
Audy memandang Auriga yang ngotot ingin menjemputnya. Audy tidak bisa tidak menurut seakan pria itu memang punya kendali atas perasaanya. Dan sekarang dirinya sudah duduk manis di dalam mobil Auriga.
"Mobil lo cakep," komentar Audy. Auriga memang nyaris sempurna, sudah memiliki paras yang rupawan dia juga tampak cinta kebersihan.
"Gantengan siapa?" sahut Auriga dengan pandangan yang fokus ke jalan.
"Apanya?"
"Gantengan saya atau mobil saya?"
Audy melirik Auriga sinis. "Pertanyaan lo kayak anak-anak remaja lagi kasmaran tahu, ngga?!" Audy tampak bergidik.
"Saya memang sedang kasmaran sama kamu. Dan informasi untuk hari ini, kamu tampak lucu dengan baju gambar Spongebob itu."
Audy memandang Auriga horor. "Geli anjir."
Auriga tampak tidak peduli dengan respons Audy. "Hari ini kita main, ya."
Audy tahu itu bukan ajakan melainkan sebuah arahan yang harus diikuti.
"Kemana?" Jadi hanya kata itu yang bisa Audy lontarkan. Menolak? Jangan harap. Auriga terlalu dominan, dan lebih menyebalkannya lagi dirinya mendadak jadi guguk menggemaskan. Audy jadi semakin yakin bahwa Auriga telah memeletnya.
"Ada."
Audy hanya mengangguk. Dia sama sekali tidak ada niatan ingin bertanya.
...•••...
Ternyata Auriga membawanya ke tempat pusat jajanan. Mata Audy langsung disuguhi pemandangan jejeran pedagang kaki lima lengkap dengan beberapa wahana permainan yang digemari anak-anak.
Audy tentu sangat suka melihatnya. Makan merupakan salah satu keahliannya. Gerobak para pedagang itu benar-benar mampu mengguncang perutnya dan membangkitkan rasa dahaga yang tidak main-main.
"Wah, ih, gue suka banget. Gue mau telur gulung, Ga. Mau cilor juga, terus mau sotong juga ... Ah itu, ih gue pengen cilok itu, cilok itu enak banget tahu, Ga, di dalamnya ada isian tetelan sapinya. Ih ada martel juga...." celoteh Audy yang berhasil menciptakan senyuman bahagia di birai Auriga.
"Yasudah ayo! Kita beli sepuasnya," ajak Auriga seraya meraih jemari Audy lalu menggenggamnya erat, tapi tidak menyakiti.
Ke duanya pun melangkah beriringan melintasi jalanan, bergantian mengunjungi gerobak yang disebutkan Audy.
...•••...
__ADS_1
Langit selalu masuk dalam katagori hasil karya Tuhan yang sangat indah. Bentangan dengan warna biru, kuning kemerahan, serta gelap selalu punya makna dimasing-masing hati sang pencintanya. Belum lagi, para penghuninya yang mana sama indahnya. Matahari, bintang-bintang, serta benda langit lainnya yang tentunya punya keunikan masing-masing.
Dan dua insan yang kini tengah duduk di atas rerumputan tampak menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang mencintai senja.
Memang, pemandangan matahari saat tenggelam cukup banyak dijadikan primadona. Semburat matahari yang kembali ke peraduannya menciptakan detik-detik mengesankan.
Jika tidak ada hal yang indah dalam hidupmu, maka sesekali lihatlah senja. Kamu akan sadar bahwa kamu bukan kekurangan hal-hal indah hanya saja kamu tidak mau mencari keindahan. Tuhan sudah banyak menciptakan obat untuk segala luka. Bangkitlah! Jangan malas!
Audy dan Auriga duduk berdampingan dengan jajanan yang sudah tersisa plastiknya saja—yang tampak tersusun rapi di bekas gelas minuman. Auriga memang berniat membuangnya, tapi dia tak bisa bahkan sebentar saja untuk meninggalkan pemandangan indah di sampingnya yang mana tengah tergila-gila dengan pemandangan indah karya Tuhan lainnya. Auriga suka senja, tapi Auriga lebik suka Audy.
"Dy," panggil Auriga pelan.
"Hm," sahut Audy seadanya. Dia benar-benar sedang menikmati keindahan alam yang banyak digemari umat itu.
"Kamu ingat tidak sama tempat ini?"
"Engga."
Auriga tersenyum masam. Apa yang dirinya harapkan? Audy tiba-tiba mengingat tempat ini? Lalu memeluk dirinya dan mengatakan bahwa Audy masih sangat mencintainya serta bersedia memulai semuanya dari awal.
"Ga, pengen balon itu!"
Telunjuk Audy tampak terarah pada objek seorang pedagang balon gas karakter yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Ayo beli!" ajak Audy. Wanita itu tampak bangkit. Namun, Auriga menahan dengan meraih lengan Audy lembut.
"Biar saya aja."
"Gue bukan kaum duafa, gue masih mampu beli, awas lo."
"Saya tahu Audy kamu mampu, tapi tolong andalkan saya, ya."
Audy pun hanya bisa pasrah. Baiklah. Auriga memang menyebalkan, pria itu bahkan tak perlu banyak upaya untuk mendapatkan persetujuan darinya.
"Kamu mau karakter apa?"
"Semuanya. Gue mau beli semua balonnya."
Auriga tidak mempertanyakan atau pun bereaksi berlebihan lainnya. Dia tampak melangkah dan berniat menuruti keinginan Audy tanpa banyak berpikir.
__ADS_1
Bersamaan dengan langkah Auriga yang semakin dekat dengan sang penjual balon bersamaan juga dengan pandangan Audy yang semakin jauh menatap punggung pria itu.
Audy jadi teringat fakta yang diketahuinya tadi siang. Rasa iba mendadak hadir. "Ganteng-ganteng tolol, tapi kayakanya gue lebih tolol karena udah suka sama orang tolol."
Auriga benar-benar kembali dengan membawa banyak balon. Jujur saja pria itu tampak lucu dan menggemaskan. Tarikan aura atas dirinya begitu kuat, terbukti dari banyak pasang mata yang ikut melihat ke arah pria itu. Terlebih meski dalam keadaan seperti itu sekalipun Auriga tetap tampak gagah dan memesona.
Pria dengan atasan dan bawahan hitam itu benar-benar mampu menawan banyak hati.
Auriga menyodorkan semua balon itu pada Audy, yang Audy tebak lebih dari sepuluh buah. Namun, bukan menyambutnya Audy malah beranjak.
"Ikutin gue, Ga."
Auriga yang memang sudah menyadari betapa ia mencinta wanita itu pun hanya patuh. Selama yang diinginkan Audy tidak menyakiti dan merugikan diri wanita itu maka Auriga tidak keberatan melakukan apapun keinginannya, tentunya dengan menaati aturan-aturan yang berlaku.
Audy tampak antusias menyapa anak-anak kecil yang sedang bermain. Sisi lain yang pernah Auriga lihat sebelumnya. Audy memang tampak manja, tapi dia sangat penyayang. Berinteraksi dan bercanda ria dengan mahluk-mahluk mungil yang masih lugu itu bukanlah hal yang menekan wanita itu. Justru Audy tampak bahagia dan nyaman.
Audy menyerahkan balon-balon itu pada anak-anak. Senyumannya selalu tersungging, dan setiap gerak polah-nya tak luput dari netra Auriga.
"Kamu, kok, kasih balonnya ke mereka?" Auriga selalu ingin tahu alasan dibalik wanita itu melakukan sesuatu. Karena sebelumnya, di waktu dulu Auriga selalu mendapatkan alasan yang unik, tapi juga penuh pembelajaran. Auriga rindu masa itu, masa di mana dirinya dan Audy masih sedekat nadi.
"Apalagi? Ya biar semuanya senang. Anak-anak senang, tukang dagangnya senang, dan gue juga senang. Bagi gue sama elo balon itu mungkin gak ada menarik-menariknya, tapi bagi anak-anak balon itu bisa jadi alasan mereka bahagia. Terus mungkin bagi kita bisa aja beli balon itu sia-sia dan gak guna, tapi bagi pedagangnya uang yang kita pakai buat beli itu balon bisa aja jadi sesuatu hal yang disyukurinya, kayak mungkin dia bahagia karena hari ini bisa beli lauk enak buat makan, atau bahagia karena besok anaknya bisa bayar uang sekolah ... kadang hal-hal yang kita anggap sepele dan kecil adalah hal yang luar biasa dan besar bagi beberapa orang."
Dan setelah itu ... Auriga semakin dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya pada wanita itu.
Auriga tersenyum kecil penuh ketulusan dengan netra yang tak kunjung beralih dari objek pandangnya sejak awal. Sedangkan Audy tampak memandang jauh ke depan, mengamati kebahagiaan yang terjadi disekitarnya.
"Ini masih ada sisa satu," ujar Auriga seraya menyodorkan satu balon karakter beruang yang hanya tersisa satu-satunya.
Audy menoleh tanpa ada niatan untuk mengambilnya. Dia justru malah mengulurkan tangannya, tapi ... "Lo bisa pendekkan dikit?"
Auriga pun menekuk kedua lututnya, membuat tinggi badannya menjadi sejajar dengan Audy.
Audy pun melakukan aksi yang sempat terhambat tinggi badan pria itu. Audy mengelus pucuk kepala Auriga pelan.
"Balon itu khusus buat elo, bayi gede-nya gue. Lo sama kayak beruang, gede tapi lucu."
Hanya hitungan detik, telinga Auriga tampak memerah. Ya, pria itu sedang salah tingkah.
...•••...
__ADS_1
Jika bersamamu aku sudah memiliki segalanya, maka sudah pasti tujuan aku adalah menjadikan kata aku dan kamu menjadi kita.—Auriga Prayoga