
Hamparan jalan yang melintang sejauh mata memandang menjadi pelabuhan Audy berserta para buntut-nya. Seperti yang sudah Audy deklarasikan bahwa dia sudah menemukan hal yang akan digandrunginya mulai saat ini. Yaitu, menjadi seorang pembalap.
Jika ada yang bertanya, apa alasannya? Maka Audy akan jawab, "Ya, karena mau."
Sesederhana itu. Audy akan melakukan apapun yang dirinya mau dengan catatan tidak menyakiti dan merugikan mahluk hidup lainnya.
Tubuhnya boleh saja mungil. Namun, jangan tanya sebesar apa tekadnya. Kalian tidak akan pernah bisa mengukurnya.
Motor sport yang dipersiapkan sudah tampak menawan di garis start. Audy yang melihat segala persiapan sudah rampung pun bangkit dari kursi tunggunya diikuti oleh Alona yang bertugas memayunginya, sedangkan sisanya mereka masing-masing bertugas membawa segala kebutuhannya.
Audy melangkah dengan diikuti para buntut-nya. Sebenarnya sempat terjadi perdebatan sebelum mereka kini tampak berjajar rapi menempati masing-masing tempat yang sudah di sepakati.
"Lo semua duduk aja, gue bisa sendiri," ujar Audy yang memang sekarang terlahir kembali dengan kemandirian super. Beda dengan Audy yang dulu, yang selalu membutuhkan bantuan Alona dan para ART-nya, rasa terima kasihnya jugalah yang membuat Alona dan para ART-nya mendapatkan hak lebih dalam hal pendapatan.
"Tidak, Nody, kami sudah sepakat bahwa kami akan mengerjakan tugas kami dengan baik, benar, dan bahagia," papar Alona selaku pembicara yang ditunjuk oleh para ART lainnya.
"Kami merasa sangat terhormat jika Nody berkenan mengizinkan kami untuk melaksanakan tugas kami, kami sangat senang bisa membantu Nody, saya sangat berharap Nody mau mempertimbangkan kemauan kami," mohon Alona yang di angguki serempak oleh para ART lainnya.
Audy tidak bisa lagi menolak. "Baiklah, lakukan apapun yang ingin kalian lakukan."
Dan begitulah formasi terbentuk.
Salah satu petugas menyerahkan dengan melempar kunci motornya, yang sigap ditangkap oleh Audy dengan antusias.
"Makasih, Bang."
"Yoi, sama-sama, Non."
Audy menatap takjub kuda besi berwarna hitam yang tampak gagah itu.
Alona sebenarnya sedari tadi gatal ingin bertanya. Namun, baru saat ini dirinya punya kesempatan.
"Nody, sejak kapan, Nody bisa mengendarai motor?" tanya Alona yang memang tahu betul bagaimana keseharian Audy.
"Sejak hari ini," jawab Audy ringan. Khas Audy sekali, yang kerap melakukan sesuatu tanpa pikir panjang.
__ADS_1
Alona dan yang lain tentu kaget. Wajah Alona bahkan seketika berubah pucat pasi. "Engga, Nody. Nody, tidak boleh mengendarainya."
Audy yang tadi tampak asyik memandangi tubuh motor sekarang mengalihkan atensinya pada Alona. Audy tersenyum geli saat melihat riak panik yang sangat tertera di wajah Alona. Lengannya terulur menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Alona.
"Santai, gue cuma mau naik motor, bukan mau naik pesawat, kalau jatuh dan gue meninggal setidaknya jasad gue pasti bakal ada di darat." Tentu saja perkataanya itu hanya lelucon. Namun, tidak bagi Alona.
Alona menggeleng dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Nody tidak boleh berbicara seperti itu!" Tanpa sadar Alona menyentak.
Audy dan yang lainnya tentu tak kalah kagetnya. Ternyata gadis lemah lembut itu bisa mengeluarkan nada tinggi juga. Begitulah kira-kira otak mereka bergumam.
Audy terkekeh geli. "Iya, engga. Tenang, dulu gue jago banget main sepeda. Lo harus tahu, si Aga sering gue kalahin pas balapan."
"Kalau mau, lo bantu doa aja, ya?"
Alona mengangguk cepat. "Saya bakal berdoa buat Nody."
"Sip," ujar Audy seraya mulai menaiki motor untuk pertama kalinya. Rasa senang kian membuncah di dadanya. Audy bahkan sampai merasakan betapa hebat debaran jantungnya yang menggila.
Audy pun tampak meminta helm-nya yang langsung saja diserahkan oleh salah satu ART. Tentu saja, berdoa adalah sesi yang paling krusial. Yang mana diikuti oleh Alona dan yang lainnya.
Audy mulai menyalakan mesin, hingga dalam hitungan ke tiga suara dari knalpot pun mengerang lebih keras dan Audy pun lepas landas.
Kini wanita mungil itu telah melajukan kuda besinya dengan perasaan antusias luar biasa. Bibirnya tampak tersungging dibalik helm full face berwarna senada motornya.
Audy hanya bermodalkan tekad dan keberanian. Sisanya dia lakukan dengan pengetahuan hasil bacaannya semalam.
Pada dasarnya semua mampu menjadi apapun. Hanya saja sering kali besarnya rasa takut dibandingkan tekad yang kuat.
Perihal gagal itu adalah hal normal, sayangnya kenormalan itu memang kerap dipandang abnormal di budaya kita. Gagal sama dengan pecundang, begitulah kebanyakan orang memaknai kegagalan.
Audy dan segala tekadnya ternyata tetap hidup dalam jiwa yang katanya separuh ingatannya hilang. Dia mungkin bukan manusia terbaik, tapi dia sudah berhasil mengusahakan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.
...•••...
Ponsel Audy terus berdering yang mana biang keladinya adalah pria yang kemarin malam berhasil membuatnya kesal setengah mati. Audy memang sedang mengabaikan pria itu terhitung sejak malam kemarin. Namun, sepertinya hari ini ketebalan daun telinga Audy tak setebal kemarin.
__ADS_1
Cara termudah memang memblokir nomor pria itu. Namun, satu menit Audy mencoba Auriga dengan sikap menyebalkannya langsung meneror anggota keluarganya yang mana berhasil membuat ke dua orang tuanya beserta sang kakak bertanya-tanya pada dirinya. Lalu, menonaktifkan ponsel? Atau cara lainya men-silent deringnya? Sayangnya Audy punya orang penting dalam hidupnya yang bisa saja sewaktu-waktu butuh cepat-cepat memberikan kabar padanya.
Audy pun meraih ponselnya. "Lo mau gue tonjok, hah?!"
"Kamu dimana?" Di seberang Auriga terdengar menyahut, sama sekali tak acuh dengan nada emosi jiwa Audy.
"Bumi."
"Maksud saya kamu lagi di tempat apa? Saya ke rumah kamu gak ada, katanya lagi pergi, ke mana?"
"Kepo lo, kayak temennya monyet," jawab Audy dengan tangan yang sedang memegang botol minum untuk di teguk airnya. Audy baru selesai tiga puluh menit yang lalu dari kegiatannya, kini dirinya sedang duduk di salah satu kuris tribun dengan baju balapan yang masih melekat.
"Kamu lagi apa?"
"Napas."
Auriga terdengar menghela napas. "Ody, saya serius. Kamu di mana? Lagi apa? Terus sama siapa?"
"Selain cosplay jadi babu lo cosplay jadi wartawan juga, huh?"
"Ody, saya mohon."
"Gue masih kesel, ya, sama lo gara-gara kemarin. Gue gak bisa tidur gara-gara lihat muka hantu jelek kemarin, gue juga kesel gara-gara lo sok berani!"
Audy pun langsung mematikan sambungannya secara sepihak. Audy akan memaafkan Auriga, tapi tidak sekarang, dia masih kesal dan masih belum bisa dipaksa untuk berbicara dengan pria itu.
Sesaat Audy memutuskan panggilannya di saat itu pula dua dentingan notifikasi terdengar beruntun. Yang pertama tentu saja Auriga, dan yang satunya adalah Anggita?
Audy memandang deretan pesan dari Anggita yang seketika membuat ekspresi wajahnya datar. Audy tampak mengotak-atik ponselnya lalu menyambungkan panggilan pada ponsel milik Alona yang memang sedang berada di ruang ganti bersama yang lainnya. Audy tadi hanya mencari angin di sana.
"Lon siap-siap kita pulang."
Ada apa?
...•••...
__ADS_1