Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 41. #KILAS BALIK - PERJUMPAAN KEMBALI


__ADS_3

Auriga selalu tampan dengan apapun yang di pakainya. Namun, jika ada yang bertanya padanya pakaian yang selalu membuatnya percaya diri tentu pria itu akan menjawab dengan lugas baju kebanggaannya sebagai seorang Koki. Seperti sekarang, perpaduan Auriga dengan baju Koki dan alat tempur dapur serta bahan-bahan olahan masakan sangat padu padan untuk menjadi pemandangan yang sempurna.


Auriga Prayoga. Dia terlahir tampan, tapi tidak dengan ekonomi yang mapan. Dulu keluarganya merantau ke Ibu Kota, yang mana mengharuskan dirinya pun ikut pindah, dan saat itu dengan baiknya Tuhan mempertemukan dirinya dengan gadis manis pemilik senyuman yang amat sangat manis. Audy Maharani Tanujaya. Nama yang jelita. Semenawan dan sememesona pemiliknya.


Auriga jatuh cinta pada segala hal yang ada pada gadis itu. Namun, dulu dia belum memahami tentang perasaanya. Yang Auriga tahu, dirinya nyaman dan merasa aman berada di dekat gadis itu. Terlebih di saat beberapa dari para siswa berbondong-bondong merundungnya—yang sisanya memilih untuk tak acuh—justru Audy hadir sebagai oase di padang pasir. Dia tidak hanya mengacungkan pedang pada lawan tapi juga menggandeng tangannya untuk melangkah dari medan peperangan.


Kenapa? Apa perumpamaan itu terlalu berlebihan? Namun, bagi Auriga itu sama sekali tidak berlebihan. Mungkin bagi sebagian orang hidup berbaur dengan orang lain itu mudah, tapi bagi satu yang lainnya itu hal yang sangat sulit, dan Auriga adalah salah satunya.


Audy hadir merubah segalanya menjadi indah.


Dulu Auriga hanyalah seorang anak yang berasal dari desa di Jawa Tengah. Tegal adalah kota kelahirannya. Dia bahkan kerap di tertawakan karena logat bicaranya yang medok, tapi Audy berbeda, gadis mungil itu merangkulnya tulus. Dia bahkan tidak pernah sekali pun merasa keberatan dengan nada bicaranya yang khas.


Auriga terhanyut dengan lamunan, tanpa sadar asap mulai mengepul lebat. Kenan yang melihatnya tentu bergerak cepat mematikan kompor. Auriga tersadar saat dengan cepat di sisi lain Kaivan bergerak menutup wajan dengan handuk basah.


Auriga tampak terkejut. Dia terpaku dengan bola mata memandang kosong.


Pertemuan untuk yang pertama kali lagi telah mengguncang Auriga.


...•••...


"Lo lagi ada masalah, Ga?" tanya Kenan seraya menyerahkan satu buah minuman kalengan.


Auriga hanya diam. Apakah kehadiran Audy adalah masalah? Kira-kira begitulah pikirannya bergulir saat pertanyaan Kenan menyapa telinga.


"Lo kalau lagi ada masalah gak papa biar gue sama Kaivan yang handle untuk sementara waktu, lo kalau mau ambil cuti silahkan," usul Kenan yang sebenarnya sudah menyadari keanehan sikap sahabatnya itu.


Kaivan melirik, dia setuju dengan usulan Kenan.


"Gue aman," sahut Auriga seadanya.


Kaivan melirik Auriga kembali dengan pandangan tak percaya. Bahkan dirinya yang memilki tingkat kepekaan terendah di antara yang lainnya tampak dengan jelas melihat bahwa Auriga tengah sedang tidak baik-baik saja.


"Masalah Anggita?" Kenan menimpali.


"Udah ngga usah terlalu di pikirin, kalau lo emang ngga suka dan belum siap buat punya hubungan lo tolak aja. Selama lo gak kasar gue dukung," sambung Kenan.


Auriga menggeleng. Yang bisa langsung di artikan oleh ke dua sahabatnya. Masalahnya jelas bukan tentang Anggita—wanita yang (katanya) sudah lama menyimpan rasa pada Auriga.


"Lalu?" Kaivan menyahut.

__ADS_1


Belum sempat Auriga menjawab salah satu Asisten Koki tampak melangkah ke arah mereka.


"Kak Auriga, itu ada yang nyariin," ucap Sang Asisten Koki.


"Siapa?" tanya Auriga, karena sudah jelas semua pekerja sudah tahu jika yang berkunjung itu adalah ke dua orang tuanya. Kalau pun Anggita wanita itu tidak pernah dirinya izinkan untuk datang, dan sepertinya dia pun cukup tahu diri untuk tidak membantah.


"Katanya, istrinya Kak Auriga," jawab Sang Asisten Koki tampak tak yakin juga bingung.


Kenan dan Kaivan tak kalah terkejutnya.


"Lo dari tadi gak fokus jangan-jangan gara-gara ini? Serius lo?! Kapan nikah? Kok gak undang gue?" cerocos Kenan.


"Gue juga ngga di undang," sambung Kaivan datar.


Auriga tidak memberikan penjelasan apapun. Dia tampak bangkit dari tempatnya, dia melangkah tanpa kata yang langsung di susul oleh ke tiganya dengan rasa penasaran yang membuncah.


Minuman kaleng pemberian Kenan bahkan masih utuh di atas meja yang berada di ruangan terbuka di bagian belakang gedung, tempat yang dikhususkan untuk para pekerja dapur bersantai.


...•••...


Di sana, tepat di jarak pandang dua meter, Auriga dapat melihat seorang wanita bertubuh mungil dengan gaun bermotif bunga matahari di bawah lutut tampak sedang memunggunginya. Rambut hitamnya tampak terkepang cantik yang mana di lengkapi dengan jepitan bunga matahari di pangkalnya.


Tanpa perlu berbalik pun Auriga bisa tahu siapa wanita itu ... dan benar saja bukan? Dia Audy Maharani Tanujaya.


"Hehe, makasih, Aga." Audy tampak menyengir.


Semua yang menyaksikan masih belum bersuara.


"Semalam kamu, kok, ngga ikut, sih? Aku padahal udah dandan super duper cantik banget tahu!" celoteh wanita itu tampak tidak terganggu dengan suasana yang sunyi. Bahkan kini suaranya menjadi satu-satunya bunyi.


"Kenapa kamu bisa ke sini?" tanya Auriga nyaris berbisik.


"Lewat pintu," jawab Audy cepat yang langsung saja memancing tawa Kenan.


"Istri lo lucu, Ga," komentar Kenan.


"Dia bukan istri gue!" tangkas Auriga yang sempat membuat Audy mengerucutkan bibirnya, dia tidak suka dengan penolakan Auriga yang terlampau tegas dengan fakta yang dirinya buat.


"Kenalin, Audy. Calon istrinya Auriga, tadi kata calonnya ketinggalan." Audy tampak mengulurkan tangan disertai senyuman ramah.

__ADS_1


Tentu saja Kenan tampak menyambut antusias. "Hai, calon istrinya Auriga, aku Kenan. Kamu lucu."


"Iya, dong, kan, istrinya Aga—eh maksudnya calon."


Auriga tampak mendengus. Dia pun melenggang pergi yang membuat Audy tentu kebingungan.


Ada apa dengan sahabat masa kecilnya itu?


Kenapa dia tampak seperti sedang mengacuhkannya?


Sejak pertemuan pertama mereka kembali pria itu tampak aneh.


Audy melirik Kenan dan Kaivan, "Calon sahabat ipar aku pergi susul Aga dulu, ya," pamitnya yang diangguki Kenan.


Setelah tak terlihat Kenan tampak melirik Kaivan. "Emang ada, ya, istilah sahabat ipar?"


Kaivan hanya mengangkat bahu tak acuh.


"Antik banget tuh cewek, cocok banget buat Aga, dia emang butuh cewek gila-gila gemesin kayak tuh cewek," celoteh Kenan yang hanya mendapat respons kosong.


...•••...


"Agaaaaa!" teriak Audy sama sekali tidak menghiraukan keadaan sekitar yang sedang ramai.


Jam makan siang memang puncak laba restoran, di waktu itu semua meja selalu nyaris terisi penuh.


Suara Audy yang nyaring tentu menjadi pusat perhatian. Auriga tahu bagaimana sikap ceroboh wanita itu, dia pun memilih berbalik lalu menuntunnya keluar restoran.


Auriga tampak terdiam sampai pada mereka berada di sebuah Kafe yang tak jauh dari restoran. Auriga bahkan belum sempat mengganti baju kebanggaannya, wajar keberadaan pria itu cukup mencuri perhatian banyak pasang mata yang di dominasi oleh para mahasiswa.


Audy yang menyadari betul bahwasannya Auriga di tatap penuh minat oleh sebagian besar wanita pun tampak menyoroti mereka dengan kilatan tak bersahabat.


Kini ke dua insan dengan gaya pakaian yang sangat kontras itu tampak saling berhadapan dengan kopi yang terhidang di depan Auriga, dan cokelat dingin yang terhidang di depan Audy.


Auriga tampak memandang Audy dengan sorot mata datar, sedangkan Audy yang menjadi objek pandangnya tampak memandang Auriga penuh antusias. Bahkan giginya tampak berbaris rapi sedari sepuluh detik yang lalu, yang mana semakin menunjang kecantikan senyumannya.


"Kenapa kamu datang lagi?" tanya Auriga yang nyaris seperti sebuah bisikan.


...•••...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yaa, terima kasih


Selamat menyaksikan kegilaan Audy di bab-bab selanjutnya


__ADS_2