Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 25. MENCARI PUZZLE YANG HILANG


__ADS_3

Audy menolak penuh bantuan Kenan dan Alona yang ingin mengajaknya ke tempat-tempat destinasi sebagai bentuk ajakan untuk menenangkan diri. Yang Audy butuhkan saat ini adalah sebuah kepastian. Audy tidak bisa jika hanya mengandalkan pernyataan orang-orang di sekitarnya saja. Dia harus mencari tahu kebenarannya yang ada.


Kini Audy tengah berada di depan kamar lamanya. Tempat yang dijadikan awal untuk menggali ingatannya dengan harapan keberhasilan setidaknya lima puluh persen. Dan satu detik setelah Audy membuka pintu, sungguh dirinya dibuat tak bisa berkata-kata saat melihat setiap titik dari ruangan itu. Warna dan segala hal yant ada di dalamnya sungguh berbanding terbalik dengan selera dirinya saat ini.


Audy perlahan memasuki ruangan, dan seiring satu langkah yang bertambah dirinya pun memasuki ruangan lebih dalam. Audy melangkah perlahan seraya melihat-lihat setiap sisi yang memiliki aura feminin yang sangat kental. Matanya mulai memindai satu persatu objek yang ada. Ada satu yang menjadi daya tariknya, sebuah laci berukuran cukup besar di pojok dekat dengan meja rias. Di sana terdapat satu bingkai foto di atasnya, yang mana difoto itu terdapat dirinya bersama Auriga kecil. Audy pun berjalan mendekat ke arah sana.


Audy mengambil bingkai foto tersebut, memandanginya lama. Dalam pikirannya dia bertanya-tanya 'Benarkah dirinya mencintai Auriga? Sebesar apa rasa itu hingga membuatnya dengan suka rela menukarkan nyawanya? Jika yang Anggita bilang adalah sebuah kebenaran, itu artinya Auriga teramat berharga baginya bukan?


Fotonya Audy letakan kembali di tempat semula, kini jemarinya beralih meraba laci teratas, lalu membukanya perlahan. Di sana Audy menemukan banyak buku. Audy pun mengambilnya asal, kini satu buku teratas berada di genggamannya.


Audy membukanya. Halaman pertama Audy menemukan gambar dirinya dan Auriga yang kali ini tampak menggunakan seragam sekolah. Audy yang mengenakan seragam putih biru dan Auriga yang mengenakan seragam putih merah. Dibawahnya terdapat tulisan tangan yang Audy yakini adalah tulisan tangan miliknya.


Ody dan Aga berikut emoticon senyum.


Audy kembali membuka lembar-lembar selanjutnya, yang semakin banyak halaman yang terbaca semakin pula Audy dibuat kebingungan.


Kenapa? Kenapa dia merasa tidak familiar dengan setiap momen yang tertulis dibuku harian semasa Sekolah Menengah Pertamanya itu? Audy benar-benar tidak mengingatnya.


Puncaknya adalah saat sebuah bunga mawar terbuat dari kertas yang sudah lusuh terjatuh ke atas punggung kakinya, dan saat melihat dibagian tangkainya Audy kembali melihat tulisan tangannya.


Bunga mawar putih pertama dari Aga, sejak hari ini aku jadi suka bunga mawar putih, meskipun aku ngga terlalu suka nyium baunya


Audy jadi teringat saat Auriga membawakan satu buket bunga mawar putih kala itu. Namun, dirinya tolak karena ternyata dirinya alergi.

__ADS_1


"Jadi ini alasan Aga kasih gue bunga mawar waktu itu?" gumamnya yang hanya terhempas keheningan.


Audy kembali membuka lembar selanjutnya, di mana kali ini terdapat tulisan tangannya yang mengeluh karena Auriga yang sedang sakit dan penyebabnya adalah ... daun seledri?


Aku benci daun seledri, titik!!!


Bayangan Auriga yang mempertanyakan perihal ketidaksukaannya pada daun seledri waktu itu kini terjawab sudah alasannya.


Audy termenung. Jika Auriga mampu mengubah dunianya sebegitu banyaknya, itu artinya Auriga memiliki tempat spesial bukan? Tapi sejauh apapun Audy berusaha ingin mengingat hasilnya tetap nihil.


"Sebenarnya kenapa aku melupakan semaunya?"


...•••...


Hari ini tampak berbeda, Audy yang biasanya memakai baju kebesaran dengan style casual tampak manis dengan baju one set berwarna merah muda yang dipadukan dengan sendal jepit berwarna senada. Rambutnya pun dibiarkan tergerai polos. Sedangkan Auriga tampak cocok dengan kaos polos putihnya yang juga senada dengan celananya.


ke duanya membawa dua keranjang kecil. Sedari tadi ke duanya sudah asyik dengan buah dengan harum yang sangat khas itu. Bahkan keranjang milik Auriga sudah setengahnya terisi.


"Aga, menurut lo dari satu sampai sepuluh dulu sedoyan apa gue sama susu stroberi?"


Rasanya cukup hening karena sedari tadi mereka hanya bertahan dengan keterdiaman. Auriga yang sedang fokus memilah buah stroberi dengan kualitas terbaik pun tampak menoleh ke arah Audy yang tetap terpaku pada buah stroberi. Wanita itu tampak asyik dengan objek pandangnya.


"Sebelas," jawab Auriga lantang. Bahkan Auriga dulu sangsi jika memberikan pertanyaan 'Lebih suka susu stroberi atau dirinya?' pada Audy lalu wanita itu menjawab dirinya. Audy kecil adalah maniak susu stroberi.

__ADS_1


Audy menghentikan kegiatannya sejenak. "Benarkah?"


"Kalau ditanya gue lebih suka stroberi atau elo, gue jawab apa?"


Auriga kontan terdiam. Itu adalah pertanyaan yang selalu ingin dirinya tanyakan, tapi tidak pernah Auriga utarakan, karena dia terlalu malu untuk bertanya.


"Saya tidak tahu, saya tidak pernah menanyakan pertanyaan itu walaupun sebenarnya ingin," tutur Auriga apaadanya.


Audy kini benar-benar memusatkan objek pandangnya pada pria di depannya, yang mana baru Audy sadari ternyata manusia yang dia beri gelar bayi beruang itu begitu tinggi dan juga ... tampan.


Mata Audy beralih pada pahatan wajah pria itu. Bentuk rahang yang tegas begitu sempurna saat dipadukan dengan wajahnya yang rupawan. Ke dua mata yang tajam—yang ke duanya dinaungi bulu yang lebat dan lentik pun tampak cocok dikombinasikan dengan alisnya yang tebal dan melintang simetris. Beralih pada hidungnya yang mancung dengan ukuran sedang, di lanjutkan pada bagian bibirnya yang bervolume dengan bagian bawah sedikit lebih tebal. Audy akui Auriga memiliki proporsi ketampanan yang menjanjikan.


"Saya tahu saya tampan, tapi saya kalau kamu tatap seperti itu lama-lama meleleh juga," ucap Auriga terdengar begitu lugu. Bahkan sesekali Auriga melarikan pandangan matanya asal.


Namun, ucapan Auriga tak lantas membuat Audy menghentikan kegiatannya. Audy baru tahu, ternyata wajah Auriga memiliki nikotin tak kasat mata. Rasanya sungguh candu, Audy sulit berhenti untuk menyesap keindahan karya Tuhan yang ada pada pria itu. Rasanya nyaman dan menenangkan. Apakah semua pria berwajah tampan memiliki kemampuan bikin betah dipandang?


"Lo ganteng," bisik Audy tanpa sadar. Auriga tentu masih mendengarnya, tarikan jarak diantara mereka terhitung sangat dekat.


Seketika telinga Auriga memerah, bahkan sampai menjalar ke lehernya. Dan reaksinya itu berhasil membuat Audy gemas bukan main.


Audy yang benar-benar merasa bahwa Auriga tampak menggemaskan pun mengulurkan ke dua tangannya yang kini ke dua jemarinya sudah mendarat sempurna di ke dua pipi Auriga lalu mengucek ke dua pipi pria itu lembut.


"Lucu banget, sih!"

__ADS_1


...•••...


__ADS_2