga sebaliknya bukan? Lantas, apa yang membuat pria itu begitu mendorongnya mundur? Dan kenapa pula dirinya tetap memilih maju?


Audy terisak-isak saat membayangkan sesakit apa dirinya pada waktu itu? Betapa sangat menyakitkan setiap kata yang tertuang dalam sebuah tulisan yang dibacanya itu. Dan tiba-tiba rasa kasihan terhadap dirinya muncul. Sungguh, apa yang lebih menyakitkan dari musibah mencintai seseorang yang menolak untuk dicintai?

__ADS_1


Aga dia selingkuh, aku ingin memberitahumu, tapi aku takut kamu terluka ... aku rebut kamu darinya aja ya? Aku akan membahagiakanmu, aku janji jika nantinya kamu engga bahagia sama aku, maka hukumannya adalah aku harus kehilangan kamu selamanya


Selingkuh?


Ternyata Audy yang sebelum kehilangan ingatan sudah tahu fakta itu? Dan kini semuanya menjadi masuk akal. Ekspresi Anggita yang lega saat tahu dirinya kehilangan ingatan, lalu pertanyaan yang Anggita layangkan saat dirinya kira itu hanyalah sekadar basa basi. 'Kamu kenal aku?'


Secepat kilat sebuah bayangan hadir. Tampak samar-samar dan masih begitu gelap. Audy tampak memejamkan matanya, berusaha mencari bayangan yang sempat melintas buram.


Audy bergumam. "Selingkuh."


"Perselingkuhan."


Lagi, bayangan itu muncul. Namun, masih secepat kilat dan samar.


Audy memutuskan kembali untuk membaca deretan kalimat yang tertera.


Kini bayangan Auriga kecil yang sedang duduk di sebuah kursi bersamanya tepat di bawah pohon rindang tampak jelas hadir. Yang mana menghadirkan rasa sakit yang cukup kuat pada bagian kepalanya.


Audy tetap melanjutkan aktivitasnya, terlebih dirinya sudah melihat titik terang yang mungkin saja akan menjadi secercah harapan. Namun, semakin Audy memaksa semakin besar pula rasa sakit yang menderanya.


Audy memegangi kepalanya kuat. Keringat dingin tampak bercucuran, napasnya pun tampak tersengal. Dengan kesadaran diri yang tidak utuh Audy melangkah ke arah kamar barunya, dia masuk sekadar untuk membawa kunci motor.


Dia butuh pengalihan. Menunggangi kuda besi adalah jalan pintas yang dia ambil sebagai obat penenang. Tentunya dengan tubuh yang kini sudah terbalut baju hangat.


Audy melangkah perlahan keluar rumah. Suasana rumah sudah sepi, wajar ini sudah tengah malam. Audy pun tampak mengeluarkan motornya perlahan dengan sengaja tanpa menyalakan mesin, memilih menuntunnya sampai gerbang. Pak satpam yang bertugas tentu bertanya. Namun, Audy hanya meminta tolong pada pak satpam untuk tidak menceritakan apa yang dilihatnya kepada siapa pun.


...•••...

__ADS_1


Menghirup udara malam dengan jalanan yang sedikit lengang membuat Audy cukup merasa lebih baik. Audy tidak punya tujuan, dia hanya menyusuri jalanan. Namun, nalurinya membawa dia pada tempat yang kini cukup familiar dalam ingatannya.


Taman kota.


Motor yang ditungganginya tampak terparkir dipinggir jalan. Netra cokelat kopinya kini tampak memandang sebuah kursi yang dinaungi sebuah pohon rindang. Memang bukan tempat yang seperti dalam ingatannya. Namun, sekali lihat saja pasti akan tampak familiar.


Audy hanya baru mengingat hal itu. Namun, untuk setiap waktu yang dihabiskan untuk apa serta perbincangan apa yang dijadikan topik Audy belum mengingat sepenuhnya. Sepertinya Audy masih harus berkerja keras untuk hal itu.


...•••...


Auriga malam ini dibuat kacau dengan bayangan tadi sore yang terus berseliweran di kepalanya. Menari bersama Audy dibawah guyuran hujan adalah hal yang tidak pernah Auriga bayangkan. Belum lagi dirinya dapat menyaksikan tawa Audy yang sudah sangat lama tidak dirinya lihat.


Bahkan debaran halus jantungnya masih memberikan efek hangat saat bayangan sore tadi kembali hadir yang hanya berselang beberapa menit di setiap bayangannya.


Auriga tersenyum tulus. Auriga yakin bahwa dirinya mampu untuk kembali menjadikan jalinan yang sempat pernah terputus secepatnya akan tehubung kembali.


Auriga mengambil ponselnya yang tergeletak di atas laci. Ke dua jempolnya tampak terampil mengetikan sesuatu, yang tentu saja penerimanya adalah Audy. Audy Maharani Tanujaya nama lengkap wanita itu, tapi Auriga memilik memakai nama Ody sebagai nama di buku kontaknya.


Ody, nama panggilan itu sebenarnya Audy yang meminta dipanggil seperti itu. Auriga jadi ingat kala itu Audy bahkan merengek ingin dipanggil dengan nama itu.


"Aga, aku mau dipanggil Ody."


Auriga tidak terlalu menanggapi serius, karena Audy sering kali bersikap acak. Terkadang tiba-tiba dia ingin dipanggil Putri Raja atau bahkan Putri Keong dan tentu saja dirinya harus bersedia dipanggil Pangeran Kodok.


"Kalau engga, aku mau berhenti ngomong sama kamu."


Dan waktu itu Auriga sempat salah memanggil yang alahasil dirinya benar-benar didiamkan Audy. Yang mana tidak bisa disogok dengan susu kotak stroberi kesukaan gadis itu.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2